
Aku Tidak Ingin Munafik
Hari Minggu ini aku libur, jadi aku bisa bangun
agak siangan karena semalam aku memang
tidur agak larut. Seperti biasa aku sibuk
membuka email yang masuk dari para
pembaca 21Tahun. Animo pembaca 21Tahun untuk kontak denganku memang luar biasa
sekali hingga terus terang aku agak
kewalahan untuk menyeleksinya. Ada
beberapa pembaca yang penasaran dengan
aktifitas dan kehidupan sex-ku, mereka
menanyakan lewat emailnya hingga aku
kesulitan juga kalau harus menjawabnya
satu persatu. Mereka ada yang sepertinya
peduli akan diriku, terima kasih deh!
Walau usiaku sudah beranjak 28 tahun, aku
memang belum married. Sorry, bukannya aku
tidak laku dan bukannya juga GR lho! Aku
cukup cantik dan menarik, tinggiku 170
centimeter, bibirku tipis mungil
menggairahkan. Bentuk buah dadaku indah,
warna putingnya merah muda sedikit
kecoklatan, hanya ukurannya yang aku sendiri tidak tahu, karena aku sejak kecil
tidak pernah dan tidak suka menggenakan
bra. Jadi hingga kini aku tidak pernah punya
BH, karenanya seiali lagi aku tidak tahu
ukuran payudaraku sendiri.
Cuaca kota Surabaya beberapa bulan
belakangan ini memang sangat panas,
terlebih di saat malam hari. Aku memang
terbiasa tidur tanpa busana, terkadang
paling hanya menggunakan celana pendek
tipis yang bentuknya mini dan agak longgar,
dengan tanpa menggunakan CD di dalamnya.
Kupikir juga tidak ada gunanya aku tidur
dengan memakai CD yang bentuknya juga
sangat mini.
Aku memang memiliki banyak CD beraneka
warna, tapi modelnya hanya ada dua macam
saja, yang satu model G String yang
bentuknya berupa seutas tali nylon yang
melingkari pinggangku. Selebihnya
tersambung seutas tali nylon lainnya yang
melilit ke bawah melewati selangkanganku
melalui belahan pantatku yang sintal, dan di
ujungnya tersambung dengan secarik kain
sutera tipis berbentuk segi tiga yang
lebarnya tak lebih dari seukuran dua jari
saja.
Aku bukanlah type wanita yang munafik,
karenanya aku suka sekali dengan situs
sumbercerita.com, di sini aku bisa
mengekspresikan diriku yang sebenarnya
tanpa perlu berpura-pura, yang menurutku
adalah kemunafikan belaka. Sebenarnya
kebutuhan sex antara pria dan wanita itu
sama, hanya saja kaum pria lebih bebas
menyalurkan hasratnya, apa lagi untuk
membahasnya, namun ini sepertinya tidak
berlaku bagi kaum wanita, sedangkan
kebutuhan antara pria dan wanita itu
sebenarnya sama saja, kenapa harus
dijadikan sesuatu yang tabu? Ini tidak fair.
Semalam, walau sudah larut aku masih belum
dapat memejamkan mata untuk tidur.
Karena selain udara yang cukup panas
sehingga AC seakan tidak mampu lagi
memberi kesejukan dalam kamarku, juga
karena guling yang kujepit di antara
selangkanganku tiba-tiba memberikan
rangsangan pada pangkal pahaku yang
tanpa penutup itu.
Pelan-pelan gulingku kugesekkan naik turun
di selangkanganku sehingga menambah
kenikmatan. Kurang puas dengan apa yang
kulakukan, gulingku kusingkirkan, kuubah
posisi tidurku menjadi telentang, kutarik
kakiku dan kutopangkan telapak kakiku di
tempat tidur dalam posisi pahaku
kukangkangkan selebar mungkin, sehingga
posisi kemaluanku terbuka lebar dan
vaginaku tampak jelas sekali dari arah
depanku, namun sayangnya saat itu tidak
ada orang yang memandanginya.
Tapi aku yakin bila ada lelaki siapapun dia,
apabila saat itu memandangi pangkal pahaku
yang terbuka lebar seperti itu pasti akan
terangsang melihat vaginaku yang bersih.
Bulu-bulu kemaluanku hanya tumbuh di bagian
atasnya saja, bentuknya yang indah
menempel menyeruak ke atas dengan rapi.
Bila bibir vaginaku dikuakkan maka akan
terlihat dinding vaginaku yang berwarna
merah muda dan menggairahkan pria
manapun untuk segera menjilatnya.
Kugosok klitorisku dengan menggunakan
jari tangan kananku, sementara jari tangan
kiriku kucoba untuk menyusup ke dalam liang
vaginaku, kondisi liang vaginaku yang sudah
basah oleh lendir birahi memudahkan jari-
jariku masuk menembus ke dalamnya.
Kukocok-kocokkan jari tangan kananku
keluar masuk liang vaginaku sehingga cairan
hangat berlendir yang keluar dari dalam
rahimku semakin banyak saja membasahi
liang senggamaku.
Aku merasakan akan mencapai orgasme,
maka gesekan jari tanganku di ujung-ujung
klitorisku pun semakin kupercepat. Demikian
pula kocokan jari tangan kananku yang
sejak tadi berada dalam liang vaginaku,
kugesek-gesekkan ke dinding vagina bagian
dalam, sesekali jari tengah dan telunjukku
menggosok benjolan yang tumbuh di
dalamnya. Aku merasa geli bercampur nikmat
hingga rasanya seperti ingin kencing saja.
"Uu.. Uucch! Aa.. Aacch!"
Keringat dingin membasahi dahiku, badanku
menggigil bagaikan orang kejang, pantatku
kuangkat dan kugoyang-goyangkan
berputar mengimbangi irama kocokan jari
tangan kananku yang semakin cepat
mengocok liang vaginaku. Dan vaginaku
semakin basah oleh cairan bening yang
mengalir semakin deras keluar hingga meleleh
membasahi sprei tempat tidurku.
"Oo.. Oocch!"
Aku melenguh sambil melepaskan napas
panjang melepaskan orgasmeku. Tzee..
Eerrt! Tzee.. Eerrt! Dapat kurasakan
semburan di liang vaginaku hingga membasahi
jari-jariku yang masih berada di dalamnya,
cairan yang keluar sedikit agak kental,
banyak sekali sehingga sprei di bawah
pantatku lebih basah lagi.
Aku yakin kalau apa yang kuungkapkan
selama ini di sumbercerita.com juga pernah
dirasakan wanita lain, bahkan pernah juga
dilakukan oleh wanita lain, hanya saja
mereka tidak berani mengungkapkannya.
Bisa dibayangkan bagaimana tersiksanya
seorang wanita saat masa usia puber, dia
juga butuh sentuhan dan belaian. Mereka
juga butuh penyaluran atas libidonya, maka
salahkah mereka bila melakukan masturbasi?
Sedangkan mereka juga bisa terangsang,
baik oleh pemandangan yang dia lihat maupun
oleh tulisan erotis seperti yang ada di
sumbercerita.com.
Namun selama ini rasanya jarang ada
wanita yang berani berterus terang, itulah
yang menjadi alasanku untuk bebas
mengungkapkan keadaanku yang
sebenarnya, dan aku bebas menentukan
pasanganku untuk melampiaskan hasrat
sex-ku. Namun bukan berarti aku begitu
saja memilih pasanganku. Aku lebih suka
memilih yang sudah berumah tangga, karena
lebih yakin kalau mereka tidak membawa
penyakit yang membahayakan. Selain itu aku
lebih suka memilih mereka karena biasanya
mereka sudah lebih matang dan dewasa.
Yang jelas biasanya mereka sudah bisa lebih
bertanggung jawab.
Tanggung jawab di sini yang kumaksud bukan
kalau nantinya aku hamil akibat hubungan
tersebut mereka harus bertanggung jawab,
tapi tanggung jawab yang kumaksud adalah
mereka melakukannya dengan tanpa banyak
tuntutan seperti misalnya ingin menikahiku,
ingin mengekangku dan sebagainya. Beda
sekali dengan anak-anak muda yang masuh
ingusan, biasanya ego mereka lebih tinggi,
yang lebih pasti tuntutannya juga banyak
sedangkan hak dan kewajiban orang lain
sering mereka abaikan. Ini juga bisa kulihat
dari email yang mereka kirim, maunya
berkenalan tapi saat diminta memenuhi
persyaratannya saja mereka langsung
ngacir.
Banyak juga email yang datangnya dari
kaumku, mereka curhat atas kehidupan sex-
nya, mereka ingin tapi takut. Menurutku ini
aneh, mengapa kita mesti takut? Yang
penting kita melakukannya berdasarkan
suka sama suka dan jangan ada tuntutan.
Why Not? Seperti email yang datangnya dari
Nina (nama samaran), Nina mengatakan
kalau untuk mengatasi libidonya serta
menyalurkan hasrat sex-nya, ia hanya
melakukannya sebatas masturbasi saja.
Pernah juga dia melakukan oral sex dengan
mantan pacarnya, namun sampai hari ini dia
masih merasa bersalah. Nina pernah
meneleponku dan menceritakan
pengalamannya saat dioral oleh pacarnya,
Nina mengaku mendapatkan kenikmatan dan
mencapai orgasme saat di oral tersebut.
Masih terbayang olehku cerita Nina saat
bibir mulut pacarnya dengan penuh nafsu
mengulum habis bibir vaginanya. Lidah
pacarnya sengaja dijulurkan sepanjang
mungkin saat mengulum bibir vaginanya.
Lidahnya menyeruak masuk ke dalam liang
vaginanya yang masih perawan itu. Pantat
Nina terangkat seakan menyambut jilatan
sang pacar, pahanya mengempit kepalanya
sambil kedua tangan Nina menjambak
rambut kepala sang pacar. Tarikan ini
membuat kepala sang pacar lebih rapat lagi
menempel di selangkangan Nina, sehingga
muka sang pacar terbenam penuh di bagian
luar vagina Nina.
Tangan kiri pacar Nina bergerilya di
payudaranya yang berukuran 36, ujung
puting susunya dipilin-pilin dengan jari hingga
membuat Nina lebih menggelinjang lagi,
pantatnya digesek-gesekkan sehingga bibir
vaginanya lebih terasa digaruk oleh bibir
mulut pacar Nina.
Tiba-tiba Nina merasakan ada sesuatu yang
akan meledak dalam rahimnya, tak lama
kemudian Nina merasakan seperti sedang
kencing namun rasanya nikmat sekali. Inilah
yang dinamakan orgasme. Akhirnya Nina pun
mengalami orgasme yang pertama kali dalam
seumur hidupnya, nikmatnya sungguh luar
biasa kata Nina saat menceritakan
pengalamannya padaku.
Kurasa masih banyak wanita di muka bumi ini
yang mengalami hal yang sama dengan Nina,
masih gadis dan masih malu-malu melakukan
hubungan sex, walaupun berhubungan
dengan metode yang paling aman sekalipun,
seperti oral sex yang pernah dilakukan oleh
Nina bersama pacarnya.
Terus terang aku merasa heran pada
kaumku yang seperti ini, mengapa kita harus
munafik? Di satu sisi kita mau bahkan
merasakan sangat membutuhkan sebuah
pelampiasan untuk melepas hasrat yang
membelenggu, namun di sisi lain kita harus
diliputi rasa takut dan was-was.
Memang harus diakui bahwa di negara ini hal-
hal yang menyangkut masalah sex masih tabu
dan dilarang dilakukan oleh wanita yang
belum bersuami, namun tidak ada yang dapat
memberikan solusi apa yang harus dilakukan
oleh wanita yang belum bersuami untuk
dapat menyalurkan hasratnya. Ini berbeda
dengan kaum Hawa yang secara normatif
seakan lebih bebas melakukan apa saja baik
sebelum maupun setelah dia berumah tangga.
Terus terang bagiku ini tidak adil, karena
sejujurnya kaum wanita juga memiliki hasrat
yang sama tentang sex, mengapa mereka
tidak boleh melakukan atau menikmatinya
sebelum berumah tangga atau hanya boleh
dilakukan dengan suaminya saja, sedangkan
tak jarang kita ketahui banyak suami yang
masih suka mencari yang lain di luar rumah.
Sebagaimana pepatah mengatakan, rumput
tetangga selalu lebih hijau daripada rumput
di halaman rumah kita sendiri.
TAMAT