Berjajar di beberapa tempat di sepanjang jalan yang kulalui sambil
menunggu angkutan umum yang akan mereka naiki untuk ke sekolah mereka
masing-masing. Karena angkutan umum sangat terbatas, biasanya mereka
melambai-lambaikan tangannya dan mencoba menyetop kendaraan yang lewat
untuk mendapatkan tumpangan.
Kadang-kadang ada juga kendaraan truk ataupun pick-up yang berhenti
dan berbaik hati memberikan tumpangan, sedangkan kendaraan lainnya
jarang mau berhenti, karena yang melambai-lambaikan tangannya
berkelompok dan berjumlah puluhan.
Suatu hari Senin aku keluar dari rumah agak terlambat yaitu jam 06.45
pagi. Kuperhatikan anak-anak sekolah yang biasanya ramai di sepanjang
jalan itu mulai agak sepi, mungkin mereka sudah mendapatkan kendaraan ke
sekolahnya masing-masing.
Saat perjalananku mencapai ujung desa Bedulan (tempat ini pasti
dikenal oleh semua orang karena sering terjadi tawuran antar desa sampai
saat ini), kulihat ada seorang anak sekolah perempuan yang
melambai-lambaikan tangannya.
Setelah kulihat di belakangku tidak ada kendaraan lain, aku mengambil
kesimpulan kalau anak sekolah itu berusaha mendapatkan tumpangan dariku
dan karena dia seorang diri di sekitar situ maka segera kuhentikan
kendaraanku serta kubuka kacanya sambil kutanyakan,
“Mau ke mana dik?”. Kulihat anak sekolah itu agak cemas dan segera menjawab pertanyaanku,
“Pak boleh saya ikut sampai di SMA——– dari tadi kendaraan umum penuh
terus dan saya takut terlambat?, dengan wajah yang penuh harap.
“Yaa…, OK lah.., naik cepat”, kataku. “Terima kasih paak”, katanya
sambil membuka pintu mobilku. Jarak dari sini sampai di sekolahnya
kira-kira 10 Km dan selama perjalanan kuselingi dengan
pertanyaan-pertanyaan ringan, sehingga aku tahu kalau dia itu duduk di
kelas 3 SMU di——dan bernama War.
Tinggi badannya kira-kira 155 cm, warna kulitnya bisa dibilang agak
hitam bersih dan tidak cantik tapi manis dan menarik untuk dilihat,
entah apanya yang menarik, mungkin karena matanya agak sayu. Tidak
terlalu lama, kendaraanku sudah sampai di daerah——-dan War segera
memberikan aba-aba.
“Ooom…, sekolah saya ada di depan itu”, katanya sambil jarinya
menunjuk satu arah di kanan jalan. Kuhentikan kendaraanku di depan
sekolahnya dan sambil menyalamiku War mengucapkan terima kasih. Sambil
turun dari mobil, War masih sempat bertanya,
“Oom…, besok pagi saya boleh ikut lagi.., nggak Oom, lumayan Oom…,
bisa naik mobil bagus ke sekolah dan sekalian menghemat ongkos.., boleh
yaa.. Oom?”.
Aku tidak segera menjawab pertanyaan itu, tapi kupandangi wajahnya,
lalu kujawab, “Boleh boleh saja War ikut Oom, tapi jangan bergerombol
ikutnya yaa”. “Enggak deh Oom, saya cuma sendiri saja kok selama ini”.
Setiap pagi sewaktu aku mencapai desa itu, War sudah ada di pinggir
jalan dan melambaikan tangannya untuk menghentikan mobilku. Dalam setiap
perjalanan dia makin lama makin banyak bercerita soal keluarganya,
kehidupannya di desa, teman-teman sekolahnya dan dia juga sudah punya
pacar di sekolahnya.
Ketika kutanya apakah pacarnya tidak marah kalau setiap hari naik
mobil orang, War bilang tidak apa-apa tapi tanpa ada penjelasan apapun,
sepertinya dia enggan menceritakan lebih jauh soal pacarnya.
War juga cerita bahwa selama ini dia tidak pernah kemana-mana,
kecuali pernah dua kali di ajak pacarnya piknik ke daerah wisata di
Kuningan. Seminggu kemudian di hari Jum’at, waktu War akan naik di
mobilku kulihat wajahnya sedih dan matanya bengkak seperti habis
menangis dan War duduk tanpa banyak bicara.
Karena penasaran, kusapa dia, “War, habis nangis yaa…, kenapa..? coba War ceritakan.., siapa tahu Oom bisa membantu”.
War tetap membisu dan sedikit gelisah. Lama dia diam saja dan aku
juga tidak mau mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan, tetapi
kemudian dia berkata, “Oom, saya habis ribut dengan Bapak dan Ibu”, lalu
dia diam lagi.
“Kalau War percaya pada Oom, tolong coba ceritakan masalahnya apa,
siapa tahu Oom bisa membantu”, kataku tetapi War saja tetap membisu.
Ketika mobilku sudah mendekati sekolahnya, tiba-tiba War berkata,
“Oom…, boleh nggak War minta waktu sedikit buat bicara di sini,
mumpung masih belum sampai di sekolah”. Mendengar permintaannya itu,
segera saja kuhentikan mobilku di pinggir jalan dan kira-kira jaraknya
masih 2 Km dari sekolahnya.
“Ada apa War…?”, Kataku. War tetap diam dan sepertinya ada keraguan untuk memulai berbicara.
“Ayoo…, lah War (sebenarnya pengarang penuliskan tiga harus terakhir
dari namanya, tapi terpaksa oleh Yuri diganti jadi 3 huruf terdepan),
jangan takut atau ragu…, ada apa sebenarnya”, tanyaku lagi.
“Begini…, Oom, kata War”, lalu dia menceritakan bahwa tadi malam dia
minta uang kepada orang tuanya untuk membayar uang sekolahnya yang sudah
tiga bulan belum dibayar dan hari ini adalah hari terakhir dia harus
membayar, karena kalau tidak dia tidak boleh mengikuti ulangan.
Orang tuanya ternyata tidak mempunyai uang sama sekali, padahal uang
sekolah yang harus dibayar itu sebesar 80 ribu rupiah. Alasan orang
tuanya karena panen padi yang diharapkan telah punah karena hujan yang
terus menerus.
Dan katanya lagi orang tuanya menyuruh dia berhenti sekolah karena
tidak mampu lagi untuk membayar uang sekolah dan mau dikimpoikan dengan
tetangganya. Aku tetap diam untuk mendengarkan ceritanya sampai selesai
dan karena War juga terus diam, lalu kutanya,
“Teruskan ceritamu sampai selesai War”. Dia tidak segera menjawab
tapi yang kulihat airmatanya terlihat menggenang dan sambil mengusap air
matanya dia berkata,
“Oom, sebetulnya masih banyak yang ingin War ceritakan, tapi saya
takut nanti Oom terlambat ke kantornya dan War juga harus ke sekolah,
serta lanjutnya lagi…, kalau Oom ada waktu dan tidak keberatan, saya
ingin pergi dengan Oom supaya saya bisa menceritakan semua masalah
pribadi saya”.
Setelah diam sejenak, lalu War berkata lagi, “Oom, kalau ada dan
tidak keberatan, saya mau pinjam uang Oom 80 ribu untuk membayar uang
sekolah dan saya janji akan mengembalikan setelah saya dapat dari orang
tua saya”.
Mendengar cerita War walaupun belum seluruhnya, hatiku terasa
tersayat dan segera kurogoh dompetku dan kuambilkan uang 200 ribu dan
segera kuberikan padanya.
“Lho Oom, kok banyak benar…, saya takut tidak dapat
mengembalikannya”, katanya sambil menarik tangannya sebelum uang dari
tanganku dipegangnya.
“War.., ambillah…, nggak apa-apa kok, sisanya boleh kamu belikan
buku-buku atau apa saja…, saya yakin War membutuhkannya”, dan segera
kupegang tangannya sambil meletakkan uang itu ditangannya dan sambil
kukatakan,
“War.., ini nggak usah kamu beritahukan kepada siapa-siapa, juga
jangan kepada orang tuamu…, dan War nggak perlu mengembalikannya”.
Belum selesai kata-kataku, tiba-tiba saja dari tempat duduknya dia maju dan mencium pipi kiriku sambil berkata,
“Terima kasih banyak Oom.., Oom.. sudah banyak menolong saya”. Aku
jadi sangat terkesiap dan berdebar, bukan karena mendapat ciuman di
pipiku, tapi karena tangan kiriku tersentuh buah dadanya yang terasa
sangat empuk sehingga tidak terasa penisku menjadi tegang dan sementara
War masih mencium pipiku, kugunakan tangan kananku untuk membelai
rambutnya dan kucium hidungnya.
“Ayoo…, War…, sudah lama kita di sini, nanti kamu terlambat
sekolahnya”. War tidak menjawab tapi kulihat dikedua matanya masih
tergenang air matanya. Ketika sudah sampai di depan sekolahnya sambil
membuka pintu mobil, War berkata,
“Oom.., terima kasih yaa.. Ooom dan kapan Oom ada waktu untuk mendengar cerita War”. “Kalau besok gimana..?, kataku.
“Boleh.., oom”, jawabnya cepat. “Lho…, besok kan masih hari Sabtu dan War kan harus sekolah”, jawabku.
“Sekali-kali mbolos kan nggak apa apa Oom…, hari Sabtu kan pelajarannya tidak begitu padat dan kurang penting”, kata War.
“Oklah…, kalau begitu…, War, kita ketemu besok pagi ditempat biasa
kamu menunggu”. Dalam perjalanan ke kantor setelah War turun, masalah
War terasa mengganggu pikiranku sehingga tidak terasa aku sudah sampai
di kantor.
Sebelum pulang kantor, aku izin untuk tidak masuk besok Sabtu pada
Bossku dengan alasan akan mengurus persoalan keluarga di Kuningan.
Demikian juga waktu malamnya kukatakan pada istriku kalau aku harus
ke Jakarta untuk urusan kantor dan kalau selesainya telat terpaksa harus
menginap dan pulang pada hari Minggu.
Besok paginya dengan berbekal 1 stel pakaian yang telah disiapkan
oleh Istriku, aku berangkat dan sampai di tempat yang biasa, kulihat War
tetap memakai baju seragam sekolahnya. Setelah dia naik ke mobil,
kembali kulihat matanya tetap seperti habis menangis.
Lalu kutanya, “War…, habis perang lagi yaa?, soal apa lagi?”. “Oom,
ceritanya nanti saja deh”, katanya agak malas. “Kita mau kemana Oom?”,
Tanyanya.
Lho…, terserah War saja.., Oom sih ikut saja”.
“Oom…, saya kepingin ke tempat yang agak sepi dan nggak ada orang
lain…, jadi kalau-kalau War nangis, nggak ada yang melihatnya kecuali
Oom”. Sambil memutar mobilku kembali ke arah Cirebon, aku berpikir
sejenak mau ke tempat mana yang sesuai dengan permintaan War, dan segera
teringat kalau di pinggiran kota Cirebon yang ke arah Kuningan ada
sebuah lapangan Golf dan Cottage CPN.
Segera saja kukatakan padanya, “War… Tempat yang sesuai dengan
keinginanmu itu kayaknya agak susah, tapi…, bagaimana kalau kita ke CPN
saja..?”. “Dimana itu Oom dan tempat apaan?”,tanya War.
Aku jadi agak susah menjelaskannya, tapi kujawab saja, “Tempatnya sih
nggak jauh yaitu sedikit di luar Cirebon dan…, begini saja deh..,
War.., kita ke sana dulu dan kalau War kurang setuju dengan tempatnya,
kita cari tempat lain lagi”.
Setelah sampai di tempat dan mendaftar di receptionist serta memesan
minuman ringan serta mengambil kunci kamarnya, segera aku kembali ke
mobil dan kutanyakan pada War–“gimana War.., kamu mau disini..?, lihat
saja tempatnya sepi (maklum saja masih pagi-pagi. Receptionistnya saja
seperti terheran-heran, sepertinya berfikir kok ada tamu pagi-pagi
sekali dan nomor mobilnya bukan dari luar kota).
Setelah mobil kuparkir di depan kamar, sebelum turun kutanya dia
kembali, “War…, gimana.., mau di sini? atau mau cari tempat lain?”. War
tidak segera menjawab pertanyaanku, tapi dia ikut turun dari mobil dan
mengikutiku ke arah pintu kamar motel.
Segera setelah sampai di dalam, dia langsung duduk di tempat tidur
sambil memperhatikan seluruh ruangan. Karena kulihat dia tetap diam
saja, aku jadi merasa tidak enak dan segera kudekati dia yang masih
tetap duduk di pinggiran tempat tidur dan sambil agak berlutut, kucium
keningnya beberapa saat dan tiba-tiba saja War memelukku dan terdengar
tangisan lirih sambil terisak-isak.
Sambil masih memelukku, kuangkat berdiri dari duduknya dan
kuelus-elus rambutnya, sambil kucium pipinya serta kukatakan, “War coba
tenangkan dirimu dan ceritakan semua masalah mu pada Oom…, siapa tahu
Oom bisa membantumu dalam memecahkan masalahmu itu”.
War masih saja memelukku tapi senggukan tangisnya mulai mereda.
Beberapa saat kemudian kubimbing dia ke arah tempat tidur dan perlahan
kutelentangkan War di tempat tidur dan kurangkulkan tangan kiriku di
bahunya dan kupandangi wajahnya, sambil kukatakan, “War cobalah
ceritakan masalahmu itu dan biar Oom bisa mengetahui permasalahanmu
itu”.
War tetap diam saja dan memejamkan matanya, tapi tak lama kemudian,
sambil menyeka air matanya dia membuka matanya dan memandang ke arahku
yang jaraknya antara wajahnya dan wajahku sangat dekat sekali.
“Oom…”, katanya seperti akan memulai bercerita, tapi lalu dia diam
lagi. “War…”, kataku sambil kucium pipinya dan kuusap-usapkan jari
tangan kananku di rambutnya, “cerita lah”.
Lalu War mulai bercerita dan dia menceritakan secara panjang lebar
soal kehidupan keluarganya yang miskin, dia anak pertama dari 3
bersaudara, tentang pacarnya di sekolah tapi lain kelas yang sudah 2
tahun pacaran dan sekarang sudah meninggalkan dia karena mendapatkan
pacar baru di kelasnya dan dia juga menceritakan kalau orang tuanya
sudah menjodohkan dengan tetangganya yang sudah punya istri dan anak,
Tapi kaya dan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah War dan dia
harus segera berhenti dari sekolahnya karena akan dikimpoikan pada bulan
Maret akan datang. War katanya kepingin sekolah dulu dan belum pingin
kimpoi, apalagi kimpoi dengan orang yang sudah punya Istri dan anak. War
punya keinginan mau lari dari rumahnya, tapi tidak tahu mau ke mana.
War juga menceritakan bahwa sebetulnya dia masih cinta kepada kawan
sekolahnya itu, apalagi dia sudah telanjur pernah tidur bersama sewaktu
piknik ke Kuningan dulu, walaupun katanya dia tidak yakin kalau punya
pacarnya itu sudah masuk ke vaginanya apa belum, karena belum apa-apa
sudah keluar katanya.
“Jadi…, gimana.., Oom.., apa yang harus saya perbuat dengan masalah
ini, katanya setelah menyelesaikan ceritanya. “War”, kataku sambil
kembali kuelus-elus rambutnya dan kucium pipinya di dekat bibirnya.
“War…, masalahmu kok begitu rumit, terutama persoalan lamaran
tetanggamu itu. Begini saja War…, sebaiknya kamu minta kepada orangtuamu
untuk menunda perkimpoian itu sampai kamu selesai sekolah. Bilang
saja…, kalau ujian SMA-mu hanya tinggal beberapa bulan lagi”.
“Katakan lagi…, sayang kalau biaya yang telah dikeluarkan selama
hampir tiga tahun di SMA harus hilang percuma tanpa mendapatkan Ijasah.
War…, sewaktu kamu mengatakan ini semua, jangan pakai emosi, katakan
dengan lemah lembut, mudah-mudahan saja orang tuamu mau mengerti dan
mengundurkan perjodohanmu dengan tetanggamu itu”.
“Kalau orang tuamu setuju, jadi kamu bisa konsentrasi untuk
menyelesaikan sekolahmu dan yang lainnya bisa dipikirkan kemudian”.
Setelah selesai memberikan saran ini, lalu kembali kucium pipinya seraya
kutanya…, “War…, bagaimana pendapatmu dengan saran Oom ini?”.
Seraya saja War bangkit dari tidurnya dan memelukku erat-erat sambil menciumi pipiku dan berkata,
“Ooom…, terima kasih.., atas saran Oom ini…, belum terpikir oleh saya
sebelumnya hal ini…, Oom sangat baik terhadap War entah bagaimana
caranya saya membalas kebaikan Oom”, dan terasa air matanya menetes di
pipiku.
Setelah diam sesaat, kembali kurebahkan badan War telentang dan
kulihat dari matanya yang tertutup itu sisa air matanya dan segera
kucium kedua matanya dan sedikit demi sedikit cimmanku kuturunkan ke
hidungnya dan terus turun ke pipi kirinya, setelah itu kugeser ciumanku
mendekati bibirnya.
Karena War masih tetap diam dan tidak menolak, keberanianku semakin
bertambah dan secara perlahan-lahan kugeser ciumanku ke arah bibirnya,
dan tiba-tiba saja War menerkam dan memelukku serta mencari bibirku
dengan matanya yang masih tertutup.
Aku berciuman cukup lama dan sesekali lidahku kujulurkan ke dalam
mulutnya dan War mengisapnya. Sambil tetap berciuman, kurebahkan
badannya lagi dan tangan kananku segera kuletakkan tepat di atas buah
dadanya yang terasa sangat kenyal dan sedikit kuremas.
Karena tidak ada reaksi yang berlebihan serta War bukan saja mencium
bibirku tapi seluruh wajahku, maka satu persatu kancing baju SMU-nya
berhasil kulepas dan ketika kusingkap bajunya, tersembul dua bukit yang
halus tertutup BH putih tipis dan ukurannya tidak terlalu besar.
Ketika kucoba membuka baju sekolahnya dari tangan kanannya, War
kelihatannya tetap diam dan malah membantu dengan membengkokkan
tangannya. Setelah berhasil melepas baju dari tangan kanannya, segera
kucari kaitan BH-nya di belakang dan dengan mudah kutemukan serta
kulepaskan kaitannya, sementara itu kami masih tetap berciuman, kadang
dibibir dan sesekali di seluruh wajah bergantian.
BH-nya pun dengan mudah kulepas dari tangan kanannya dan ketika
kusingkap BH-nya, tersembul buah dada War yang ukurannya tidak terlalu
besar tapi menantang dan dengan puting susunya berwarna kecoklatan.
Dan dengan tidak sabar dan sambil meremas pelan payudara kanannya,
kuturunkan wajahku menyelusuri leher dan terus ke bawah dan sesampainya
di payudaranya, kujilati payudara War yang menantang itu dan sesekali
kuhisap puting susunya, sementara War meremas-remas rambutku seraya
terdengar suara lirih,
“aahh…, aahh…, ooomm…, ssshh…, aahh”. Aku paling tidak tahan kalau
mendengar suara lirih seperti ini, serta merta penisku semakin tegang
dan kugunakan kesempatan ini sambil tetap menjilati dan menghisap
payudara War, kugunakan tangan kananku untuk menelusuri bagian bawah
badan War Ketika sampai di celana dalamnya serta kuelus-elus vaginanya,
terasa sekali ada bagian CD yang basah.
Sambil masih tetap menjilati payudara War, kugunakan jari tanganku
menyusup masuk dari samping CD-nya untuk mencari bibir vaginanya dan
ketika dapat dan kuelus, badan War terasa menggelinjang dan membukakan
kakinya serta kembali terdengar, “aahh…, ssshh…, ssshh…, aahh”.
Aku jadi semakin penasaran saja mendengar suara War mengerang lirih
seperti itu. Segera kulepas tanganku yang ada di vaginanya dan sekarang
kugunakan untuk mencari kancing atau apapun yang ada di Rok sekolahnya
untuk segera kulepas.
Untung saja rok sekolah yang dipakai adalah rok standard yaitu ada
kaitan sekaligus ritsluiting, sehingga dengan mudah kutemukan dan kubuka
kaitan dan ritsluitingnya, sehingga roknya menjadi longgar di badan
War.
Lalu perlahan-lahan kuturunkan badanku serta ciumanku menelusuri
perut War seraya tanganku berusaha menurunkan roknya. Roknya yang sudah
longgar itu dengan mudah kuturunkan ke arah kakinya dan kuperhatikan War
mengenakan CD warna merah muda dan kulihat juga vaginanya yang
menggunung di dalam CD-nya.
Badan War menggelinjang saat ciumanku menelusuri perut dan pada saat
ciumanku mencapai CD di atas gunungan vaginanya, gelinjang badan War
semakin keras dan pantatnya seakan diangkat serta tetap kudengar
suaranya yang lirih sambil meremas-remas rambutku agak keras serta
sesekali memanggil, ”
ssshh…, aahh…, ssshht…, ooom…, aahh”. Sambil kujilati lipatan
pahanya, kuturunkan CD-nya perlahan-lahan dan setelah setengahnya
terbuka, kuperhatikan vagina War masih belum banyak ditumbuhi bulu
sehingga terlihat jelas belahan vaginanya dan basah.
Setelah berhasil melepas CD-nya dari kedua kaki War yang masih
menjulur di lantai, kuposisikan badanku diantara kedua paha War sambil
merenggangkan kedua pahanya. Dengan pelan-pelan kujulurkan lidahku dan
kujilati belahan vaginanya yang agak terbuka akibat pahanya kubuka agak
lebar.
Bersamaan dengan jilatanku itu, tiba-tiba War bangun dari tidurnya
dan berkata, “Jaa…, ngaan…, Ooom”, sambil mencoba mengangkat kepalaku
dengan kedua tangannya. Karena takut War akan marah, maka dengan
terpaksa aku bangkit dan kupeluk War serta berusaha menidurkannya lagi
sambil kucium bibirnya untuk menenangkan dirinya.
War tidak memberikan komentar apa-apa, tapi kami kembali berciuman
dan War sepertinya lebih bernafsu dari sebelumnya dan lebih agresif
menciumi seluruh wajahku. Sementara itu tanganku kugunakan untuk melepas
baju dan BH War yang sebelah dan yang tadi belum sempat kulepas, War
sepertinya mendiamkan saja, malah sepertinya membantuku dengan
memiringkan badannya agar bajunya mudah kulepas.
Sambil tetap berciuman, sekarang aku berusaha untuk melepas baju dan
celanaku sendiri. Setelah aku berhasil melepas semua pakaianku termasuk
CD-ku, lalu dengan harap-harap cemas karena aku takut War akan
menolaknya, aku menempatkan diriku yang tadinya selalu di samping kiri
atau kanan badan War, sekarang aku naik di atas badan War.
Perkiraanku ternyata salah, setelah aku ada di atas badan War,
ternyata dia malah memelukkan kedua tangannya di punggungku sambil
sesekali menekan-nekan. Dalam posisi begini, terasa penisku agak sakit
karena tertindih di antara badanku dan paha War.
Karena tidak tahan, segera kuangkat kaki kananku untuk mencari posisi
yang nikmat, tapi bersamaan dengan kakiku terangkat, kurasakan War
malah merenggangkan kedua kakinya agak lebar, tentu saja kesempatan ini
tidak kusia-siakan, segera saja kutaruh kedua kakiku di bagian tengah
kedua kakinya yang dilebarkan itu dan sekarang terasa penisku berada di
atas vagina War.
War masih memelukkan kedua tangannya di punggungku dan meciumi
seluruh wajahku. Sambil masih tetap kujilat dan ciumi seluruh wajahnya,
kuturunkan tanganku ke bawah dan sedikit kumiringkan badanku,
Perlahan-lahan kuelus vagina War yang menggembung dan setelah
beberapa saat lalu kupegang bibir vaginanya dengan jariku dan kurasakan
kedua tangan War serasa mencekeram di punggungku dan ketika jari
tengahku kugunakan untuk mengelus bagian dalam vaginanya,
Terasa vagina War sangat basah dan kurasakan badan bawah War bergerak
perlahan-lahan sepertinya mengikuti gerakan jari tanganku yang sedang
mengelus dan meraba bagian dalam vaginanya dan sesekali kupermainkan
clitorisnya dengan jari-jariku sehingga War sering berdesis,
“Ssshh…, ssshh…, aahh…, ssshh”, sambil kurasakan jari kedua tangannya
menusuk punggungku. Setelah sekian lama kupernainkan vaginanya dengan
jariku, kemudian kulepaskan jariku dari vagina War dan kugunakan tangan
kananku untuk memegang penisku serta segera saja penisku kuarahkan ke
vagina War sambil kugosok-gosokan ke atas dan ke bawah sepanjang bagian
dalam vagina War,
serta kembali kudengar desis suaranya, “ssshh…, ssshh…, ooom…, aahh…,
ssshh”, dan pantatnya diangkat naik turun pelan-pelan. Karena kulihat
War sudah sangat terangsang nafsunya, segera saja kuhentikan gerakan
tanganku dan kutujukan penisku ke arah bawah bagian vaginanya dan
setelah kurasa pas, segera kulepaskan tanganku dan kutekan pelan-pelan
penisku k edalam vagina War.
Kuperhatikan wajah War agak mengerenyit seperti menahan rasa sakit
serta menghentikan gerakan pantatnya serta bersuara pelan tepat di dekat
telingaku, “Aduuuhh…, ooomm…, Jangaannn…,
sakiiittt…, Asiihh.., takuuut., Oom”. Mendengar suaranya yang sedikit
menghiba itu, segera kuhentikan tusukan penisku dan kuelus-elus dahinya
sambil kucium telinganya serta kubisikan,
“Tidak…, apa-apa…, sayaang…, Oom…, pelan-pelan saja…, kok”, untuk menenangkan ketakutan War.
War tidak segera menanggapi kata-kataku dan tetap diam saja dengan
tetap masih memelukkan kedua tangannya di punggungku. Karena dia diam
saja dan memejamkan kedua matanya, segera secara perlahan-lahan,
kutusukan kembali penisku ke dalam vaginanya dan terdengar lagi War
berkata lirih di dekat telingaku,
“Aduuuhh…, sakiiittt…, ooom…, Asihh.., takuuut”, padahal kurasakan
kalau War mulai lagi menggerakkan pantatnya perlahan-lahan. Mendengar
kata-katanya yang lirih ini, kembali kuhentikan tusukan penisku tapi
masih tetap ditempatnya yaitu di lubang vaginanya, dan kembali kuciumi
bibir dan wajahnya serta kuelus-elus rambutnya sambil kubisiki,
“Takut apa sayang..”. War tidak segera menjawab pertanyaanku itu.
Sambil menunggu jawabannya, kuteruskan ciumanku di bibirnya dan War
mulai lagi melayani ciumanku itu dengan memainkan lidahku yang
kujulurkan ke dalam mulutnya dan kurasakan War mulai memindahkan kedua
tangannya dari punggung ke atas pantatku.
Aku tetap bersabar menunggu dan tidak terburu-buru untuk menusukkan
penisku lagi. Tetap dengan masih menghisap lidahku, kurasakan kedua
tangan War sedikit menekan pantatku, entah perintah supaya aku
menusukkan penisku ke vaginanya atau hanya perasaanku saja.
Sementara aku diamkan saja dan dengan masih berciuman, kutunggu
reaksi War selanjutnya. Ketika ciumanku kualihkan ke daerah dekat
telinganya, kulihat War berusaha mengelak mungkin karena kegelian dan
kembali kurasakan kedua tangannya seperti menekan pantatku.
Lalu kembali kulumat bibirnya dan perlahan tapi pasti, kembali
kutekan penisku ke dalam liang kewanitaannya, tapi War tidak kuberi
kesempatan untuk berkata-kata karena mulutnya kusumpal dengan mulutku
dan penisku makin kutekankan ke dalam vaginanya serta kulihat mata War
menutup rapat-rapat seperti menahan sakit.
Karena penisku belum juga menembus vaginanya, lalu sedikit kuangkat
pantatku dan kembali kutusukkan ke dalam vagina War dan, “Bleeesss”,
terasa penisku sepertinya sudah menembus vagina War dan, “aahh…,
sakiiit…, ooom Ketika sampai di celana dalamnya serta kuelus-elus
vaginanya, terasa sekali ada bagian CD yang basah.
Sambil masih tetap menjilati payudara War, kugunakan jari tanganku
menyusup masuk dari samping CD-nya untuk mencari bibir vaginanya dan
ketika dapat dan kuelus, badan War terasa menggelinjang dan membukakan
kakinya serta kembali terdengar, “aahh…, ssshh…, ssshh…, aahh”.
Aku jadi semakin penasaran saja mendengar suara War mengerang lirih
seperti itu. Segera kulepas tanganku yang ada di vaginanya dan sekarang
kugunakan untuk mencari kancing atau apapun yang ada di Rok sekolahnya
untuk segera kulepas.
Untung saja rok sekolah yang dipakai adalah rok standard yaitu ada
kaitan sekaligus ritsluiting, sehingga dengan mudah kutemukan dan kubuka
kaitan dan ritsluitingnya, sehingga roknya menjadi longgar di badan
War.
Lalu perlahan-lahan kuturunkan badanku serta ciumanku menelusuri
perut War seraya tanganku berusaha menurunkan roknya. Roknya yang sudah
longgar itu dengan mudah kuturunkan ke arah kakinya dan kuperhatikan War
mengenakan CD warna merah muda dan kulihat juga vaginanya yang
menggunung di dalam CD-nya.
Badan War menggelinjang saat ciumanku menelusuri perut dan pada saat
ciumanku mencapai CD di atas gunungan vaginanya, gelinjang badan War
semakin keras dan pantatnya seakan diangkat serta tetap kudengar
suaranya yang lirih sambil meremas-remas rambutku agak keras serta
sesekali memanggil,
“ssshh…, aahh…, ssshht…, ooom…, aahh”. Sambil kujilati lipatan
pahanya, kuturunkan CD-nya perlahan-lahan dan setelah setengahnya
terbuka, kuperhatikan vagina War masih belum banyak ditumbuhi bulu
sehingga terlihat jelas belahan vaginanya dan basah.
Setelah berhasil melepas CD-nya dari kedua kaki War yang masih
menjulur di lantai, kuposisikan badanku diantara kedua paha War sambil
merenggangkan kedua pahanya. Dengan pelan-pelan kujulurkan lidahku dan
kujilati belahan vaginanya yang agak terbuka akibat pahanya kubuka agak
lebar. Bersamaan dengan jilatanku itu, tiba-tiba War bangun dari
tidurnya dan berkata,
“Jaa…, ngaan…, Ooom”, sambil mencoba mengangkat kepalaku dengan kedua
tangannya. Karena takut War akan marah, maka dengan terpaksa aku
bangkit dan kupeluk War serta berusaha menidurkannya lagi sambil kucium
bibirnya untuk menenangkan dirinya.
War tidak memberikan komentar apa-apa, tapi kami kembali berciuman
dan War sepertinya lebih bernafsu dari sebelumnya dan lebih agresif
menciumi seluruh wajahku. Sementara itu tanganku kugunakan untuk melepas
baju dan BH War yang sebelah dan yang tadi belum sempat kulepas,
War sepertinya mendiamkan saja, malah sepertinya membantuku dengan
memiringkan badannya agar bajunya mudah kulepas. Sambil tetap berciuman,
sekarang aku berusaha untuk melepas baju dan celanaku sendiri.
Setelah aku berhasil melepas semua pakaianku termasuk CD-ku, lalu
dengan harap-harap cemas karena aku takut War akan menolaknya, aku
menempatkan diriku yang tadinya selalu di samping kiri atau kanan badan
War, sekarang aku naik di atas badan War.
Perkiraanku ternyata salah, setelah aku ada di atas badan War,
ternyata dia malah memelukkan kedua tangannya di punggungku sambil
sesekali menekan-nekan. Dalam posisi begini, terasa penisku agak sakit
karena tertindih di antara badanku dan paha War.
Karena tidak tahan, segera kuangkat kaki kananku untuk mencari posisi
yang nikmat, tapi bersamaan dengan kakiku terangkat, kurasakan War
malah merenggangkan kedua kakinya agak lebar, tentu saja kesempatan ini
tidak kusia-siakan, segera saja kutaruh kedua kakiku di bagian tengah
kedua kakinya yang dilebarkan itu dan sekarang terasa penisku berada di
atas vagina War.
War masih memelukkan kedua tangannya di punggungku dan meciumi
seluruh wajahku. Sambil masih tetap kujilat dan ciumi seluruh wajahnya,
kuturunkan tanganku ke bawah dan sedikit kumiringkan badanku,
perlahan-lahan kuelus vagina War yang menggembung dan setelah beberapa
saat lalu kupegang bibir vaginanya dengan jariku dan kurasakan kedua
tangan War serasa mencekeram di punggungku dan ketika jari tengahku
kugunakan untuk mengelus bagian dalam vaginanya,
Terasa vagina War sangat basah dan kurasakan badan bawah War bergerak
perlahan-lahan sepertinya mengikuti gerakan jari tanganku yang sedang
mengelus dan meraba bagian dalam vaginanya dan sesekali kupermainkan
clitorisnya dengan jari-jariku sehingga War sering berdesis,
“Ssshh…, ssshh…, aahh…, ssshh”, sambil kurasakan jari kedua tangannya
menusuk punggungku. Setelah sekian lama kupernainkan vaginanya dengan
jariku, kemudian kulepaskan jariku dari vagina War dan kugunakan tangan
kananku untuk memegang penisku serta segera saja penisku kuarahkan ke
vagina War sambil kugosok-gosokan ke atas dan ke bawah sepanjang bagian
dalam vagina War, serta kembali kudengar desis suaranya,
“ssshh…, ssshh…, ooom…, aahh…, ssshh”, dan pantatnya diangkat naik
turun pelan-pelan. Karena kulihat War sudah sangat terangsang nafsunya,
segera saja kuhentikan gerakan tanganku dan kutujukan penisku ke arah
bawah bagian vaginanya dan setelah kurasa pas, segera kulepaskan
tanganku dan kutekan pelan-pelan penisku k edalam vagina War.
Kuperhatikan wajah War agak mengerenyit seperti menahan rasa sakit serta
menghentikan gerakan pantatnya serta bersuara pelan tepat di dekat
telingaku,
“Aduuuhh…, ooomm…, Jangaannn…, sakiiittt…, Asiihh.., takuuut., Oom”.
Mendengar suaranya yang sedikit menghiba itu, segera kuhentikan tusukan
penisku dan kuelus-elus dahinya sambil kucium telinganya serta
kubisikan,
“Tidak…, apa-apa…, sayaang…, Oom…, pelan-pelan saja…, kok”, untuk
menenangkan ketakutan War. War tidak segera menanggapi kata-kataku dan
tetap diam saja dengan tetap masih memelukkan kedua tangannya di
punggungku.
Karena dia diam saja dan memejamkan kedua matanya, segera secara
perlahan-lahan, kutusukan kembali penisku ke dalam vaginanya dan
terdengar lagi War berkata lirih di dekat telingaku,
“Aduuuhh…, sakiiittt…, ooom…, Asihh.., takuuut”, padahal kurasakan
kalau War mulai lagi menggerakkan pantatnya perlahan-lahan. Mendengar
kata-katanya yang lirih ini, kembali kuhentikan tusukan penisku tapi
masih tetap ditempatnya yaitu di lubang vaginanya, dan kembali kuciumi
bibir dan wajahnya serta kuelus-elus rambutnya sambil kubisiki,
“Takut apa sayang..”. War tidak segera menjawab pertanyaanku itu.
Sambil menunggu jawabannya, kuteruskan ciumanku di bibirnya dan War
mulai lagi melayani ciumanku itu dengan memainkan lidahku yang
kujulurkan ke dalam mulutnya dan kurasakan War mulai memindahkan kedua
tangannya dari punggung ke atas pantatku.
Aku tetap bersabar menunggu dan tidak terburu-buru untuk menusukkan
penisku lagi. Tetap dengan masih menghisap lidahku, kurasakan kedua
tangan War sedikit menekan pantatku, entah perintah supaya aku
menusukkan penisku ke vaginanya atau hanya perasaanku saja.
Sementara aku diamkan saja dan dengan masih berciuman, kutunggu
reaksi War selanjutnya. Ketika ciumanku kualihkan ke daerah dekat
telinganya, kulihat War berusaha mengelak mungkin karena kegelian dan
kembali kurasakan kedua tangannya seperti menekan pantatku.
Lalu kembali kulumat bibirnya dan perlahan tapi pasti, kembali
kutekan penisku ke dalam liang kewanitaannya, tapi War tidak kuberi
kesempatan untuk berkata-kata karena mulutnya kusumpal dengan mulutku
dan penisku makin kutekankan ke dalam vaginanya serta kulihat mata War
menutup rapat-rapat seperti menahan sakit.
Karena penisku belum juga menembus vaginanya, lalu sedikit kuangkat
pantatku dan kembali kutusukkan ke dalam vagina War dan, “Bleeesss”,
terasa penisku sepertinya sudah menembus vagina War dan,
“aahh…, sakiiit…, ooom….”, kudengar suara War sambil seperti menahan
rasa sakit dan berusaha menarik pantatku. Untuk sementara tidak
kugerakkan pantatku dan setelah kulihat War mulai tenang dan kembali mau
menciumi wajahku, lalu perlahan-lahan kutekan penisku yang sudah
menembus vaginanya supaya masuk lebih dalam lagi “aahh…, oom…, pelan…,
pelaan..”, kudengar War berkata lirih.
“Iyaa…, sayaang…, ooom pelah-pelan”, jawabku serta kubelai rambutnya.
Setelah kudiamkan sebentar, lalu kugerakkan pantatku naik turun sangat
pelan agar War tidak merasa kesakitan, dan ternyata berhasil, wajah War
keperhatikan tidak tegang lagi sehingga pergerakan penisku keluar masuk
vagina War sedikit kupercepat dan belum berapa lama terdengar suara War,
“ooom…, ooom…, aaduuuhh…, ooomm…, aahh”, sambil kedua tangannya
mencengkeram punggungku dengan kuat dan menciumi keseluruhan wajahku
dengan sangat bernafsu dan badannya berkeringat, lalu War berteriak agak
keras, “aahh…, ooomm…, aduuuhh..”, lalu War terkapar dan terdiam lemas
dengan nafas terengah-engah.
Rupanya Aku yakin kalau War sudah mencapai orgasmenya padahal nafsuku
baru saja akan naik. Karena kulihat War sepertinya sedang kelelahan
dengan kedua matanya tertutup rapat, jadi timbul rasa kasihanku, lalu
sambil kuseka keringat wajahnya kuciumi pipi dan bibirnya dengan lembut,
Tapi War tidak bereaksi dan tanpa kuduga di gigitnya bibirku yang
sedang menciumnya seraya berkata lirih, “ooom…, nakal…, yaa, War baru
sekali ini merasakan hal seperti tadi”, sambil mencubit punggungku.
Aku tidak menjawab komentarnya tapi yang kuperhatikan adalah nafasnya
sudah mulai teratur dan secara perlahan-lahan aku mulai menggerakkan
penisku lagi keluar masuk vagina War. Kuperhatikan War mulai terangsang
lagi, War mulai menghisap bibirku dan mulai mencoba menggerakkan
pantatnya pelan-pelan dan gerakannya ini membuat penisku seperti di
pelintir keenakan.
Gerakan penisku keluar masuk semakin kupercepat dan demikian juga War
mulai makin berani mempercepat gerakan putaran pantatnya, sambil
sesekali kedua tangannya yang dipelukkan dipinggangku berusaha menekan
sepertinya menyuruhku untuk memasukkan penisku ke dalam vaginanya lebih
dalam lagi dan kudengar War mulai bersuara lagi…, “aahh…, aahh…, ooohh…,
oomm…, aah”, dan tidak terasa akupun mulai berkicau, “aacchh…, aahh…,
Siiihh…, enaakk…, teruuus…, Siiih”.
Ketika nafsuku sudah mulai memuncak dan kudengar juga nafas War
semakin cepat, dengan perlahan-lahan kupeluk badan War dan segera
kubalik badannya sehingga sekarang War sudah berada di atasku dan
kupelukkan kedua tanganku di pantatnya, sedangkan wajah War ditempelkan
di wajahku.
Dengan sedikit makan tenaga, kucoba menggerakkan pantatku naik turun
dan setiap kali pantatku naik, kugunakan kedua tanganku menekan pantat
War ke bawah dan bisa kurasakan kalau penisku masuk lebih dalam di
vagina War, sehingga setiap kali kudengar suaranya sedikit keras,
“aahh…, oooh”.
Dan mungkin karena keenakan, sekarang gerakan War malah lebih berani
dengan menggerakkan pantatnya naik turun sehingga kedua tanganku tidak
perlu menekannya lagi dan setiap kali pantatnya menekan ke bawah
sehingga penisku serasa masuk semuanya di vagina War, kudengar dia
bersuara keenakan,
“Aahh…, aah disertai nafasnya yang semakin cepat, demikian juga aku
sambil berusaha menahan agar maniku tidak segera keluar. Gerakan War
semakin cepat saja dan kurasakan wajahnya semakin ditekankan ke wajahku
sehingga kudengar nafasnya yang sangat cepat itu di dekat telingaku dan,
“Aduuuh…, aahh…, aahh…, ooomm.., War…, mauuu.., keluaar…, aah”.
“Tungguuu…, Waarrr.., kitaa…, samaa…, samaa., ooom.., Jugaa.., mauuu…,
keluarr”.
“aahh…, aahh…, ooomm”, teriak War sambil mengerakkan pantatnya
menggila dan akupun karena sudah tidak tahan menahan maniku dari tadi
segera kegerakkan pantatku lebih cepat dan,
“Crreeettt…, ccrreeett…, ccccrrreeett…, dan
“aahh…, siiihh…, ooom keluaar”, sambil kutekan pantat War kuat-kuat.
Setelah beristirahat sebentar, kuajak War ke kamar mandi untuk
membersihkan badan dan War kembali menjatuhkan badannya di tempat tidur,
mungkin masih merasakan kelelahan.