Entah mengapa, semakin sering aku
melakukan making love dengan seseorang,
membuat kehidupan sex aku semakin baik
aja. Dan entah semuanya itu semakin bisa
aku nikmati. Mungkin semua ini adalah dampak
dari terlalu tingginya libiloku sehingga saat
aku mood, tidak jarang setelah pulang kerja
aku melakukan dengan teman kantorku.
Aku selalu bersyukur mempunyai kelebihan
dalam urusan bercinta.
Ditambah Pengetahuan sex aku yang aku dapatkan
dari film bf, buku-buku sampai obrolan-
obrolan dengan teman di kantorku, membuat
aku semakin bisa menyelami tentang apa itu
sex. Sehingga aku benar-benar fasih dalam
menerjemahkan apa yang aku dapat dari
pengetahuan tentang sex. Itu terbukti
dengan keluarnya banyak pujian dari para
teman making love aku. Rata-rata mereka
sangat puas saat bercinta denganku, dan
mereka menemukan, merasakan dan
menikmati sesuatu yang sebelumnya belum
pernah mereka rasakan dalam masalah sex.
*****
Cerita ini berawal dari perkenalanku dengan
seorang wanita karir, yang entah
bagaimana ceritanya wanita karir tersebut
mengetahui nomor kantorku.
Siang itu disaat aku hendak makan siang
tiba-tiba telepon lineku berbunyi dan
ternyata operator memberitau saya kalau
ada telepon dari seorag wanita yang engak
mau menyebutkan namanya dan setelah kau
angkat.
"Hallo, selamat siang joko," suara wanita
yang sangat manja terdengar.
"Helo juga, siapa ya ini?" tanyaku serius.
"Namaku Karina," kata wanita tersebut
mengenalkan diri.
"Maaf, Mbak Karina tahu nomor telepon
kantor saya dari mana?" tanyaku menyelidiki.
"Oya, aku temannya Yanti dan dari dia aku
dapat nomor kamu," jelasnya.
"Ooo.. Yanti," kataku datar.
Aku mengingat kisahku, sebelumnya yang
berjudul empat lawan satu. Yanti adalah
seorang wanita karir yang juga 'mewarnai'
kehidupan sex aku.
"Gimana kabarnya Yanti dan dimana
sekarang dia tinggal?" tanyaku.
"Baik, sekarang dia tinggal di Surabaya, dia
titip salam kangen sama kamu," jelas Karina.
Sekitar 10 menit, kami berdua mengobrol
layaknya orang sudah kenal lama. Suara
Karina yang lembut dan manja, membuat aku
menerka-nerka bagaimana bentuk fisiknya
dari wanita tersebut. Saat aku
membayangkan bentuk fisiknya, Karina
membuyarkan lamunanku.
"Hallo.. Joko, kamu masih disitu?" tanya
Karina.
"Iya.. Iya Mbak.." kataku gugup.
"Hayo mikirin siapa, lagi mikirin Yanti yaa?"
tanyanya menggodaku.
"Nggak kok, malahan mikirin Mbak Karina
tuh," celetukku.
"Masa sih.. Aku jadi GR deh" dengan nada
yang sangat menggoda.
"Joko, boleh nggak aku bertemu dengan
kamu?" tanya Karina.
"Boleh aja Mbak.. Bahkan aku senang bisa
bertemu dengan kamu," jawabanku
semangat
"Oke deh, kita ketemuan dimana nih?"
tanyanya semangat.
"Terserah Mbak deh, Joko sih ngikut aja?"
jawabku pasrah.
"Oke deh, nanti sore aku tunggu kamu di Mc.
Donald plasa senayan," katanya.
"Oke, sampai nanti joko.. Aku tunggu kamu
jam 18.30," sambil berkata demikian, aku pun
langsung menutup teleponku.
Aku segera meluncur ke kantin untuk makan
siang yang sempat tertunda itu. Sambil
membayangkan kembali gimana wajah wanita
yang barusan saja menelpon aku. Setelah
aku selesai makan aku pun langsung segera
balik ke kantor untuk melakukan aktivitas
selanjutnya.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan
pukul 17.00, tiba saatnya aku pulang kantor
dan aku segera meluncur ke plasa senayan.
Sebelumnya prepare dikantor, aku mandi dan
membersihkan diri setelah seharian aku
bekerja. Untuk perlengkapan mandi, aku
sengaja membelinya dikantin karena aku
nggak mau ketemu wanita dengan tanpak
kotor dan bau badan, kan aku menjadi nggak
pede dengan hal seperti itu.
Tiba di Plasa Senayan, aku segera
memarkirkan mobil kijangku dilantai dasar.
Jam menunjukkan pukul 18.15. Aku segera
menuju ke MC. Donald seperti yang
dikatakan Karina. Aku segera mengambil
tempat duduk disisi pagar jalan, sehingga
aku bisa melihat orang lalu lalang diarea
pertokaan tersebut.
Saat mataku melihat situasi sekelilingku,
bola mataku berhenti pada seorang wanita
setengan baya yang duduk sendirian.
Menurut perkiraanku, wanita ini berumur
sekitar 32 tahun. Wajahnya yang lumayan
putih dan juga cantik, membuat aku
tertegun, nataku yang nakal, berusaha
menjelajahi pemadangan yang indah
dipandang yang sangat menggiurkan apa lagi
abgian depan yang sangat menonjol itu.
Kakinya yang jenjang, ditambah dengan
belahan pahanya yang putih dan juga montok
dibalik rok mininya, membuat aku semakin
gemas. Dalam hatiku, wah betapa
bahagianya diriku bila yang aku lihat itu
adalah orang yang menghubungiku tadi siang
dan aku lebih bahagia lagi bila dapat
merasakan tubuhnya yang indah itu.
Tiba-tiba wanita itu berdiri dan menghampiri
tempat dudukku. Dadaku berdetuk kencang
ketika dia benar-benar mengambil tempat
duduk semeja dengan aku.
"Maaf apakah kamu Joko?" tanyanya sambil
menatapku.
"Iy.. Iyaa.. Kamu pasti Karina," tanyaku balik
sambil berdiri dan mengulurkan tanganku.
Jarinya yang lentik menyetuh tanganku
untuk bersalaman dan darahku terasa
mendesr ketika tangannya yang lembut dan
juga halus meremas tangaku dengan penuh
perasaan.
"Silahkan duduk Karina," kataku sambil
menarik satu kursi di depanku.
"Terima kasih," kata Karina sambil
tersenyum.
"Dari tadi kamu duduk disitu kok nggak
langsung kesini aja sih?" tanyaku.
"Aku tadi sempat ragu-ragu, apakah kamu
memang Joko," jelasnya.
"Aku juga tadi berpikir, apakah wanita yang
cantik itu adalah kamu?" kataku sambil
tersenyum.
Kami bercerita panjang lebar tentang
apapun yang bisa diceritakan, kadang-
kadang kami berdua saling bercanda, saling
menggoda dan sesekali bicara yang
'menyerempet' ke arah sex. Lesung pipinya
yang dalam, menambah cantik saja wajahnya
yang semakin matang.
Dari pembicaraan tersebut, terungkaplah
kalau Karina adalah seorang wanita yang
sedang bertugas di Jakarta. Karina adalah
seorang pengusaha dan kebetulan selama 4
hari dinas di Jakarta.
"Karin, kamu kenal Yanti dimana?" tanyaku.
Yanti adalah teman chattingku di YM, aku dan
Yanti sering online bersama. Dan kami
terbuka satu sama lain dalam hal apapun.
Begitu juga kisah rumah tangga, bahkan
masalah sex sekalipun. Mulutnya yang mungil
menjelaskan dengan penuh semangat.
"Emangnya Yanti menikah kapan? Aku kok
nggak pernah diberitahu sih," tanyaku penuh
penasaran.
"Dia menikah dua minggu yang lalu dan aku
nggak tahu kenapa dia nggak mau memberi
tahu kamu sebelumnya," Jawabnya penuh
pengertian.
"Ooo, begitu.." kataku sambil manggut-
manggut.
"Ini adalah hari pertamaku di Jakarta dan
aku berencana menginap 4 hari, sampai
urusan kantorku selesai," jelasnya tanpa
aku tanya.
"Sebenarnya tadi Yanti juga mau dateng tapi
berhubung ada acara keluarga jadi
kemungkinan dia akan datang besok harinya
dia bisa dateng," jelasnya kembali.
"Memangnya Mbak Karina menginap dimana
nih?" tanyaku penasaran.
"Kebetulan sama kantor sudah dipesankan
kamar buat aku di hotel H.."jelasnya.
"Mmm, emangnya Mbak sama siapa sih?"
tanyaku menyelidik.
"Ya sendirilah, Joko.. Makanya saat itu aku
tanya Yanti," katanya
"Tanya apa?" tanyaku mengejar.
"Apakah punya teman yang bisa menemaniku
selama aku di Jakarta," katanya.
"Dan dari situlah aku tahu nomor telepon
kamu," lanjutnya.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukan
pukul 10.25 wib, dan aku lihat sekelilingku
pertokoan mulai sepi karena memang sudah
mulai larut malam. Dan toko pun sudah mulai
tutup.
"Jok.. Kamu mau anter aku balik ke hotel
nggak?" tanyanya.
"Boleh, masa iya sih aku tega sih biarin kamu
balik ke hotel sendirian," kataku.
Setelah obrolan singkat, kami segera
menuju parkiran mobil dan segera meluncur
ke hotel H.. Yang tidak jauh dari pusat
pertokoan Plasa Senayan. Aku dan Karina
bergegas menuju lift untuk naik ke lantai 5,
dan sesampainya di depan kamarnya, Karina
menawarkan aku untuk masuk sejenak. Bau
parfum yang mengundang syaraf kelaki-
lakianku serasa berontak ketika berjalan
dibelakangnya.
Dan ketika aku hendak masuk ternyata ada
dua orang wanita yang sedang asyik
ngegosip dan mereka pun tersenyum setelah
aku masuk kekamarnya. Dalam batinku, aku
tenyata dibohongi ternyata dia nggak
sendiri. Karina pun memperkenalkan teman-
temannya yang cantik dan juga sex yang
berbadan tinggi dan juga mempunyai
payudara yang besar dia adalah Miranda(36b)
sedangkan yang mempunyai badan yang
teramat sexy ini dan juga berpayudara yang
sama besarnya bernama Dahlia(36b). Dan
mereka pun mempersilahkan aku duduk.
Tanpa dikomando lagi mereka pun perlahan-
lahan memulai membuka pakaian mereka satu
persatu, aku hanya bisa melotot saja tak
berkedip sekali pun, tak terasa adik kecilku
pun segera bangun dari tidurnya dan segera
bangun dan langsung mengeras seketika itu
juga. Setelah mereka telanjang bulat
terlihatlah pemandangan yang sangat indah
sekali dengan payudara yang besar, Karina
pun langsung menciumku dengan ganasnya
aku sampai nggak bisa bernafas karena
serangan yang sangat mendadak itu dan aku
mencoba menghentikannya.
Setelah itu dia pun memohon kepadaku agar
aku memberikan kenikmatan yang pernah
aku berikan sama Yanti dan kawan-kawan.
Setelah itu Karina pun langsung menciumku
dengan garangnya dan aku pun nggak mau
tinggal diam aku pun langsung membalas
ciumannya dengan garang pula, lidah kamipun
beraduan, aku mulai menghisap lidahnya biar
dalam dan juga sebaliknya. Sedangkan
Miranda mengulum penisku ke dalam mulutnya,
mengocok dimulutnya yang membuat sensasi
yang tidak bisa aku ungkapkan tanpa sadar
aku pun mendesah.
"Aaahh enak Mir, terus Mir hisap terus,
aahh.."
Sedangkan Dahlia menghisap buah zakarku
dengan lembutnya membuat aku semakin
nggak tertahankan untuk mengakhiri saja
permaianan itu. Aku pun mulai menjilati
vagina Karina dengan lembut dan perlahan-
lahan biar dia bisa merasakan permaianan
yang aku buat. Karina pun menjerit keras
sambil berdesis bertanda dia menikmati
permainanku itu.
Mirandapun nggak mau kalah dia menghisap
payudaranya Karina sedangkan Dahlia
mencium bibir Karina agar tidak berteriak
ataupun mendesis. Setelah beberapa lama
aku menjilati vaginanya terasa badannya
mulai menegang dan dia pun mendesah.
"Jok.. Akuu mauu keeluuarr."
Nggak beberapa lama keluarlah cairan yang
sangat banyak itu akupun langsung
menghisapnya sampai bersih tanpa tersisa.
Setelah itu aku pun langsung memasukkan
penisku ke dalam vagina Karina, perlahan-
lahan aku masukkan penisku dan sekali
hentakan langsung masuk semua ke dalam
vaginanya yang sudah basah itu. Aku pun
langsung menggenjotnya dengan sangat
perlahan-lahan sambil menikamati sodokan
demi sodokan yang aku lakukan dan Karina
pun mulai mendesah nggak karuan.
"Aaahh enak Jok, terus Jok, enak Jok, lebih
dalam Jok aahh, sstt.."
Membuat aku bertambah nafsu, goyanganku
pun semakin aku percepat dan dia mulai
berkicau lagi.
"Aaahh enak Jok, penis kamu enak banget
Jok, aahh.."
Setelah beberapa lama aku mengocok,
diapun mulai mengejang yang kedua kalinya
akupun semakin mempercepat kocokanku
dan tak beberapa lama aku mengocoknya
keluarlah cairan dengan sangat derasnya
dan terasa sekali mengalir disekitar penisku.
Akupun segera mencabut penisku yang masih
tegang itu. Miranda segera mengulum
penisku yang masih banyak mengalir cairan
Karina yang menempel pada penisku,
sedangkan Dahlia menghisap vaginanya
Karina yang masih keluar dalam vaginanya
dengan penuh nafsunya.
Miranda pun mulai mengambil posisi, dia
diatas sedangkan aku dibawah. Dituntunnya
penisku untuk memasuki vaginanya Miranda
dan serentak langsung masuk. Bless..
Terasa sekali kehangatan didalam
vaginanya Miranda. Dia pun mulai menaik
turunkan pantatnya dan disaat seperti
itulah dia mulai mempercepat goyangannya
yang membuat aku semakin nggak karuan
menahan sensasi yang diberikan oleh
Miranda.
Dahlia pun mulai menghisap payudara
Miranda penuh gairah, sedangkan Karina
mencium bibir Miranda dengan garangnya,
Miranda mempercepat goyangannya yang
membuat aku mendesah.
"Aaahh enak Mir.. Terus Mir.. Goyang terus
Mir.. Lebih dalam lagi Mir.. Aaahh sstt"
Dan selang beberapa menit aku merasakan
penisku mulai berdenyut,
"Mir.. Aku.. ingiin keeluuaarr"
Seketika itu juga muncratlah air maniku
didalam vaginanya, entah berapa kali
munceratnya aku nggak tahu karena terlalu
nikmatnya dan diapun masih mengoyang
semakin cepat. Seketika itu juga tubuhnya
mulai menegang dan terasa sekali vaginanya
berdenyut dan selang beberapa lama
keluarlah cairan yang sangat banyak sekali,
aku pun langsung mengeluarkan penisku yang
sudah basah kuyup ditimpa cairan cinta.
Mereka pun berebutan menjilati sisa-sia
cairan yang masih ada dipenisku, Dahlia pun
langsung menjilati vaginanya Miranda yang
masih mengalir cairan yang masih menetes di
vaginanya. Akupun melihat mereka seperti
kelaparan yang sedang berebutan makanan,
setelah selang beberapa lama aku mulai
memeluk Dahlia dan aku pun mulai mencium
bibirnya dan mulai turun ke lehernya yang
jenjang menjadi sasaranku yang mulai
menari-nari diatasnya.
"Ooohh.. Joko.. Geelli.." desah Dahlia.
Serangan bibirku semakin menjadi-jadi
dilehernya, sehingga dia hanya bisa merem
melek mengikuti jilatan lidahku.
Miranda dan Karina mereka asyik berciuman
dan saling menjilat payudara mereka.
Setelah aku puas dilehernya, aku mulai
menurunkan tubuhnya sehingga bibirku
sekarang berhadapan dengan 2 buah bukit
kembarnya yang masih ketat dan kencang.
Aku pun mulai menjilati dan sekali-kali aku
gigit puntingnya dengan gigitan kecil yang
membuat dia tambah terangsang lagi dan dia
medesah.
"Aaahh enak sekali Jok.. Terus Jok hisap
terus Jok enak Jok aahh sstt.."
Dahlia pun membalasnya dengan mencium
bibirku dengan nafsunya dan setelah itu
turun ke pusar dan setelah itu dia mulai
mengulum, mengocok, menjilat penisku
didalam mulutnya. Setelah dia puas aku
kembali menyerangnya langsung ke arah
lubang vaginanya yang memerah dan
disekelilingi rambut-rambut yang begitu
lebat. Aroma wangi dari lubang
kewanitaannya, membuat tubuhku berdesis
hebat. Tanpa menunggu lama lagi, lidahku
langsung aku julurkan kepermukaan bibir
vagina.
Tanganku bereaksi untuk menyibak rambut
yang tumbuh disekitar selangkangannya
untuk memudahkan aksiku menjilati
vaginanya.
"Ssstt.. Jok.. Nikmat sekali.. Ughh," rintihnya.
Tubuhnya menggelinjang, sesekali diangkat
menghindari jilatan lidahku diujung
clitorisnya. Gerak tubuh Dahlia yang
terkadang berputar-putar dan naik turun,
membuat lidahku semakin menghujam lebih
dalam ke lubang vaginanya.
"Joko.. Gila banget lidah kamu.." rintihnya
"Terus.. Sayang.. Jangan lepaskan.." pintanya.
Paha Dahlia dibuka lebar sekali sehingga
memudahkan lidahku untuk menjilatnya.
Dahlia menggigit bibir bawahnya seakan
menahan rasa nikmat yang bergejola
dihatinya.
"Oohh.. Joko, aku nggak tahan.. Ugh.."
rintihnya.
"Joko cepet masukan penis kamu aku sudah
nggak tahan nih," pintanya.
Perlahan aku angkat kaki kanannya dan aku
baringkan ranjang yang empuk itu. Batang
kemaluanku sudah mulai mencari lubang
kewanitaannya dan sekali hentak.
"Bleest.." kepala penisku menggoyang
vaginanya Dahlia.
"Aowww.. Gila besar sekali Jok.. Punya kamu,"
Dahlia merintih.
Gerakan maju mundur pinggulku membuat
tubuh Dahlia mengelinjang hebat danm
sesekali memutar pinggulnya sehingga
menimbulkan kenikmatan yang luar biasa
dibatang kemaluanku.
"Joko.. Jangan berhenti sayang.. Oogghh,"
pinta Dahlia.
Dahlia terus menggoyangkan kepalanya
kekanan dan kekiri seirama dengan penisku
yang menghujam dalam pada lubang
kewanitaannya. Sesekali Dahlia membantu
pinggulnya untuk berputar-putar.
"Joko.. Kamu.. Memang.. Jagoo.. Ooohh,"
kepalannya bergerak ke kiri dan ke kanan
seperti orang triping.
Beberapa saat kemudian Dahlia seperti
orang kesurupan dan ingin memacu birahinya
sekencang mungkin. Aku berusaha
mempermainkan birahinya, disaat Dahlia
semakin liar. Tempo yang semula tinggi
dengan spontan aku kurangi sampai seperti
gerakan lambat, sehingga centi demi centi
batang kemaluanku terasa sekali
mengoyang dinding vagina Dahlia.
"Joko.. Terus.. Sayang.. Jangan berhenti.."
Dahlia meminta.
Permainanku benar-benar memancing birahi
Dahlia untuk mencapai kepuasan birahinya.
Sesaat kemudian, Dahlia benar-benar tidak
bisa mengontrol birahinya. Tubuhnya
bergerak hebat.
"Joko.. Aakuu.. Kelluuaarr.. Aaakkhh.. Goyang
sayang," rintih Dahlia.
Gerakan penisku kubuat patah-patah,
sehingga membuat birahi Dahlia semakin tak
terkendali.
"Jok.. Ooo.. Aaammpuunn," rintihnya panjang.
Bersamaan dengan rintihan tersebut, aku
menekan penisku dengan dalam hingga
mentok dilangit-langit vagina Dahlia. Aku
merasakan semburan cairan membasahi
seluruh penisku.
Dahlia yang sudah mendapat kedua
orgasmenya, sedangkan aku masih berusaha
untuk mencari kepuasan birahiku. Posisi
Dahlia, sekarang menungging. Penisku yang
masih tertancap pada lubang vaginanya
langsung aku hujamkan kembali ke lubang
vaginanya Dahlia.
"Ooohh.. Joko.. Kamu.. Memang.. Ahli.." katanya
sambil merintih.
Kedua tanganku mencengkeram pinggul
Dahlia dan menekan tubuhnya supaya
penisku bisa lebih menusuk ke dalam lubang
vaginanya.
"Dahlia.. Vagina kamu memang enak banget,"
pujiku.
"Kamu suka minum jamu yaa kok seret?"
tanyaku.
Dahlia hanya tersenyum dan kembali
memejamkan matanya menikmati tusukan
penisku yang tiada hentinya. Batang
kemaluanku terasa dipijiti oleh vagina Dahlia
dan hal tersebut menimbulkan kenikmatan
yang luar biasa. Permainan sexku diterima
Dahlia karena ternyata wanita tersebut
bisa mengimbangi permainan aku.
Sampai akhirnya aku tidak bisa menahan
kenikmatan yang mulai tadi sudah mengoyak
birahiku.
"Dahlia.. Aku mau.. Keluar.."kataku mendesah.
"Aku juga sayang.. Ooohh.. Nikmat terus..
Terus.." Dahlia merintih.
"Joko.. Keluarin didalam.. Aku ingin rasakan
semprotan.. Kamu.." pintanya.
"Iya sudah.. Ooogh.. Aaakhh.." rintihku.
Gerekan maju mundur dibelakang tubuh
Dahlia semakin kencang, semakin cepat dan
semakin liar. Kami berdua berusaha
mencapai puncak bersama-sama.
"Joko.. Aku.. Aku.. Ngaak kkuuaatt.. Aaakhh"
rintih Dahlia.
"Aku juga sudah.. Ooogh.. Dahh," aku merintih.
"Crut.. Crut.. Crut.." spermaku muncrat
membanjiri vaginanya Dahlia.
Karena begitu banyak spermaku yang
keluar, beberapa tetes sampai keluar
dicelah vagina Dahlia. Setelah beberapa
saat kemudian Dahlia membalikkan tubuhnya
dan berhadapan dengan tubuhku.
"Joko, ternyata Yanti benar, kamu jago
banget dalam urusan sex. Kamu memang luar
biasa" kata Dahlia merintih.
"Biasa aja kok Mbak, aku hanya melakukan
sepenuh hatiku saja," kataku merendah.
"Kamu luar biasa.." Dahlia tidak meneruskan
kata-katanya karena bibirnya yang mungil
kembali menyerang bibirku yang masih
termangu.
Segera aku palingkan wajahku ke arah
Karina dan Miranda, ternyata mereka sudah
tertidur pulas mungkin karena sudah terlalu
lelah, dan akupun tak kuasa menahan lelah
dan akhirnya akupun tertidur pulas. Dan
setelah 4 jam aku tertidur aku pun
terbangun karena ada sesuatu yang sedang
mengulum batang kemaluanku dan ternyata
Miranda sudah bangun dan aku pun
menikmatinya sambil menggigit bibir bawahku.
Dan kuraih tubuhnya dan kucium bibirnya
penuh dengan gairah dan akhirnya kami pun
mengulang kembali sampai besok harinya.
Dengan terpaksa aku menginap karena
pertarunganku dengan mereka semakin seru
aja.
Ketika pagi telah tiba akupun langsung ke
kamar mandi di ikuti oleh mereka dan akupun
mandi bareng dan permainan dimulai kembali
didetik-detik ronde terakhir. Tanpa terasa
kami berempat sudah naik didalam bathup,
kami mandi bersama. Guyuran air
dipancurkan shower membuat tubuh mereka
yang molek bersinar diterpa cahaya lampu
yang dipancarkan ke seluruh ruangan
tersebut. Dengan halus, mereka
menuangkan sabun cair dari perlengkapan
bag shop punya mereka. Aku mengosok
keseluruh tubuh mereka satu persatu,
sesekali jariku yang nakal memilih punting
mereka.
"Ughh.. Joko.." mereka merintih dan bergerak
saat aku permainkan puntignya yang
memerah.
Sebelum aku meinggalkan mereka, kami
berempat berburu kenikmatan. Dan entah
sudah berapa kali mereka yang sedang
membutuhkan kehangatan mendapatkan
orgasme. Kami memburu kenikmatan berkali-
kali, kami berempat memburu birahinya yang
tidak kenyang.
Sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul
08.00 wib, dimana aku harus berangkat kerja
dan pada jam seperti ini jalanan macet
akupun mempercepat jalannya agar tidak
terkena macet yang berkepanjangan. Aku
meninggalkan Hotel H.. Sambil menikmati sisa-
sisa kenikmatan yang sudah ditinggalkan
oleh permainan tadi.
TAMAT