Waktu itu aku semester 3 di tahun 2014 aku berkenalan dengan cewek yang
bernama Yusii usiaku saat itu 21 tahun sedangkan dia 23 tahun, saat itu
Yussi bekerja di salah satu perusahaan swasta sebagai progamer, awal
pertemuan kita berasal dari chatroom lam keloamaan kita saling akrab dan
pernah ketemuan.
Setelah persahabatan kami berjalan 1 tahun akhirnya kami mempunyai
kesempatan untuk ber-copy darat. Aku memperoleh kesempatan untuk
berlibur di Jakarta. Singkat cerita akupun sampai di Bandara
Internasional Soekarno-Hatta dan dengan berbekal beberapa lembar foto
kirimannya, aku sore harinya pergi ke Mall Taman Anggrek untuk
menemuinya.
Pertama sekali kumelihatnya, aku sungguh terpana. Bagiku, Yussi lebih
cantik aslinya ketimbang di fotonya. Ditunjang lagi oleh penampilannya
yang semakin dewasa yang disesuaikan dengan profesinya kini sebagai
programer software di PT JS di kawasan Gatot Subroto Jaksel.
Hal ini membuat aku semakin tertarik dengannya dan membuat birahiku
naik secara perlahan-lahan. Setelah bertemu, kami berdua mengelilingi
Taman Anggrek hingga malam dan dinner disana. Setelah dinner kami
berkesempatan mengelilingi Jakarta dan akhirnya kami pulang dan kuantar
dia sampai ke rumahnya di kawasan Duri Kepa Jakarta Barat.
Pertemuan itu membawa kenangan tersendiri bagiku dan oleh sebab itu
aku kembali mengajak Yussi keluar jalan-jalan keesokan harinya yang
bertepatan dengan malam minggu. Keesokan harinya, pagi-pagi benar aku
menjemput Yussi setelah itu kami pergi makan pagi bersama dan
mengelilingi Jakarta beserta mallnya hingga jam 10 malam.
Sebenarnya aku masih sangat ingin bersamanya hingga larut malam,
namun Yussi menolak karena katanya tidak ada yang menjaga rumah, sebab
Papa, Mama, Koko, Kakak ipar dan Dedenya sedang ke Bogor menghadiri
kondangan familinya.
Sebenarnya aku kecewa juga mendengar penolakannya itu, tapi
kekecewaanku ternyata tidak lama. Terbukti Yussi waktu itu langsung
mengajakku untuk menginap di rumahnya, karena dia tidak berani tidur
sendirian.
Akupun tidak mengiyakan secara langsung penawarannya itu, aku
berpikir beberapa menit. Setelah berpikir beberapa menit aku pun
mengiyakan tawaran Yussi dan tampaknya ia sangat senang sekali. Akhirnya
kami sampai di rumahnya pukul 10 lewat 30 malam.
Segera setelah turun dari mobil, Yussi membuka pintu pagar dan pintu
rumah. Lalu akupun masuk ke dalam rumahnya yang lumayan besar itu dan
menempelkan pantatku pada kursi sofa di ruang tamunya.
Seketika itu pikiranku melayang-layang membayangkan seandainya aku
dapat menyalurkan hasratku pada Yussi. Terus terang saja, selama ini aku
selalu horny jika mendengar suara dari Yussi dan aku pun selalu
beronani membayangkan sedang menyetubuhinya.
Bahkan tidak jarang pada saat kutelepon dia, aku sedang naked dan
beronani sambil bertelepon dengan dia dan Yussi pun tahu semuanya itu.
Setelah mengunci pintu rumahnya, Yussi permisi padaku untuk mandi dan
aku pun mengiyakannya.
Mendengar Yussi mau mandi pikiranku bertambah kotor setelah
sebelumnya aku membayangkan bisa menyetubuhinya. Lalu dengan langkah
berjingkat-jingkat kuikuti langkah Yussi yang berjalan ke arah kamar
mandi di ruang makan hingga aku melihat Yussi masuk ke dalam kamar mandi
dan mengunci pintunya.
Akupun segera memutar otakku mencari celah agar dapat mengintip
Yussi. Namun belum sempat aku mendapatkan cara mengintip yang pas,
tiba-tiba Yussi keluar dari kamar mandi dengan naked dan berteriak
karena ada kecoa. Aku yang melihat Yussi keluar dengan naked hanya bisa
terpaku dan diam. Mataku langsung tertuju pada dua daging kenyal yang
bergantung di dadanya.
Sungguh indah sekali buah dada Yussi yang berukuran 34 A (kuketahui
ukurannya, karena aku pernah menanyakan ukuran bra nya lewat SMS dan dia
pun memberitahu aku) dengan putingnya yang berwarna kecoklatan.
Ingin rasanya lidahku langsung menyeruput wilayah dadanya itu.
Pandangan mataku kini tertuju pada lubang vaginanya yang ditumbuhi oleh
ilalang asmara walaupun tidak begitu lebat. Penisku pun langsung bangkit
dan berdiri tegak.
Waktu itu yang hanya ada di pikiranku hanyalah bagaimana caraku untuk
meniduri Yussi. Tanpa pikir panjang akupun mendekati Yussi dan
kurangkul tubuhnya lalu kutempelkan bibirku pada bibirnya yang lembut
mereka itu.
Yussi tidak memberikan perlawanan bahkan ia pun mengulum bibirku.
“Ah..” dia mendesah. Aku pun semakin berani setelah mendengar
desahannya itu. Lidahku keluar masuk ke rongga mulutnya yang mungil dan
tanganku pun bergerilya meremas-remas dan terkadang meraba-raba onggokan
daging kenyal di dadanya sambil memilin-milin putingnya yang sudah
mulai mengeras.
Sementara itu ia juga mulai mencoba menarik resleting celanaku dan
tanpa kesulitan dia berhasil menurunkan celanaku dan menarik kaosku
serta melemparnya ke lantai kamar mandi. Saat itu, ia sedikit terkejut,
ketika tanpa sengaja tangannya menyentuh penisku yang masih dilapisi
oleh celdamku.
“Oh.. Very big buanget tongkolmu, Dave” Aku hanya menanggapinya
dengan senyum dan tanganku masih bekerja memilin-milin puting susunya.
Ciumanku mulai kuarahkan ke lehernya dan terus turun ke bawah dan
berhenti di bagian putingnya.
Di sini aku permainkan putingnya yang indah itu dengan lidahku.
Terkadang kuemut, kuhisap dan kugigit lembut putingnya itu, sehingga
membuat Yussi tak kuasa untuk menahan hawa nafsunya yang sudah hampir
meledak.
Tampaknya ia juga sudah tidak sabar untuk melihat dan merasakan
penisku karena Yussi sedang berusaha menarik turun sempakku. Dan
kemudian tanpa halangan yang berarti Yussi akhirnya berhasil menurunkan
celdamku.
“Jangan disini Yos, kita cari tempat yang enak, ok? Gimana kalau kita
maen di kamar kamu Yos?” “Oh iya.. Enakan di kamar gue. Kita bisa
ngent*t sampe puas”.
Lalu kugendong tubuhnya ke loteng dan kubawa ke dalam kamar tidurnya
dan selanjutnya kurebahkan tubuh bugilnya diatas ranjang alga yang
empuk. Tanpa menunggu lebih lama lagi, segera kuhisap puting susunya
yang sudah semakin mengeras lagi.
“Ah.. Dave,” pekiknya.
“Yos.. Toket loe indah buanget. Gue suka buanget sama toket loe,” celetekku dengan penuh nafsu.
“Terus Dave.. Oh.. Geli..” desahnya. Mendengar desahannya aku semakin
bernafsu. Lambat laun ciumanku merambat turun ke pusarnya lalu ke
gundukan di selangkangannya. Kemudian kumainkan clitorisnya dengan
lidahku dan aku terus memasukkan ujung lidahku ke dalam lubang vaginanya
yang harum itu.
Kemudian dia mengangkat pinggulnya dan berseru, “Oh.. My god.. Is
very great.. Oh.. God..” Sementara aku masih mempermainkan wilayah
vaginanya dengan lidahku, Yussi semakin kencang menggoyang-goyangkan
pinggulnya, kemudian dengan tiba-tiba dia berteriak,
“Dave.. aku.. ke.. lu.. aarr..” dan seketika itu tubuh Yussi
mengejang dan matanya terpejam. Sementara itu di gua keramatnya terlihat
cairan kewanitaannya membanjiri vaginanya. Kuhisap cairannya itu dan
kurasakan manis bercampur asin dengan aroma yang wangi dan hangat.
Kuhisap cairannya dengan rakus sampai habis dan tubuhku kembali
merambat ke atas menghisap putingnya kembali yang tampak indah bagiku.
Rasanya bibirku masih belum puas menyusui putingnya itu.
Tak lama kemudian kulihat Yussi kembali menggeliat-geliat dan
mendesah-desah. Ia tampak terangsang kembali dan memintaku untuk segera
memasukkan penisku yang berukuran 16 cm dengan diameter 3 cm ke dalam
gua keramatnya yang sudah basah sekali.
“Ayo.. Dave.. Masukkan tongkolmu ke memiawku. Gue sudah enggak tahan
lagi,” pintanya. Tanpa menunggu lebih lama lagi kuarahkan penisku ke
dalam lubang vaginanya dan secara perlahan-lahan namun pasti penisku pun
mulai menyeruak masuk ke dalam lubang vaginanya yang masih sempit
(maklumlah Yussi masih virgin) dan akhirnya penisku berhasil masuk 3/4
ke dalam lubang vaginanya.
“Aduh.. Pelan-pelan ya, please,” erangnya sedikit tertahan. Kembali
kutekan penisku untuk masuk ke lubang vaginanya secara perlahan sehingga
akhirnya aku berhasil memasukkan semua penisku ke dalam lubang
vaginanya dan menyentuh dasar vaginanya.
“Oh.. Nikmat buanget..” katanya yang disertai dengan desahan halus.
Aku semakin bernafsu untuk menggenjotnya setelah mendengar desahan dan
erangannya. Semakin dia mendesah, aku semakin mempercepat genjotanku di
lubang vaginanya.
“Oh.. Dave.. ak.. uu.. suudahh.. ma.. uu.. kke.. luarr.. rr..
laggii..” “Tahan Yos.. aku juga.. u.. da.. mau.. ke.. luuaarr, keluarkan
di.. mana.. Yos?” tanyaku.
“Di.. Da..” Belum sempat ia menjawab, aku sudah tak bisa menahannya
lagi, sehingga akibatnya, Crot.. Crot.. Crot.. Crot..! Beberapa kali
penisku menembakkan maniku yang banyak ke dalam lubang vaginanya dan
saat itu juga aku merasakan cairan hangat Yussi beserta aliran darah
perawannya menyelimuti batang penisku yang masih tegak di dalam
vaginanya.
“Terima kasih Yos.. Kamu sudah memberikan aku kenikmatan malam ini..”
ujarku sambil mengecup lembut bibirnya dan menarik keluar penisku.
“Aku juga ingin terima kasih ke kamu, karena telah memuaskan nafsuku
untuk melakukan hubungan sex denganmu yang selama ini kupendam dalam
anganku,” katanya tanpa malu-malu dengan mata yang sayu.
“Ayo.. Kita mandi berdua,” ajaknya sambil menarik tanganku. Dan di
kamar mandi itu, batang penisku kembali bereaksi ketika Yussi
mengelus-elusnya. Tanpa malu-malu aku langsung menarik pinggang Yussi
dan menyuruhnya menungging ke arahku.
Aku pun secara perlahan lahan memasukkan penisku yang sudah menegang
ke sela-sela pantatnya yang tidak begitu besar. Sejenak, Yussi
tersentak, namun hal itu hanya berlangsung sebentar saja, karena Yussi
kemudian menggerak-gerakkan pinggulnya ketika dirasakan penisku sudah
masuk semuanya ke dalam lubangnya.
“Ah.. Dave.. a.. kk.. uu.. ke.. ll.. uu.. aa.. rr.. l.. aa.. g..
ii..” erangnya dengan lembut. “A.. k.. u.. juu.. ggaa..” kataku sambil
menyemprotkan maniku ke lubang vaginanya kembali. Setelah itu kami
melanjutkan acara mandi kembali dan setelah mandi, sebelum tidur, aku
mengent*tnya sekali lagi.
Keesokan paginya pada saat aku bangun jam 7 pagi kembali kugenjot dia
dan malam harinya kami kembali ber-ML ria.. Sungguh liburan yang
berkesan dengan teman chatting. Terima kasih Yussi atas virginmu.