Aku memang sengaja dan tidak menutup nutupi ke penggemar cerita dewasa,
karena memang di zaman yang modern ini semua berita ataupun pengalaman
bisa di publikasikan lewat internet, saatitu aku juga menuliskan kisah
sexku di beberapa web, ada yang mengemail diriku dia mengaku kalau dia
mahasiswi di universitas negeri Mkasar. Namanya Mirna, Dia sangat
tertarik dengan kisahku dan ingin kenalan denganku lebih jauh, bahkan
kami sepakat lewat e-mail untuk saling tukar pengalaman
Saya masih ingat, waktu itu sekedar iseng membuka inbox emailku
kalau-kalau ada email yang masuk. Tepatnya 4 Juni 2003, sebuah alamat
email yang bertuliskan @yahoo.au di ujungnya, kucoba klik dan ternyata
ia mengajakku kenalan.
Akupun mencoba membalasnya sesuai janjiku pada setiap kisah porno
yang kukirim, meskipun kalimatnya ala kadarnya yang penting tidak
mengecewakan bagi pengirimnya.
Apalagi namanya menunjukkan nama seorang wanita, sehingga pasti
kuusahakan menyapanya. Hanya dalam tempo 24 jam kemudian, email itu
kembali muncul di kotak emailku dan isinya menunjukkan ada keseriusan
mau kenalan lebih jauh denganku.
Akupun semakin menunjukkan keseriusan mau kenalan dengannya, apalagi
setelah kuketahui kalau ia tinggal tidak terlalu jauh jaraknya dari kota
tempat tinggalku. Kami hanya beda kota kabupaten, tapi ada dalam satu
wilayah propinsi Sulsel.
Balas membalas email antara aku dan Mirna boleh dibilang cukup
lancar. Bayangkan saja sejak 4 Juni 2003 hingga saat ini, Mirna tidak
pernah alpa mengirim email padaku dan tentu saja sebaliknya aku tidak
pernah alpa membalasnya secara otomatis pada saat itu juga.
Sampai-sampai kami membuat kesepakatan untuk buka dan kirim email
setiap hari Senin, Rabu dan Jum’at (3x seminggu). Banyak pengalaman dan
informasi yang kami tukar. Mulai dari asal usul, pengalaman sex,
ciri-ciri dan keinginan sex kami masing-masing serta jadwal pertemuan
kami di kota makassar.
Bahkan kami saling menginformasikan mengenai alat sensitif kami
secara jujur, yang akhirnya saya kirimkan foto berkat pengajaran dari
Mirna soal cara mengirim foto lewat email, sebab saat itu saya masih
awam dalam hal kirim mengirim foto lewat email.
Tidak kurang dari 25 kali kami saling membalas email, hingga sampai
puncaknya pada tanggal 7 Oktober 2003, di mana kami betul-betul serius
mau melakukan pertemuan secara langsung dan sekaligus memperaktekkan
tentang pengalaman dan kebutuhan sex kami masing-masing.
Saya tidak pernah yakin kalau perkenalan lewat email itu bisa
mempertemukan kami secara langsung, apalagi jarak antara kota saya
dengan kota tempat tinggal Mirna sekitar 200 km lebih. Namun kenyataan
menunjukkan bahwa janji dan keinginan sex kami bukan hanya isapan jempol
dan teori saja, melainkan kami betul-betul berhasil bertemu muka,
bahkan melakukan praktek bersama di salah satu wisma di Makassar.
Bagi Mirna mungkin tidak terlalu sulit menemukanku di terminal
setelah kami janjian ketemu di salah satu tempat di kompleks terminal
Panaikan sebab dia telah menerima fotoku lebih dahulu yang kukirim lewat
email.
Tapi bagiku menemukan orang yang belum pernah kulihat sebelumnya,
apalagi ciri-cirinya tidak sempat menjelaskan secara rinci di emailnya,
tentu sangat sulit, sebab selain aku belum banyak pengalaman di kota
Makassar, termasuk di terminal Panaikan, juga terlalu banyak wanita muda
yang berkeliaran, apalagi aku belum yakin 100% atas janjinya mau
menemuiku di terminal itu. Tapi aku tetap bertekad untuk ke Makassar
siapa tahu bisa jadi kenyataan, kalaupun ia permainkan aku, kuanggap hal
itu sebagai pengalaman buatku.
Jam 7.00 pagi saya sudah naik mobil dan berangkat meninggalkan rumah
tempat tinggalku menuju kota makassar dengan alasan sama istriku bahwa
ada urusan bisnis penting selama sehari di Makassar agar ia izinkan aku
berangkat.
Namun karena berbagai hambatan diperjalanan, maka aku terlambat 1 jam
tiba di terminal sebagaimana rencana yang kusampaikan Mirna semula.
Sebelum aku turun dari mobil tumpanganku, aku tiba-tiba gemetar dan
merasa takut kalau-kalau dia lebih dahulu memperhaMirnanku dan aku juga
diliputi rasa was-wasa jangan-jangan dia mau menjebakku dengan membawa
pasukannya atau teman laki-lakinya ke terminal serta berbagai macam
dugaan yang muncul dibenakku.
Mataku mulai membelalak sejak mobil belok ke kanan dan berhenti di
depan loket pembayaran retribusi hingga memasuki pelataran parkir. Aku
turun dan membayar sewa mobil sambil berusaha tersenyum sendirian dengan
perasaan tidak menentu kalau-kalau dia telah memperhaMirnanku.
Akibat konsetrasiku mencari seorang gadis muda yang sedang bingung
mencari seseorang, maka hampir aku kecolongan memberi uang kepada orang
lain yang tidak kukenal. Untung saja orang itu tidak segera mengambil
uang yang kusodorkan itu, sebab ternyata yang kuserahkan sewa mobilku
bukan sopir mobil itu, melainkan orang lain yang kebetulan mencari
muatan buat mobilnya.
Ini gara-gara terlalu gembira mau ketemu dengan seorang gadis yang
belum tentu datang ke terminal itu, apalagi bodi dan ciri-ciri
pakaiannya belum jelas sama sekali. Kejadian itu pasti tidak pernah
terlupakan seumur hidupku.
Sekitar 20 m aku bolak balik dari pelataran paling bawah ke pelataran
paling atas di terminal itu, bahkan hampir semua warung dan tempat
duduk-duduk para penumpang bis aku intip tanpa ada rasa segan, meskipun
aku tetap agak malu kalau-kalau ada penumpang dari kotaku asalku yang
mengenal dan memperhaMirnanku
Yang bisa saja melaporkan sikapku itu pada istriku nanti. Setelah
capek keliling, akhirnya aku putuskan untuk masuk wartel lalu
menghubungi HV-nya, sebab lewat emailku sebelumnya aku telah berpesan
agar tidak dimaMirnan HV-nya hari itu.
“Halo, Mirna yah? di mana kamu sekarang? aku ini ada di terminal mencarimu sejak tadi” demikian kata saya melalui telepon.
“Halo, betul ini Mirna. Saya ada di kampus sekarang lagi makan siang
ama teman-teman di warung kampus nih. Tunggu aja di situ yah, aku akan
segera meluncur ke sana, tapi tepatnya kamu nunggu di mana yah?” itulah
jawaban Mirna saat itu seolah menunjukkan keseriusannya mau ketemu
denganku.
“Oke sayang, aku akan setia menunggumu di depan wartel belakang pos
pungutan retribusi masuk, sudah ngga tahan nih mau ketemu denganmu”
demikian jawaban singkat saya saat itu.
Hampir setiap mobil, terutama petek-petek dan taxi kuamati isinya dan
penumpang yang turun kalau-kalau ia naik kendaraan itu, meskipun
sesekali juga kuperhaMirnan motor yang lewat jangan sampai ia naik
motor.
Hanya dalam waktu sekitar 20 menit kemudian, aku tiba-tiba mendengar
suara panggilan dari sebelah kiri di mana aku duduk dengan sedikit
tertahan, “Halo-halo, eh-eh,” ternyata suara itu adalah berasal dari
seorang gadis muda yang sedang menjinjing tas mahasiswa, yang nampaknya
diarahkan padaku.
Akupun segera berbalik ke arahnya, namun ia segera berjalan berputar
di samping mobil yang ada di belakangku. Walaupun sedikit ragu, tapi
keyakinanku lebih besar mencurigai kalau wanita itu adalah Mirna yang
sejak tadi aku tunggu, aku cari dan aku idam-idamkan selama ini.
Sambil mengikuti langkah kakinya, getaran jantungku semakin dag dig
dug, dan tiba-tiba ia membalikkan wajahnya sehingga kami
berhadap-hadapan dan saling menatap sejenak di tengah-tengah keramaian
penumpang yang ada di terminal itu, hanya 30 cm jaraknya.
“Kamu Aidit khan” katanya dengan suara yang lembut.
“Yah, dan kamu Mirna khan” aku balik bertanya dengan mengarahkan telunjukku pada wajahnya sambil kami tersenyum.
Entah apa yang bergejolak di pikirannya saat itu, tapi yang jelas aku
rasanya ingin langsung memeluk tubuhnya, untung segera kusadari kalau
tempat ini dihuni oleh banyak orang, yang tidak mustahil ada yang
mengenal kami.
Tanpa banyak basa basi lagi, ia segera naik mobil petek-petek dan
akupun segera mengikutinya bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya. Di
dalam mobil, kami banyak membicarakan soal ketidakpercayaan kami atas
pertemuan ini
Bahkan pengakuannya ia sedikit agak kesal dan hampir putus asa
menunggu sejak pukul 10.00 pagi tadi di terminal sesuai informasi yang
telah kusampaikan, namun aku berkali-kali minta maaf atas keterlambatan
tiba di terminal mobil yang kutumpangi itu.
Dari 2x pindah petek-petek menuju wisma yang telah ia janjikan dalam
emailnya, kami tidak pernah kehabisan bahan bicara, bahkan kami duduk
sangat rapat, sehingga anginpun sulit melewati perantaraan duduk kami.
Tubuh kami seolah melengket pakai lem tanpa ada perasaan malu sedikit
pun dari penumpang lainnya.
Dalam hati saya biar mereka memperhaMirnan kami toh mereka tidak
mengenal kami. Kami bagaikan suami isteri yang baru ketemu setelah
sekian lamanya berpisah. Betul-betul saling melepaskan kerinduan.
Sekitar 30 m dari wisma yang kami tuju, Mirna tiba-tiba menghenMirnan
mobil lalu turun dan akupun mengikutinya.
Maklum aku belum banyak kenal kota Makassar. Meskipun aku tetap
selalu berusaha untuk membayar sewa petek-petek setiap turun, tapi
selalu saja Mirna mendahuluiku atau aku kalah cepat membayarnya. Sebagai
seorang pria, akupun merasa berat dan malu, tapi Mirna nampaknya
betul-betul mau membuktikann janjinya untuk memberikan layanan 100% jika
aku datang menemuinya di Makassar.
Rencana pertemuan kami di kota Makassar betul-betul sudah sangat
matang, sebab kami telah membeberkan kelemahan dan keterbatasan kami
masing-masing lewat email, namun kami tetap saling berjanji akan
menerima apa adanya, yang penting tujuan kami hanya satu yaitu saling
memberi kepuasan sex sesuai kemampuan dan pengalaman serta keinginan
kami masing-masing.
Pekerjaan, keuangan dan penampilan, bahkan usia, kami telah sepakat
untuk tidak mempersoalkannya. Demikian seriusnya Mirna mau menyenangkan
diriku, sehingga ia siap membantu membayar sewa kamar wismanya dan siap
memberikan tubuhnya sepenuh hati buatku serta mengorbankan perasaannya
demi kebahagiaanku nanti.
Bahkan kami telah janjian untuk saling menjilati kemaluan dan
mencukur bulunya sebelum pertemuan, sampai-sampai ia memberitahukan
jadwal tamu bulanannya agar kedatanganku nanti tidak bertepatan agar ia
dapat melayaniku 100%.
Sebelum kami masuk wisma tersebut, Mirna menyempatkan diri membeli
aqua besar untuk keperluan dalam kamar nanti. Entah buat minum atau apa
saja yang membutuhkan air. Setelah membayarnya, Mirna meminta aku
membawa air itu dan apapaun rasanya diperintahkan oleh Mirna saat itu
pasti kuturuti karena keseriusannya melayaniku
Padahal Mirna adalah seorang gadis muda, mulus, berkulit putih dan
menggairahkan bagiku, apalagi seorang mahasiswi. Sementara aku termasuk
sudah setengah baya yang berkulit hitam dan keriput, punya istri dan 3
orang anak lagi. Siapa tidak bahagia dan mangga berteman, apalagi
bercinta dengan wanita seperti Mirna itu yang ikhlas berkorban untuk
kesenangan aku.
“Tik, apa wisma ini cukup aman buat kita? dan apa selama ini ngga
sering-sering dirazia oleh petugas?” tanya saya pada Mirna saat kami
barengan masuk pintu wisma itu sambil mengawasi di sekelilingnya.
“Ngga taulah, sebab baru satu kali aku ke sini sewaktu pacarku
membawaku dengan tujuan yang sama sampai aku tahu tempat ini, dan itupun
sudah lama” jawabnya sambil menceritakan soal peristiwa
persenggamaannya dengan pacarnya tempo hari di wisma tersebut.
“Mudah-mudahan aja ngga terjadi apa yang kita khawatirkan” katanya lebih lanjut.
Selesai kami lihat tarif dan kamar yang kosong pada serlembar kertas
di atas meja pelayanannya, Mirnapun membuka dompetnya dan aku usulkan
untuk gabung saja biar lebih ringan pembayarannya.
Waktu itu, kami hanya membayar Rp. 55.000 untuk 6 jam, sebab
nampaknya kamar lainnya penuh semua, dan kupikir 6 jam itu cukup lama
buat kami yang tidak rencana menginap. Bisa kami selesaikan beberapa
ronde.
Tepat pada jam 2.00 siang, kami telah masuk di wisma yang tidak perlu
saya sebutkan namanya itu. Setelah kami bayar, kami lalu naik ke lantai
dua mengikuti petugas wisma dan masuk ke sebuah kamar yang dilengkapi
dengan air minum, kamar kecil, TV color 14 inc dan sprinbad yang cukup
besar ukurannya. Setelah petugas keluar dari kamar, tinggallah kami
berdua dalam kamar.
Mirna menutup dan mengunci rapat pintu kamarnya lalu menutup semua
gorden, lalu masuk sebentar ke kamar kecil lalu berbaring di atas rosban
dengan pakaian masih lengkap. Sedangkan aku terlebih juga lebih dahulu
masuk kamar kecil buat buang air, lalu ikut berbaring disamping Mirna.
Sambil berbaring dengan pakaian masih lengkap, kami bincang- bicang
dan saling mengutarakan rasa kerinduan kami selama ini. Tanpa aku sadar,
tangan kananku sudah memeluk tubuh Mirna dan Mirnapun tampaknya tidak
segan-segan lagi membalas pelukanku, sehingga kami saling berpelukan
dalam keadaan berbaring menyamping.
“Aku sangat merindukanmu sayang, ingin sekali memelukmu” ucapanku
sedikit berbisik ketika wajah kami sudah saling menyentuh sehingga napas
kami sudah saling beradu.
“Aku juga sangat rindu padamu suamiku, mari kita lepaskan kerinduan
kita” jawabnya sambil memasukkan lidahnya dalam mulutku, sehingga kami
saling mengisap, saling bergumul dan memainkan lidah dalam mulut kami
masing-masing.
Permainan mulut dan lidah kami berlangsung semakin rapat dan cukup
lama, sampai kami merasa terengah-engah akibat kecapean mengisap. Bahkan
aku lupa mandi sesuai kesepakatan kami semula ketika kami saling
berhadap-hadapan di tempat tidur itu.
Demikian serunya permainan mulut kami, sehingga tidak ingin rasanya
ada istirahat sejenak dan melewatkan kesempatan sedetikpun dalam kamar
itu mumpung masih sempat.
Sambil bermain lidah, saya mencoba memasukkan tangan kananku ke dalam
baju kain Mirna hingga masuk ke dalam BH-nya yang ukurannya cukup
sederhana. Sebagai seorang gadis yang jam terbangnya dalam dunia sex
masih cukup terbatas bila dibanding dengan jam terbangku
Tentu ia tidak tahan lama dipermainkan payudaranya, apalagi saya
remas-remas kedua payudaranya dengan lembut dan sesekali menindis-nindis
putingnya yang mulai mengeras dan menonjol itu. Ia tidak mampu lagi
sembunyikan kenikmatan yang ia rasakan dan terasa ia mulai terangsang,
yang sangat kedengaran dari suaranya yang mengerang-erang kecil.
Utungnya tidak ada orang yang dekat dengan kamar itu, sebab memang
kamar itu berada dibagian paling depan dan disudut wisma sehingga kami
leluasa bersuara agak keras sebagai tanda kenikmatan yang kami alami.
“Ngga mau mandi dulu Kak?” katanya mengingatkanku, karena kebetulan aku keringatan akibat perjalanan jauh dari daerah tadi.
“Nantilah, setelah kita bermain-main dulu, biar kita lebih lama
bercumbu rayu” jawabku sambil tetap memainkan lidah ke dalam mulutnya
dan meremas-remas teteknya yang montok itu. Namun karena ia nampaknya
sudah sangat terangsang, ia tiba-tiba melepaskan pelukannya dan
mengeluarkan lidahku dari dalam mulutnya lalu duduk sambil satu demi
satu ia buka kancing bajunya hingga terlepas dari badannya.
Aku hanya mampu menatap indahnya tubuh seorang gadis mahasiswi. Mulus
dan putih, namun sedikit agak gemuk sebanding dengan gemuk tubuhku,
meskipun ia sedikit pendek dari ukuran badanku. Warna kulit kami sangat
kontras karena kulitnya putih sementara kulitku agak hitam.
Setelah ia melepaskan baju kain yang dikenakannya, ia lalu kembali
berbaring. Akupun melepaskan baju lengan panjang yang kukenakan seperti
halnya pagawai kantoran saja. Kami kembali berpelukan dan bergumul di
atas kasur yang empuk.
Kali ini aku menindihnya meskipun ia masih mengenakan BH warna putih,
sementara aku masih mengenakan baju dalam. Namun hal itu tidak sampai
bertahan lama, sebab aku tidak tahan lagi mau segera melihat isi dalam
BH-nya, sehingga aku lepaskan kaitnya dari belakang lalu meremas-remas
secara bebas dengan kedua tanganku
Bahkan segera kujilati dan mengisap-isap putingnya yang agak bulat
dan sedikit membesar. Sehingga ia kegirangan seolah ingin teriak ketika
aku maju mundurkan mulutku pada putingnya, yang kedengaran bunyinya
akibat air liurku yang membasahinya.
Tanpa aba-aba dari Mirna, sayapun segera merosot rok panjang yang
dikenakannya, lalu kugigit-gigit dan kutusuk-tusuk kemaluannya dari luar
celana dalamnya. Dari luarnya menggambarkan kalau daging yang
terbungkus CD-nya itu sangat montok dan kenyal serta sedikit mulai
basah.
Aku tak mampu lagi bertahan menjilatinya dari luar, sehingga aku
segera saja menariknya keluar lewat kedua kakinya. Ternyata dugaanku
benar, di antara selangkangan Mirna terdapat seonggok daging yang cukup
empuk dengan tonjolan daging mungil antara kedua belahannya Nampah
warnanya agak kemerahan dan kulit disekelilingnya juga berwarna putih
seolah baru saja dicukur bulu-bulunya sesuai permintaanku dalam emailku
sebelum pertemuan.
Kini Mirna dalam keadaan bugil penuh sambil baring dengan merenggangkan kedua paha yang menjepit daging empuk itu.
Tanpa aku tatap lama-lama, aku segera menjulurkan lidahku menelusuri
daging empuk yang terbelah dua itu. Nampaknya aku tidak terlalu sulit
masukkan lidah ke lubang tengahnya itu, karena memang sudah beberapa
kali ditusuk dan dimasuki benda tumpul alias kontol sebelum kami
sebagaimana pengakuannya lebih dahulu padaku lewat emailnya bahwa ia
telah beberapa kali berhubungan sex dengan pacarnya
Namun tidak sampai memuaskannya. Semakin lama semakin kupercepat
gocokan lidahku kedalam memeknya sehingga mengeluarkan bunyi seperti
kucing yang menjilat air. Mirna semakin histeris dan menggerak-gerakkan
pinggulnya serta dia mengangkat tinggi-tinggi kedua kakinya hingga
ujungnya bersentuhan dengan bahunya sambil tetap merenggangkannya.
Aku semakin leluasa memasukkan lidahku lebih dalam dan
memutar-mutarnya sehingga terasa memek Mirna semakin mengeluarkan cairan
yang membasahi seluruh dinding lubang memeknya.
“Aduh.. Kak.. enak sekali Kak.. terus Kak.. aahh.. uhh.. mm..” hanya
suara itulah yang berulang-ulang keluar dari mulut Mirna ketika aku
menggerak-gerakkan ujung lidahku pada lubang memeknya.
“Kamu merasa enak sayang? Bagaimana sekarang? Saya masukkan saja?” pertanyaan saya sambil kupermainkan lidahku dalam lubangnya.
“Auh.. hee, ohh.. ehh.. mm..” Suara itu semakin menaikkan
rangsanganku sehingga akhirnya aku secara berturut-turut membuka
celanaku satu demi satu dengan dibantu oleh Mirna sampai tubuhku sudah
telanjang bulat.
Kini kami saling bugil dan aku sedikit mundur persis di belakang
pantatnya sambil berlutut dan mengarahkan ujung kontolku pada memek
Mirna yang sudah basah dan sedikit terbuka itu. Sebelum aku sempat
menusukkan ujung penisku ke lubang memek Mirna
Mirna terlebih dahulu meremas dan mengocok-gocok dengan tangannya
sehingga aku semakin tidak tahan lagi bermain-main di luar. Kini senti
demi senti kudorong ke depan hingga ujung kemaluanku pas tertuju pada
lubang kemaluannya.
Mirna hanya membantu dengan kedua tangannya membuka kedua bibir
memeknya itu, sehingga kontolku dapat menembus lubang memeknya dengan
mudah. Aku mengangkat tinggi-tinggi kedua kakinya hingga ujungnya berada
di atas kedua bahuku.
Kurasakan kontolku masuk menyelusup ke dalam memeknya Mirna tanpa
suatu kesulitan yang berarti hingga seluruhnya amblas. Mirna semakin
mengerang dan napasnya terengah-engah bagaikan orang yang lari dengan
kencangnya. Suara dan napas kamipun saling memburuh, sekujur tubuh kami
dibasahi oleh keringat. AC di kamar itu nampaknya tidak terasa
pengaruhnya.
Mirna menarik pinggulku dengan keras dan akupun menekan kontolku ke
dalam memeknya juga dengan keras sehingga peraduan antara kontolku
dengan memeknya semakin dalam dan kencang. Genjotan kontolku semakin
kupercepat sampai-sampai peraduan paha kami menimbulkan suara cukup
besar.
Kami sempat memperhaMirnan gerakan-gerakan kami itu di cermin besar
yang ada di samping tempat tidur, yang diselingi dengan suara TV 14 inch
yang sengaja kami keraskan suaranya agar tidak sampai orang curiga atas
perbuatan kami dalam kamar.
Keringat yang membasahi tubuh kami semakin bercampur, sehingga terasa
tubuh kami saling lengket. Mirna nampaknya tidak puas dengan posisi di
bawah, iapun segera mengeluarkan kontolku dari dalam vaginanya lalu
merobah posisi. Ia dengan sigapnya mengangkangiku lalu memasukkan
kembali kontolku dalam vaginanya lalu ia dengan cepatnya menggerakkan
pinggulnya ke kiri dan ke kenan, ke bawah dan ke atas
Sehingga aku semakin sulit menahan lahar hangat yang tertampung dalam
penisku. Bahkan ia menawarkan padaku untuk membalikan tubuhnya
membelakangi wajahku agar ia dapat dengan jelas mengamati
gerakan-gerakan kami lewat cermin, namun aku menahannya agar tidak
mengeluarkan lagi kontolku dari dalam vaginanya sebab terasa aku sudah
sangat mendesak ingin muncratkan spermaku.
Mungkin pengaruh capek habis naik mobil dari jauh barusan, sehingga
aku betul-betul kecapean dan sulit lagi mempertahankan gejolak sperma
yang memaksa ingin keluar. Tanpa seizin Mirna, spermaku kutumpahkan
dalam vaginanya meskipun aku masih terus memompa memek Mirna dari bawah
dan mengikuti gerakan Mirna hingga betul-betul kontolku keluar dengan
sendirinya karena kehabisan cairan dan tenaga.
“Istirahat aja dulu Kak kalau capek, saya ngerti kok Kakak ini
terlalu capek habis naik kendaraan hampir seharian” kata Mirna dengan
bijaksana sambil turun dari atasku lalu berbaring di sampingku.
Ia nampaknya tidak kecewa dan cukup mengerti atas keadaanku, sebab
masih banyak kesempatan untuk mengulangi permainan kami sebentar.
Apalagi sebelum kami melakukan semua itu, ia pernah berjanji akan
memuaskanku dan ia tidak bakal kecewa atas keterbatasanku serta tidak
terlalu menuntut untuk dipuaskan jika aku tidak mampu.
Mendengar kata-kata Mirna itu, aku merasa malu dan tidak tau harus
berbuat apa, sebab janji yang pernah kuucapkan pada emailku untuk
memuaskannya, ternyata tidak mudah aku jadikan kenyataan.
Entah, apa aku yang terlalu lemah dan loyo atau Mirna yang terlalu
kuat dan tidak mudah mencapai puncak kenikmatan seperti yang pernah
disampaikanku lewat email bahwa sudah beberapa kali ia bersetubuh dengan
pacarnya tapi ia tidak pernah merasakan puncak kenikmatan sex.
Apalagi usiaku jauh lebih tua di atas 10 tahun dari usianya, sehingga
seharusnya aku perlu obat penambah kekuatan dan daya tahan untuk
mengimbanginya. Namun aku terlalu ceroboh dan kurang memperhitungkannya
Sehingga aku terpaksa KO lebih awal sebelum ia ada tanda-tanda akan
puas. Aku terlalu mengandalkan pengalamanku yang mempunyai jam terbang
lebih banyak dari dia, apalagi selama ini hampir semua wanita yang
kusetubuhi merasa KO lebih dulu karena kemampuanku dalam merangsang.
“Maaf yah sayang, aku terlalu capek dari daerah, seharusnya istirahat
lebih dulu sebelum kita berperang di atas kasur ini” kata saya untuk
memberi alasan agar ia tidak putus harapan.
“Nga apa-apa kok Kak, saya khan tidak terlalu berharap dari Kak untuk
dipuaskan, sebab saya hanya mau melihat Kakak puas dan bahagia
bersamaku apalagi saya memang tidak mudah mencapai kepuasan sex Kak”
jawabnya dengan sedikit tersenyum tanpa ada rasa kecewa sedikitpun
diwajahnya.
“Kakak janji, ronde kedua nanti, akan kuusahakan agar Adik bisa juga
merasakan nikmatnya sex. Saya malu dan tidak mau dikatakan hanya
mementingkan diri sendiri, apalagi pasti akan membuat kenangan buruh
dihati adik sepanjang masa, kita istirahat sejenak aja dulu Dik”
begitulah ucapan saya pada Mirna mencoba memberi harapan yang besar.
Setelah aku ke kamar mandi membersihkan kemaluanku, saya kembali
berbaring disamping Mirna dan berusaha merayu, memeluk dan mencium bibir
dan keningnya serta mengelus-elus puting susunya.
Tiba-tiba aku teringat pada vitamin yang sengaja kubawa dari daerah
sebagai obat yang dapat mengembalikan kondisi tubuh, khususnya bagi yang
berusia lanjut. Aku bangkit dari tempat tidurku, lalu menelannya 2
biji, lalu kembali berpelukan dengan Mirna di atas kasur empuk itu.
Ternyata tidak sia-sia, hanya dalam beberapa menit saja, kontol saya
mulai terasa mengeras kembali, apalagi setelah dipegang-pegang oleh
Mirna.
“Yuk, kita mulai lagi” kataku sambil tersenyum pada Mirna.
“Apa Kakak sudah siap lagi? Istirahat aja dulu sebentar Kak, waktu
kita masih ada beberapa jam lagi di wisma ini” katanya seolah tidak mau
memaksa kemampuanku.
Sambil berkata begitu, Mirna mulai meremas-remas kontolku dan
nampaknya ia juga sangat menginginkan hal itu. Mirna segera bangun dan
kembali mengangkangi tubuhku lalu mencoba memasukkan kontolku ke dalam
memeknya yang masih basah karena belum dicuci. Ia sengaja saya minta
agar lebih aktif dari aku, karena aku masih agak kecapean.
Kontolku yang sudah mengeras kembali itu tidak terlalu sulit
dimasukkan sampai seluruhnya amblas ke dalam lubang memeknya. Mirnapun
mulai menggenjot terus dan kembali menimbulkan bunyi khas, bahkan kali
ini ia berbalik membelakangi wajahku sehingga ia tertawa kecil melihat
gerakannya pada cermin di sudut kamar itu.
Setelah ia puas memandangi posisi kami, Mirna lalu turun dan mencoba
nungging di depan saya. Sayapun mengerti maksudnya. Berkali-kali aku
arahkan ujung penisku pada memeknya yang agak sedikit menganga dari
belakang, tapi selalu saja mengenai lubang duburnya, sehingga ia
menegurku karena merasa kesakitan.
Mungkin Mirna atau saya yang kurang cocok dengan posisi itu, sehingga
kami tidak jadi menerapkan posisi nungging itu, melainkan Mirna kuminta
berbaring terlentang lalu aku kembali menindihnya dan memasukkan
kontolku dengan mudah lalu menggenjotnya dengan lebih keras dan cepat.
Kali ini berlangsung agak lama daripada ronde pertama tadi.
“Ngomong ya Kak jika kau mau muncrat supaya aku tahu” katanya berbisik.
“Yah sayang, tapi masih jauh rasanya” jawabku singkat.
Peluh kami mulai bercucuran dan basah sekali sekujur tubuh kami.
Walaupun aku telah berusaha menahan spermaku untuk tidak terlalu cepat
keluarnya, namun tetap saja Mirna belum ada tanda-tanda akan mencapai
puncaknya.
“Auh.. iihh.. eehh.. aahh.. uuhh..” itulah suara-suara yang menyertai
gerakan pinggul Mirna ketika aku semakin mempercepat gerakan pantatku
menekan pnisku masuk lebih dalam lagi. Sementara aku tetap berusaha
untuk tidak mengeluarkan suara meskipun aku merasakan suatu kenikmatan
yang luar biasa dibanding aku bersetubuh dengan istriku.
“Bagaimana sayang, masih jauh? Aku sudah mulai mau keluar nih, nga
apa-apa khan saya keluarkan di dalam saja?” kataku berterus terang.
“Silakan Kak, aku sudah makan obat pengaman, ngga bakalan hamil kok,
ibuku khan bidan, jadi mudah kudapatkan obat seperti itu” katanya
meyakinkanku.
Tidak seberapa lama kemudian, akupun muncrat dalam vaginanya dan kali
ini Mirna merasakannya dengan denyutan kontolku. Aku tetap berusaha
menahan kontolku dalam memeknya, sehingga ia merasa hampir mencapai
puncaknya.
“Kak, kayaknya aku sudah mau keluar nihh, auhh, mm.. hh” Katanya sambil terengah-engah dan bersuara agak keras.
“Bagaimana, sudah hampir sayang? Saya capek sekali nih” kataku terus
terang mengalah, sebab kontolku sudah mulai loyo dan kehabisan tenaga
sehingga sulit sekali bertahan di dalam.
Kontolku dengan sendirinya keluar dari dalam memek Mirna, sehingga
kamipun berhenti bergoyang, nampun Mirna tetap tidak menunjukkan
kekecewaan dan putus asa di wajahnya.
“Aku telah merasa sedikit lebih puas dari ronde pertama tadi atau
mungkin tadi aku udah muncrat tapi aku ngga mengetahuinya” demikian
katanya seolah bahagia dan senang atas pertarungan kami di ronde ke-2.
“Kita masih punya waktu sekitar 3 jam lagi di kamar ini sayang,
mudah-mudahan kita masih bisa lanjutkan ke ronde yang ke 3, kita
habiskan saja semua sisa-sisa kemampuan kita di tempat ini, sebab kapan
lagi kita dapat kesempatan seperti ini” kataku penuh harap.
“Kalau sudah capek dan nga mampu lagi Kak, ngga usah diteruskan dan
dipaksakan, khan sudah sama-sama kita merasakan suatu kenikmatan yang
cukup, nanti lain kali aja kita bisa lakukan, saya selalu siap kok kapan
aja Kakak mau asal beritahu lebih dulu” kata Mirna dengan santun dan
penuh penghormatan serta kasih sayang padaku, sehingga aku merasa tidak
enak dan berat padanya.
Kali ini, aku kembali ke kamar mandi membersihkan penis saya yang
berlepotan dengan sperma, dan Mirnapun menyusul, lalu kami sama-sama
mengenakan CD kemudian berbaring sambil berpelukan, bermesraan, bahkan
aku berusaha terus merangsangnya, terutama di bagian payudaranya dengan
mengisap-isap putingnya dan meremas-remasnya serta mengecup pipinya.
Kami saling bercanda dan bersenda gurau layaknya suami istri yang
seolah tidak ada beban dan ketakutan sama-sekali. Cukup lama kami
bermain-main di atas tempat tidur itu tanpa pakaian kecuali CD. Sesekali
Mirna menyentuh penisku dan meremas-remasnya dari luar CD, sedang aku
juga menyentuh dan mengelus-elus vaginanya.
“Kak, istirahat saja dan tidurlah, biar lebih segar perasaannya, aku
rasanya ngga capek dan nga ngantuk” katanya merayuku berkali-kali agar
aku berusaha tidur. Tapi aku selalu takut kalau-kalau ia meninggalkan
aku sendirian dalam kamar itu, sehingga mataku juga tidak mau tertidur
apalagi sulit lagi kami dapatkan kesempatan emas seperti ini.
Entah pengaruh dari mana, tapi yang jelas tiba-tiba kontolku kembali
tegang dan bergerak-gerak dalam CD-ku, sehingga dirasakan pula oleh
Mirna yang sedang berbaring di bagian bawah perutku. Mungkin akibat
vitamin yang kutelan tadi atau karena senda gurau kami yang terlalu
asyik. Mirna tiba-tiba bangkit dan duduk di sampingku sambil tertawa.
“Wah, ternyata bangun lagi Kak, apa Kakak masih siap melanjutkannya
untuk ronde yang terakhir sebelum kita keluar dari wisma ini kak?”
tanyanya dengan tersenyum dan nampak ia gembira melihat reaksi itu.
“Boleh saja, tapi isap dulu donk biar lebih keras dan membesar lagi
agar dapat bertahan lebih lama” jawabku dan meminta ia lebih aktif.
“Ayolah, mari kita coba mulai” katanya terburu-buru sambil membuka
CD-ku dalam keadaan aku tetap terlentang. Hangat dan nikmat sekali.
“Ahh.. usst.. oohh.. aduhh.. eenakk sekali sayang..” begitulah
eranganku berkali-kali ketika Mirna meraih dan memasukkan kontolku ke
dalam mulutnya lalu menggocok-gocoknya dengan mulut.
Setelah aku merasa kontolku cukup keras dan membesar lagi dalam mulut
Mirna, aku dengan segera bangkit dari tidurku lalu menarik celana dalam
Mirna hingga keluar semuanya. Kali ini aku tarik Mirna berbarik sambil
miring sehingga kami berhadap-hadapan, lalu aku coba mengangkat satu
pahanya ke atas dan memasukkan pahaku ke dalam selangkangannya, lalu
menusukkan kontolku ke lubang memeknya hingga amblas seluruhnya.
Beberapa menit kami dalam posisi seperti ini sambil kami menggerak-
gerakkan pantat maju mundur, akupun mengangkat Mirna ke atasku sehingga
ia menindihku tanpa melepaskan kontolku dari kemaluannya.
Kali ini Mirna dengan keras dan cepatnya menggoyangkan pinggulnya
maju mundur dan kiri kanan, bahkan ia menarik kepalaku ke atas sehingga
kami setengah duduk lalu duduk dengan meletakkan kedua pahanya di atas
kedua pahaku, lalu pinggul kami bergerak seirama seolah kami saling
mendorong dan menarik.
Kami tidak mengubah lagi posisi hingga kami sama-sama mencapai puncak
kenikmatan, meskipun aku yakin jika Mirna belum mencapai kenikmatan sex
100%, tapi ia mengaku telah merasa puas merasakan kenikmatan sex yang
belum pernah ia alami sebelumnya.
Selesai membersihkan badan dan berpakaian lengkap, kami saling
mengecup dan ciuman sebagai tanda terima kasih sekaligus perpisahan
sementara karena aku mau pulang ke daerah asalku. Kami berjanji akan
mengulangi lagi setiap ada kesempatan.