Hampir setiap hari Bertha datang ke kost ku, mulai dari hanya sekedar
ngobrol di kamar, jalan-jalan ke mall atau bahkan nongkrong di kafe.
Dari awal kedekatanku dengan Bertha ini yang membuat perasaan kami
berbeda, karena tidak bisa sedetikpun kami berpisah. Kalaupun tidak
bertemu, kami tetap berkominikasi lewat telepon. Bumbu-bumbu cemburu pun
mulai dikenalkan Bertha pada ku.
Setiap aku berhubungan dengan temanku yang lain, Bertha pasti
marah-marah tanpa alasan yang jelas. Begitulah setiap hari kami lalui
berdua, tanpa komitmen apapun dan tidak lebih dari hanya sekedar
pegangan tangan, cium kening, saling ngegombal satu sama lain.
Hingga suatu hari, aku dekat dengan seseorang bernama Lina. Sifat
manja Lina yang selalu menatap aku tanpa berkedip yang membuatku
akhirnya sedikit melupakan Bertha. Memang sih, secara fisik, Bertha
memang jauh di atas Lina, tapi mengapa perasaanku cenderung memilih
Lina? Ada apakah ini, Tuhan?
Hari itu hujan cukup deras mengguyur kota Cirebon, hingga akhirnya di
kantor hanya tersisa aku, Lina dan satu teman lagi. Suasana yang
dingin, jadi pemicu kedekatanku dengan Lina. Kami bertiga hanya duduk
terbengong-bengong menatap keluar jendela. Hujan tidak juga berhenti.
Tanpa aku duga sebelumnya, tiba-tiba Lina sudah menghampiri aku dan
langsung duduk bersandar di depanku sambil meraih kedua tanganku untuk
memeluknya erat-erat. Direbahkan kepalanya di bahu kananku, sambil
sesekali menyibakkan rambutnya yang panjang hingga lehernya terlihat dan
nyaris tanpa batasmenyentuh bibirku.
Oh my God … perasaan apa ini. Dadaku bergemuruh kencang hingga sulit
untuk menelan ludah. Sesekali Lina memegang erat tanganku sambil
membimbing tanganku menyentuh payudaranya. Detak jantungku mulai
kencang.Bergemuruh. Tapi sekali lagi, aku memang pengecut. aku hanya
mengikuti setiap gerakan Lina tanpa perlawanan dan tanpa balasan.
Pengecut!!!
Siang itu, aku sedang ngobrol dan bercanda-canda dengan Bertha di
teras Depan Kantor. Tiba-tiba aku menangkap sorot mata Lina yang begitu
marah, menghujam di hadapanku. Cemburukah dia? Aku hanya tersenyum dalam
hati. Apa sih menariknya aku hingga ada 2 gadis cantik yang
memperebutkan aku. Mengapa bukan Hendra atau Rudi yang mereka
perebutkan?
Untuk menebus kesalahan, akhirnya aku mengabulkan permintaan Lina
untuk mengantarnya ber window shopping ke Cirebon Mall. Sepanjang jalan,
tangan Lina selalu menggelanyut manja dan kepalanya di sandarkan
dilenganku seakan tidak peduli berpasang-pasang mata menatap heran ke
arah kami.
Tidak terasa sudah jam 7 malam saat Lina mengajakku untuk nonton The
beach. “Yah, udah malam, Vi. Ntar dicari mama lho, besok lagi aja yah.”
Jawabku, karena sudah malam.Sebenernya pingin juga sih, nonton berdua
dengannya.
Tapi aku engga mau menculik Lina terrlalu lama..dasar pengecut !!.
Wajah Lina langsung cemberut sambul melepaskan tangannya dari
gandenganku. Aku malah jadi geli melihat Lina cemberut kecewa.
Untuk long weekend minggu depan kami, teman-teman satu kantor
berencana refreshing ke suatu tempat di pinggiran kota Cirebon. Sampai
pada hari yang dinanti-nanti,sekali lagi Bertha mendominasi ku.
Lina? Tentu saja dia cemberut sampai mukanya dilepat-lipat jadi
tujuh.Sesekali aku hanya bisa mencuri-curi pandang ke arah Lina yang
matanya juga tidak pernah lepas menatap setiap gerak gerikku dan Bertha.
Akhirnya kami memisahkan diri dari keramaian. Aku dan Bertha memilih
untuk sembunyi di kamar. Sesekali bibir Bertha mengecup keningku dengan
hangat dan tangannya membelai lembut setiap helai rambutku. Kami berdua
saling bercerita sambil sesekali rayuan gombal Bertha menggelikan
telingaku.
Mata kami saling beradu, kami mulai merasakan ketidakmyamanan. Kami
mulai gelisah hingga hanya menggesek-gesekkan kaki kami satu sama
lain.Nafas Bertha mulai turun naik tidak terkendali. Tiba-tiba pintu
kamar yang lupa kami Kunci pun terbuka. Rudi menatap curiga ke arah kami
yang mungkin masih terlihat tidak siap dan kacau.
Setelah makan malam selesai, acara selanjutnya dimulai. Aku dan
Bertha berpasangan berdansa sambil mengikuti alunan lagu dari tape
recorder. Bertha memeluk erat tubuhku dari belakang, sambil bibirnya
sesekali ditempelkan diarea sensitifku, di belakang telinga dan
payudaranya yang kenyal menempel lembut dipunggungku, membuat darahku
naik sampai di kepala.
Terdengar bisikan suaranya yang manja “Terasa ngga ?”. Aku hanya
sanggup menganggukkan kepala. Malam semakin larut, kamipun sudah
kelelahan dan akhirnya malam itu ditutup dengan mencari tempat tidur
masing-masing.
Kecuali…Lina. aku cari kemana-mana tidak ada satu kamarpun yang
berisi makhluk cantik bernama Lina. Akhirnya aku temukan Lina sedang
duduk seorang diri di teras bungalow. Tanpa bermaksud untuk membuatnya
kaget, aku langsung duduk di samping Lina.
“Engga cape, Kok belom bobok ?” tanyaku membuka percakapan. Lina
hanya menggelengkan kepala, seolah tidak bersemangat menanggapi
kehadiranku. Aku geser posisi dudukku mendekati Lina. Kuraih tangannya,
sekali lagi Lina tersentak namun tidak berontak.
Rasa bersalah menyelimuti pikiranku..lagi-lagi aku menyakiti
perasaannya yang halus. Aku tau pasti, Lina pasti marah dan cemburu
melihat kedekatanku dengan Bertha. Tapi aku juga tidak bisa lepas dari
dekapan Bertha. Dilain pihak, aku juga menyayangi Lina. Ya Tuhan …
begitu naifnya hamba Mu ini.
Pagi itu Bertha mengajakku berenang, tp aku menolak karena aku memang
tidak bisa berenang. kemudian Bertha berenang bersama teman-teman yang
lain. Sebelum berenang Bertha membisikkan niatnya untuk mandi bersama
“Bertha bawa aroma terapi, enak deh. Ntar dicoba yah” Mulai pasang aksi
lagi nih, pikirku.
Satu jam lebih aku tunggu Bertha di Teras bungalow, tp belum
nongol-nomgol juga. Akhirnya Lina menghampiriku sambil membawakan
secangkir kopi hangat. Hhmmm nikmat banget baunya. “Thanks ya, Vi”.
Aku lihat wajah Lina sudah berseri-seri kembali, tidak seperti
kemarin malam. Karena sudah capek menunggu Bertha,akhirnya aku putuskan
untuk mengajak Lina berjalan-jalan pagi mengitari kampung. Sepanjang
jalan, aku gandeng tangannya.
Dengan gayanya yang manja, Lina sesekali melingkarkan tangannya ke
pinggangku dan menghimpitkan tubuhnya ke tubuhku. Setelah selesai
mengitari kampung, aku kembali ke Bungalow, dan ternyata Bertha masih
sibuk dengan aktivitas berenangnya.
Setelah keringat kami mengering, Lina pun menggandeng tanganku menuju
Kamar mandi. Akupun lupa dengan ajakan Bertha untuk menikmati aroma
terapi bersama. Satu demi satu pakaian kami tanggalkan.
Hingga yang terakhir bra hitampun terlepas.Tak henti-hentinya Lina
memandangi payudaraku yang terbilang lumayan besar. sambil sesekali
mempermainkan puting susunya seolah menarik perhartianku. Kamipun
akhirnya asik dengan permainan kami sendiri. Dan kejadian itu tanpa
sepengetahuan Bertha. Uffftgh..aman..pikirku licik.
Waktu sudah menunjukkan puluk 9 malam.Kami semua berkumpul di ruang
karaoke. tiba-tiba Lina membawakan sebuah lagu. Meskipun suaranya engga
bagus-bagus amat, tapi cukup menghibur lah apalagi katanya khusus
dinyanyikan untuk aku.Setelah selesai menyanyikan lagu itu, Lina
langsung menarikku ke luar.
Kami memisahkan diri dari rombongan memilih lokasi di anak tangga
bungalow diujung taman yang kebetulan sepi. Kali ini beda dengan
kebiasaan Lina sebelumnya.kalau biasanya dia selalu memilih duduk
didepanku sambil memintaku mendekap erat tubuhnya, tp malam itu Lina
yang duduk dibelakuangku dan mendekap erat tubuhku, menempelkan kedua
payudaranya dipunggungku.
Sambil bibir nakalnya menciumi tengkuk dan telingaku.
Oooooggghhh…Lina…begitu lincah gerakkan bibir dan kedua tangannya
mempermainkan payudaraku. Malam yang sangat dinginpun menjadi hangat
oleh sentuhan-sentuhan tubuh Lina. Rambutnya yang panjang dibiarkan
terurai menyapu wajahnya yang lembut.
Libur 2 hari serasa hanya 1 menit kami rasakan.Belum puas rasanya
menikmati hari liburku yang bisa aku lewatkan bersama 2 gadis
cantik..betapa konyolnya aku!!!
Saat pulang ke Cirebon, aku duduk dibangku paling bekalang bersama
Bertha, Lina dan Nana. Karena posisi kursinya menghadap samping dan
berhadap-hadapan maka aku putuskan untuk menghadap ke depan dan duduk di
belakangku dalah Bertha.
Sedangkan Lina duduk di seberang bangku. Berthapun tidak mau
kehilangan moment, selama perjalanan pulang, Bertha mendekap erat
tubuhku dan menempelkan dagunya dipundakku sambil sesekali mengkomentari
indahnya pemandangan sepanjang perjalanan.
Sambil mencuri-curi kesempatan,Bibirnya pun tak henti-hentinya merayu
dan menciumi pipiku seolah tidak meghiraukan Lina yang terbakar api
cemburu. Tiba-tiba Lina teriak, meminta sopir untuk menepikan mobilnya.
Semua terheran-heran melihat Lina langsung membuka pintu dan lari
keluar.Bukankah paerjalanan masih jauh? Aku pun menyadarinya. Lina
cemburu!!!
Dua hari dari kejadian itu, Lina masih terlihat marah padaku. Bilapun
setiap saat kami bertemu pandang, Lina langsung cepat-cepat menghidari
pandangan mataku.Maafkan aku Lina…aku begitu menikmati hari-hari sepiku
bersama Bertha, juga bersama kamu.
Aku sangat membutuhkan kasih sayang kalian berdua. Maafkan aku
Bertha…aku tdk bermaksud mempermainkan kalian berdua, karena aku memang
sungguh-sungguh terhanyut dan tidak bisa lepas dari dekapan hangat dan
manjamu…..