Aku beranikan untuk menulis cerita sex disini, memang kejadian yang aku
tulis memalukan tapi melalui media ini aku bisa berbagi bersama
khalayak semua, awal mula cerita ini saat itu aku tinggal di sebuah
perumahan di daerah pinggiran kota, saya tingal disitu baru 7 bulanan
karena perumahan disana masih baru jadi masih sedikit jumah keluarganya.
Rata-rata keluarga kecil seperti keluarga saya juga yaitu yang sudah
masuk generasi Keluarga Berencana, rata-rata hanya mempunyai dua anak
tetapi ada juga yang hanya satu anak saja. Sudah seperti biasanya bila
kita menempati daerah perumahan baru, saya dengan sengaja berusaha untuk
banyak bergaul dengan para tetangga bahkan juga dengan
tetangga-tetangga di blok yang lain.
Dari hasil bergaul tersebut timbul kesepakatan di antara ibu-ibu di
blok daerah rumahku untuk mengadakan arisan sekali dalam sebulan dan
diadakan bergiliran di setiap rumah pesertanya. Suatu ketika sedang
berlangsung acara arisan tersebut di sebuah rumah yang berada di deretan
depan rumahku, pemilik rumah tersebut biasa dipanggil Bu Niar (bukan
nama sebenarnya) dan sudah lebih dulu satu tahun tinggal di daerah
perumahan ini daripada saya.
Bu Niar bisa dibilang ramah, banyak ngomongnya dan senang bercanda
dan sampai saat tulisan ini aku buat dia baru mempunyai satu anak,
perempuan, berusia 8 tahun walaupun usia rumah tangganya sudah 10 tahun
sedangkan aku sudah 30 tahun. Aku menikah ketika masih berusia 22 tahun.
Suaminya bekerja di sebuah perusahaan swasta dan kehidupannya juga
bisa dibilang kecukupan. Setelah acara arisan selesai saya masih tetap
asyik ngobrol dengan Bu Niar karena tertarik dengan keramahan dan banyak
omongnya itu sekalipun ibu-ibu yang lain sudah pulang semua. Dia
kemudian bertanya tentang keluargaku,
“Jeng Mar. Putra-putranya itu sudah umur berapa, sih, kok sudah
dewasa-dewasa, ya?” (Jeng Mar adalah nama panggilanku tetapi bukan
sebenarnya) tanya Bu Niar kepadaku.
“Kalau yang pertama 18 tahun dan yang paling ragil itu 14 tahun.
Cuma yaitu Bu, nakalnya wah, wah, waa.. Aah benar-benar, deh. Saya,
tuh, suka capek marahinnya.” “Lho, ya, namanya juga anak laki-laki.
Ya, biasalah, Jeng.”
“Lebih nikmat situ, ya. Anak cuma satu dan perempuan lagi. Nggak bengal.”
“Ah, siapa bilang Jeng Mar. Sama kok. Cuma yaitu, saya dari dulu, ya,
cuma satu saja. Sebetulnya saya ingin punya satu lagi, deh. Ya, seperti
situ.”
“Lho, mbok ya bilang saja sama suaminya. ee.. siapa tahu ada rejeki,
si putri tunggalnya itu bisa punya adik. Situ juga sama suaminya kan
masih sama-sama muda.”
“Ya, itulah Jeng. Papanya itu lho, suka susah.
Dulu, ya, waktu kami mau mulai berumah tangga sepakat untuk punya dua
saja. Ya, itung-itung mengikuti program pemerintah, toh, Jeng. Tapi
nggak tahu lah papanya tuh. Kayaknya sekarang malah tambah asik saja
sama kerjaannya. Terlalu sering capek.”
“O, itu toh. Ya, mbok diberi tahu saja kalau sewaktu-waktu punya
perhatian sama keluarga. ‘Kan yang namanya kerja itu juga butuh
istirahat.
Mbok dirayu lah gitu.”
“Wah, sudah dari dulu Jeng. Tapi, ya, tetap susah saja, tuh.
Sebenernya ini, lho, Jeng Mar. Eh, maaf, ya, Jeng kalo’ saya omongin.
Tapi Jeng Mar tentunya juga tau dong masalah suami-istri ‘kan.”
“Ya, memang. Ya, orang-orang yang sudah seperti kita ini masalahnya
sudah macem-macem, toh, Bu. Sebenarnya Bu Niar ini ada masalah apa,
toh?”
“Ya, begini Jeng, suami saya itu kalo’ bergaul sama saya suka
cepet-cepet mau rampung saja, lho. Padahal yang namanya istri seperti
kita-kita ini ‘kan juga ingin membutuhkan kenikmatan yang lebih lama,
toh, Jeng.”
“O, itu, toh. Mungkin situ kurang lama merayunya. Mungkin suaminya butuh variasi atau model yang agak macem-macem, gitu.”
“Ya, seperti apa ya, Jeng. Dia itu kalo’ lagi mau, yang langsung
saja. Saya seringnya nggak dirangsang apa-apa. Kalo’ Jeng Mar, gimana,
toh? Eh, maaf lho, Jeng.”
“Kalo’ saya dan suami saya itu saling rayu-merayu dulu. Kalo’ suami
saya yang mulai duluan, ya, dia biasanya ngajak bercanda dulu dan
akhirnya menjurus yang ke porno-porno gitulah. Sama seperti saya juga
kalau misalnya saya yang mau duluan.”
”Terus apa cuma gitu saja, Jeng.”
“O, ya tidak. Kalo’ saya yang merayu, biasanya punya suami saya itu
saya pegang-pegang. Ukurannya besar dan panjang, lho. Terus untuk lebih
menggairahkannya, ya, punyanya itu saya enyot dengan mulut saya. Saya
isep-isep.”
“ii.. Iih. Jeng Mar, ih. Apa nggak jijik, tuh? Saya saja
membayangkannya juga sudah geli. Hii..” “Ya, dulu waktu pertama kali,
ya, jijik juga, sih. Tetapi suami saya itu selalu rajin, kok,
membersihkan gituannya, jadi ya lama-lama buat saya nikmat juga.
Soalnya ukurannya itu, sih, yang lumayan besar. Saya sendiri suka
gampang terangsang kalo’ lagi ngeliat. Mungkin situ juga kalo’ ngeliat,
wah pasti kepengen, deh.”
“Ih, saya belon pernah, tuh, Jeng. Lalu kalo’ suaminya duluan yang mulai begimana?”
“Saya ditelanjangi sampai polos sama sekali. Dia paling suka
merema-remas payudara saya dan juga menjilati putingnya dan kadang
lagaknya seperti bayi yang sedang mengenyot susu.”, kataku sambil ketawa
dan tampak Bu Niar juga tertawa.
“Habis itu badan saya dijilati dan dia juga paling suka menjilati
kepunyaan saya. Rasanya buat saya, ya, nikmat juga dan biasanya saya
semakin terangsang untuk begituan. Dia juga pernah bilang sama saya
kalo’ punya saya itu semakin nikmat dan saya disuruh meliara baik-baik.”
“Ah, tapi untuk yang begituan itu saya dan suami saya sama sekali
belum pernah, lho, Jeng. Tapi mungkin ada baiknya untuk dicoba juga, ya,
Jeng. Tapi tadi itu masalah yang situ dijilatin punyanya. Rasa enaknya
seperti apa, sih, Jeng.”
“Wah, Bu Niar ini, kok, seperti kurang pergaulan saja, toh.”
“Lho, terus terang Jeng. Memang saya belon pernah, kok.”
“Ya, geli-geli begitulah. Susah juga untuk dijelasin kalo’ belum
pernah merasakan sendiri.” Lalu kami berdua tertawa. Setelah berhenti
tertawa, aku bertanya,
“Bu Niar mau tau rasanya kalau gituannya dijilati?”
“Yah, nanti saya rayu, deh, suami saya. Mungkin nikmat juga ya.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Apa perlu saya dulu yang coba?”, tanyaku sambil bercanda dan tersenyum.
“Hush!! Jeng Mar ini ada-ada saja, ah”, sambil tertawa.
“Ya, biar tidak kaget ketika dengan suaminya nanti. Kita ‘kan juga sama-sama wanita.”
“Wah, kayak lesbian saja. Nanti saya jadi ketagihan, lho. Malah
takutnya lebih senang sama situ daripada sama suami saya sendiri.
Ih! Malu’ akh.”, sambil tertawa. “Atau kalo’ nggak mau gitu, nanti
saya kasih tau gimana membuat penampilan bulu gituannya biar suaminya
situ tertarik. Kadang-kadang bentuk dan penataannya juga mempengaruhi
rangsangan suami, lho, Bu Niar.”
“Ah, Jeng ini.”
“Ee! Betul, lho. Mungkin bentuk bulu-bulu gituannya Bu Niar
penampilannya kurang merangsang. Kalo’ boleh saya lihat sebentar
gimana?”
“Wah, ya, gimana ya. Tapii.. ya boleh, deh. Eh, tapi saya juga boleh
liat donk punyanya situ. Sama-sama donk, ‘kan kata Jeng tadi kita ini
sama-sama wanita.”
”Ya, ‘kan saya cuma mau bantu situ supaya bisa usaha untuk punya anak
lagi.””Kalo’ gitu kita ke kamar saja, deh. Suami saya juga biasanya
pulang malam. Yuk, Jeng.” Langsung kita berdua ke kamar Bu Niar.
Kamarnya cukup tertata rapi, tempat tidurnya cukup besar dan dengan
kasur busa.
Di dindingnya ada tergantung beberapa foto Bu Niar dan suaminya dan
ada juga foto sekeluarga dengan anaknya yang masih semata wayang. Saya
kemudian ke luar sebentar untuk telepon ke rumah kalau pulangnya agak
telat karena ada urusan dengan perkumpulan ibu-ibu dan kebetulan yang
menerima suamiku sendiri dan ternyata dia setuju saja.
Setelah kita berdua di kamar, Bu Niar bertanya kepadaku, “Bagaimana
Jeng? Kira-kira siap?” “Ayolah. Apa sebaiknya kita langsung telanjang
bulat saja?”
“OK, deh.”, jawab Bu Niar dengan agak tersenyum malu. Akhirnya kita
berdua mulai melepas pakaian satu-persatu dan akhirnya polos lah semua.
Bulu kemaluan Bu Niar cukup lebat juga hanya bentuknya keriting dan
menyebar, tidak seperti miliku yang lurus dan tertata dengan bentuk
segitiga ke arah bawah.
Lalu aku menyentuh payudaranya yang agak bulat tetapi tidak terlalu
besar, “Lumayan juga, lho, Bu.” Lalu Bu Niar pun langsung memegang
payudaraku juga sambil berkata, “Sama juga seperti punya Jeng.”
Aku pun minta ijin untuk mengulum kedua payudaranya dan dia langsung
menyanggupi. Kujilati kedua putingnya yang berwarna agak
kecoklat-coklatan tetapi lumayan nikmat juga. Lalu kujilati secara
keseluruhan payudaranya.
Bu Niar nampak terangsang dan napasnya mulai memburu. “Enak juga, ya, Jeng. Boleh punya Jeng saya coba juga?”
”Silakan saja.”, ijinku. Lalu Bu Niar pun melakukannya dan tampak
sekali kalau dia masih sangat kaku dalam soal seks, jilatan dan
kulumannya masih terasa kaku dan kurang begitu merangsang. Tetapi
lumayanlah, dengan cara seperti ini aku secara tidak langsung sudah
menolong dia untuk bisa mendapatkan anak lagi.
Setelah selesai saling menjilati payudara, kami berdua duduk-duduk di
atas tempat tidur berkasur busa yang cukup empuk. Aku kemudian memohon
Bu Niar untuk melihat liang kewanitaannya lebih jelas,
“Bu Niar. Boleh nggak saya liat gituannya? Kok bulu-bulunya agak keriting. Tidak seperti milik saya, lurus-lurus dan lembut.”
Dengan agak malu Bu Niar membolehkan, “Yaa.. silakan saja, deh,
Jeng.” Aku menyuruh dia, “Rebahin saja badannya terus tolong kangkangin
kakinya yang lebar.” Begitu dia lakukan semuanya terlihatlah daging
kemaluannya yang memerah segar dengan bibirnya yang sudah agak keluar
dikelilingi oleh bulu yang cukup lebat dan keriting.
mm.. Cukup merangsang juga penampilannya. Kudekatkan wajahku ke liang
kewanitaannya lalu kukatakan kepada Bu Niar bahwa bentuk kemaluannya
sudah cukup merangsang hanya saja akan lebih indah pemandangannya bila
bulunya sering disisir agar semakin lurus dan rapi seperti milikku.
Lalu kusentuh-sentuh daging kemaluannya dengan tanganku, empuk dan
tampak cukup terpelihara baik, bersih dan tidak ada bau apa-apa. Nampak
dia agak kegelian ketika sentuhan tanganku mendarat di permukaan alat
kelaminnya dan dia mengeluh lirih,
“Aduh, geli, lho, Jeng.”
“Apa lagi kalo’ dijilat, Bu Niar. Nikmat, deh. Boleh saya coba?”
“Aduh, gimana, ya, Jeng. Saya masih jijik, sih.”
“Makanya dicoba.”, kataku sambil kuelus salah satu pahanya.
“mm.. Ya, silakan, deh, Jeng. Tapi saya tutup mata saja, ah.” Lalu
kucium bibir kemaluannya sekali, chuph!! “aa.. Aah.”, Bu Niar mengerang
dan agak mengangkat badannya. Lalu kutanya, “Kenapa? Sakit, ya?” Dia
menjawab, “Geli sekali.”
“Saya teruskan, ya?” Bu Niar pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
Kuciumi lagi bibir kemaluannya berkali-kali dan rasa geli yang dia
rasakan membuat kedua kakinya bergerak-gerak tetapi kupegangi kedua
pangkal pahanya erat-erat.
Badannya bergerinjal-gerinjal, pantatnya naik turun. Uh! Pemandangan
yang lucu sekali, aku pun sempat ketawa melihatnya. Saya keluarkan lidah
dan saya sentuhkan ujungnya ke bibir kemaluannya berkali-kali.
Oh! Aku semakin terbawa napsu. Kujilati keseluruhan permukaan
memeknya, gerakanku semakin cepat dan ganas. Oh, Bu Niar, memekmu
nikmaa..aat sekali. Aku sudah tak ingat apa-apa lagi. Semua
terkonsentrasi pada pekerjaan menjilati liang kewanitaan Bu Niar.
Emm.., Enak sekali. Terus kujilati dengan penuh napsu. Pinggir ke
tengah dan gerakan melingkar. Kumasukan lidahku ke dalam celah bibir
kemaluannya yang sudah mulai membuka. Ouw! Hangat sekali dan cairannya
mulai keluar dan terasa agak asin dan baunya yang khas mulai menyengat
ke dalam lubang hidungku.
Tapi aku tak peduli, yang penting rasa kemaluan Bu Niar semakin lezat
apalagi dibumbui dengan cairan yang keluar semakin banyak. Kuoleskan ke
seluruh permukaan kemaluannya dengan lidahku. Jilatanku semakin licin
dan seolah-olah semua makanan yang ku makan pada saat acara arisan tadi
rasanya tidak ada apa-apanya.
Badan Bu Niar bergerinjal semakin hebat begitu juga pantatnya naik-turun dengan drastis. Dia mengerang lirih,
“aa.. Ah, ee.. Eekh, ee.. Eekh, Jee.. Eeng, auw, oo.. Ooh. Emm.. Mmh.
Hah, hah, hah,.. Hah.” Dan saat mencapai klimaks dia merintih, “aa..,
aa.., aa.., aa.., aah”, Cairan kewanitaannya keluar agak banyak dan
deras.
OK, nampaknya Bu Niar sudah mencapai titik puncaknya. Tampak Bu Niar
telentang lemas dan aku tanya, “Bagaimana? Enak? Ada rasa puas?”
“Lumayan nikmat, Jeng. Situ nggak jijik, ya.” “Kan sudah biasa juga sama suami.”
Kemudian aku bertanya sembari bercanda, “Situ mau coba punya saya juga?” “Ah, Jeng ini. Jijik ‘kan.”, sembari ketawa.
“Yaa.. Mungkin belon dicoba. Punya saya selalu bersih, kok. ‘Kan
suami saya selalu mengingatkan saya untuk memeliharanya.” Kemudian Bu
Niar agak berpikir, mungkin ragu-ragu antara mau atau tidak. Lalu,
“Boleh, deh, Jeng. Tapi saya pelan-pelan saja, ah.
Nggak berani lama-lama.”
“Ya, ndak apa-apa. ‘Kan katanya situ belum biasa. Betul? Mau coba?”
tantangku sembari senyum. Lalu dia cuma mengangguk. Kemudian aku
menelentangkan badanku dan langsung kukangkangkan kedua kakiku agar
terlihat liang kewanitaanku yang masih indah bentuknya.
Tampak Bu Niar mulai mendekatkan wajahnya ke liang kewanitaanku lalu
berkata, “Wah, Jeng bulu-bulunya lurus, lemas dan teratur. Pantes
suaminya selalu bergairah.” Aku hanya tertawa. Tak lama kemudian aku
rasakan sesuatu yang agak basah menyentuh kemaluanku.
Kepalaku aku angkat dan terlihat Bu Niar mulai berani
menyentuh-nyentuhkan ujung lidahnya ke liang kewanitaanku. Kuberi dia
semangat, “Terus, terus, Bu. Saya merasa nikmat, kok”. Dia hanya
memandangku dan tersenyum.
Kurebahkan lagi seluruh tubuhku dan kurasakan semakin luas penampang
lidah Bu Niar menjilati liang kewanitaan saya. Oh! Aku mulai terangsang.
Emm.. Mmh. Bu Niar sudah mulai berani. oo.. Ooh nikmat sekali.
Sedaa.. Aap. Terasa semakin lincah gerakan lidahnya, aku angkat
kepalaku dan kulihat Bu Niar sudah mulai tenggelam dalam kenikmatan,
rupanya rasa jijik sudah mulai sirna. Gerakan lidahnya masih terasa
kaku, tetapi ini sudah merupakan perkembangan.
Syukurlah. Mudah-mudahan dia bisa bercumbu lebih hebat dengan
suaminya nanti. Lama-kelamaan semakin nikmat. Aku merintih nikmat,
“Emm.. Mmh. Ouw. aa.. Aah, aa.. Aah. uu.. uuh. te.. te.. Rus
teruu..uus.”
Bibir kemaluanku terasa dikulum oleh bibir mulut Bu Niar. Terasa dia
menciumi kemaluanku dengan bernafsu. Emm.. Mmh, enaknya. Untuk lebih
nikmat Bu Niar kusuruh, “Pegang dan elus-elus paha saya. Enak sekali
Bu.”
Dengan spontan kedua tangannya langsung mengayunkan elusannya di
pahaku. Dia mainkan sampai pangkal paha. Bukan main! Sudah sama layaknya
aku main dengan suamiku sendiri. Terlihat Bu Niar sudah betul-betul
asyik dan sibuk menjilati liang kewanitaanku.
Gerakan ke atas ke bawah melingkar ke seluruh liang kewanitaanku.
Seolah-olah dia sudah mulai terlatih. Kemudian aku suruh dia untuk
menyisipkan lidahnya ke dalam liang kewanitaanku. Dahinya agak berkerut
tetapi dicobanya juga dengan menekan lidahnya ke lubang di antara bibir
kemaluan saya.
“Aaa.. Aakh! Nikmat sekali. Aku mulai naik untuk mencapai klimaks.
Kedua tangannya terus mengelus kedua pahaku tanpa henti. Aku mulai naik
dan terasa lubang kemaluanku semakin hangat, mungkin lendir kemaluanku
sudah banyak yang keluar.
Akhirnya aku pun mencapai klimaks dan aku merintih, “aa.. Aah, uuh”.
Sialan Bu Niar tampaknya masih asyik menjilati sedangkan badanku sudah
mulai lemas dan lelah. Bu Niar pun bertanya karena gerak kaki dan
badanku berhenti, “Gimana, Jeng?” Aku berkata lirih sambil senyum
kepadanya,
“Jempolan. Sekarang Bu Niar sudah mulai pinter.” Dia hanya tersenyum.
Aku tanya kembali, “Bagaimana? Situ masih jijik nggak?” “Sedikit,
kok.”, jawabnya sembari tertawa, dan akupun ikut tertawa geli.
“Begitulah Bu Niar. Mudah-mudahan bisa dilanjutkan lebih mesra lagi dengan suaminya, tetapi jangan bilang, lho, dari saya.”
“oo.., ya, ndak, toh, Jeng. Saya ‘kan juga malu. Nanti semua orang
tahu bagaimana?””Sekarang yang penting berusaha agar putrinya bisa punya
adik. Kasihan, lho, mungkin sejak dulu dia mengharapkan seorang adik.”
“Ya, mudah-mudahan lah, Jeng. Rejeki akan segera datang. Eh!
Ngomong-ngomong, Jeng mau nggak kalo’ kapan-kapan kita bersama kayak
tadi lagi?”
“Naa.., ya, sudah mulai ketagihan, deh. Yaa, itu terserah situ saja.
Tapi saya nggak tanggung jawab, lho, kalo’ situ lantas bisa jadi lesbian
juga. Saya ‘kan cuma kasih contoh saja.”, jawabku sembari mengangkat
bahu dan Bu Niar hanya tersenyum. Kemudian aku cepat-cepat berpakaian
karena ingin segera sampai di rumah, khawatir suamiku curiga dan
berprasangka yang tidak-tidak.
Waktu aku pamit, Bu Niar masih dalam keadaan telanjang bulat berdiri
di depan kaca menyisir rambut. Untung kejadian ini tak pernah sampai
terbuka sampai aku tulis cerita yang aneh dan lucu ini. Soal bagaimana
kemesraan Bu Niar dan suaminya selanjutnya, itu bukan urusan saya tetapi
yang penting kelezatan liang kewanitaan Bu Niar sudah pernah aku
rasakan