Pengalaman di waktu aku masih remaja, umurku saat itu baru 15 tahun ,
sering banget aku sakit sakitan sampai suatu hari aku dilarikan ke rumah
sakit dan di rawat inap di slah satu RS di kota Surabaya, sakitku belum
diketahui karena tiba tiba tanganku pada bengkak, dan kalau lari lari
aku sering sesak napas, kemudian ibuku menyuruh bapak untuk dilarikan ke
spesialis dalam.
Si dokter malam itu juga meminta saya dirawat inap di rumah sakit.
Nah, dari rumah sakit itulah, saya mengalami pengalaman seks terhebat
yang akan saya kenang seumur hidup saya.
Karena minum obat yang diberikan dokter, malam pertama saya menginap
di rumah sakit, saya tidak bisa tidur. Saya maunya kencing terus. Sebuah
botol besar telah disiapkan untuk menampung air urine saya.
Otomatis, penis saya harus dimasukkan ke botol itu. Oleh dokter, saya
tidak diperbolehkan untuk turun dari tempat tidur. Jadi sambil tiduran,
saya tinggal memasukkan penis ke dalam botol yang sudah ada di samping
ranjang.
Ada satu perawat yang rupanya begitu telaten menjaga dan merawat saya
malam itu. Seharusnya ia tidak boleh memperhatikan saya membuang urine
di botol. Tetapi tatkala saya membuka piyama dan celana dalam saya, dan
mengarahkan penis ke mulut botol, eh si perawat yang belakangan
kuketahui bernama Aning D**** (edited) malah membantu memegang penis
saya.
Dengan pelan dan lembut tangan kirinya memegang penis kecil saya yang
masih kecil, sedangkan tangan kanannya ikut memegang botol itu. Setelah
urine saya keluar, ia membersihkan penis saya dengan tissue. Sambil
terus membersihkannya, ia memperhatikanku dengan senyuman aneh.
“Dik… kamu tahu bendamu ini bisa membuat kamu melayang-layang?” tanyanya tiba-tiba.
“Maksud Mbak?” tanyaku pura-pura tidak mengerti. Aku sudah tahu apa
maksudnya. Wong, aku sudah pernah nonton video BF seminggu yang lalu.
“Iya… kalo si kecil ini dipegang, dikocok-kocok oleh tangan halus
seorang wanita kemudian dihisap dan dikulum olehnya, pasti deh kamu akan
merasakan keenakan yang luar biasa.. lebih dari yang lain yang ada di
dunia ini…” jawab Mbak Aning lagi.
“Masa sih, Mbak? Pengen coba nih.. bisa nggak Mbak melakukannya buat
saya?” tanyaku hati-hati dengan perasaan campur baur. Berani juga nih
cewek.
“Kamu benar-benar mau?” tanyanya penuh semangat.
Tanpa menunggu jawabanku lagi, ia menaruh tissue itu lalu memegang
kejantananku dan pelan-pelan mulai mengocok-ngocoknya. Wah… memang benar
enak kocokannya. Pelan tapi pasti. Beberapa menit kemudian ia jongkok
di samping tempat tidur. Mulutnya dibuka lalu batang kejantananku
dimasukkan ke dalamnya. Mula-mula dihisapnya, dikulum lalu
dijilat-jilatnya kepala kejantananku.
Untuk pertama kalinya dalam masa remajaku, aku merasakan sesuatu yang
amat sangat nikmat! Entah apa namanya.. surga dunia kali ya? Tanpa
disangka-sangka Mbak Aning memegang tangan kananku lalu menuntunnya
masuk ke balik seragamnya.
Ya.. itu dia!! Gunung kembarnya begitu kenyal dan besar kurasakan.
Tanpa disuruh lagi aku pun meremas-remas, meraba-raba ’susu’ ajaibnya
itu. Sementara itu ia terus saja mengulum dan mengisap kejantananku
dengan penuh nafsu.
Beberapa menit kemudian aku mulai merasa akan ada sesuatu yang akan
keluar dari tubuhku yang masih lemah karena sakit. “Crot..! crot…!
crot…!” Sesuatu berwarna putih kekuning-kuningan dan agak kental keluar
dari batang kejantananku dan tanpa ampun lagi langsung menyemprot masuk
ke mulut Mbak Aning. Setelah sembilan kali semprot, ia menjilati
kejantananku dengan mimik muka penuh kepuasan.
“Gimana Dik…? Puas nggak?…” tanyanya sambil tersenyum. Terlihat bekas cairan kental itu di mulut dan bibirnya.
“Wah nikmat ya Mbak… Boleh dong aku minta lagi…?” jawabku penuh harap.
“Boleh dong… tapi jangan sekarang ya… kamu harus istirahat dulu…
besok pagi kamu pasti akan merasa lebih puas lagi… Mbak janji deh…”
ujarnya dengan mimik seperti menyembunyikan sesuatu.
Aku pun mengangguk. Mungkin karena kelelahan setelah di ‘karaoke’
oleh gadis perawat yang cantik dan sexy, aku pun tertidur malam itu.
Tapi tengah malam, sekitar pukul dua dini hari, aku merasa ’senjata’
andalanku kembali diobok-obok dan kini yang mengoboknya bukan hanya Mbak
Aning tetapi seorang perawat lain juga.
Namanya belakangan kuketahui adalah Maya. Gadis ini juga tak kalah
cantik bahkan buah dadanya itu benar-benar menggelembung di balik
seragam putihnya. Lebih besar dari punya Mbak Aning dan juga pasti lebih
kenyal!
Mereka terus saja menjilati, mengulum dan menghisap-hisap batanganku.
Yang seorang di sebelah kananku dan yang seorang lagi di sebelah
kiriku. Tanganku yang kiri meremas-remas susu Maya sedang tangan yang
kanan meremas susunya Aning.
Setelah sepuluh menit, batang kejantananku mulai mengeras dan siap
untuk ditusukkan. Maya kemudian naik ke atas ranjang dan menyingkapkan
roknya. Duh.. rupanya ia sudah tidak mengenakan celana dalam.
Ia kemudian duduk di atas kepalaku. Dengan sengaja ia mengarahkan
liang kewanitaannya ke wajahku. Aku tiba-tiba teringat dengan film porno
yang pernah kutonton seminggu yang lalu. Ya… aku harus menjilatnya
terutama di bagian kecil dan merah itu… ya apa ya namanya? Klitoris ya?
nah itu dia! Tanpa disuruh dua kali aku langsung mengarahkan lidahku ke
bagiannya itu.
“Slep… slep… slep…” terdengar bunyi lidahku saat bersentuhan dengan
klitoris Maya. Dan Aning? Rupanya ia sudah membuka seluruh pakaian
seragamnya lalu menduduki batanganku yang sudah sangat mengeras dan
berdiri dengan gagahnya.
Dengan tangan kirinya ia meraih batang kejantananku itu lalu dengan pelan ia mengarahkan senjataku itu ke liang senggamanya.
“Bles… jleb… bles…” batang kejantananku sudah masuk separuh, ia terus
saja bergoyang ke bawah ke atas. Buah dadanya yang montok
bergoyang-goyang dengan indahnya, kedua tangannya memegang sisi ranjang.
Wah… dikeroyok begini sih siapa yang nggak mau, bisa main dua ronde
nih. Setelah beberapa menit, kami berganti posisi. Maya kusuruh tidur
dengan posisi tertelungkup. Sementara Aning juga tidak ketinggalan. Lalu
dengan penuh nafsu aku membawa batanganku dan mengarahkannya ke liang
senggama Maya dari arah belakang.
“Bles… bles… bles…jeb!!” Liang senggamanya berhasil ditembus oleh
senjataku. Terdengar suara lenguhan Maya karena merasa nikmat. “Uh..
uh.. uh.. uh.. Terus Dik.. Enak…ikmat..!” Tanganku pun tidak kalah
hebatnya. Kuraih buah dadanya sambil kuremas-remas. Puting payudaranya
kupegang-pegang.
“Gantian dong…” tiba-tiba Aning minta jatah. Duh, hampir kulupakan si
doi. Aku cabut batang kejantananku dari liang senggama Maya lalu kubawa
ke ranjang sebelah di mana telah menanti Aning yang sedang
mengelus-elus kemaluannya yang indah. Tanpa menunggu lagi, aku naik ke
ranjang itu lalu kumasukkan dengan dorongan yang amat keras ke liang
senggamanya
“Jangan keras-keras dong Dik…” erangnya nikmat.
“Habis mau keluar nih, Mbak… Di dalam atau di luar…” aku tiba-tiba
merasakan bahwa ada sesuatu yang nikmat akan lepas dari tubuhku
.
“Di mukaku aja Dik..” jawabnya di tengah erangan nafsunya.
Lalu kutarik batang kejantananku dari liang senggamanya yang sedang
merekah dan membawanya ke kepalanya. Lalu aku menumpahkan cairan putih
kental itu ke wajahnya. “Crot.. crot…crott.. crot.. crot!” Kasihan juga
Mbak Aning, wajahnya berlepotan spermaku. Ia tersenyum dan berkata,
“Terima kasih Dik… aku amat puas… demikian juga Mbak Vivi…”
Belakangan setelah aku keluar dari rumah sakit, aku mendengar bahwa
Aning dan Maya memang bukan perawat tetap di rumah sakit itu. Mereka
hanya bekerja sambilan saja. Mereka sebenarnya dua orang mahasiswi
kedokteran di sebuah universitas swasta di Surabaya.
Tiap kali mereka bekerja di sana, selalu ada saja pasien pria entah
remaja atau orang dewasa yang berhasil mereka ajak berhubungan seks
minimal satu kali. Nah lho.. gmana tertarik masuk rumah sakit?