Darto memejamkan matanya, coba meresapi hangatnya air dalam bathtub.
Pikirannya jauh menerawang tentang asa yang terbangun akan sebuah
kehidupan rumah tangga yang bahagia. Namun Darto tidak sendiri, di atas
tubuhnya berbaring Nabila, wanita yang pikirannya juga tengah
menerawang, mencoba memahami apa yang tengah terjadi pada hidupnya.
“Tooo,, Koq bisa sih kamu kepikiran ngadain liburan seperti ini?,,
“Ngga tau juga Bill,,,,, meski awalnya aku hanya ingin mencari sebuah
pembenaran atas apa yang kulakukan selama ini,, tapi aku tidak
menyangka bakal seperti ini?,,”
Hidung Darto mencium rambut Nabila, sesekali bibirnya mengecup pipi
wanita yang berbaring di atas tubuhnya, menyandarkan kepala wanita itu
dipundaknya. Dua tubuh dengan kelamin berbeda, terendam dalam busa yang
melimpah.
“Tapi kau egois Too,,, kau sudah menjadikan honey moon ku hancur berantakan,,, tapi ya sudahlah,,, tak perlu dibahas,,”
“Maaf Bill,,,” hanya itu yang keluar dari bibir Darto yang tengah membenamkan wajahnya di leher yang jenjang dan mulus.
Nabila menghela Nafas, memejamkan matanya, menikmati ulah Darto
dengan hasrat tak penuh, telapak yang kasar menjamah payudara, perut
hingga selangkangan yang dibiarkan seolah tanpa pemilik. Hening,,, hanya
suara kecipak air yang sesekali terdengar, ulah dari kekaguman tangan
seorang lelaki yang mencumbu kulit mulus seorang wanita cantik.
“Apa kau ingat saat pertama kita bertemu,,,” tanya Darto tiba-tiba.
“Hahahahaa,,, ngapain mbahas itu,,, dasar cowok mesum,,,” Nabila
tertawa, setiap ingat bagaimana tingkah konyol Darto saat berusaha
berkenalan dengan dirinya.
“Tapi sampai sekarang, yang aku masih bingung, koq bisa sih kamu
dapet name tag ku?,,” sambung Nabila, hingga kini ia tidak tau,
bagaimana bisa Darto yang belum dikenalnya bisa memegang name tag yang
selalu terpasang di dadanya.
“Hahahaaa,, jadi Mba Sri ngga pernah cerita padamu?,,,”
“Hehh?,,, Mba Sri?,,” Nabila coba mengingat-ingat kronologi beberapa
tahun yang lalu, saat Darto berpura-pura mengembalikan name tag
miliknya, hanya untuk mengajak makan siang.
“Yup,,, Mba Sri yang ngambil name tag kamu, waktu kamu kekamar mandi, terus ngasih ke aku,,, hahahaa,,,”
“OMG,,, aku kira name tag ku memang jatuh di jalan,,, sialan kau
To,,,, Huuhh,, kasian banget Zahra, padahal saat itu kamu tinggal
menunggu hari untuk menikah dengan Zahra,”
“Hehehee,,, kamu kan tau kalo aku emang bajingan,,, hahahaa,,” Darto
tertawa tergelak sambil meremasi payudara Nabila lebih kuat.
“Aaauuuhh,,, puting ku lagi nyeri tauuu,,, dari kemaren ni balon
diremes dan diisep terus ama kalian,,, ampe heran koq ngga
bosan-bosan,,” Wanita itu menepis tangan Darto.
“Hehehee,,, Sorry,,, habisnya Zahra sulit diajak bercanda seperti ini,,,”
“Mungkin kamu aja yang ngga nemu caranya,,, ayolah,, bukankah kamu si
penakluk wanita, masa ngadepin istri sendiri ga bisa,,,” Nabila
berusaha menjadi pendengar yang baik. Memberi semangat meski hatinya
juga berusaha bangkit dari kepedihan yang sama.
“Ngga tau lah Bil,, tapi aku banyak belajar dari liburan ini,,, aku
ingin tobat, setidaknya mengurangi kenakalan ku,,, ternyata aku belum
mengenal sifat Zahra sepenuhnya, mungkin aku harus belajar menjadi cowok
yang lebih romantis,,,”
“Tobat? Yang beneer?,,,”
“Iya beneeer,, sueeer,,, pake lima jari nih,,,”jawab Darto mengangkat telapak tangan dengan jari terentang.
“Terus,,, yang lagi nyundul-nyundul di pantatku apaan?,,, hahahaa,,,”
Nabila tergelak, merasakan batang Darto yang keras, menusuk bongkahan
pantatnya, sesekali menyelinap diantara belahan pahanya.
“Hahahaa,, kalo itu reaksi alami laaahh,,,” tawa lelaki itu pecah,
lalu membisik mesra, meminta izin untuk bertandang kedalam tubuh si
wanita.
“aku masukin yaa,,,”
“Tumben pake minta izin, masukin aja,,, tapi aku lagi ngga mood, lagi
ngga pengen,,, aku pengen istirahat, kepalaku agak pusing,,,” jawab si
wanita, kembali meletakkan kepalanya dipundak Darto.
“Pijitin lagi dong,,,”
“Lhooo,,, badan mu agak panas Bill,,,” ucap Darto ketika sadar suhu tubuh Nabila yang lebih panas, bukan karena hangatnya air.
“Kan tadi aku bilang lagi ngga enak badan,,, mungkin karena kecapean,,,”
“Yaa,, smoga,,, ya udah,,, istirahat ya,,,”
Darto mengurungkan niatnya, meski saat itu penisnya yang sudah
mengeras berada tepat di depan vagina Nabila. Lebih memilih menuruti
keinginan si cantik, memijit tubuh mulus itu. Meski sesekali tangannya
tak mampu untuk menahan bergerak nakal meremas payudara membusung yang
muncul di permukaan, di antara busa yang lembut.
“Bill,,, punyamu koq dibiarin rimbun gini sih,,, kan cowok lebih
senang ama yang gundul dan mulus,,,” bisik Darto sambil mengusap-usap
rambut kemaluan Nabila yang lebat.
“Hehehee,,, ngga apa-apa,, seneng aja ngeliatnya kalo lebat gitu,,,
lagian Bandi ngga pernah komplain koq,,,” Nabila bermain mengumpulkan
buih dengan tangannya, mengumpulkan di atas gundukan payudara.
“Aaaiiihhh,,, Dartoo,,, ngapain sihh,,, turunin,,,,” tiba-tiba bibir
tipis nya terpekik, Darto mengangkat pantatnya hingga membuat
selangkangan Nabila yang ada di atasnya muncul kepermukaan. Ada rasa
malu dihati wanita itu bila kemaluannya yang dipenuhi oleh rambut
kemaluan diperhatikan oleh orang lain.
“Ststsss,,,, katanya kamu seneng ngeliat, aku mau ikut ngeliat koq
malah malu sih,,,” tangan kanan Darto berusaha menepis kedua tangan
Nabila, sementara tangan kirinya menyibak buih yang menutupi
selangkangan wanita itu.
“Hhmmm,,, emang mantap sih,,,” komentar Darto, saat menangkap
pemandangan hutan rimbun yang menyembunyikan liang surga yang didamba
oleh kaum adam.
“Mantap apanya?,,,”
“Mantap sangar nya,,, bener-bener terlihat seperti hutan misteri, bikin cowok makin penasaran,,, hahahaaa,,”
“Tuuu kan,, malah diledekin,,, udah dong,, turuniiin,,,” kaki Nabila
berusaha menekan pantatnya ke bawah, membuat Darto mengalah, tapi tangan
lelaki itu masih mengusap rimbunnya kemaluan Nabila.
“Tooo,,, potongin dong,,,”
“Bener?,,, ntar Bandi malah komplain lho,,, lagian lama lho kalo mau digondrongin lagi,,, hahahaa,,,”
“Iiishh,,, seneng banget sih ngeledekin,,, lagian Kalo Bandi nanya ya
bilang aja aku pengen nyobain style baru,,,hehehe,,, itung-itung
surprise lah,,”
“Hahahaa,, sini dah aku potongin,, mau dibikin mohawk atau gimana
nih,,hahaha,,, tapi kamu turun dulu dong,, lama-lama badanmu berat juga
Bill,,,”
“Hahahaa,, dasar Dartooo,,, iyaa,, iyaaa,,aku turun niihh,,,” kedua
insan itu beranjak keluar dari bathtub. Lebih terlihat seperti sepasang
suami istri dibanding ikatan persahabatan. Nabila melenggang mengambil
pisau cukur kumis milik Bandi, dibawah tatapan nanar Darto yang
menganggumi bulatan pantat yang kencang, bergerak dinamis mengikuti
langkah kaki yang jenjang.
“Pake ini bisa kan?,,,” ucap Nabila, berpaling sambil mengacungkan
pisau cukur, tapi dirinya justru mendapati Darto yang terbengong
memandangi tubuh telanjangnya.
“Iiihhh,,, ngga bosan-bosan melototin pantat bini orang,,,”
“Hehehee,,,, habisnya pantatmu sekel banget,,, jadi inget semalam, waktu nusuk di belakang,,, minta lagi dong,,”
“Aaahh,, ngga-ngga,, potongin dulu punyaku,,,,” Nabila duduk ditoilet, menyerahkan pisau cukur kepada Darto.
Baca JUga Cerita Sex Lain nya di gelorabirahi.com
Baru saja membuka kedua pahanya, wanita itu kembali mengatup rapat
menyembunyikan kemaluan di depan Nabila, membuka paha yang mulus. Sesaat
mengamati pintu vagina yang masih tertutup rapat meski kedua pahanya
sudah terbuka.
“Pantes legit, rapat banget kaya gini,,,” ucap hati Darto, mengagumi
alat kelamin milik istri sahabatnya itu. Jari-jarinya menguak bibir
vagina.
Sementara si wanita membuang pandangannya ke arah bathtub, memandangi
buih yang perlahan mulai berkurang. Menutupi rasa malu, meski lelaki
yang bersimpuh di depannya itu sudah beberapakali dimanjakan oleh liang
senggamanya.
“Cepet dong,,, jangan dimainin kaya gitu,,,”
“Aaauuu,,, pelan-pelan,,, geli,, hati-hati ya,,, ntar luka lho,,,”
kening Nabila mengernyit, menahan geli dan khawatir kulit nya terluka.
Tetapi wanita itu percaya, sahabat suaminya itu akan melakukan yang
terbaik untuk mahkotanya.
Paha yang berakselerasi dengan tungkai yang indah itu terbuka semakin
lebar, mengikuti segala kehendak sang teknisi, bibirnya berkali-kali
mendesis saat jari Darto mengambil potongan rambut kemaluan yang jatuh
di belahan bibir kemaluan.
“Aaauuuwwhhh,,, Sssshh,,,, To,,, knapa ngga bilang kalo udah
selesai,,, Auuuhh,,,” tangan Nabila menjambak rambut Darto. Tanpa
disadarinya selangkangannya kini sudah bersih. Menampilkan sepasang
daging gemuk yang saling berhimpit di antara dua paha yang sekal.
“Cantik banget Bill,,,” ucap Darto, menjulurkan lidahnya, mengusap klitoris yang memerah.
“Aaahhhssss,,, To,,, kamu seneng ngoral juga yaa,,,eemmhhh,,,” Mata
Nabila menatap wajah lelaki yang tengah mencumbu selangkangannya,
mengusapi rambutnya dengan rasa yang sedikit berbeda.
“To,,, kalo menurutku, bersetubuh dengan rasa sayang itu lebih nikmat
dibanding sekedar mengejar hasrat,,, kalo menurutmu gimana?,,,” wanita
itu bertanya sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran toilet, sementara
tangannya mengusapi rambut Darto, membiarkan lelaki itu bermain-main
dengan alat senggamanya.
Darto menghentikan aksi lidahnya, menyandarkan kepala di paha kiri
Nabila, matanya menatap bibir vagina yang terlihat begitu indah tanpa
rambut kemaluan, sesekali jarinya menguak lipatan, sambil mengusapi dua
kulit tipis yang menjadi pintu menuju lorong, membuat si empunya
menggeliat menahan geli.
“Sama,,, kalo disuruh memilih,, aku lebih suka mencumbu wanita yang
kusayangi dengan rasa penuh cinta,,,” ucap Darto pelan. Kembali
mendekatkan lidahnya, menyambut aliran kalenjar bening yang perlahan
keluar dari bibir vagina.
Mata lelaki itu terpejam, seiring lidahnya yang mengais cairan cinta
kedalam lorong yang kemerahan. Tangannya dengan lembut mengusapi paha
Nabila. Perlahan matanya terbuka, menatap Nabila yang memandangi ulahnya
dengan pandangan sayu.
“Boleh aku,, emmhh boleh aku memiliki hati mu,, walau hanya untuk
sesaat,,” bibir Darto terbata. Kaku, Sesuatu yang sangat jarang terjadi
pada lelaki itu.
“Apa kau baru saja menembakku, Hahahaa,,, aku sudah bersuami lho,,,
dan tadi ada yang bilang pengen tobat,, hehehee,,,” mata Nabila
mengerling genit, menggoda Darto.
Darto tersenyum kecut,
“Haahahahaaa,,, Iya,, aku sadar koq,, lagian aku cuma bercanda,,,
sudah yuk, keringin tubuhmu,, ntar malah tambah masuk angin lho,, lagian
sebentar lagi kita ada dinner party,,,” Lelaki itu berdiri,
mengacak-acak rambut Nabila yang masih basah, sebelum berpaling Darto
menyempatkan menoel puting Nabila sambil tertawa.
“To,,, tunggu” Seru Nabila, menahan tangan Darto.
“Kamu boleh berhenti menggoda wanita, tapi tidak denganku,,” ucap
Nabila sambil tersenyum, lalu memeluk tubuh Darto dari belakang, dengan
pasti wanita menggiring Darto keluar kamar mandi.
“Kita kawin yuuk,,,” bisik Nabila sambil merapatkan pelukan kepunggung Darto.
“Hahahaa,,, kalo tubuh sedang fit, sudah dari tadi aku perkosa
kamu,,, mending istirahat aja deh sanaa,,, ntar aku yang disalahin sama
Bandi,,”
“Aahh,, kalo cuma ngeladenin kamu sih kecil,,, sampai dua ronde aku
juga masih sanggup koq,,, tapi kalo emang ngga mau ya udah,, ntar dikira
aku yang keganjenan pengen dientot,,,
“Iiisshhh,,, ni mulut,, kalo udah pengen vulgarnya langsung keluar,,,”
“Eemmmpphh,,,” bibir Nabila yang ingin tertawa tertahan oleh lumatan bibir Darto, membopong tubuhnya ke kamar.
Tiba di tepi tempat tidur, Nabila menahan Darto yang ingin merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Menatap tajam mata Darto.
“To,,, aku ingin ini lebih dari sekedar seks,,,” ucapnya lirih, lalu berbaring dengan senyum yang sangat lembut.
Darto terdiam, berusaha mencerna ucapan wanita cantik yang kini berbaring pasrah di depannya.
“Apa kamu ingin terus memandangi tubuh istrimu mu ini,, waktu kita
ngga banyak lho,,,” lagi-lagi Nabila tersenyum genit, melepas cincin
kawinnya lalu meletakkan di meja kecil di samping kasur.
“Istrikuu?,,, hahahaa,,, dasar nakal,”
Dengan cepat Darto menaiki tubuh mulus si teller bank yang cantik,
mengusapi payudara yang tetap membusung meski pemiliknya sedang
berbaring. Menciumi leher yang jenjang, lalu menghisap layaknya seorang
vampire, memberi beberapa tanda di kulit yang mulus.
“Kooo,,, Ooowwhh,,, janggannn,,,” Nabila berusaha mengelak,
menghindari adanya tanda merah yang pasti akan dengan mudah dikenali
oleh orang lain.
“Bukankah kamu istriku?,,,” celetuk Darto sambil nyengir nakal.
“Huuhh,,, dasar Dartoo,,, ooowwhhhss,,,, dineneen aja dooong,,,”
pinta wanita itu, tapi tak lagi berusaha menghindar, lebih memilih untuk
membiarkan lelaki itu mencumbu tubuhnya sesuka lelaki itu.
“tooo,,, owwhhhss,,, geliii,,, cupangin di situ juga dong,,,
hihihi,,,” goda Nabila, sambil memandangi Darto yang menciumi ketiaknya.
“Eeenggghhh,,, geliii gilaaa,,, Aaawwwssshhh,,, Dartooo,,jangan
kuat-kuat ngiseepnyaaa,,geliii bangeeet,,, Aaahh,,,” wanita itu merintih
semakin kuat, tidak menduga Darto benar-benar berusaha membuat cupang
diketiaknya.
“Eddaaaan kamu Too,, Ooowwhhss,,,”
“Heemm,, koq ngga merah ya,,,” seru Darto dengan cueknya, memandangi
karyanya di lipatan tangan wanita itu lalu kembali membenamkan wajahnya
dan kembali membuat wanita itu terpekik.
“Hahahaa,,, udaahh,,, geli taauuu,,, Awwhhss,, udaahh,,, awas yaaa,,
ku balaaasss,,,” Nabila berkelit, mendorong kepala Darto menjauh dari
ketiaknya, lalu dengan cepat bangkit menindih tubuh Darto.
“Sekarang giliranku,,, hehehee,,”
“Emang kamu bisa apa?,,, palingan ngisep batangku,, hahahaa,,,”
celetuk Darto, membuat Nabila yang tengah bersiap melumat batang Darto
menjadi keki.
“Asseeemm,,, liat aja ntar,,, aku punya surprise buat suami baruku,,
hehehee,,” jawab nya sambil mengocoki batang yang sudah mengeras.
Perlahan tapi pasti, bibir wanita itu melumat batang yang sudah
mengeras. Setelah puas lidahnya beralih pada kantong testis, lalu dengan
rakus melumat kedua biji kelereng, lalu menyedot dengan kuat..
“Ooowwhh,,, boleeehh juga,,” kening Darto berkerut menahan nyeri tapi juga terasa nikmat.
“Hehehee,,, gimana? Enak?,,,” tanya Nabila, tanpa berhenti mengocok batang Darto.
“Heemmm,,, Lumayan,,,”
Lagi-lagi jawaban Darto membuat wanita itu keki. Tangannya mendorong
paha Darto agar lebih terbuka. Lalu kembali melumat batang dan testis
Darto dengan lebih ganas.
“Ooowwwhhhss,, Hahahaa,,,, Sudaaah yaaant,,, ntar aku keluaaaar,,, Aaarrrgghhh,,,”
Lelaki itu menarik paksa tangan Nabila lalu membanting kesamping,
dengan sigap Darto mengambil posisi di antara kedua kaki yang jenjang,
lalu membenamkan wajahnya diselangkangan yang sudah basah.
“Aaaww,,, Dartoooo,,, Eeemmmpphh pelaaan-pelaaan,,”
“Sakiiit Tooo,, janggann digigiiit,, Aaaww,,,
“Eemmpp,, iyaaa,, jilaaatin ajaa,, Ooowhhss,, Dartooo gilaaa,,, hahaahaaa,,”
Teriakan, desahan dan rintihan memenuhi kamar, kedua tubuh itu terus
bergumul, saling menggoda, silih berganti saling tindih menindih, hingga
Nafas kedua nya terasa begitu berat.
“Udaahh,, Aahh,, capek akuu,,,” ucap Nabila menjatuhkan tubuhnya
disamping Darto setelah lelah melumat batang Darto yang masih mengeras.
Keringat membasahi tubuhnya.
“Nabila,,,”
Wanita itu menoleh kesamping, sambil mengatur Nafasnya.
“Yaa,,, ada apa?”
Darto yang sudah membuka bibir untuk mengucap kata, mengurungkan
niatnya. Matanya menatap wajah Nabila dengan mimik lebih serius.
“Kenapa? pengen ngentotin aku sekarang?,,, ayoo,, siapa takut,,”
Darto tertawa mendengar pertanyaan Nabila. Wanita yang berbaring
disampingnya tanpa busana itu memang selalu blak-blakan kalo bicara.
Wajahnya pun selalu terlihat ceria, seakan tak pernah memiliki masalah.
Begitu berbeda dengan Zahra. Nabila ikut tertawa. Tangannya terhulur
mengusap pipi Darto.
“Sayang,,, tadi aku sudah bilang, aku ingin merasakan sensasi yang
sedikit berbeda. Bukan sekedar seks,,” ucapnya sambil merapat ketubuh
Darto seakan meminta untuk dipeluk.
Wanita itu tau, pemilik tangan kekar yang mencoba memeluk tubuh
telanjangnya dengan erat itu masih bingung dengan apa yang Annginnya.
Bibirnya mendekat ke telinga Darto, lalu berbisik lembut.
“Aku ingin selingkuh,,, setubuhi aku sepuasmu, tapi pake cinta,,,”
Darto tertegun. Dirinya memang sudah beberapa kali mencicipi
kenikmatan dari tubuh wanita bernama Nabila, tapi semua atas dasar Nafsu
dan tualang birahi. Dan kini wanita itu mengajak untuk bermain hati,
tidak berbeda jauh dengan gelora yang mengusik dirinya, ingin mencumbu
Nabila dalam balutan kasih.
Kunjungi JUga beritaseks.com
Perlahan Darto mengecup bibir Nabila, berlanjut dengan lumatan bibir
yang lembut. Nabila memejamkan matanya, seiring usaha Darto memenuhi
lorong senggamanya dengan batang yang sudah mengeras. Wanita itu mencoba
menerima sepenuhnya kenikmatan yang ingin diberikan oleh sang pejantan.
Bibirnya mendesah, meluahkan getar nikmat yang merambati saraf dan
memberi pesan keotak tentang rasa yang dikecap oleh lorong senggamanya.
Hentakan-hentakan lembut yang menggeseki liang sensitifnya membuat
wanita itu menggeliat. Hentakan Darto terhenti membuat wanita cantik itu
membuka matanya, menatap sang pejantan yang memandangi liang senggama
yang tengah di isi perkakas tempur.
“Nih,, pandangin puas-puas,,, Hehehe,,,” Nabila tertawa, lalu memeluk
kedua kakinya. Mencoba mengekspos bagian bawah tubuhnya yang tengah
menjepit benda sekeras kayu.
“tembem banget punyamu Billl,,,” bisik Darto, menggerakkan batangnya
keluar masuk. Lalu menindih tubuh Nabila, membuat kaki wanita itu
semakin tertekuk. Dengan merentangkan kakinya lelaki itu kembali
menghentak layaknya orang sedang push-up.
“Koq ketawa terus sih,,,” ucap Darto sambil terus menggerakkan pantatnya.
“Ngga apa-apa, cuma lucu aja ngeliat kamu, pengen nyoba semua gaya ya? Hihihihi,,,”
“ngga juga, aku cuma sepuas-puasnya ngerasain punyamu,,,”
“Hahahaa,, mau nyoba doggy?,,,”
“Doggy? Hhmmm boleeh,, tapi kalo nyasar kelubang belakang jangan marah ya,,,” jawab Darto.
“Wuuu,,, mau nyaaa,,,” bibir Nabila manyun lalu memutar tubuhnya.
“Pelan-pelan ya nusuknya, ntar balonnya pecah lhoo,,,” mata cantiknya
mengerling genit, sambil memeluk guling wanita itu mengangkat pantatnya
tinggi, memamerkan dua lorong kemaluan yang ditawarkan kepada si
penjantan.
“Yaaant,,, eemmpphh,, sempit banget,,” ucap Darto yang tak tahan melihat liang anus Nabila yang mengerucut imut.
“Pelan Too,,, Eeengghh,,, Aaauuu,,,” rintihan tertahan, jari-jari
yang lentik mencengkram guling dengan kuat, meredam rasa perih, meski
sudah beberapa kali melakukan anal, tetap saja liang bagian belakangnya
terasa sulit setiap menerima tusukan pertama.
“Gimanaa?,,, Uuuuhhhhssss,,, Aaaahh,,, geliiii Tooo,,,”
“Billl,, sempit bangeeet,,, Oooowwhhh,,,”
Hentakan-hentakan kembali mengalir dengan ritme yang teratur, pantat
Nabila ikut bergerak menyambut setiap tusukan. Tubuh keduanya mengkilat
oleh keringat.
Beberapakali bibir tipis si wanita terpekik ketika si lelaki dengan
usil menghentak dengan keras. Membuat tubuh ramping nya menggeliat makin
liar namun tertahan oleh jari-jari kokoh yang mencengkram bulatan
pantatnya dengan kuat.
“Dartooo aku keluaaaar,,, Aaaagghhh,,,” Nabila mengangkat pantatnya
semakin tinggi, telapak tangannya menggosoki bibir vagina yang sudah
sangat becek, dan tak lama kemudian cairan bening menghambur deras dari
bibir vagina, membasahi guling dan kasur yang ada dibawahnya.
“Dartooo,,, nikmat banget sayaang,,, ooowwhhh,,,”
Dengan terengah-engah Nabila mengangkat tubuhnya, meminta Darto memeluknya dari belakang.
Perlahan Darto kembali menggerakkan pantatnya, bibirnya menjilati telinga, memaksa libido si empunya kembali bangkit.
“Nabilll,,, aku juga maaauuu keluaaarrr,,, Oohh,, ohh,, ooohh,,,”
“Mau dikeluarin dimana?,,, depan apa belakang? Pilih aja,,,
hihihi,,,” goda Nabila, pantatnya bergerak ke kiri dan ke kanan,
memanjakan batang yang masih bersemayam di liang anus.
“Plop!!!” Darto menarik batangnya keluar. Tanpa diminta Nabila
membaringkan tubuhnya merentang kedua kakinya, mengerti apa yang
dikehendaki sipejantan yang bertualang dengan tubuhnya, mempersilahkan
untuk menciduk kenikmatan dari liang senggamanya.
“Ayoo papah cayaaang,, mamah udah siaap di hajar lagi nih,,,”
Nabila merentang kedua tangannya, menggoda Darto untuk melumat semua kenikmatan yang disajikan.
“Hahahaa,, bisaa ajaa,, kamu tambah ngegemesin yan,,” Darto menaiki tubuh Nabila. Melumat bibir si wanita dengan ganas.
Tangan Nabila menangkap batang Darto yang justru berusaha kembali menerobos lubang belakangnya.
“Paaahh,,, jangan curang dong,, yang depan juga minta diisi tauu,,”
dengan sigap jari-jari lentik mengarahkan batang yang keras kebibir
vaginanya.
“Aaahhhh,,, eemmpphhh,,, keluarin disini aja yaa saayaaaang,,, kita bikin anaaak,,,”
Mendengar ucapan Nabila, Darto berubah lembut, lidahnya menjelajah
mulut basah Nabila semakin dalam. Tapi tidak dengan batang yang merojoki
vagina si wanita. Pantat lelaki itu bergerak semakin cepat.
“Aaahh,,, papaaahh,,, maaamaaah udaaah siaaaap,,,” ucapnya tertahan.
Darto bertumpu di kedua lututnya, mengganjal pantat Nabila dengan
bantal, pasrah menyambut setiap hentakan. Bibir keduanya mulai menggeram
mengejar orgasme.
Hingga akhirnya dua tubuh yang menyatu itu mengejan dengan kuat. Masing-masing berusaha memaksimalkan kenikmatan yang didapat.
“Oooowwwhhsss,,, Bill,,, aku semprrrooot sayaang,,, Ooogghh,,,”
“Aaagghhh,,, Dartooo,, tusuuuk yaaaang daaaalaaam,, Aaahhh,,,”
Tubuh montok Nabila melengkung, kepalanya tertengadah dengan mulut
terbuka lebar menggeram dengan liar, menyorong pantatnya begitu kuat,
mempersilahkan Darto yang mencengkram pinggulnya dengan kuat, mengisi
setiap rongga rahim dengan cairan sperma yang mengalir deras.
Sesekali pantat Darto masih mengejat, menghantar sisa-sisa sperma,
lalu ambruk di atas tubuh si wanita yang tersenyum dengan Nafas kembang
kempis. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang mengganjal di hati Nabila,
perasaan ganjil yang mengusik nikmat orgasme yang didapat.
“Bandi,,” bibirnya menyebut nama sang suami tanpa bersuara.
Lalu memeluk tubuh lelaki yang baru saja mengisi tubuhnya dengan sperma. Wajahnya perlahan berubah murung. Termenung.
“Kamu lagi subur Bill?,, kamu benar ingin punya anak dariku?,,” celetuk Darto, mengagetkan Nabila.
“hehehe,, ngga koq,,, aku udah suntik tiga bulanan,, punyamu cuma
numpang lewat,,” jawab Nabila dengan tawa dipaksakan, gairahsex.com
terus memeluk dan membenamkan wajah Darto di leher jenjangnya, tak ingin
lelaki itu membaca raut wajah yang kali ini tak mampu disembunyikan.
“Mas Bandi,, Aku kangen kamu mas,,, kangen banget,,” bisik hatinya,
perlahan air matanya mengalir, seiring sperma pejantan yang mengalir
keluar dari liang senggama. Cerita sex
Heart Labirin
“Heeyyy Bill,, Ayo bangun,, kita siap-siap,,, ntar dicariin bu Sofie lhoo,,” Zahra coba membangunkan Nabila yang masih tertidur.
Tangan wanita itu mengusap lembut rambut Nabila yang masih agak
lembab. Memandang wajah cantik sahabatnya yang terlelap. Terbersit rasa
bersalah di hati Zahra atas permainan hati yang tengah dilakoninya
bersama Bandi.
“Eehh,, Zahraa,,,”
Nabila terbangun, kaget, dengan panik menutupi bagian atas tubuh yang terbuka dengan selimut.
“kamu sudah pulang?,,,” bangkit, lalu bersandar didinding. Tangannya
berusaha menutupi beberapa tanda merah di sekitar leher dan dada dengan
selimut.
“Ya sudah pulanglaaah,, emang ini jam berapa,, hampir jam tujuh
sayang,,, diluar sudah mulai gelap,,” jawab Zahra sambil tersenyum
melihat tingkah Nabila yang panik.
Matanya sudah terlanjur melihat tanda merah itu, dan menebak-nebak
siapa yang membuat ulah, memberi tanda bibir begitu banyak di tubuh
sahabatnya.
“Sayaang,,, aku pinjam celana pendek Bandi dong,,,”
Tiba-tiba Zahra mendengar suara suaminya, Darto, dari arah kamar
mandi. Reflek wanita itu menoleh. Benar saja, suaminya tampak keluar
dari kamar mandi tanpa sehelai pakaian, terkaget. Zahra diam membisu,
nalarnya dengan cepat memberi isyarat tentang apa yang baru saja
terjadi. Nabila yang mengira Darto sudah kembali ke kamarnya tak kalah
kaget, wajahnya seketika pucat, memandang Zahra dengan rasa bersalah.
Seketika hening tercipta, Keasaman merambati tiga hati. Darto dengan
kikuk menutupi kemaluannya dengan tangan. Entah merasa malu pada siapa.
“Zahraa,,, maaf,, kami,,,”
“hahaha,,, ngga apa-apa sayang,,, kita impas koq” sela, Zahra. Raut
wajah kikuknya berubah menjadi senyum malu-malu, tapi rona bahagia tak
mampu disembunyikan wanita berjilbab itu.
Nabila balas tersenyum, tersenyum kecut, tersenyum bersama rasa ngilu
yang menusuk jauh ke dasar hati, mendengar penuturan sahabatnya yang
tampak bahagia.
“Mas,, koq bengong sih, cepet sana ganti baju,,,” celetuk Zahra
membuat Darto kaget, matanya celingak-celinguk mencari pakaian tapi
nihil.
Sambil terus menutupi selangkangannya dengan tangan, lelaki itu
ngacir ke arah pintu keluar, setelah yakin tidak ada orang dengan cepat
berlari ke kamarnya.
“Hahahaa,,, dasar Mas Darto,,,” Zahra tergelak melihat tingkah suaminya yang seperti maling ketangkap basah.
Nabila ikut tertawa, lalu beralih mengamati wajah Zahra yang terlihat
begitu ceria, wajah bahagia yang diciptakan oleh suaminya. Meski sakit,
Nabila merasa tidak tega untuk memberangus senyum diwajah sahabatnya.
Setelah mengambil Nafas panjang, perlahan tubuhnya beringsut mendekati Zahra, memeluk sahabatnya dari samping.
“Mba,,, aku pengen ngomong sesuatu, tapi bingung harus memulai dari
mana,,” ucap Nabila, lebih sopan dengan memanggil mba kepada Zahra, yang
memang lebih tua darinya, meski usia mereka hanya terpaut tiga tahun.
“Ada apa Bill?,,, ngomong aja,,,” Zahra bingung dengan sikap sahabatnya yang sedikit berbeda dari biasanya.
“Dulu,,, waktu kalian menjodohkan aku dengan Bandi, aku percaya bahwa
kalian memilihkan pasangan yang terbaik untukku, tapi aku tidak tau
jika ada,,, emmhh,,, ada cerita yang rumit antara kalian bertiga,,,”
Zahra kaget dengan kata-kata yang keluar dari bibir wanita yang
bertelanjang dada itu, selimut yang menutupi tubuhnya dibiarkan jatuh.
Memeluk tubuhnya erat, layaknya seorang kekasih.
“Maaf Bil,,, itu hanya cerita masa lalu, tapi harus kuakui,,,
eengghh,,,” bibir wanita berjilbab itu terdiam, tidak yakin dengan apa
yang ingin diucap oleh bibirnya, matanya menatap baju yang berserakan di
lantai, celana Darto tampak terselip di antara baju Nabila.
“Karena aku sempat terbuai oleh kisah masa lalu itu,,,” Sesaat mata Zahra beralih menatap wajah Nabila melalui cermin,
“Tapi,, Kau memiliki hati lelaki itu,,, sepenuhnya,, percayalah padaku,,” ucap Zahra meyakinkan.
“Terimakasih mba,,,” Nabila memeluk Zahra erat, air mata perlahan menggenangi pelupuk.
“Aku percaya, Bandi akan menjagamu lebih baik dari siapapun,,, kumohon,,jangan nakal lagi ya, sayang,,,”
Nabila mengangguk, air mata tak lagi mampu dibendungnya.
“Aku janji mbaak,,, aku janji,,,”
“Bill,,, kamu sakit ya?,,,” tanya Zahra tiba-tiba. Melepas pelukan, lalu memeriksa kening Nabila yang agak panas.
“Ngga mba,,, mungkin cuma kecapean aja koq,,, ngga usah dipikirin,,
hehehe,,,” jawab Nabila, beranjak menuju meja, mengambil cincin nikahnya
yang tergeletak.
“Mau bertukar?,,, hanya untuk malam ini,,”
“Maksudmu?,,,” wanita berjilbab itu bingung hingga keningnya mengkerut, menatap lekat wajah Nabila.
Tapi Nabila hanya tersenyum, menarik tangan kiri Zahra, menukarkan cincinnya dengan cincin wanita itu.
“Malam ini, kita bertukar peran, aku ingin mengucapkan terimakasih
pada Darto atas pertolongannya selama ini,, begitupun sebaliknya, Mas
Bandi jadi milik Mba,,, So,, manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya,,,
hehehe,,, Deal?,,”
Zahra tertawa.
“Kamu ini ada-ada aja Bill,, mana bisa seperti itu,, sini balikin cincinku,,,,”
“Kenapa ngga?,,, ini hanya antara kita,” ucap Nabila dengan wajah
serius, namun perlahan wajah itu tersenyum, lalu mengerling genit.
“Kita buktiin, siapa yang paling jago di antara kita,, jangan marah
kalo nanti Darto sering menyebut namaku waktu kalian bercinta,,,”
sambungnya sambil memeletkan lidah.
Zahra ikut tertawa mendengar ajakan nakal. Tapi wanita yang terlihat
cantik dalam balutan jilbab itu tau, permintaan Nabila yang ingin
mengucap terimakasih kepada suaminya hanya alasan yang dibuat-buat.
Sahabatnya itu ingin memberinya kesempatan terakhir bersama Bandi.
Sebuah penawaran yang pastinya sangat sulit bagi Nabila sendiri, membagi
seseorang yang dicintai kepada orang lain, meski itu untuk seorang
sahabat.
“hhmmm,,, kamu ini,,, Terimakasih Bill,,,” bibir Zahra tertawa
sekaligus menangis, air mata yang meleleh dipipi semakin deras mengalir.
Sesenggukan dipelukan Nabila. Tak mampu berkata, hanya ucapan
trimakasih yang diucapkannya berulang-ulang.
“Nakal-nakalan yuk malam ini,,,” ajak Nabila.
Zahra mengangguk,,,
“Tapi aku ngga berani nyobain punya yang lain, Bill,,,”
“Hhmmm,,, kalo cuma sama Bandi namanya belum nakal Cint,, cobain aja sambil ngumpet-ngumpet,,, pasti seru,, hihihi,,,”
“Hahahaa,,, Nakal kamu Bill,,,” Zahra melepaskan pelukannya, menatap
wajah sahabatnya, lalu memandangi beberapa cupang di payudara Nabila.
“Mas Darto nakal ya Bill,,,” ucapnya sambil mengusap cupang di payudara
Nabila.
DEEG,,, Nabila kaget, tubuhnya menggelinjang,,,
“Ihh,,,, geli tauu,,, Emangnya tadi Mas Bandi ngga ngusilin punyamu,,, sini aku liat,,,”
“Eeehh,,, mau ngapain kamu Bill,,,” Zahra berusaha menahan tangan
Nabila yang berusaha mengangkat kaosnya ke atas. Tapi usahanya sia-sia.
“Ckckckck,,, koq bisa mancung seperti ini sih, Zaa,,,” Nabila tak
mampu menahan tangannya untuk menyentuh sepasang payudara yang ada
didepan.
“Eemmpphh,,, Billl,,, tapi punya mu lebih besar dari punyaku,,,”
Zahra melengug geli. Tangannya merambat, kembali meremas payudara yang
sedikit lebih besar dari miliknya.
Keduanya membisu, Saling mengagumi, saling meremas, sama-sama menahan
desahan yang bisa saja keluar dari bibir yang berusaha dikatup rapat.
Malu untuk mengakui apa yang dilakukan oleh lawannya berhasil memberi
sensasi birahi
“Eeeengghhh bill,,, jangan-jangan keras,,,”
“Sakit?,,,”
Zahra menggeleng,
“Geli,,,hihihi,,, Bill,,, mau ngapain lagi?,,” tawanya terhenti, menatap wajah yang mendekat bongkahan payudaranya.
“Eeeempphhh,,, Bill,,,,” Zahra menggeleng-gelengkan kepala, menaha geli yang merambat dari sapuan lidah Nabila.
“Janggann curaaang, sayaang,,,”
Wanita berjilbab itu terengah,,, balik mendorong Nabila hingga
tertelentang, lalu tertawa nakal, dengan cepat menaiki tubuh dan
menyambar payudara yang penuh dengan cupang dari suaminya.Cerpen Sex
“Aaawwwhh,,, koq digigit mbaaa,,” pekik Nabila.
“hahahaa,,, Habisnya aku gemes,,,” jawab Zahra sambil tertawa.
Keduanya bergulat di atas kasur, saling meremas, bergantian saling
menghisap, mendesah bersahutan. Hingga keduanya kelelahan. Dan sepakat
bersama-sama menghentikan kenakalan mereka.
“Baru kali ini aku menyentuh milik wanita selain punyaku sendiri,,,
hahahaa,,,,,” Nabila tertawa melihat ulahnya sendiri, Nafasnya masih
memburu, menindih tubuh Zahra.
“Kalo aku sering,, waktu memeriksa pasien,,, tapi tidak dalam kondisi
seperti ini,,, hehehe,,,” Zahra, memeluk tubuh sahabatnya, membiarkan
payudara mereka bertemu, tergencet oleh tubuh yang saling menindih.
“Kalo nyobain ciuman sesama cewek pernah?,,,”
“Kalo itu sama sekali ngga pernah,,, ngapain ciuman sama cewek,,, hahaha,, ada-ada saja kamu ini Bill,,, hahahaa,,,”
“Mbaa,,,” panggil Nabila, menghentikan tawa Zahra. Keduanya saling tatap, wajah mereka begitu dekat.
“Mbaa,,, aku pengen nyobain yaa,,,”
Zahra tidak menjawab, jantungnya berdebar melihat bibir Nabila yang
mendekat, otaknya memberi perintah untuk membuka bibir, menyambut lidah
Nabila yang merambat masuk.
“Eeemmmpphhh,,, eemmmhhh,,,”
“Eeeengghhh,,,,”
Lidah lembut kedua wanita itu saling membelit, berkejaran di dalam
mulut Zahra. Tampak Nabila lebih dominan, mengajak lidah Zahra menari,
mengaduk ludah mereka yang terkumpul di mulut. Bibir Nabila mengatup
rapat mulut Zahra, lalu dalam sekali hisapan yang kuat menyedot semua
ludah kedalam mulutnya,,, membuat lidah Zahra ikut tersedot, masuk ke
dalam mulutnya. “Slluuurrpphhh,,,”
“emmm Billl,,,,” wanita berjilbab itu terkaget, menatap wajah syahdu
yang memancar birahi. Lalu membalas bermain-main dimulut Nabila.
Berlari dari lidah yang berusaha membelit, saling menghisap cairan yang
ada dilidah mereka.
Setelah merasa paru-paru mereka kepayahan memasok oksigen, kembali
mereka sepakat untuk melepas. Saling pandang, lalu tertawa bersamaan.
“Baru tau aku,,, ternyata mba ganas juga,,, pantes aja Mas Bandi mpe
klepek-klepek,,, aku aja sampai merinding tauuu,, hahahaa,,,”
“Hahahaa,,, jangan ngomong gitu ahh,,, bikin aku malu aja,,, kamu tuh
yang ganas banget nyedotnya,,,, coba kita lamaan sedikit lagi,,, pasti
keluar nih punyaku,,, hahahaa,,,”
“Mbaa,,, pengen keluar ?,,, hihihi,,, diem aja yaa,,, jangan protes,,,” Nabila menyelusup kan tangannya ke dalam celana Zahra.
“Jangan Billl,,, aku maluuu,,, Aaawwhhhhsss,,, jangannn,,,”
Wajah wanita berjilbab itu bersemu merah, ketika tangan Nabila mendapati vagina yang sangat basah.
“Awaaas kamuuu yaaa,,,” tangannya membuka selimut Nabila lalu merogoh bibir vagina yang lebih basah dari miliknya.
“Billl,,, ini punya suamiku ya,,, hihihi,,,”
“Iyaaaa,,, mbaaa,,, tadi Darto banyak banget buang di dalem,,,” jawab
Nabila yang kini ikut terengah-engah, liang vaginanyanya diobok-obok
oleh jari lentik Zahra.
“Mbaaa,,,, ciuman lagi yuuuk,,,” pintanya.
Kembali kedua wanita cantik yang memiliki tubuh indah yang didamba
para wanita itu saling meraba, silih berganti menindih, meremas,
bertukar ludah, mengayuh vagina yang basah. Memburu orgasme yang berbeda
dari biasanya. Berbeda dengan Nabila yang membuka lebar pahanya dan
membiarkan jari-jari Zahra bermain-main diliang kemaluan, Zahra justru
mengapit rapat pahanya, menjepit jari-jari yang masuk begitu dalam,
merogoh tepian yang tidak dapat dilakukan oleh batang penis.
“Billl,,, Aku mau keluar,,, aku mau keluar,,,”
Wajah Zahra pucat pasi, menjepit tangan Nabila semakin kuat.
Begitu pun dengan Nabila yang menggerakkan pinggul mengejar kemanapun
jari Zahra menari. Nafasnya semakin berat. Hingga akhirnya kedua tubuh
itu mengejat, gemetar, menghambur cairan yang membasahi jari-jari yang
lentik.
“Mbaaa,,, aku keluaaaarr,,,, oowwhhh,,, mbaaa,,,” Nabila
berteriak-teriak histeris, melumat bibir Zahra yang juga gemetar,
mengangkat tinggi pinggulnya.
“Billl,,, jarimu pinter banget,,, aku sampai gemetar gini,,,” ucap Zahra setelah Nabila menjatuhkan tubuhnya ke samping.
“Mba juga,,,” ucap Nabila, masih tersengal-sengal tak bisa berbicara banyak.
* * *
I’m so lonely broken angelI’m so lonely listen to my heartOne and only broken angelCome and save me before I fall apart
Suara Zahra yang menemani Pak Tama berduet, mengalun lembut.
Membawakan ‘Broken Angel’ dari Arash feat Helena. Sebuah lagu dengan
lyric timur tengah, yang memapar jalinan sepasang kekasih, namun
terhalang oleh belenggu pernikahan yang mengikat si wanita. (ini salah
satu lagu favorit ts lho,, mpe sekarang ngga bosen dengerin tu lagu,,,)
Siapa menyangka, Pak Tama mampu membawakan lagu itu dengan cukup baik,
meski beberapa kali lidahnya keliru dalam mengucap syair yang cukup
sulit. Namun bagi Rahadi yang memang piawai memainkan organ tak begitu
kesulitan untuk mengiringi. Pesta kecil itu memang sengaja mengambil
tempat di tepian kolam renang yang memang cukup luas, dengan sinaran
cahaya lampu hias yang remang-remang, membuat suasana malam itu terlihat
begitu romantis.
Tubuh Zahra yang dibalut long dress putih ketat, meliuk gemulai
mengikuti alunan musik, suaranya terdengar lirih, diatas panggung yang
hanya setinggi 30 cm. Seolah ingin menyampaikan pesan dari hati.
Layaknya seorang bidadari yang menari diantara rintik hujan, berharap
ada malaikat yang menemani. Di keremangan, mata Zahra menatap tiga sosok
yang duduk di meja yang sama. Nabila yang selalu melemparkan senyum
saat mata mereka bertemu, lalu beralih pada Darto yang berusaha
melemparkan senyum serupa. Dan Bandi,,, Bandi, entah kenapa Zahra
merasakan ada sesuatu yang berubah pada lelaki itu. Hati Zahra memang
tengah gundah melihat perubahan Bandi, tak ada yang menyadari selain
dirinya, karena ini memang antara dirinya dan Bandi. Senyum lelaki itu
terlihat begitu hambar. Sesekali matanya menatap cincin milik Nabila
yang melingkar di jari manis. Sebuah pertukaran posisi yang terasa
begitu ganjil tapi begitu diharapkannya. Teringat akan ajakan nakal
sahabatnya, tapi sepertinya hal itu tak akan terjadi malam ini. Zahra
sadar, Walau bagaimanapun, hubungan nya dengan Bandi tak lebih dari
kilas balik masa lalu. Seindah apapun cerita yang terukir pasti akan
berujung pada kepedihan.
Tak mungkin dirinya merebut Bandi dari sahabatnya, Nabila. Dan tidak
mungkin dirinya meninggalkan Darto, untuk mengejar ego cinta.
gairahsex.com Mungkinkah Bandi mulai menjaga jarak untuk cerita yang
memang harus mereka akhiri? Sekuat hati Zahra berusaha menetralisir
rasa, kebahagiaan yang tadi siang menyapa dengan paksa diberangus,
karena hanya dengan cara itu pula lah dirinya dapat bertahan dari rasa
sakit. Tanpa disadari wanita itu, Darto dan Nabila menangkap setiap
perubahan ekspresi yang sebenarnya tidak ingin ditunjukkan oleh Zahra.
Tapi Zahra adalah sicantik yang tak pandai bersandiwara. Selalu
kesulitan untuk menyembunyikan suasana hatinya. Lagu yang dinyanyikan
membuat hati Zahra semakin terhanyut dalam kepedihan. Pak Tama yang
memeluk pinggang rampingnya dengan erat, seakan menjadi penopang untuk
menguatkan pijakan hatinya yang tengah melemah. Zahra sendiri tak habis
pikir, kenapa selalu Pak Tama yang ada di sampingnya, di saat hatinya
tengah berkecamuk.
Sesekali dirasakannya telapak tangan Pak Tama yang turun ke bawah
pinggulnya, mengusap lembut bulatan pantatnya. Mengusap punggungnya
dengan lembut, lalu kembali memeluk erat pinggang yang ramping. Dengan
pelan, Zahra menepis tangan Pak Tama , saat lagu telah usai. Berusaha
untuk tidak membuat lelaki itu malu, karena selama berduet tangan itu
tak lepas dari tubuhnya.
“Terimakasih,,,” ucapnya, saat menerima tepuk tangan dari mereka yang ada disitu.
“Ternyata suara istri Darto ini merdu banget,, senang berduet dengan
Bu Dokter,” ucap Pak Tama, membungkuk dengan gaya formal memberi hormat
sambil tertawa renyah.
“Bila ibu mengizinkan, malam ini aku ingin menagih janji yang kemarin ibu tawarkan,,”
“DEEGG,,,” Zahra sangat kaget mendengar ucapan Pak Tama yang begitu
pelan, hanya terdengar oleh mereka berdua. Zahra tersenyum kikuk, balas
membungkuk. Turun dari panggung mendekati Nabila yang menghampirinya,
lalu kembali menuju meja dimana Bandi dan Darto duduk.
“Kalian mau minum apa? Biar aku ambilkan,” ucap Bandi menawarkan minuman dengan suara datar, tanpa ekspresi.
“Terserah,,, yang penting bisa menghangatkan tubuh,” jawab Darto.
“Aku apa aja boleh,,,” sambung Zahra, matanya menatap Bandi yang cepat berbalik sebelum kata-katanya selesai terucap.
“Aku tau minuman spesial untukmu Cint,,, hehehe,,, Ayo mas, aku temenin,” celetuk Nabila, menyusul suaminya.
“Suaramu memang indah sayang,,, Aku selalu bangga memilikimu,,” ujar Darto, saat mereka tinggal berdua di meja itu.
“Haahahaha,,, Mas seperti tidak mengenal aku saja,,” jawab Zahra, berusaha naik ke atas kursi yang cukup tinggi.
“Apa kau bisa menikmati liburan ini?,,,”
Zahra tak langsung menjawab, berusaha membaca maksud pertanyaan suaminya dari raut wajah.
“Lumayan, tapi sebenarnya apa tujuan Mas Darto mempertemukan aku
dengan Bandi dalam situasi seperti ini?,,” wanita itu balik bertanya
dengan suara datar.
Darto menggenggam tangan Zahra, bibirnya tersenyum tulus, seakan mengatakan bahwa situasi ini dicipta memang untuk Zahra.
Wanita itu tertawa pelan, entah menertawakan gaya Darto yang begitu
romantis, entah menertawakan dirinya yang terpuruk pada nostalgia masa
lalu yang justru membuatnya semakin terpuruk.
“Aku tau, pasti ini sulit bagi Mas Darto, Mas tidak perlu melakukan
hal gila seperti ini, apa Mas tidak takut kehilangan aku?,, atau Mas
memang tidak percaya pada hatiku?,,,” ucap Zahra, begitu terbuka
sekaligus tajam. Seakan menyimpulkan segala isi yang ada dihati Darto.
“Heeyy Cint,,,” seru Nabila yang membawa dua gelas cocktail, disusul
Bandi yang menenteng dua botol chivas regal, menyelamatkan Darto yang
bingung harus menjawab pertanyaan istrinya.
“Suaramu tadi mantap banget lho, bikin aku minder mau nyumbang lagu,,,” ucap Nabila. Menyerahkan gelas.
“Hehehe,, biasa aja koq Bill,,,” jawab Zahra yang diam-diam kembali
menatap cincin milik Nabila. Otaknya tengah mengkaji ulang tentang
tawaran Nabila. Walau bagaimanapun hatinya sulit untuk menerima
pertukaran itu.
“Bill,,, tentang yang tadi sore,, sepertinya aku tidak bisa untuk,,,,”
“Owwhh,, iya,,,” seru Nabila tiba-tiba, memotong ucapan Zahra.
“Mas Bandi,, Darto,,,Tadi sore aku dan Zahra sepakat untuk bertukar
cincin, dan itu artinya,,, Emmhh,,,” Nabila dengan wajah jenaka
menghentikan kata-katanya, bergantian menatap tiga pasang mata yang
tertuju padanya,
“Artinya adalah sebuah,,, sebuah pertukaran pasangan, Apa kalian para suami bisa menerima?,,,”
Sontak Bandi dan Darto mengamati cincin yang melingkar dijari manis
Nabila dan Zahra. Tidak menyadari bila cincin yang dikenakan oleh
pasangannya bukanlah cincin yang mereka berikan saat menikah.
“Kalo aku tidak masalah,” jawab Darto cepat, tersenyum lebar, membuat
Bandi kaget dan bingung, lalu dengan terpaksa mengangkat kedua
pundaknya, sebagai tanda menyerahkan keputusan kepada yang lain.
“Okeee,,, Deal,,,” seru Nabila. Menghentikan usaha Zahra yang ingin
mengutarakan keberatan. Wanita berjilbab itu akhirnya hanya bisa
menggeleng-gelengkan kepala melihat ulah sahabatnya.
Ting,, Ting,, Ting,,
”Maaf,,, minta perhatiannya sebentar,,,” ucap Pak Tama tiba-tiba,
mengetuk gelus dengan cincin akiq yang ada dijarinya. Lampu sorot yang
terang mengarah ke tempat lelaki berdiri, di atas panggung, ditemani
istrinya Bu Sofie.
“Sebelumnya, boleh aku meminta Shita untuk ikut naik ke atas sini,, biar komplit laahh,,”
“Hahahaa,,, mantap,,,”
“Sing rukun yooo,,, hahaha,,,”
Teriakan dan tawa seketika menggema. Rupanya Pak Tama sudah berterus
terang tentang status Shita kepada Bu Sofie, dan hebatnya Bu Sofie
dengan lapang dada bisa menerima. Itu terlihat bagaimana Bu Sofie
menyambut Shita yang naik ke atas panggung dengan senyum dan tangan
terbuka, berpelukan dan saling cipika-cipiki, membuat para lelaki yang
ada di situ menjadi iri.
“Harap tenang,,,” ucap Pak Tama dengan gaya cool yang dibuat-buat,
menegakkan kerah bajunya, lalu menggandeng Shita dan Bu Sofie, begitu
pongah menggoda para lelaki yang ada ditempat itu. Tak ayal suara tawa
semakin menggema.
“Agar tidak mengganggu acara kita, Langsung to the poin saja,,, Jadi begini,,,” ucap Pak Tama, saat suara tawa mulai mereda.
“Aku tadi pagi ditelpon Pak Andre Diaz, tentang rotasi mutasi manager
empat tahunan, mungkin dalam minggu ini aku akan ke Jakarta untuk
memastikan hal tersebut,” saat membicarakan hal-hal yang serius, wibawa
Pak Tama sebagai seorang pemimpin muncul seketika, Bandi, Darto, Hanif
dan Rahadi serius memperhatikan.
“Tapi aku mendapatkan bocoran tentang rotasi kali ini, yang bagi aku
sendiri cukup mengejutkan. Seperti yang kita ketahui, aku memang
mendapatkan promosi untuk untuk menduduki salah satu jabatan penting
dipusat, dan posisi aku akan digantikan oleh Bandi sebagai pimpinan
cabang. Tapi berdasarkan pencapaian prestasi kita semua,,,” Pak Tama
menarik Nafas panjang, bibirnya tersenyum lebar.
“Rahadi dipromosikan untuk memegang tampuk wakil pimpinan cabang, menemani Bandi,, selamat,,,” Cerpen Sex
Tepuk tangan dan ucapan selamat segera mengalir, sementara Rahadi
sendiri tersenyum lebar, tak menyangka dengan karirnya yang begitu cepat
naik. Bahkan terlalu cepat untuk remaja seusianya.
“Dan untuk Pak Hanif, kemungkinan besar akan menggantikan Pak Andree Jeff, yang pensiun dari pimpinan Cabang Kota Surabaya.”
“Whooo,,, selamaat,, selamaaat,,,”
“Akhirnyaaa,,, naik juga,, selamaat,,”
Tepuk tangan semakin riuh, jabatan pimpinan cabang itu memang pantas untuk Hanif yang terbilang cukup senior.
“Sedangkan Darto,,,” suasana seketika menjadi hening saat Pak Tama
mulai melanjutkan pengumumannya, “Dengan pertimbangan perlunya
perusahaan ini melebarkan akup, jajaran direksi mempercayakan kepada
Darto untuk merintis pembukaan cabang central untuk daerah Kalimantan,,
selamaat!!!,,,”
“Yeeaaahhh,,,” Darto mengepalkan tangannya, berteriak girang, tertawa
lebar, menerima jabat tangan Bandi dan Nabila yang mengucapkan selamat.
Lalu berpaling ke arah Zahra dan memeluknya erat, kita akan pindah ke
Kalimantan sayang, seperti yang memang aku inginkan,,,” bisik Darto.
“Ok,,, untuk sementara mungkin hanya itu yang bisa aku sampaikan,
tapi bocoran ini dapat dipercaya, karena disampaikan langsung oleh Pak
Andre, selanjutnya,, silahkan melanjutkan party kita,,,” ucap Pak Tama
menutup pengumumannya sambil mengangkat gelas di tangan, mengajak untuk
bersulang.
Kebahagiaan begitu nyata terlihat, masing-masing mengucapkan selamat
kepada rekannya. Berkelakar tentang daerah yang akan mereka tempati.
Sambil memainkan jari-jari di atas Yamaha Keyboard PSR-E433, Rahadi
membawakan lagu dari Daniel Bedingfield dengan pelan.
If your not the one then way does my soul feel glad today…
If your not the one then way does my hand fit yours this way…
If you are not mine then way does your heart return my call…
If you are not mine would i have the strenght to stand at all…
Pak Tama mengajak Bu Sofie untuk berdansa, memeluk sang pejantan sambil memamerkan senyum kepada yang lain.
“Pah,, mending papah nemenin Shita, kasian dia sendiri,,,” ucap Aida
saat melihat raut wajah gadis itu berubah ketika Pak Tama mengajak Bu
Sofie berdansa. Memang tidak mudah untuk menjadi yang kedua.
“Iya,,, Boleh koq,,, tapi jangan dinakalin, kasian dia,,,” ucap Aida,
menjawab tatapan tak percaya dari Hanif. Seketika lelaki itu tersenyum
lebar, mengecup kening Aida, lalu mendekati Shita.
“Nabila,,, mau berdansa dengan ku?,,,”
Nabila tersenyum mendengar ajakan Darto, sesaat menatap Bandi dan
Zahra meminta izin, lalu dengan gaya yang gemulai mengangkat tangan
kanan nya yang dengan cepat disambut oleh Darto. Berjalan mendekati
Hanif dan Pak Tama yang ada didepan panggung.
“Zaa,,,” panggil Bandi lembut, mengagetkan Zahra, meski dirinya
memang tengah menunggu ajakan Bandi, tetap saja suara yang terdengar
lembut itu mengagetkannya.
Zahra tersenyum canggung, menyambut Bandi yang meletakkan tangan di
pinggul yang ramping. Tubuh kedua insan berlainan jenis itu bergerak
mengikuti lagu, di tempat yang sama, tidak bergabung dengan yang lain.
Gerakan keduanya terlihat kaku, padahal beberapa jam yang lalu mereka
bercinta dengan mesranya. Membisu, masing-masing sibuk dengan
pikirannya. Malam semakin larut, beberapa pasangan terlihat saling
bertukar, kini Hanif terlihat tengah menggandeng Anjani, sementara Pak
Tama begitu mesra bersama Shita. Dan Bu Sofie,,, wanita itu kini
terlihat sibuk di meja bar mini, meracik minuman dari beberapa botol
beraneka warna yang berbentuk unik. Sebuah hobby baru yang didapatnya
setelah lama menetap di Paris. Nabila dan Darto pun tampak beristirahat,
keduanya terlihat seperti sepasang kekasih baru, duduk dengan saling
pangku, tangan Darto yang nakal tak henti menggarayangi paha Nabila yang
hanya dibalut mini dress warna merah muda. Sesekali Nabila menuangkan
whiskey ke gelas mereka. Dan terlihat jelas bagaimana keduanya mulai
mabuk.