Sehabis pulang dari kantor aku melewati ruang tamu ternyata ada teman
istriku yang msasih muda kira kira umurnya 28 tahun dengan gadis yang ku
taksir berumur 14 tahun, aku masuk ke kamar untuk melatakkan peralatan
kantorku dan aku kembali ke ruang tamu untuk ikut nimbrung apa yang
sedang dibicarakan sama dengan istriku, ternyata tamu yang datang adalah
seorang yang mau bekerja di rumahku sebagai pembantu.
Malam itu aku berembuk tentang wanita itu, sebenarnya istriku agak
keberatan jika wanita itumengajak anaknya untuk bekerja di rumah kami
yang dikatakan istriku sebagai beban tambahan, tapi setelah kuyakinkan
akhirnya istriku setuju juga kalau wanita itu beserta anak gadisnya
bekerja sebagai pembantu di rumah kami
Alasanku karena istriku sedang sibuknya mengurus bisnisMLM-nya dan
karena pernikahan kami yang sudah 6 tahun belum mendapatkan keturunan,
sehingga anak gadis itu bisa kami anggap sebagai anak kami sendiri.
Keesokan harinya sekitar jam 5:00 sore wanita itu dan anak gadisnya
telah berada di rumahku untuk melakukan tugas sebagai pembantu, sebut
saja wanita itu Nursyfa dan anak gadisnya Risya. Karena rajinnya kerja
kedua pembantuku itu, maka Risya kuijinkan untuk meneruskan sekolah atas
tanggunganku. Kulihat di wajahnya tersenyum kegirangan.
“Terima kasih Pak, Risya senang sekali bisa meneruskan sekolah, terima kasih Pak, Bu.”
“Ya, tapi kamu harus rajin belajar, dan kalau sudah pulang sekolah
kamu harus bantu ibumu,” kata istriku sambil berpelukan dengan Risya,
kulihat di wajah ibunya Nursyifa pun terlihat keceriaan.
Enam bulan berlalu sejak Nursyifa dan Risya bekerja di rumah kami,
aku berbuat mesum dengan Nursyifa sewaktu istriku pergi keluar kota
untuk urusan bisnis MLM-nya. Hari itu hari Sabtu, malamnya istriku ke
Jogja dengan kereta api, karena Sabtu kantor libur sementara Risya
sedang sekolah, aku melihat Nursyifa yang sedang berdiri di dapur
membelakangi aku yang sedang masuk dapur selesai mencuci mobil.
Aku tertegun melihat tubuh Nur yang mengunakan baju terusan warna
hijau muda agak tipis sehingga terbayanglah tali BH dan celana dalam
yang keduanya berwarna hitam menutupi bagian vitalnya.
Pantatnya yang padat dan seksi serta betisnya yang terbungkus kulit
putih dan mulus bentuknya seperti bunting padi, membuat aku merasa
tersedak seakan-akan ludahku tidak bisa tertelan karena membayangi tubuh
Nur yang indah itu.
Tiba-tiba Nur berbalik dan kaget melihatku yang baru saja membayanginya.
“Eh.. Bapak, ngagetin saya aja.”
“Eh.. Nur boleh saya duduk, saya mau tau kenapa kamu cerai, kamu mau menceritakannya ke saya.”
“Eng.. gimana yach.. saya malu Pak, tapi bolehlah.”
Akhirnya aku duduk di meja makan sementara Nur menceritakan sejarah
hidupnya sambil terus bekerja mempersiapkan makan siang untukku.
Akhirnya aku baru tahu kalau Nur itu menikah di usia 15 tahun dan
setahun kemudian dia melahirkan Risya dan dia bercerai 2 tahun yang lalu
karena suaminya yang suka mabuk, judi, main perempuan dan suka
memukulinya dan pernah hampir membunuhnya dimana di punggung Nur ada
bekas tusukan pisau.
Aku tertegun mendengar ceritanya sementara Nur seakan mau menangis
membayangi jalan hidupnya kulihat itu di matanya sewaktu dia bercerita.
Karena rasa kasihanku kurangkul tubuh Nur.
“Sudah, Nur.. jangan nangis.. sekarang kamu sudah bisa hidup tenangan
di sini bersama anakmu, lupakan masa lalumu yah.. saya minta maaf kalau
membuat kamu harus mengingat lagi.”
“Iya.. Pak.. saya dan Risya.. berterima kasih sekali.. Bapak dan Ibu baik.. pada kami.”
“Ya.. sudah.. sudah.. jangan nangis terus.. nanti Risya pulang.. kamu malu deh.. kalau lagi nangis.”
Nur menangis dalam rangkulanku, air matanya membasahi kausku tapi
tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang lain karena kedua payudaranya
menyentuh dadaku yang membuat gejolak nafsuku meningkat. Tanpa sengaja
bibir mungilnya kucium lembut dengan bibirku yang membuat dirinya
gelagapan.
“Aaahh.. Bapak!”
Tapi kemudian dia membalas kecupanku dengan lembut sekali diikuti lidahnya memainkan lidahku yang membuat aku makin berani.
“Pak.. sshh..”
“Kenapa.. Nur..?”
“Tidak.. Pak.. aahh.. tidak apa-apa.”
Kuangkat roknya dan aku meraba pantatnya yang padat lalu kutarik ke
bawah celana dalam warna hitam miliknya sampai dengkul, pahanya kuraba
dengan lembut sampai vaginanya tersentuh. Nur mulai bergelinjang, dia
membalas dengan agresif leher dan pipiku diciuminya. Kumainkan jariku
pada vaginanya, kutusuk vaginanya dengan jari tengah dan telunjukku
hingga agak basah.
“Aahh.. Pak, enak sekali deh..”
“Nur.. kalau kita lanjutkan di kamar yuk!”
“Saya sih mau aja Pak, tapi kalau nanti Ibu tahu gimana?”
“Ah, ibu khan lagi ke Jogja, lagi pulangnya kan hari Selasa.”
Kugiring Nursyifa ke kamarku, sampai di kamar kututup pintu dan
langsung kusuruh Nur untukmenanggalkan pakaiannya. Nur langsung menuruti
keinginanku, seluruh pakaiannya ditanggalkan hingga dia bugil.
Yang agak mengagetkanku karena keindahan tubuh Nur. Nur dengan tinggi
sekitar 167 cm memiliki payudara yang kencang dan montok dibungkus
kulit yang putih bersih, pinggulNur agak kurus tapi pantatnya yang agak
besar dan padat dan vaginanya yang ditutupi bulu halus agak lebat
membuat aku seakan tidak bisa menelan ludahku. Kalau aku beri nilai
tubuh Nur nilainya 9.9, hampir sempurna.
“Bapak, baju Bapak juga dilepas dong, jangan bengong melihat tubuh Nur.”
“Nur, tubuhmu indah sekali, lebih indah dari tubuhnya Ibu.”
“Ah, masa sih Pak?”
“Iya Nur, tahu gitu kamu saja yang jadi Ibu deh.”
“Ah Bapak bisa aja nih, tapi kalau Nur jadi Ibu, Nur mau kok jadi ibu ke dua.”
Aku langsung menanggalkan pakaianku dan batang kemaluanku langsung
menegang keras dan panjang.Kuhampiri Nur langsung kucium bibirnya,
dipeluknya diriku, tangan mungil Nur meraba-raba batang kemaluanku lalu
dikocoknya, liang vaginanya kusentuh dan kutusuk dengan jariku, kami
bergelinjang bersamaan.
Kami menjatuhkan diri kami bersamaan ke tempat tidur. “Nur, kamu mau
nggak hisap kontol saya, saya jilatin vaginamu.” Nur hanya mengangguk
lalu kami ambil posisiseperti angka 69.
Batang kemaluanku sudah digenggam oleh tangannya lalu dijilat,
dikulum dan disedot sambil sesekali dikocoknya. Liang vaginanya sudah
kujilati dengan lembutnya, vaginanya mengeluarkan bau harum yang wangi,
sementara rasanya agak manis terlebih ketika bijiklitorisnya terjilat.
Hampir 10 menit lamanya ketika keluar cairan putih kental membasahi liang vagina itu dan langsung kutelan habis.
“Aaakkhh.. aakkhh..” rintih Nur kelojotan. Tapi lima menit kemudian
giliranku yang kelojotan karena keluarlah cairan dari batang kemaluanku
membasahi muka Nur tapi dengan sigap dia langsung menelannya hingga
habis lalu “helm” dan batangku dibersihkan denganlidahnya.
Setelah itu, aku merubah posisi, aku berbaring sedangkan Nur kusuruh
naik dan jongkokdi selangkanganku. Lalu tangannya menggapai batang
kemaluanku diarahkannya ke liang vaginanya. Tapi karena liang vagina Nur
yang sudah lama tidak dimasukan sesuatu jadi agak sempit sehinggaaku
bantu dengan beberapa kali sodokkan, baru vagina itu tertembus batang
kemaluanku.
“Blleess.. jlebb.. jlebb..”
Kulihat Nur agak menahan nafas karena batangku yang besar dan panjang telah menembus vaginanya.
“Heekkh.. heekkhh.. punya Bapak gede banget sih Pak, tapi Nur suka deh rasanya sodokannya sampai perut Nur.”
Tubuh Nur dinaik-turunkan dan sesekali berputar, sewaktu berputar aku merasakan kenikmatan yang luar biasa.
“Nur, vaginamu enak sekali, batangku kayak diperas-peras oleh
vaginamu, terus terang Bapak barukali ini merasakannya, Nur enak
sekali.”
Setengah jam kemudian, aku merubah posisi dengan batang kemaluanku
masih di dalam vagina Nur, aku duduk dan kuangkat tubuhnya lalu
kubaringkan tubuhnya di sisi tempat tidur dengan kaki Nur menggantung,
kutindih tubuhnya sehingga membuat sodokan batangku jadi lebih terasa ke
dalam lagi masuk vaginanya.
“Aakkhh.. aakkhh, iya Pak enakan gaya gini.” Payudaranya yang mancung
dan puting yang agak kecoklatan sudah kucium, kuremas dan
kusedot-sedot.
15 menit kemudian kami ganti posisi lagi, kali ini kami berposisi
doggie style, liang vaginanya kusodok oleh batang kemaluanku dari
belakang, Nur menungging aku berdiri. Kuhentak batanganku masuk lebih
dalam lagi ke vagina Nur yang hampir 15 menit kemudian Nur menjerit.
“Akhh.. arghh.. sshh.. sshh.. Pak, Nur keluar nih.. akhh.. sshh..”
Keluarlah cairan dari vagina Nur yang membasahi dinding vaginanya dan
batang kemaluanku yang masih terbenam di dalamnya sehingga vagina itu
agak licin, tetapi tetap kusodok lebih keras lagi hingga 10 menit
kemudian aku pun berasa ingin menembakkan cairan dari kemaluanku.
“Nur.. saya juga mau keluar nih, saya nggak tahan nich..”
” Pak.. tolong keluarin di dalam saja yach.. saya mau cobain kehangatan cairan Bapak, dan saya kan siap jadi ibu ke dua.”
“Crroott.. croott.. crroott..”
Keluarlah cairanku membasahi liang vagina Nur, karena banyaknya
cairanku hingga luber dan menetes ke paha Nur. Lalu kulepaskan batangku
dari vaginanya dan kami langsung terbaring lemas tak berdaya di tempat
tidurku.
Lima menit kemudian yang sebenarnya kami ingin istirahat, aku
mendengar suara dari luar kamartidurku kami tersentak kaget. Setelah
berpakaian kusuruh Nur keluar kamarku yang rupanya Risya ada di ruang
makan, ia mencari-cari ibunya setelah pulang dari sekolah.
Malam harinya setelah Risya tertidur, Nur kembali masuk kamarku untuk
bermain lagi denganku.Keesokan harinya, setelah aku terbangun kira-kira
jam 8:00, aku keluar kamar, aku mencariNur, tapi yang aku temukan hanya
Risya yang sedang menonton TV.
Rupanya aku baru ingat kalau setiap Minggu pagi Nur pergi berbelanja
ke pasar. Setelah mandi kutemani Risya yang lagi duduk di karpet sambil
nonton TV, sedangkan aku duduk di sofa.
“Risya.. gimana sekolah kamu..?”
“Baik.. Pak, bulan depan mau ulangan umum.”
“Mmm, ya sudah kamu belajar yang rajin yah, biar Ibu kamu bangga.”
“Pak, boleh Risya tanya?”
“Iya, kenapa Risya..?”
“Kemarin ketika Risya pulang sekolah, Risya kan cari ibu Risya, pas
buka kamar Bapak, Risya melihat Bapak dan ibu Risya lagi telanjang terus
Risya lihat kalau Ibu Risya ditusuk dari belakang oleh Bapak, ada
sesuatu punya Bapak yang masuk ke badan ibu Risya, maaf yach Pak, Risya
lancang. Mama Nur lagi diapain sih sama Bapak?”
“Hah, jadi kamu sempat melihat ibumu telanjang.”
“Iya Pak, tapi kok Mama Nur kayaknya keenakan ya. Risya jadi kepingin dech Pak kayak ibu Risya.”
“Kamu serius Ris, kamu mau?”
“Iya Pak.”
Kulihat Risya tersipu malu menjawab pertanyaan dariku, sementara rok
Risya tersingkap sewaktududuknya bergeser sehingga pahanya yang putih
mulus terlihat oleh mataku yang membuatku langsung terangsang. Kusuruh
Risya duduk dipangkuanku. “Ris, sini kamu duduk di pangkuan Bapak.”
Ketika dia berdiri menujuku, aku membuka resleting celanaku dan
kuturunkan celana dalamku lalu aku keluarkan batang kemaluanku yang
sudah menegang, sebelum Risya duduk di pangkuanku, celana dalamnya yang
putih kuturunkan sehingga vagina mungil putih bersih milikgadis 13 tahun
ini ada di hadapanku, menyerbakan aroma wangi dari vaginanya yang
ditutupi bulu-bulu halus dan langsung kujilat dengan lembutnya. Risya
memegang kepalaku dan tubuhnya menggeliat.
“Aahh.. sshh.. enak.. Pak.. enak.. sekali.”
Vagina Risya yang masih muda itu terus kujilati karena rasanya
manis-manis asin. Risya punmakin menggelinjang, kira-kira 15 menit
kemudian Risya mulai kejang-kejang dan basahlah vagina itu oleh cairan
putih kental yang mengalir dari dalamnya, cairan itu kutelan habis.
“Arghh.. arghh.. Pak.. ada yang keluar nih dari tempat pipis Risya.. eugh.. eugh..”
Tubuh Risya langsung lemas tak berdaya, cepat-cepat kupangku. Batang
kemaluanku yang mengeraskutempelkan pada vaginanya yang basah. Tubuhnya
kuarahkan menghadapku, kemeja yang dikenakan Risya kulepas sehingga dia
hanya mengenakan baju dalam yang tipis, payudara Risya yang baru tumbuh
terbayang di balik baju dalamnya
Segera kulepaskan sehingga di mukaku terpampangpayudara yang baru
mekar ditutupi kulit yang putih bersih dengan dihiasi puting agak
kemerahan, langsung kulahap dengan mulutku, kujilat, kugigit dan kuhisap
membuat payudara itu makin mekar dan putingnya mengeras.
Sementara Risya masih tertidur lemas, batang kemaluanku yang
sudahmenempel di vagina Risya yang masih sempit kusodok-sodokkan agar
masuk, karena vagina itu masih sempit. kumasukkan dua jariku untuk
membuka vagina itu, kuputar kedua jariku sehingga vagina itu agak
melebar dan basah.
Setelah itu kucoba lagi dengan batang kemaluanku, kusodok masuk
batanganku ke vagina Risya yang memang masih sempit juga walau sudah
dibantu dengan jariku. Akhirnya setelah 20 kali kutekan, masuklah helm
batanganku ke vagina Risya. Risya mulai tersadar ketika batanganku
menyodokvaginanya, dia pun menjerit kesakitan.
“Aawww.. aawww.. sshh.. sshh.. aawww.. sakit.. Pak.. tempat pipis Risya.. sakit awww.. aawww..”
“Sabar sayang nanti juga enak.. sayang.. tahan ya.. sakitnya.. sebentar lagi..”
Kupeluk tubuh Risya dan menenangkannya dari rasa sakit pada vaginanya
yang robek oleh batangkemaluan milikku yang memang super besar.
Sodokkanku pada vagina Risya kupelankan untuk mencegah rasa sakitnya dan 10 menit kemudian Risya merasakan kenikmatan.
“Ahh.. ahh.. arghh.. arghh.. Pak.. sekarang tidak sakit lagi.. sekarang jadi enak.. aahh.. aahh..”
Hampir setengah jam kemudian tiba-tiba Risya mengeluarkan cairan dari
dalam vaginanya berikuttetesan darah dan langsung tubuh Risya lemas lagi
dan pingsan. Aku menyadari bahwa aku telah membobol keperawanan Risya.
“Arrgghh.. Pak.. Risya.. lemmaass..”
Aku agak kaget juga melihat keadaan Risya yang secara tidak sengaja
kubobol keperawanannya tapi karena sudah tanggung terus kugenjot
batanganku ke vagina Risya yang sudah berdarah dan 10 menit kemudian
keluarlah cairan dari dalam kemaluanku dengan derasnya memasuki liang
vagina Risya hingga meluber ke pahaku.
“Crroot.. crroott..”
“Ssshh.. sshh.. aahh.. nikmatnya.. vagina.. gadis ini..”
Langsung kucabut batang kemaluanku dari vagina Risya dan kubaringkan
Risya yang pingsan di Sofa. Sisa cairan yang masih melekat di vagina
Risya kulap dengan bajuku hingga bersih, sesudah itu kurapihkan baju
Risya dan kubiarkan Risya yang masih pingsan tidur di Sofa, aku lalu
membersihkan badanku sendiri.
Sepuluh menit kemudian Nursyifa, datang dari pasar sedangkan aku
sudah memakai baju lagi. Sejaksaat itu aku bermain dengan istriku jika
dia di rumah, dengan Nur jika istriku pergi dan Risya sekolah, dengan
Risya jika istriku dan Nur pergi.
Aku lakukan sudah hampir 3 bulan lamanya merasakan kenikmatan dari
tiga perempuan di dalam rumahku, tapi sekarang aku sedang bingung sebab 2
bulan yang lalu akhirnya istriku mendapat berkah bahwa dia hamil 1
bulan, 1 bulan yang lalu giliran Nur yang kuketahui bahwa dia hamil 1
bulan juga, sekarang 2 minggu yang lalu setelah kuajak Risya periksa ke
dokter dia sudah hamil 1 bulan juga. Duuhh.. pusingnya aku!