Tante Nila ini tinggal dekat rumahku, hanya beda 5 rumahlah, nah
Tante Nila ini cukup deket sama keluargaku meskipun enggak ada hubungan
saudara. Dan dapat dipastikan kalau sore biasanya banyak ibu-ibu suka
ngumpul di rumahku buat sekedar ngobrol bahkan suka ngomongin suaminya
sendiri. Nah Tante Nila inilah yang bikin aku cepet gede (maklumlah anak
masih puber kan biasanya suka yang cepet-cepet).
Biasanya Tante Nila kalau ke rumah Aku selalu memakai daster atau
kadang-kadang celana pendek yang bikin aku ser.. ser.. ser.. Biasanya
kalau sudah sore tuh ibu-ibu suka ngumpul di ruang TV dan biasanya juga
aku pura-pura nonton TV saja sambil lirak lirik.
Tante Nila ini entah sengaja atau nggak aku juga enggak tahu yah. Dia
sering kalau duduk itu tuh mengangkang, kadang pahanya kebuka dikit
bikin Aku ser.. ser lagi deh hmm.
Apa keasyikan ngobrolnya apa emang sengaja Aku juga enggak bisa
ngerti, tapi yang pasti sih aku kadang puas banget sampai-sampai
kebayang kalau lagi tidur. Kadang kalau sedang ngerumpi sampai ketawa
sampai lupa kalau duduk nya Tante Nila ngangkang sampai-sampai celana
dalemnya keliatan (wuih aku suka banget nih).
Pernah aku hampir ketahuan pas lagi ngelirik wah rasanya ada perasaan
takut malu sampai-sampai Aku enggak bisa ngomong sampai panas dingin
tapi Tante Nila malah diam saja malah dia tambahin lagi deh gaya
duduknya. Nah dari situ aku sudah mulai suka sama tuh Tante yang satu
itu. Setiap hari pasti Aku melihat yang namanya paha sama celana dalem
tuh Tante.
Pernah juga Aku waktu jalan-jalan bareng ibu-ibu ke puncak nginep di
villa. Ibu-ibu hanya bawa anaknya, nah kebetulan Mami Aku ngsajak Aku
pasti Tante Nila pula ikut wah asyik juga nih pikir ku. Waktu hari ke-2
malam-malam sekitar jam 8-9 mereka ngobrol di luar deket taman sambil
bakar jagung.
Ternyata mereka sedang bercerita tentang hantu, ih dasar ibu-ibu
masih juga kaya anak kecil ceritanya yang serem-serem, pas waktu itu
Tante Nila mau ke WC tapi dia takut. Tentu saja Tante Nila di ketawain
sama gangnya karena enggak berani ke WC sendiri karena di villa enggak
ada orang jadinya takut sampai-sampai dia mau kencing di deket pojokan
taman.
Lalu Tante Nila menarik tangan Aku minta ditemenin ke WC, yah aku sih
mau saja. Pergilah aku ke dalam villa sama Tante Nila, sesampainya Aku
di dalam villa Aku nunggu di luar WC eh malah Tante Nilan ngsajak masuk
nemenin dia soalnya katanya dia takut.
“Lex temenin Tante yah tunggu di sini saja buka saja pintu nya enggak
usah di tutup, Tante takut nih”, kata Tante Nila sambil mulai
berjongkok.
Dia mulai menurunkan celana pendeknya sebatas betis dan juga celana
dalamnya yang berwarna putih ada motif rendanya sebatas lutut juga.
“Serr.. rr.. serr.. psstt”, kalau enggak salah gitu deh bunyinya.
Jantungku sampai deg-degan waktu liat Tante Nila kencing, dalam hatiku,
kalau saja Tante Nila boleh ngasih liat terus boleh memegangnya hmm.
Sampai-sampai aku bengong ngeliat Tante Nila.
“Heh kenapa kamu Lex kok diam gitu awas nanti kesambet” kata Tante Nila.
“Ah enggak apa-apa Tante”, jawabku.
“Pasti kamu lagi mikir yang enggak-enggak yah, kok melihatnya ke bawah terus sih?”, tanya Tante Nila.
“Enggak kok Tante, aku hanya belum pernah liat cewek kencing dan kaya apa sih bentuk itunya cewek?” tanyaku.
Tante Nila cebok dan bangun tanpa menaikkan celana sama CDnya.
“Kamu mau liat Lex? Nih Tante kasih liat tapi jangan bilang-bilang yah nanti Tante enggak enak sama Mamamu”, kata Tante Nila.
Aku hanya mengangguk mengiyakan saja. Lalu tanganku dipegang ke arah
vaginanya. Aku tambah deg-degan sampai panas dingin karena baru kali ini
Aku megang sama melihat yang namanya memek. Tante Nila membiarkanku
memegang-megang vaginanya.
“Sudah yah Lex nanti enggak enak sama ibu-ibu yang lain dikirain kita ngapain lagi”.
“Iyah Tante”, jawabku.
Lalu Tante Nila menaikan celana dalam juga celana pendeknya terus kami gabung lagi sama ibu-ibu yang lain.
Esoknya aku masih belum bisa melupakan hal semalam sampai sampai aku
panas dingin. Hari ini semua pengen pergi jalan-jalan dari pagi sampai
sore buat belanja oleh-oleh rekreasi. Tapi aku enggak ikut karena
badanku enggak enak.
“Lex, kamu enggak ikut?” tanya mamiku.
“Enggak yah Mam aku enggak enak badan nih tapi aku minta di bawain kue mochi saja yah Mah” kataku.
“Yah sudah istirahat yah jangan main-main lagi” kata Mami.
“Nila, kamu mau kan tolong jagain si Alex nih yah, nanti kalau kamu
ada pesenan yang mau di beli biar sini aku beliin” kata Mami pada Tante
Nila.
“Iya deh Kak aku jagain si Alex tapi beliin aku tales sama sayuran yah, aku mau bawa itu buat pulang besok” kata Tante Nila.
Akhirnya mereka semua pergi, hanya tinggal aku dan Tante Nila berdua
saja di villa, Tante Nila baik juga sampai-sampai aku di bikinin bubur
buat sarapan, jam menunjukan pukul 9 pagi waktu itu.
“Kamu sakit apa sih Lex? kok lemes gitu?” tanya Tante Nila sambil nyuapin aku dengan bubur ayam buatannya.
“Enggak tahu nih Tante kepalaku juga pusing sama panas dingin aja nih yang di rasa” kataku.
Tante Nila begitu perhatian padaku, maklumlah di usia perkawinannya
yang sudah 5 tahun dia belum dikaruniai seorang buah hati pun.
“Kepala yang mana Lex atas apa yang bawah?” kelakar Tante Nila padaku.
Aku pun bingung, “Memangya kepala yang bawah ada Tante? kan kepala kita hanya satu?” jawabku polos.
“Itu tuh yang itu yang kamu sering tutupin pake segitiga pengaman” kata Tante Nila sambil memegang si kecilku.
“Ah Tante bisa saja” kataku.
“Eh jangan-jangan kamu sakit gara-gara semalam yah” aku hanya diam saja.
Selesai sarapan badanku dibasuh air hangat oleh Tante Nila, pada
waktu dia ingin membuka celanaku, kubilang, “Tante enggak usah deh Tante
biar Alex saja yang ngelap, kan malu sama Tante”
“Enggak apa-apa, tanggung kok” kata Tante Nila sambil menurunkan celanaku dan CDku.
Dilapnya si kecilku dengan hati-hati, aku hanya diam saja.
“Lex mau enggak pusingnya hilang? Biar Tante obatin yah”
“Pakai apa Tan, aku enggak tahu obatnya” kataku polos.
“Iyah kamu tenang saja yah” kata Tante Nila.
Lalu di genggamnya batang penisku dan dielusnya langsung spontan saat
itu juga penisku berdiri tegak. Dikocoknya pelan-pelan tapi pasti
sampai-sampai aku melayang karena baru pertama kali merasakan yang
seperti ini.
“Achh.. cchh..” aku hanya mendesah pelan dan tanpa kusadari tanganku
memegang vagina Tante Nila yang masih di balut dengan celana pendek dan
CD tapi Tante Nila hanya diam saja sambil tertawa kecil terus masih
melakukan kocokannya. Sekitar 10 menit kemudian aku merasakan mau
kencing.
“Tante sudah dulu yah aku mau kencing nih” kataku.
“Sudah, kencingnya di mulut Tante saja yah enggak apa-apa kok” kata Tante Nila.
Aku bingung campur heran melihat penisku dikulum dalam mulut Tante
Nila karena Tante Nila tahu aku sudah mau keluar dan aku hanya bisa diam
karena merasakan enaknya.
“Hhgg..achh.. Tante aku mau kencing nih bener ” kataku sambil meremas vagina Tante Nila yang kurasakan berdenyut-denyut.
Tante Nilapun langsung menghisap dengan agresifnya dan badanku pun mengejang keras.
“Croott.. ser.. err.. srett..” muncratlah air maniku dalam mulut
Tante Nila, Tante Nila pun langsung menyedot sambil menelan maniku
sambil menjilatnya. Dan kurasakan vagina Tante Nila berdenyut kencang
sampai-sampai aku merasakan celana Tante Nila lembab dan agak basah.
“Enak kan Lex, pusingnya pasti hilang kan?” kata Tante Nila.
“Tapi Tante aku minta maaf yah aku enggak enak sama Tante nih soalnya Tante..”
“Sudah enggak apa-apa kok, oh iya kencing kamu kok kental banget, wangi lagi, kamu enggak pernah ngocok Lex?”
“Enggak Tante”
Tanpa kusadari tanganku masih memegang vagina Tante Nila.
“Loh tangan kamu kenapa kok di situ terus sih”. Aku jadi salah tingkah
“Sudah enggak apa-apa kok, Tante ngerti” katanya padaku.
“Tante boleh enggak Alex megang itu Tante lagi” pintaku pada Tante Nila.
Tante Nila pun melepaskan celana pendeknya, kulihat celana dalam Tante Nila basah entah kenapa.
“Tante kencing yah?” tanyaku.
“Enggak ini namanya Tante nafsu Lex sampai-sampai celana dalam Tante basah”.
Dilepaskannya pula celana dalam Tante Nila dan mengelap vaginanya dengan handukku. Lalu Tante Nila duduk di sampingku
“Lex pegang nih enggak apa-apa kok sudah Tante lap” katanya. Akupun
mulai memegang vagina Tante Nila dengan tangan yang agak gemetar, Tante
Nila hanya ketawa kecil.
“Lex, kenapa? Biasa saja donk kok gemetar kaya gitu sih” kata Tante Nila.
Dia mulai memegang penisku lagi, “Lex Tante mau itu nih”.
“Mau apa Tante?”
“Itu tuh”, aku bingung atas permintaan Tante Nila.
“Hmm itu tuh, punya kamu di masukin ke dalam itunya Tante kamu mau kan?”
“Tapi Alex enggak bisa Tante caranya”
“Sudah, kamu diam saja biar Tante yang ajarin kamu yah” kata Tante Nila padaku.
Mulailah tangannya mengelus penisku biar bangun kembali tapi aku juga
enggak tinggal diam aku coba mengelus-elus vagina Tante Nila yang di
tumbuhi bulu halus.
“Lex jilatin donk punya Tante yah” katanya.
“Tante Alex enggak bisa, nanti muntah lagi”
“Coba saja Lex”
Tante pun langsung mengambil posisi 69. Aku di bawah, Tante Nila di
atas dan tanpa pikir panjang Tante Nila pun mulai mengulum penisku.
“Achh.. hgghhghh.. Tante”
Aku pun sebenarnya ada rasa geli tapi ketika kucium vagina Tante Nila
tidak berbau apa-apa. Aku mau juga menjilatinya kurang lebih baunya
vagina Tante Nila seperti wangi daun pandan (asli aku juga bingung kok
bisa gitu yah) aku mulai menjilati vagina Tante Nila sambil tanganku
melepaskan kaus u can see Tante Nila dan juga melepaskan kaitan BH-nya,
kini kami sama-sama telanjang bulat.
Tante Nila pun masih asyik mengulum penisku yang masih layu kemudian
Tante Nila menghentikannya dan berbalik menghadapku langsung mencium
bibirku dengan nafas yang penuh nafsu dan menderu.
“Kamu tahu enggak mandi kucing Lex” kata Tante Nila.
Aku hanya menggelengkan kepala dan Tante Nila pun langsung menjilati
leherku menciuminya sampai-sampai aku menggelinjang hebat, ciumannya
berlanjut sampai ke putingku, dikulumnya di jilatnya, lalu ke perutku,
terus turun ke selangkanganku dan penisku pun mulai bereaksi mengeras.
Dijilatinya paha sebelah dalamku dan aku hanya menggelinjang hebat
karena di bagian ini aku tak kuasa menahan rasa geli campur kenikmatan
yang begitu dahsyat. Tante Nila pun langsung menjilati penisku tanpa
mengulumnya seperti tadi dia menghisap-hisap bijiku dan juga terus
sampai-sampai lubang pantatku pun dijilatinya sampai aku merasakan
anusku basah.
Kulihat payudara Tante Nila mengeras, Tante Nila menjilati sampai ke
betisku dan kembali ke bibirku dikulumnya sambil tangannya mengocok
penisku, tanganku pun meremas payudara Tante Nila. Entah mengapa aku
jadi ingin menjilati vagina Tante Nila, langsung Tante Nila kubaringkan
dan aku bangun, langsung kujilati vagina Tante Nila seperti menjilati es
krim.
“Achh.. uhh.. hhghh.. acch Lex enak banget terus Lex, yang itu isep
jilatin Lex” kata Tante Nila sambil menunjuk sesuatu yang menonjol di
atas bibir vaginanya.
Aku langsung menjilatinya dan menghisapnya, banyak sekali lendir yang
keluar dari vagina Tante Nila tanpa sengaja tertelan olehku.
“Lex masukin donk Tante enggak tahan nih”
“Tante gimana caranya?”
Tante Nila pun menyuruhku tidur dan dia jongkok di atas penisku dan
langsung menancapkannya ke dalam vaginanya. Tante Nila naik turun
seperti orang naik kuda kadang melakukan gerakan maju mundur. Setengah
jam kami bergumul dan Tante Nila pun mengejang hebat.
“Lex Tante mau keluar nih eghh.. huhh achh” erang Tante Nila.
Akupun di suruhnya untuk menaik turunkan pantatku dan tak lama
kurasakan ada sesuatu yang hangat mengalir dari dalam vagina Tante Nila.
Hmm sungguh pengalaman pertamaku dan juga kurasakan vagina Tante Nila
mungurut-urut penisku dan juga menyedotnya.
Kurasakan Tante Nila sudah orgasme dan permainan kami terhenti
sejenak. Tante Nila tidak mencabut penisku dan membiarkanya di dalam
vaginanya.
“Lex nanti kalau mau kencing kaya tadi bilang ya” pinta Tante Nila padaku.
Akupun langsung mengiyakan tanpa mengetahui maksudnya dan Tante
Nilapun langsung mengocok penisku dengan vaginanya dengan posisi yang
seperti tadi.
“Achh .. Tante enak banget achh.., gfggfgfg..” kataku dan tak lama aku pun merasakan hal yang seperti tadi lagi.
“Tante Alex kayanya mau kencing niih”
Tante Nila pun langsung bangun dan mengulum penisku yang masih
lengket dengan cairan kewanitaanya, tanpa malu dia menghisapnya dan tak
lama menyemburlah cairan maniku untuk yang ke 2 kalinya dan seperti yang
pertama Tante Nila pun menelannya dan menghisap ujung kepala penisku
untuk menyedot habis maniku dan akupun langsung lemas tapi disertai
kenikmatan yang alang kepalang.
Kami pun langsung mandi ke kamar mandi berdua dengan telanjang bulat
dan kami melakukannya lagi di kamar mandi dengan posisi Tante Nila
menungging di pinggir bak mandi. Aku melakukannya dengan cermat atas
arahan Tante Nila yang hebat.
Selasai itu jam pun menunjukan pukul 1 siang langsung makan siang
dengan telur dadar buatan Tante Nila, setelah itu kamipun capai sekali
sampai-sampai tertidur dengan Tante Nila di sampingku, tapi tanganku
kuselipkan di dalam celana dalam Tante Nila.
Kami terbangun pada pukul 3 sore dan sekali lagi kami melakukannya
atas permintaan Tante Nila, tepat jam 4:30 kami mengakhiri dan kembali
mandi, dan rombongan ibu-ibu pun pulang pukul 6 sore.
“Lex kamu sudah baikan?” tanya Mamiku.
“Sudah mam, aku sudah seger n fit nih” kataku.
“Kamu kasih makan apa Ni, si Alex sampai-sampai langsung sehat” tanya Mami sama Tante Nila.
“Hanya bubur ayam sama makan siang telur dadar terus kukasih saja obat anti panas” kata Tante Nila.
Esoknya kamipun pulang ke jakarta dan di mobil pun aku duduk di
samping Tante Nila yang semobil denganku. Mami yang menyopir ditemani
Ibu Herman di depan. Di dalam mobilpun aku masih mencuri-curi memegang
barangnya Tante Nila.
Sampai sekarang pun aku masih suka melakukannya dengan Tante Nila bila rumahku kosong atau terkadang ke hotel dengan Tante Nila.
Sekali waktu aku pernah mengeluarkan spermaku di dalam sampai 3 kali.
Kini Tante Nila sudah dikarunia 2 orang anak yang cantik. Baru
kuketahui bahwa suami Tante Nila ternyata menagalami ejakulasi dini.
Sebenarnya kini aku bingung akan status anak Tante Nila.