Apapun pekerjaannya aku rela untuk memenuhi kebutuhan
perkuliahanku karena aku membutuhkan kira kira 60% untuk biaya kuliah
dan aku sekarang aku sedang menyusun skripsi karena perkuliahanku
membutuhkan banyak biaya sebagai praktek aku mengambil jurusan teknik
mesin waktu itu.
Ujian lokal maupun ujian negara kuusahakan semaksimal mungkin karena
aku sudah menghentikan pemberian dari orang tuaku, kupikir mereka sudah
cukup membiayaiku selama hampir 7 tahun selama aku kuliah.
Bekerja part time antara lain aku ikut dalam pembuatan beberapa film
Nasional baik di dalam negeri maupun sampai keluar negeri, mengikuti
salah satu sutradara yang cukup terkenal, aku sekaligus merangkap
sebagai figuran dan kru film itu sendiri.
Selama mengikuti pembuatan beberapa film di Jakarta, aku sempat
berkenalan dengan salah satu pemain wanita yang pada saat itu cukup
terkenal dan cukup aduhai baik wajah dan bentuk tubuhnya.
Umurnya 38 tahun dengan tinggi kira-kira 164 cm serta berat badan
ideal bagi wanita seumurnya, rambutnya panjang dikepang satu, pokoknya
amat ideal menurut ukuran favoritku. Dia isteri seorang pengusaha dan
merupakan adik dari salah satu sutradara terkenal di Jakarta untuk
film-film action di saat itu dimana aku ikut bekerja.
Oleh karenanya itu Mbak Diah (demikian kami menyapanya) sering
menjadi pemeran pembantu dihampir semua produksi film yang kuikuti
tersebut. Raut serta kelengkapan wajahnya, kehalusan dan warna kulitnya
kalau boleh aku bandingkan dengan bintang sinetron masa kini mirip
sekali dengan Vonny Cornelya.
Aku sendiri pada saat itu masih muda, wajahku lumayan dengan kumis
hitam yang lebat, didukung dengan tinggi badan 173 cm, berat 68 kg,
postur tubuhku cukup bagus yang kujaga berkat hasil olahraga keras
seperti pencak silat tradisionil selama masa kuliah serta aku mempunyai
sikap kebiasaan yang cukup sabar
Penuh perhatian terhadap segala sesuatu yang menarik perhatianku juga
kepada hal-hal yang baru khususnya dibidang fotografi dan perfilman
disertai bicara apa adanya kadang seenaknya tapi tetap menjaga sopan
santun khususnya kepada yang lebih tua.
Ini menjadi modal utama bagiku yang pada saat itu sehingga aku amat
dekat dengan Mas Mahesa Jenar (Sang Sutradara). Kedekatannya denganku
membuat para figuran ingin bersahabat denganku terutama wanita-wanita
muda yang cantik dan berharap untuk bisa tampil pada setiap adegan dalam
setiap film yang dibuat oleh Mas Echa (kru film menyapanya dengan
panggilan ini).
Perkenalanku dengan Mbak Diah berlanjut secara tidak sengaja terjadi
pada saat aku bersama kru film yang lain sedang mengambil shooting
bertempat di lokasi Cibodas dimana aku sudah beranjak naik dari figuran
kemudian dipercaya oleh Mas Echa untuk menjadi juru foto atau ‘Still
Photo’ menurut istilah perfilman (aku mempunyai hobby fotografi sampai
dengan saat ini) dan akhirnya aku dipercaya sebagai asisten Mas Echa.
Bekerja dengan Mas Echa, seorang sutradara yang amat baik tetapi
tegas dalam memberikan kesempatan kepada setiap anggota kru film dibawah
pimpinannya untuk berkembang sehingga hampir semua pekerjaan yang
menyangkut pembuatan film kukuasai (kita bekerja dengan system
kekeluargaan yang erat).
Secara kebetulan aku juga memiliki sedikit keahlian untuk
mengurut/memijat badan/anggota tubuh yang kupelajari seiring dengan
kegiatan bela diri tradisionil yang telah kusebut di atas dan akhirnya
para kru tahu bahwa mereka punya ‘tukang urut’ untuk relaks setelah
menjalankan kegiatan sehari-hari. Inilah awal aku jadi lebih akrab
dengan Mbak Diah yang manis dan menggairahkan dengan umurnya 38 tahun
dan sudah mempunyai anak 2 puteri yang cantik-cantik, Cempaka yang
sulung kelas 1 SMA dan Melati yang bungsu kelas 2 SMP.
Beberapa kali seperti biasanya apabila setelah kegiatan shooting
selesai pada malam hari kami berkumpul bersama sutradara dan beberapa
kru film yang telah menjadi akrab seperti saudara sendiri serta juga
Mbak Diah berada diantara kami. Dan pada suatu saat kami sedang
melakukan shooting film di sebuah villa di Cibodas.
“Dhitya, katanya jari-jari kamu pandai melemaskan otot yang kaku,
coba sekarang buktikan sama Mbak kalau kamu memang benar-benar ahli.”
kata Mbak Diah pada suatu malam disaat ‘break’ sehabis shooting kami
berkumpul di villa Cibodas di ruang tengah yang mana hadir juga beberapa
kru dan Mbak Ranti yang merupakan isteri Mas Echa, orangnya lembut dan
amat baik hati, seperti biasanya sebagian kru termasuk aku duduk di
lantai yang dilapisi karpet tebal.
“Iya Dhit, aku juga mau diurut badanku terutama bagian belakang dan
pinggangku rasanya pegal sekali, aku sudah hampir 2 malam berturut-turut
tidurku nggak nyenyak,” sambung Mas Echa yang langsung rebah telungkup
di bawah dekat aku duduk bersimpuh.
“Mas, kasihan Dhitya dong, jangan lama-lama yaa. Dia kan perlu
istirahat juga.” Mbak Ranti langsung memotong kata-kata suaminya, aku
tersenyum dan maklum bahwa Mbak Ranti sangat sayang kepadaku dan dia
menganggapku sebagai adiknya sendiri karena aku sudah agak lama
mengikuti kru film Mas Echa dan selalu membantu apa yang diperintah
mereka berdua diluar kerja film
Bahkan beberapa kali Mbak Ranti memberiku uang untuk tambahan biaya
kuliah dan ujian, pernah juga dia menemuiku tertidur di atas meja di
kamar editing film Mas Echa, di rumahnya karena saking lelahnya bekerja,
dia mengambil selimut dan menutupi tubuhku agar tidak kedinginan karena
editing room harus selalu dalam keadaan sejuk dengan suhu maksimal 15
derajat Celsius.
Kembali pada keadaan di villa Cibodas malam itu, Mas Echa seperti
tidak peduli dengan ucapan isterinya tadi seperti yang kuceritakan di
atas, dia dengan wajah yang gagah, kelaki-lakian atau HE-MAN menurut
istilah perfilman serta tubuhnya tinggi besar sudah tegeletak telungkup
di hadapanku dengan dada telanjang.
Aku pun langsung action mengurut Mas Echa sambil melirik dan berkata
kepada Mbak Diah, “Sebentar yaa Mbak, aku selesaikan Mas Echa setelah
itu aku akan mengurut Mbak.”
“Benar lho, kamu mau mengurutku, awas kalau kamu bohong,” jawabnya dengan senyum yang manis dan rasanya ada sesuatu luar biasa.
Seperti biasanya Mas Echa kalau sudah kena tanganku mengurutnya dalam
tempo 15 menit langsung terdengar dengkurnya yang khas, kulihat Mbak
Ranti yang masih asyik mengobrol dengan Mbak Diah menggeleng-gelengkan
kepalanya dan bangkit dari kursi lalu meninggalkan kami menuju kamar
tidur sambil berkata,
“Vie, aku tidur duluan ya, Mas-mu itu kalau sudah diurut lupa sama
semuanya, dan ini selimutnya ya Dhit, untuk kamu sama Mas Echa.”
Memang salah satu kebiasaanku dan Mas Echa kalau shooting di luar
kota terutama di daerah pegunungan kami selalu tidur di ruang tengah
villa, jadi selimut selalu disiapkan oleh Mbak Ranti.
Sementara teman-teman yang lain satu persatu meninggalkan ruang
tengah untuk langsung istirahat tidur karena biasanya pagi-pagi sebelum
matahari terbit kegiatan shooting sudah mulai kembali.
Tinggal kami bertiga, Mas Echa yang sudah tertidur dengan dengkurnya
yang khas, Mbak Diah yang dengan penuh perhatian memandang ke arah
tanganku yang bergerak dengan pasti dan lentur mengurut punggung serta
pinggang Mas Echa dan aku sendiri ’si tukang urut’.
Kutengok ke arah Mbak Diah yang sedang melamun. Aduh mak! manisnya
ini wanita dengan dadanya yang montok, padahal anaknya sudah 2 dan
tubuhnya masih padat dan montok itu.
Sudah 20 menit aku mengurut Mas Echa dan kelihatannya dia sudah terbang ke alam mimpi.
“Bagaimana Mbak Diah, jadi nggak dikerjain badannya?” sapaku enteng acuh tak acuh sambil tersenyum.
“Jadi dong, memangnya aku mau nungguin kamu dengan percuma tanpa hasil?” jawabnya tertawa halus dan renyah terdengar olehku.
“Tapi aku nggak mau di sini, ayo kita ke kamarku,” katanya lagi
setengah berbisik, aku terkejut dan jadi bertanya-tanya dalam hati, dia
ini serius ya?.
“Mbak, nggak enak dong sama Mas Echa dan Mbak Ranti nantinya kalau
mereka tahu kita berdua di dalam kamar aku mengurut Mbak,” jawabku pelan
dan agak ragu.
“Alaahh, nggak pa-pa kok, mereka kan sudah pada tidur, ayo cepetan
aku juga sudah mulai ngantuk nih.” tukasnya dengan kerlingan mata yang
penuh arti.
Nah lho, aku berpikir sejenak, ini adalah kesempatanku berdua dengan
Mbak Diah yang dari sejak pertemuan pertama aku sudah membayangkan
bagaimana bentuk tubuhnya yang indah kalau tanpa sehelai benang melekat
di tubuhnya
Tapi aku masih ragu-ragu soalnya dia kan adiknya Mas Echa dan
sementara itu banyak orang di sekitar kami meskipun semua sudah pada
tidur di kamarnya masing-masing. Kuselimuti Mas Echa yang sudah
mendengkur seperti suara gergaji pemotong balok kayu itu.
Kulihat Mbak Diah sudah naik dan masuk ke kamarnya yang terletak di
bagian atas villa yang disewa itu dan perlahan-lahan aku mengikuti dari
belakang.
“Sebentar ya Dhit aku ganti baju,” katanya, dia masuk ke kamar mandi,
beberapa saat kemudian dia keluar mengenakan celana olahraga yang amat
pendek sehingga pahanya yang putih mulus terlihat dengan indah dan dia
mengenakan kaos T-Shirt yang membuatku tertegun sejenak menelan ludah
karena buah dadanya yang ternyata besar dan masih mencuat padat
Terlihat membekas putingnya pada T-Shirt tersebut karena dia tidak memakai BH. Aku pura-pura tidak memperhatikannya.
“Terus posisi tidurku harus bagaimana Dhit?” tanyanya terlihat
seolah-olah masa bodoh dengan penampilannya yang menggairahkan itu.
“Ya terserah Mbak, mungkin sebaiknya tengkurap dahulu supaya saya
bisa mulai mengurut dari kaki Mbak.” jawabku agak bingung menghadapi
tubuh indah dan menggemaskan itu.
Tanpa banyak bicara Mbak Diah langsung tidur tertelungkup di atas
tempat tidur jenis single bed di depanku. Aduh Mak! mimpi apa aku ini
ada tubuh montok di hadapanku.
Aku masih tertegun melihat sepasang betis dan paha yang putih mulus di depanku.
“Ayo dong mulai, kok jadi ngelamun.. hayo mikir apa, mikir yang
bukan-bukan yaa..” tegurnya halus sambil menoleh ke arahku sambil
tersenyum penuh arti, aku tersadar sejenak.
“Oh.. eh maaf Mbak, aku juga heran kok aku jadi bengong melihat betis
dan paha Mbak yang mulus ini. Mbak pasti rajin ikut body language ya,
pasti nih rajin senam ya Mbak,” jawabku seenaknya tanpa sadar, mungkin
aku juga mulai ngawur.
“Ah kamu, dasar laki-laki.. semua sama saja nggak bisa lihat barang mulus, pasti nafsu deh.” juga jawabnya sekenanya.
“Maaf ya Mbak, aku mulai yaa..” kataku sambil mulai memijat telapak
kakinya, kemudian naik ke arah betis yang bagaikan padi bunting terus ke
bagian paha dengan keahlian gerakan jari-jariku dengan lentur.
Beberapa saat kemudian terdengar keluhannya halus, “Oh.. Dhit, kamu
kok pintar sih mijat, Mbak belum pernah merasakan pijatan seperti ini,”
katanya lembut, aku juga merasakan gerakan tubuhnya yang mulai seperti
terangsang oleh gerakan jari-jariku pada bagian belakang betis, paha
serta pantatnya, pinggulnya yang terasa olehku masih padat dan gempal.
Aku memiliki sedikit pengetahuan dalam hal urut-mengurut bagian tubuh
wanita maupun pria sejak masa SMA dari seorang ahli massage olahraga
dan menurutnya ada daerah yang amat sensitif di atas pantat sedikit dan
di bagian bawah pinggang apabila terkena pijatan atau tekanan jari yang
tepat dapat menimbulkan nafsu birahi yang tinggi, dan aku mencoba
melakukan hal tersebut pada tubuh Mbak Diah, ternyata aku melihat satu
hasil nyata, gerakan nikmat darinya disertai nafasnya yang mulai tidak
teratur akibat pijatanku tersebut.
“Aaaahhh.. kamu kok mijetnya tambah enak siiihh Dhit?” keluhnya lagi.
“Mbak.. nikmati saja dulu, komentar belakangan deh.” jawabku acuh tak
acuh, padahal aku sendiri mulai payah rasanya dan horny dengan
desahan-desahannya serta erangannya yang menggemaskan.
Tidak berapa lama kemudian, dia menggeliat dan sekonyong-konyong Mbak
Diah membalikkan badannya sehingga tanganku secara tidak sengaja
menyentuh perutnya yang putih akibat tersingkapnya T-shirt yang agak
kebesaran dengan gerakan badan yang tiba-tiba itu
Tangannya serta merta memegang serta menarik tanganku dan ditempelkan
ke dadanya yang besar dan membusung itu. Aku sempat tercengang
sebentar, lalu dengan refleks aku menggenggam kedua bukit indah itu,
lembut.”Ohhhh.. Dhitya, pijet susu Mbak yang enak yaa..” keluhnya penuh
nikmat.
Tanpa diminta dua kali aku langsung meremas lembut kedua susunya yang
besar dan masih agak kenyal itu dengan kenikmatan luar biasa, terus
kuremas sambil mengangkat kaos T-Shirtnya sehingga akhirnya aku dapat
melihat bukit indah itu dengan jelas, bukan main putih, besar dengan
puting berwarna coklat muda dan menggemaskan.
Secara perlahan-lahan kuciumi, dan aku sudah tidak peduli lagi dengan
desahan-desahan dan erangan-erangan Mbak Diah yang menikmati permainan
jariku serta lidahku yang menjilat serta menghisap kedua susunya dengan
puting berwarna coklat muda.
Aku rasanya persis seperti bayi minum ASI. Penisku mulai berontak di
balik celanaku, tapi aku masih asyik dengan permainan susu Mbak Diah
yang memang benar-benar impianku untuk memeluk serta menghisapnya
sepuas-puasnya.
“Ooohh.. Dhiitt.. kamu pinter sekali Dhiiit, terus isep susuku Dhiiit..” keluh kesahnya tertahan kenikmatan.
Aku pun mulai dengan kegilaanku, kukecup, kuhisap bergantian kedua
puting berwarna coklat muda yang mengeras sebesar biji buah kelengkeng
itu dengan kenikmatan yang luar biasa sambil meremas-remas lembut.
Gerilya mulutku terus turun ke arah perutnya yang agak berkerut, maklum
sudah melahirkan 2 anak tapi masih cukup mulus bagiku, terus turun dan
tanganku membuka celana pendeknya sekaligus CD-nya yang berwarna hitam
tipis berenda itu.
Mbak Diah juga mengangkat pantatnya guna memudahkan aku melepas
celananya. Tanganku kembali meremas susunya yang besar, kenyal dan masih
padat itu dengan gemasnya, sementara lidahku bergerilya pada ujung
vagina Mbak Diah yang ditumbuhi bulu-bulu lebat hitam keriting itu,
kujilat lembut sambil mengecup perlahan.
Tangan kanannya meremas kepalaku sambil menekan ke arah vaginanya
yang basah berlendir bening terasa agak asin di lidahku, sementara
tangan kirinya terasa membantuku meremas susunya sambil mendengus
tertahan menahan rasa nikmat permainan bibir dan lidahku di vaginanya.
Kuangkat serta kubuka pahanya yang putih mulus itu, terlihatlah
dengan jelas dan menggairahkan lubang kenikmatan bagi pria itu berwarna
merah muda dan basah oleh cairan yang telah kujilat dan kutelan dengan
penuh kenikmatan.
Sekali lagi kukecup dan kujilat kedua bibir indah itu dan kugigit
kecil klitorisnya yang mungil tapi bukan main menggemaskan. “Dhityaaa..
ooohhh.. mmmfff!” dia mengerang halus mungkin karena sadar bahwa di
ruang tengah ada Mas Echa dan di kamar bawah ada Mbak Ranti
Tiba-tiba dia menekankan kepalaku ke vaginanya sehingga aku agak
gelagapan untuk bernafas disertai jepitan kedua pahanya di kiri kanan
kepalaku, terasa cairan hangat kental melumuri lidahku, bibirku,
hidungku. Wooow, dia mencapai orgasme. Terdengar sayup-sayup jeritan
tertahan keluar dari mulut Mbak Diah, “Aduuuh.. Dhiiit, kamuuuu..
ngggmmm.. gilaaa.. ooohhh..”
Beberapa saat terasa jepitan kedua pahanya masih terasa kuat dan
perlahan-lahan mengendur dan akhirnya aku dapat bernafas dengan lega
setelah Mbak Diah melepaskan jepitan pahanya di kepalaku serta
melepaskan tekanan tangannya di kepalaku dari vaginanya yang nikmat.
Mulutku penuh dengan cairan hangat kental dan agak asin itu, tanpa
berpikir panjang langsung kutelan karena aku tahu bahwa cairan itu
intisari dari makanan yang penuh gizi, sementara tanganku membenarkan
penisku yang terjepit CD-ku sendiri supaya agak bebas dari ketegangan
yang baru saja terjadi.
“Ooohhh.. Dhitya, kamu nakal deh, tapi pinter..” bisiknya sambil
tersenyum, kulihat dia dari arah pangkal paha yang putih mulus itu.
“Mbak.. Mbak sendiri yang buat gara-gara, jadi aku nggak tahan untuk
itu,” jawabku perlahan sambil menghela nafas dan antara sadar dan tidak
menikmati apa yang baru saja terjadi, tapi agak takut kedengaran orang
lain.
“Dhiiit.. sini dong sayaaang..” kata Mbak Diah sambil mengulurkan
kedua tangannya, kusambut tangannya dan dia menarikku dan mengecup
bibirku serta menciumi seluruh wajahku yang masih basah dengan sisa-sisa
air kenikmatan yang keluar dari vaginanya itu seolah tidak dirasakannya
sama sekali.
“Kamu telah memberikan kepuasan pada Mbak malam ini, Mbak nggak
sangka kamu hebat dengan permainan oral seks kamu.” sambil membelai
wajahku dengan lembut. Edan! aku sendiri jadi sadar sekarang bahwa aku
baru saja mengalami permainan oral seks dengan wanita yang selama ini
menjadi impianku untuk bermain cinta.
“Mas Iwan nggak pernah berbuat seperti apa yang kamu lakukan tadi,
aahhh..” keluhnya lagi, Mas Irawan/Iwan adalah suaminya. Sementara aku
berkeringat dingin menahan nafsu seksku yang kian memuncak melihat
pemandangan di depanku ini
Tubuh indah setengah telanjang dari dada ke bawah terbuka tanpa
sehelai benang menempel tapi aku sendiri tidak berani untuk mencoba-coba
yang aneh-aneh sampai tangan Mbak Diah menyusup ke dalam celanaku dan
menyentuh serta meremas penisku yang sudah tegang sejak aku melakukan
oral seks terhadapnya.
“Aduuuh.. panjang amat burungmu ini Dhit, berapah sih ukurannya?” tanyanya berbisik manja.
“16 cm Mbak.. tapi jangan sekarang, Mbak.. aku takut nanti Mas Echa
atau Mbak Ranti bangun gara-gara ini.. mati aku nanti, Mbak..” kataku
berbisik dan was-was penuh kekawatiran tapi juga kepingin karena memang
benar aku sudah seperti keluarga sendiri bagi Mas Echa dan Mbak Ranti,
kalau aku tertangkap basah bercinta dengan adiknya, habis, tamat, the
end riwayatku.
“Ah.. nggak pa-pa Dhit, kamar ini kan di atas dan terpisah agak jauh
dari kamar Mas Echa dan mereka sudah pada mimpi.. siniii jangan
jauh-jauh tidurannya.”
jawabnya lagi merayuku sambil tetap meremas lembut penisku dan
menarik tubuhku supaya tetap menempel dengan tubuhnya. Aduh Mak,
meskipun aku amat bernafsu, aku masih ragu-ragu. “Teruskan Dhit, kau
memang bodoh kalau membuang kesempatan emas yang sudah kamu
tunggu-tunggu,” kata hatiku.
Tertegun sejenak, aku kembali sadar dengan remasan tangan di penisku
dan kecupan bibir sensual Mbak Diah di pipiku, terus bergeser ke mataku,
akhirnya bibir kami berpagut penuh nafsu birahi yang tinggi
Tanganku kembali mengusap serta meremas lembut susunya serta puting
Mbak Diah yang menggemaskan itu, sementara Mbak Diah juga tidak ingin
kalah agresif menggerakkan tangannya naik turun pada penisku yang masih
di dalam celana jeans-ku.
“Dhitya, buka celanamu sayang, aku jadi gemas banget dan biar tanganku bebas mengelus burungmu ini,” katanya lagi.
Sejenak permainan tanganku terhenti sejenak, aku bangun dan
melepaskan celanaku juga baju serta sweater yang kupakai untuk menahan
dinginnya malam di Cibodas. Kulihat Mbak Diah juga serta merta melepas
T-Shirt yang dipakainya dan tampaklah tubuh perempuan 38 tahun, masih
mulus dengan kedua susunya yang besar (akhirnya kuketahui ukurannya 38A,
wooow!), putih mulus dihiasi dengan puting coklat muda.
Aku berbalik dan menghadapnya dengan tubuh yang sudah tanpa sehelai
benang dan penisku tegak bak meriam si Jagur yang terpampang di Stadhuis
stasiun Kota meskipun udara Cibodas cukup dingin menggigit kulit.
Mbak Diah tertegun kaget sambil menutup mulutnya yang sensual pada
saat dia melihat ke arah penisku yang tegak di hadapannya, kuraih
tangannya menyentuh penisku sambil kugenggamkan, dia menurut sambil
memandangku kagum.
“Oooh Dhitya, panjang amat.. bohong kalau kamu bilang 16 cm,” katanya
sambil meremas lembut serta mulai menggerakkan maju mundur.
Aku sudah tidak sanggup berkata apa-apa lagi tetapi masih bisa
berpikir sambil mendekati serta naik ke tempat tidur. Kami sudah duduk
berhadapan saling berpandangan, sejenak aku berpikir,
“Inilah kesempatanku untuk menikmati tubuh montok Mbak Diah yang
sudah sejak perkenalan pertama yang kuimpi-impikan, meskipun sudah dalam
keadaan telanjang bulat itu aku masih takut kalau-kalau Mas Echa atau
Mbak Ranti terbangun dan mencariku atau Mbak Diah dan kami tidak berada
di ruang tengah dan mendapati kami sedang berbugil ria di kamar Mbak
Diah maka seperti yang aku katakan di atas, “I AM DEAD!”
Akan tetapi di depanku sudah tersedia yang kuinginkan selama ini,
tunggu apa lagi. Kusentuh dan kuremas susu yang besar putih dan montok
itu dengan sebelah tangan, sambil merebahkan diri Mbak Diah masih tetap
memegang penisku dan aku menarik selimut dan menutupi badan kami berdua
agar tetap hangat.
Tanganku bergerilya di balik selimut tebal, memilin puting susunya
yang coklat muda terus turun ke arah vaginanya yang mulai membasah lagi
sementara bibir kami saling berpagutan dan permainan lidah Mbak Diah
yang jelas lebih berpengalaman dariku, membuatku tersengal-sengal.
“Dhiiittt.. masukin ya sayang, aku nggak tahan lagi..” desahnya dan
terasa dia membuka pahanya serta merta mengarahkan penisku yang tegang
dengan tangannya menyentuh klitorisnya dan agak memaksa ditekan memasuki
lubang vaginanya yang terasa pas-pasan bagiku, mungkin juga Mbak Diah
rajin senam body language, maklum sudah 2 kepala bayi keluar lewat
lubang tersebut tetapi itu vagina masih lumayan sempit.
Bukan main, aku merasakan nikmat luar biasa kehangatan dinding vagina
Mbak Diah serta kejutan-kejutan kecil mulai dari kepala hingga pangkal
penisku yang masuk tertelan habis ke dalam lubang kenikmatan itu.
“Ooohhh.. Dhitya, kamu lain rasanya sama Mas Iwan..” desahnya penuh
nikmat, sedangkan aku sudah tidak bisa berbicara apa-apa karena
merasakan kenikmatan seperti yang kukatakan di atas sambil memejamkan
mataku.
“Mbaaak.. mmmff, enak Mbaakkk..” desahku berbisik di kuping kirinya,
kemudian dengan lembut karena aku tidak ingin cepat-cepat kehilangan
nikmat dunia ini berlalu dengan segera kukecup keningnya, matanya yang
terpejam manis
Hidungnya yang mirip hidung Vonny Cornellya itu (agak mancung dan
bangir) berakhir di bibirnya yang sensual, kukecup sambil mempermainkan
lidah, kupagut habis-habisan sementara dia pun memeluk leher serta
kepalaku sambil mendesah-desah kecil.
Aku mulai gerakan turun naik pinggul serta pantatku, reaksi Mbak Diah
juga demikian, dia menggerakkan pinggulnya dengan perlahan, makin
cepat.. makin cepat, aku merasakan denyut-denyut kecil di kepala
penisku.
Woooww.. aku hampir orgasme, aku mencoba menahan klimaks yang akan
terjadi dengan segera kulepaskan bibir sensual itu dan kukecup, kuhisap
serta kujilati bergantian kedua susunya yang besar dan montok itu,
rupanya itu merupakan bagian sensitif kedua setelah vaginanya, dia
menjerit kecil dan segera kututup dengan tanganku agar tidak keterusan
yang dapat berakibatkan, “I AM DEAD.”
“Dhiiit.. ooohh, teruuuss Dhiiitt..” suaranya berbisik terdengar
setelah aku melepaskan dekapan tanganku dari mulutnya yang mungil itu
sementara aku masih dengan kegilaan yang menjadi-jadi mengisap
Menjilati serta menggigit-gigit kecil kedua susu beserta putingnya
yang indah itu.Gerakan pinggulku serta pantatku makin cepat.. makin
cepat.. makin cepat naik.. turun.. naik.. turun.. naik.. turun yang
diikuti oleh gerakan pinggul Mbak Diah yang juga makin hot dan menggila
itu.
“Mbaaakk.. akuuu.. nggaaak tahaaannn..” aku mengerang tertahan agar
tidak berteriak keras.Badanku mengejang dan beberapa saat paha mulus
Mbak Diah menjepit pinggangku dengan kuat serta pagutannya pada bibirku
diikuti dengan permainan lidahnya yang hebat dan dia melepaskan
pagutannya disertai,
“Aduuuhh.. teruuus Dhiiit, akuu mauu.. mmmff..” dia memelukku dengan keras dan,
“Crettt!” meledaklah segala yang ada di dalam diri kami dengan
menyemburnya spermaku ke dalam vagina Mbak Diah yang disertai orgasmenya
sendiri, terasa dengan makin basah dan hangatnya penisku sambil
berdenyut ‘terurut’ oleh otot-otot vagina Mbak Diah.
Kami berpelukan dengan erat di balik selimut tebal yang menutupi
hangat tubuh kami, beberapa saat kami lupa diri.. di mana.. sedang apa..
siapa yang ada di sekitar kami, LUPA, LUPA, LUPA!
Kulepaskan pelukanku atas tubuh Mbak Diah yang montok itu sambil
memandangnya, terlihat matanya yang indah itu tertutup sedikit dan
perlahan dia membuka kembali matanya sambil menatapku sayu.
“Oohhh.. Dhitya, hari ini kamu memang hebat! selama hampir 17 tahun
aku kimpoi baru hari ini aku merasakan kenikmatan orgasme yang enaaak..”
katanya sambil tersenyum puas sambil mengusap kedua belah pipiku.
“Mbak.. aku juga mau jujur sama Mbak, sebenarnya aku juga ingin
begini sama Mbak sejak pertemuan pertama di rumah Mas Echa beberapa
bulan yang lalu, tapi.. yah aku ini apalah.. hanya pembantu kru filmnya
Mas Echa dan..” belum sempat aku meneruskan kata-kataku tangan wanita
berumur 38 tahun itu yang halus menutup mulutku dengan lembut.
“Mbak sudah tahu dan merasakannya Dhit, aku juga sebenarnya senang
sama kamu sejak awal kita bertemu dan Mbak Ranti sudah banyak
menceritakan tentang kamu, jadi aku kasihan, yaa senang, yah.. akhirnya
ya begini jadinya, tapi aku puas lho.” katanya lagi sambil mengecup
bibirku.
“Mbak.. sudah jam berapa ini, besok masih ada shooting, jadi kita
stop dulu yaa..” aku mengingatkan dia. Mbak Diah mengangguk dan kami
saling melepaskan diri, bangun menuju kamar mandi sambil
berjingkat-jingkat agar tidak menimbulkan suara-suara yang mencurigakan
para kru yang lain yang kebetulan beberapa diantara mereka tidur di
villa yang sama dengan kami.
Dengan gaya seperti maling aku melangkah kembali ke ruang tengah,
kulihat Mas Echa masih tergeletak mendengkur dengan keras di atas lantai
yang dilapisi karpet yang cukup tebal dan aku naik ke atas sofa,
menarik selimut dan memejamkan mata sambil kembali melamunkan tentang
apa yang baru saja terjadi antara aku dengan Mbak Diah yang cantik dan
montok itu.
Sejak kejadian di villa Cibodas itu, Mbak Diah dan aku sering bertemu
di rumah Mas Echa atau aku suka diajak ke rumahnya, bertemu dan
berkenalan dengan Mas Irawan suaminya yang hobinya bermain golf
(olahraga kaum executive yang sukses), cukup gagah Mas Irawan menurutku,
pada awalnya aku tidak mengerti mengapa Mbak Diah agak acuh terhadap
suaminya kalau kebetulan aku berkunjung ke rumahnya dan ada Mas Irawan.
Hubunganku dengan anak-anak mereka cukup baik, bahkan mereka merasa
senang dengan kehadiran “Mas Dhitya” yang sering membantu membuat PR
juga dalam menjaga hubungan baik itu aku sering diminta tolong oleh Mas
Iwan untuk mengantar putri sulungnya Cempaka juga adiknya Melati untuk
pergi ke supermarket atau ke restaurant atau ke toko buku baik bersama
Mbak Diah ataupun tidak.
Lama kelamaan aku tahu juga dari para kru filmnya Mas Echa bahwa
ternyata Mas Irawan punya simpanan kekasih gelap atau WIL (wanita idaman
lain), akibatnya Mbak Diah pernah memergoki suaminya berkencan dengan
WIL-nya itu melakukan balas dendam yaitu ikut main film bersama kakaknya
dan bercinta denganku yang jelas tanpa diketahui oleh keluarganya
meskipun beberapa teman kru film sepertinya mencium hubunganku dengan
Mbak Diah ada ’sesuatu yang istimewa’.
Beberapa kali kami bercinta di rumah Mbak Diah pada saat anak-anak
sedang sekolah ataupun di hotel dan aku baru mengetahui bahwa sejak 1
tahun terakhir Mbak Diah sangat jarang bercinta dengan Mas Iwan sehingga
aku bisa mengerti kalau kami bercinta di rumahnya ataupun di hotel
serta di lokasi shooting film di luar kota di mana kami menginap 3-4
hari dia berlaku seperti kekasihku dengan manja dan kadang-kadang
bersikap garang ingin dipuaskan keinginan seksualnya yang menggebu-gebu
dan meletup-letup karena dendam juga haus sentuhan laki-laki
Aku pun senang melayaninya, yah.. laki-laki mana tidak akan gandrung
melihat perawakan Mbak Diah yang menggemaskan itu tapi akan berpikir 2
kali untuk mencoba untuk menggodanya begitu tahu siapa kakaknya,
sedangkan aku hanya sekedar ‘tukang urut’ yang kebetulan bernasib baik
dipercaya oleh Mas Echa untuk ikut kerja bersamanya dan bisa “nempel”
dengan Mbak Evi yang cantik itu.
Sementara aku tetap bersikap biasa dan patuh seolah-olah tidak pernah
terjadi sesuatu yang istimewa diantara kami sebagaimana biasanya aturan
kru film kepada Mas Echa, Mbak Ranti dan juga Mbak Diah bila bertemu
dalam kegiatan shooting film.