Kejadian yang terjadi kamis yang lalu diaman aku kedatangan teman yang
namanya Vicky kami mengobrol , nonton tv sambil minum di rumahku, karena
besoknya tanggal merah dan kantor libur dan akami berencana untuk
mengambil cuti 3 hari, maka dari itu malam ini kami bersantai untuk
menikmatinya.
Berbeda dengan istriku, Sandra; ia harus bekerja esok harinya. Dan
karena termasuk orang yang tidak suka tidur larut malam, ia pergi tidur
sekitar pukul 10:30. Sandra adalah salah satu orang yang paling lelap
saat tertidur. Beberapa kali aku pernah mencoba mengguncang-guncangkan
bahunya untuk membangunkannya, namun selalu gagal.
Ia terus tertidur. Setelah Sandra pergi tidur, Vicky dan aku duduk di
ruang tamu dan menonton DVD porno yang sengaja kami beli. Lagipula
Sandra juga tidak pernah suka menonton film-film seperti itu. Setelah
beberapa adegan, Vicky berkata,
“Wah, pasti enak yah kalo punya cewe untuk diajak ngeseks! Udah lama
banget nih, aku kagak begituan!” Aku sedikit kaget mendengar
komentarnya. Vicky bukanlah pria yang buruk rupa. Dengan tinggi 175 cm
dan berat sekitar 70 kg, aku malah menduga ia mempunyai banyak teman
wanita.
“Emangnya elu lagi ga jalan sama siapa-siapa, Lo?” tanyaku. “Kagak.
Sejak Bunga putus sama aku 2 taon yang lalu, aku agak-agak malu untuk
ajak cewe jalan,” jawabnya. Kami mengobrol tentang Bunga yang ternyata
tidak serius dengan Vicky.
Setelah beberapa botol bir dan beberapa adegan dari film porno yang kami tonton, Vicky bangkit berdiri untuk pergi kencing.
Aku tetap duduk sambil menonton film itu untuk beberapa saat dan
akhirnya baru menyadari bahwa Vicky belum kembali setelah cukup lama
pergi kencing. Aku berdiri dan menghampirinya untuk memeriksa apakah ia
baik-baik saja.
Saat aku berada pada jarak yang cukup dekat dengan WC, aku melihat
pintu itu terbuka. Aku masuk ke WC dan mendapati Vicky berdiri di pintu
yang menghubungkan WC dengan kamar tidurku. Ia terlompat melihat aku
masuk.
“Wah, sorry banget nih,” katanya. “Waktu aku masuk, pintu ini memang
udah terbuka. Dan waktu aku mau keluar, aku liat dia terbaring seperti
itu.” Aku berjalan mendekati tempat Vicky berdiri dan melihat ke arah
kamar tidurku.
Sandra terbaring menyamping sehingga punggungnya menghadap ke arah
kami dengan kaki yang sedikit tertekuk. Sandra tidur dengan mengenakan
daster panjang namun bagian bawahnya tersingkap sampai ke pinggul
sehingga menampakkan bulatan pantat yang halus, mulus dan terlihat tidak
mengenakan celana dalam.
Pundaknya sedikit tertarik ke belakang sehingga memperlihatkan kami
sisi bukit dadanya dan tonjolan puting susunya dari balik daster yang
sedikit tembus pandang. Ia terlihat sangat seksi terbaring seperti itu
dengan remang-remang cahaya dari WC.
Bibirnya sedikit terbuka dan rambutnya yang panjang terhampar di atas
bantal. Boleh dibilang posisi Sandra saat itu seperti sedang berpose
untuk pemotretan majalah dewasa.
“Gila! Cakep banget!” kata Vicky sambil menahan nafas.
“Aku mau disuruh apa aja untuk mendapatkan cewe seperti dia, Kris.”
Pada awalnya aku sedikit kesal mendengar perkataan Vicky. Namun pada
saat yang bersamaan, melihat Vicky memandang istriku seperti itu tanpa
sepengetahuan Sandra justru membuat diriku terangsang.
“Aduh, sorry nih, Kris. Aku rasa udah waktunya buat aku untuk
pulang,” kata Vicky berbalik badan untuk keluar. “Eh, tunggu, Lo,”
kataku.
“Ayo masuk ke sini sebentar aja. Tapi jalannya pelan-pelan, oke?”
“Ha?! Elu mau aku masuk ke kamar elu?” “Kalo cuma lihat doang mah ga ada
yang dirugikan, kan? Tapi kita engga boleh buat dia terbangun, oke?”
Bahkan aku sendiri tidak percaya apa yang baru saja aku katakan. Aku
mengijinkan pria lain masuk ke kamar tidurku sehingga ia dapat melihat
istriku yang dalam keadaan ‘setengah’ telanjang. Aku pun masih tidak
yakin apa dan sejauh apa yang akan aku lakukan berikutnya.
Saat kami berjingkat memasuki kamarku, aku mendorong Vicky untuk
mendekat ke samping ranjang. Bahkan Vicky sendiri terlihat tidak yakin.
Pandangannya berpindah-pindah antara aku dan Sandra. Semakin mendekat ke
ranjang, pandangannya lebih terarah ke Sandra. Sandra berbaring di
pinggir ranjang di sisi tempat kami berdiri dan semakin kami mendekat,
kedua bukit payudaranya semakin jelas terlihat.
Puting susunya dapat terlihat dari balik dasternya yang tipis. Walau
bagian bawah dasternya sudah tersingkap namun kami masih belum dapat
melihat bibir vaginanya karena tertutup oleh kakinya.
Aku hanya berdiri di sana dengan cengiran lebar memandangi Vicky dan
istriku bergantian. Dengan mulut ternganga, Vicky juga hanya memandangi
istriku dengan takjub dan kagum. “Gila, Kris. Seksi banget sih! Aku ga
percaya elu kasih aku liat bini elu dalam kondisi begini!”
Dengan hati-hati aku meraih tali daster Sandra dan menariknya turun
melewati pundaknya turun ke lengan sehingga bagian atas dasternya
tersingkap dan memperlihatkan lebih banyak lagi bagian payudaranya.
Gerakanku terhenti saat kain bagian atas daster itu tertahan oleh puting
Sandra.”Mau lihat lebih banyak?” aku berbisik.
“I-iyah!” Vicky berbisik balik. Dengan sangat lembut aku mencoba
untuk menurunkan tali daster itu lagi namun puting susunya tetap menahan
kain itu sehingga tidak dapat terbuka lebih jauh. Aku menyelipkan
jari-jariku ke bawah daster tersebut lalu dengan hati-hati mengangkatnya
sedikit melewati puting Sandra.
Vicky menahan nafasnya tanpa bersuara. Sekarang payudara kirinya
sudah terbuka. Putingnya yang sangat halus dan berwarna merah muda itu
berdiri tegang karena mendapat rangsangan dari gesekan kain dasternya
tadi.
Lalu aku meraih ke tali dasternya yang lain dan meloloskannya dari
pundak kanan Sandra. Dengan lembut aku menarik kain daster itu melewati
puting sebelah kanannya. Kini kami dapat melihat kedua payudara Sandra
tanpa ditutupi benang sehelaipun.
Aku membiarkan kedua tali dasternya menggelantung di lengan dekat
sikunya karena aku tidak mau mengambil resiko kalau-kalau istriku
terbangun. Vicky masih berdiri di sampingku dan dengan mulut yang masih
ternganga ia menatapi payudara dan pantat Sandra yang kencang.
Sesekali Vicky mengusap-usap tonjolan di selakangannya walau ia
berusaha agar aku tidak melihatnya. Penisku sendiri sudah membesar dan
berusaha memberontak keluar dari jahitan celana jeans yang kupakai.
Aku terangsang bukan hanya karena melihat tubuh istriku namun juga karena apa yang sedang kuperbuat.
“Jadi, bagaimana menurut elu?” aku berbisik lagi.
“Gila, man! Aku ga percaya semua ini! Dia cantik banget! Aku sih cuma
berharap…,” jawabnya sambil mengusap tonjolan penisnya sendiri.
Aku berpikir sejenak, “Kalau sampai ia terbangun…, tapi lagipula aku memang akan mencobanya.”
Aku menarik Vicky semakin mendekat ke ranjang lalu aku menunjuk ke
payudara istriku. “Ayo, pegang susunya. Tapi harus dengan lembut, oke?
Aku nggak mau ambil resiko nih.” Mata Vicky terbuka lebar sekali lalu
mendekatkan dirinya ke tepi ranjang.
Ia membungkuk sedikit dan menjulurkan tangan kirinya untuk meraih
bulatan payudara istriku. Tangannya sedikit bergetar dan tangan kanannya
ditekankan di selangkangannya seakan digunakannya sebagai penopang.
Tapi aku tahu apa yang sebenarnya ia kerjakan. Jari-jari itu
dijulurkan makin lama semakin mendekat sampai akhirnya ujung jarinya
menyentuh kulit payudara Sandra tepat di bawah areola. Dengan hati-hati
Vicky meletakkan ibu jarinya di bagian bawah payudara Sandra sebelum
akhirnya ia geser perlahan-lahan naik ke puting susu tersebut. Sandra
tidak bergerak. Saat ibu jarinya mencapai bagian areola, Vicky
menggerakkan telunjuknya melingkari puting Sandra dengan lembut.
Aku kenal Sandra sejak jaman masih bersekolah. Kami berpacaran sejak
saat itu dan akhirnya kami menikah. Dan dalam sepengetahuanku, tidak
pernah ada pria lain yang pernah melihat tubuh Sandra sampai sejauh ini
apalagi menyentuhnya.
Lalu Vicky mulai meraba payudara itu dengan sangat lembut dari yang
satu berpindah ke payudara yang lain. Sandra masih tak bergerak dalam
tidurnya walaupun sepertinya terlihat nafas Sandra menjadi lebih cepat.
Vicky mulai menjadi lebih berani dan dengan menambahkan sedikit
tenaga, ia meremas kedua buah dada Sandra. Vicky sudah tidak
menutup-nutupi usahanya untuk mengusap-usap penisnya dan kelihatannya ia
berniat untuk menyemprotkan spermanya dari balik celananya. Aku masih
belum puas untuk membiarkan semua ini berakhir saat itu, jadi aku
menyuruhnya mundur sejenak sementara aku melepaskan tali-tali daster itu
dari lengan Sandra.
Aku menarik turun daster itu sejauh yang aku bisa tanpa harus menarik
secara paksa kain daster. Aku berhasil membuka tubuh bagian atasnya
sampai pada bagian bawah tulang rusuknya sebelah kiri. Lalu aku bergerak
ke bagian pinggulnya.
Dengan hati-hati aku menarik kain yang menutupi bagian bawah
pantatnya lalu melepaskan kain itu dari kakinya yang menekuk. Hal ini
memperlihatkan seluruh pantatnya dan sebagian dari bibir vaginanya.
Vicky masih belum dapat melihatnya dari tempat ia berdiri saat ini.
Aku mendengar ia sedang melakukan sesuatu di belakangku. Dan begitu
berbalik badan, aku mendapatinya sedang memelorotkan celana jeansnya
sebatas testisnya sehingga ia dapat leluasa mengocok penisnya.
Aku kembali berbalik ke Sandra lalu meluruskan kaki kirinya. Hal ini
membuat bulu-bulu halus kemaluannya dapat terlihat bahkan sampai hampir
ke bibir vaginanya. Saat melihat aku melakukan hal ini, Vicky
melongokkan badannya melewati badanku untuk melihat tubuh Sandra lebih
jelas sementara ia bermasturbasi. Aku menarik kaki kiri Sandra dengan
lembut sehingga membuat tubuhnya berbaring terlentang menghadap ke atas
dan memperlihatkan seluruh tubuhnya secara frontal.
“Wahhhh, gila, man!” Vicky berbisik dan mulai mengocok penisnya lebih cepat.
“Jangan cepet-cepet, brur,” aku memperingatkan dia. “Elu mau pegang
memeknya sebelum elu klimaks, kan?” Langsung Vicky berhenti mengocok dan
menatapku dengan pandangan seperti anak kecil yang dihadiahi sepeda
baru.
“Mantap, man! Elu kasih aku…, ahhh, mantap, man!” Ia mengganti
tangan kanan dengan tangan kirinya untuk memegang penisnya, tapi tidak
mengocoknya. Lalu dengan tangan kanannya, yang sedari tadi digunakan
untuk mengocok penisnya, ia menyentuh bulu-bulu kemaluan Sandra dengan
perlahan.
Vicky mulai membelai Sandra melalui bulu-bulu itu dengan jemarinya.
Namun tidak sampai ke bibir vaginanya. Sandra masih terlelap namun
nafasnya semakin bertambah cepat setelah Vicky mengusap-usap
kemaluannya.
Setelah itu dengan menggunakan jari tengah dan telunjuknya, Vicky
mengusap turun ke sepanjang bibir vagina Sandra lalu mengusap naik lagi
sambil menaruh jari tengahnya di antara bibir kemaluan tersebut.
Begitu ia menarik tangannya ke atas, jari tengahnya membuka bibir
vagina itu dan wangi harum vagina Sandra mulai memenuhi kamar.”Gilaaaaa,
man!” desah Vicky sambil menarik ke atas jari-jarinya yang sudah masuk
sedikit ke dalam liang kewanitaan istriku.
Saat jari Vicky menyentuh klitorisnya, tubuh Sandra seakan tersentak
sedikit lalu ia mendesah dengan suara yang nyaris tak terdengar. Melihat
hal ini Vicky segera menarik tangannya.
Aku melihat bahwa istriku masih terlelap namun aku tidak yakin apakah
perbuatan ini dapat membangunkannya atau tidak. Vicky menatap aku dan
aku menganggukkan kepalaku memberi isyarat bahwa ia dapat melanjutkan.
Lalu dengan menggunakan tangan kirinya, Vicky mengocok penisnya sampai
cairan pelumas keluar dari ujung penisnya.
Vicky menyapu cairan yang keluar cukup banyak membasahi kepala
penisnya kemudian dengan tangan yang sama ia mulai mengusap-usap bibir
kemaluan Sandra. Kadang ia membuka bibir vagina tersebut dengan jari
tengahnya.
Sesekali pinggul Sandra bergerak maju dan mundur sedikit dan ditambah
dengan desahan lembut yang keluar dari mulutnya. Vicky sudah mengocok
penisnya lagi. Lalu tiba-tiba sebuah ide timbul dalam otakku.
Dengan hati-hati aku menarik kaki kiri Sandra keluar dari ranjang
sampai vaginanya berada tak jauh dari ujung ranjang namun masih cukup
jauh bagi Vicky untuk menyetubuhi istriku. Penis Vicky tidak sepanjang
itu dan lagipula aku tidak yakin apakah persetubuhan dapat
membangunkannya.
Dan juga aku tidak yakin apakah aku ingin Vicky menyetubuhi istriku karena hal ini masih baru buatku.
“Lo, ke sini deh,” aku berbisik sambil menarik lengannya.
“Berdiri di antara pahanya. Dari sini elu bisa lebih leluasa mengusap-usap memeknya sambil ngocok.
Tapi jangan ngentotin dia, ya? Elu denger, engga?” Vicky mengangguk dan segera pindah ke antara kedua paha Sandra.
Vicky mengusap-usap vagina Sandra dengan jari-jari tangan kirinya dan
mengocok penisnya dengan tangan kanan. Penis Vicky hampir sejajar
tingginya dengan vagina Sandra dan berjarak sekitar 10 cm sementara ia
mengocok penisnya dengan penuh nafsu.
Lalu Vicky menggunakan ibu jarinya untuk mengusap-usap vagina Sandra
sehingga ia dapat lebih mendekat lagi sampai pada akhirnya jarak antara
penis dan vagina Sandra kurang dari 1½ cm.
Pinggul Sandra masih sedikit bergoyang-goyang sesekali dan pada satu
saat, pinggul Santi bergerak ke bawah dan kepala penis Vicky bersentuhan
dengan bibir vagina Sandra. Penis Vicky menggesek sepanjang bibir
kemaluan istriku.
Hal ini membuat Vicky meledak dan berejakulasi. Spermanya muncrat ke
mana-mana dan sebagian besar tersemprot ke bibir vagina Sandra. Pada
setiap semprotan, Vicky melenguh dan beberapa kali dengan ‘tanpa
disengaja” ia menorehkan kepala penisnya ke bagian atas dari bibir
vagina istriku.
Vicky pasti sudah lama tidak berejakulasi karena sperma yang
dikeluarkannya begitu banyak. Saat selesai klimaks, Vicky mengurut
penisnya untuk mengeluarkan lelehan sperma yang masih tersisa di saluran
penisnya. Ia membiarkan lelehan itu jatuh ke bibir vagina Sandra yang
sedikit terbuka. Dan saat mengalir ke bawah di sepanjang bibir vagina
tersebut, terlihat lelehan itu masuk lalu menghilang begitu saja seperti
tertelan bumi.
Vicky memandangku dan berbisik, “Gilaaaa, man! Aku ga tau cara berterima kasih sama elu, Kris!”
Aku tersenyum kepadanya dan memapahnya mundur secara ia telah selesai dengan urusannya.Sekarang saatnya giliranku.
Aku berdiri di antara kakinya lalu melepaskan celanaku dan mulai mengocok penisku.
“Vicky, elu keluar sebentar deh. Aku mau coba tarik badannya lebih ke
pinggir supaya aku bisa ngentotin dia,” aku berbisik dengan lebih
kencang. Vicky menurut dan berjalan menuju pintu kamar kalau-kalau
istriku terbangun.
Aku menarik tubuhnya sampai pantat sebelah kirinya menggantung di
pinggir ranjang. Selama itu Sandra tidak bangun sama sekali namun
nafasnya masih berat dan dari vaginanya keluar cairan pelumas dari
tubuhnya bercampur dengan sperma Vicky.
Lalu aku menyuruh Vicky masuk ke kamar lagi untuk membantuku dengan
menyangga kaki dan pantat kiri Sandra sehingga tanganku dapat kugunakan
dengan bebas. Vicky meraih kaki kiri Sandra dengan tangan kirinya lalu
dengan tangan kanannya ia menopang pantat Sandra.
Aku melihat ia meremas pantat istriku saat ia mencoba menopangnya.
Dan aku mulai menggesek-gesekkan penisku naik dan turun ke bibir
vaginanya yang sudah basah. Vaginanya sangat amat basah.
Cairan vagina Sandra yang bercampur dengan sperma Vicky, membuat
liang kewanitaan Sandra menjadi sangaaaat licin. Bahkan aku sudah hampir
klimaks jadi aku dengan perlahan memasukkan batang penisku ke dalam
liang kemaluan Sandra yang panas.
Walau sudah sangat basah namun liang vagina Sandra masih sangat
sempit secara Vicky tidak sempat melakukan penetrasi. Akan tetapi
penisku dapat menembus dengan mudah. Segera aku memompa vagina Sandra
dan setelah sekitar 10 pompaan maju mundur, Sandra mengalami orgasme
dalam tidurnya!!! Hal ini sudah cukup membuatku melambung mencapai
klimaks. Aku mulai menyemprotkan cairanku masuk ke dalam vaginanya dan
tiap muncratan seakan tersembur langsung dari buah zakarku. Sandra
mengerang-erang dalam tiap desahannya dan begitu pula aku.
Vicky berkata, “Gilaaaa, man!” namun kali ini ia tidak berbisik. Hal
ini tidak jadi masalah karena Sandra tak bangun sedikitpun selama kami
menggarap tubuhnya. Ketika aku menarik penisku, Vicky menaruh pantat dan
kaki Sandra kembali ke ranjang.
Lalu ia menunduk menjilati dan mengecup puting susu Sandra dan
menyedotnya saat ia kembali menegakkan badannya. Aku sudah terlalu lemas
untuk berkomentar dan akhirnya aku hanya menarik tangannya untuk keluar
kamar.
Saat aku berjalan mengantarnya ke luar rumah, Vicky tak
habis-habisnya berterima kasih kepadaku. Aku melambaikan tangan lalu
mengunci pintu. Aku masuk ke kamar, berbaring di atas ranjang di samping
Sandra dan langsung terlelap begitu saja.
Keesokan harinya, Sandra membangunkanku dengan mencium telingaku.
“Elu ga bakalan percaya apa yang aku mimpiin kemarin malam!” katanya
membuka pembicaraan. “Aku bermimpi ada banyak tangan yang meraba-raba
badan aku.
Ngomong-ngomong, kemarin malam kita ngapa-ngapain ga, yah?” Aku
teringat kalau aku tidak sempat membersihkan sperma yang tercecer di
tubuhnya dan di ranjang sebelum pergi tidur kemarin. “Eeehhh…, iya
lah. Memangnya elu engga ingat apa-apa?”
“Yaah…, aku ga tau yah. Semuanya kaya dalam mimpi gitu. Mungkin aku
setengah tidur kali. Tapi yang pasti asyik deh. Bagaimana? Apa elu
berniat untuk melakukannya sekali lagi sekarang selagi aku ga
ketiduran?” Pikiranku melayang ke kejadian kemarin malam…, “Hmmmm,
bagaimana yah? Menurut elu bagaimana?” aku tersenyum.
Pada minggu berikutnya di kantor aku terus memikirkan malam itu
dimana Vicky hampir menyetubuhi istriku, Sandra. Aku dan Vicky tidak
pernah menyinggung hal itu walau beberapa kali kami saling melepas
senyum. Vicky melemparkan senyum penuh rasa terima kasih kepadaku.
Harus kuakui, aku sudah menjadi terobsesi dengan ide melihat istriku
disetubuhi pria lain. Namun masih ada perasasan yang mengganjal. Melihat
Vicky bermasturbasi di depan Sandra malam itu benar-benar tidak menjadi
masalah bagiku.
Tetapi dapatkah aku menerima melihat pria lain benar-benar
berhubungan seks dengan istriku? Menjelang akhir minggu aku dapat
melihat pandangan penuh harap dari wajah Vicky. Aku tahu apa yang ia
pikirkan: “Apakah Kris bakal ngundang aku datang ke rumahnya lagi?”,
“Apakah aku bisa dapat kesempatan dengan istrinya?”
Hari Jumat akhirnya tiba dan sebelum jam pulang kantor aku mengajak
Vicky untuk berkunjung lagi ke rumahku. Kegembiraan yang besar meluap
dari diri Vicky.
“Yeahhhhh! MANTAP!!! Aku bakal bawa bir dan beberapa film untuk kita
tonton!” katanya dengan penuh semangat. “Oke. Datang jam 9-an deh,”
jawabku. Aku tahu pada saat itu Sandra pasti sudah mulai mengantuk dan
keberadaan Vicky akan mendorongnya untuk pergi tidur lebih cepat secara
ia tidak begitu suka bergaul dengan Vicky. Aku merasa geli sesaat
membayangkan hal itu.
Jika saja Sandra tahu apa maksud kedatangan Vicky, ia pasti tidak akan tidur sepanjang malam, setidaknya sampai Vicky pulang.
Lalu aku melakukan sesuatu yang mengangetkan diriku sendiri.
“Hey, Jo! Apa yang elu kerjakan malam ini?” aku bertanya. Herman
adalah pribumi berkulit gelap. Tinggi badannya mencapai 190 cm dengan
berat badan bisa mencapai 90 kg.
Herman bukan seorang yang gemuk namun ia memiliki tubuh yang besar
dan kekar. “Ah, ga banyak. Kenapa? Elu ada acara apa?” ia balik
bertanya. “Sekitar jam 9 malam nanti Vicky bakal datang ke rumah aku
untuk main-main.
Minum, ngobrol, apa aja deh. Kalo engga salah denger dia bilang dia bakal bawa film-film BF. Gimana, berminat?”
“Boleh, tapi mungkin aku bakal telat. Aku musti kerjain sesuatu untuk
bokap, tapi ga lama deh,” jawabnya. “Engga masalah. Oke sampai ketemu
nanti,” aku berkata sambil berpikir mungkin memang ada baiknya Herman
datang setelah Sandra tertidur.
Aku menoleh dan melihat wajah Vicky yang terkejut, namun terkejut
dalam nuansa yang menggembirakan. Aku tersenyum dan sambil mengedipkan
mataku aku berjalan melewatinya,
“Sampai nanti, Lo!” Malam itu saat makan malam, aku terus memikirkan
rencana malam nanti. Aku membeli sebotol anggur dan meminumnya bersama
Sandra dengan harapan ia dapat tertidur pulas malam itu.
Seperti yang aku harapkan, tidak memerlukan waktu yang lama sampai
Sandra mulai cekikikan karena pengaruh anggur yang ia minum. Suatu
keuntungan yang tidak terduga anggur tersebut juga memberikan efek yang
menstimulasi tubuhnya.
Dari bawah meja, Sandra mulai menggesek-gesekkan kakinya yang
terbalut stoking ke pahaku. Kemudian setelah beberapa gelas anggur lagi,
sambil menonton TV Sandra duduk menghadapku dengan satu kaki diletakkan
di lantai dan kaki lainnya ditekuk sehingga ia mendudukinya.
Hal ini menyebabkan roknya yang pendek tertarik ke atas sehingga memperlihatkan pahanya dan ujung stokingnya.
Ia membuka kakinya sedikit untuk memperlihatkan kepadaku celana
dalamnya saat bel pintu rumahku berbunyi. “Aaaah!” ia memprotes. Aku
bangkit berdiri untuk membukakan pintu. “Siapa yah yang datang
malam-malam begini?” aku bertanya seakan tidak tahu bahwa yang datang
adalah Vicky.
Setelah aku membuka pintu, Vicky masuk dengan kantong plastik di
tangannya. Ia berdiri di samping pintu setelah aku menutup pintu itu.
Vicky memandang Sandra dan mulai berbasa-basi dengannya. Saat kembali ke
tempat dudukku, aku menyadari bahwa Sandra masih dalam posisi yang
sama.
Sandra duduk menghadap kami sambil memain-mainkan rambutnya. Ia
benar-benar tidak sadar sedang memperlihatkan terlalu banyak bagian
tubuhnya kepada Vicky saat ia duduk di sana dengan wajah yang terlihat
kecewa.
Vicky hanya berdiri mematung di sana sementara mereka saling
berpandangan. Sandra memandangnya dengan pandangan kosong sedangkan
Vicky memandangnya dengan pandangan tidak percaya. Tiba-tiba Sandra
tersadar akan posisi duduknya dan cepat-cepat berbalik lalu menurunkan
roknya.
“Ayo duduk, Lo. Sini…, aku taruh di kulkas dulu,” kataku sambil
mengambil kantong plastik yang berisi bir lalu berjalan ke dapur. Saat
sedang memasukkan bir-bir itu ke dalam kulkas, terdengar olehku Vicky
berkata kepada Sandra bahwa ia berharap kedatangannya tidak mengganggu
acara aku dan Sandra.
“Oh enggak,… nggak apa-apa kok,” terdengar jawaban Sandra. Aku tahu
benar untuk bersikap sopan, Sandra membohongi Vicky. “Kita cuma
duduk-duduk sambil nonton TV doang kok,… dan sudah berniat untuk
tidur.”
Aku tahu Sandra mencoba untuk memberi isyarat kepada Vicky bahwa
kedatangannya sudah mengganggu kami. Sandra memang tidak tahu apa-apa
tentang rencana kami malam ini. “Apa rencana elu malam ini, Lo?” sambil
memberi bir, aku bertanya kepada Vicky setelah kembali dari dapur.
“Ah, nggak banyak lah. Cuma mampir untuk minum-minum sedikit.”
“Boleh-boleh aja. Gimana menurut elu, San?” aku bertanya sambil
memandangnya. Wajah Sandra menunjukkan kalau ia sudah pasrah bahwa Vicky
akan tetap tinggal sampai larut malam.
“Ya sudah, kalau begitu aku permisi dulu deh. Aku tidur duluan yah,”
jawabnya dan bangkit dari sofa. “Bagus!” pikirku, semua sesuai dengan
rencana.
“Oke, San. Aku nyusul nanti,” kataku sambil tersenyum kepada Vicky.
Dengan mulutnya, Vicky melafalkan tanpa suara, “Aku juga!” setelah Sandra berjalan melewatinya menuju kamar tidur.
Setelah Sandra masuk ke kamar, Vicky dan aku duduk menatap TV dengan
pandangan kosong. Tidak satupun dari kami yang membuka suara. Suasana
saat itu menjadi tegang penuh harap apa yang akan terjadi nanti.
Sekitar pukul 10 malam, aku mendengar Herman memarkirkan mobilnya di
depan rumah. Aku berdiri dan membuka pintu sebelum ia membunyikan bel.
Sebenarnya aku tidak berpikir suara bel rumah kami akan membangunkan
Sandra, namun aku tidak mau ambil resiko.
Pada awalnya kami bertiga mengobrol sana-sini setelah Vicky memutar
film yang dibawanya. Herman masih tidak tahu menahu tentang rahasia
kecil kami. Aku sendiri masih belum yakin benar untuk mengikutsertakan
Herman ke dalam rencana malam ini.
Setelah 15-20 menit, aku melihat Vicky mulai gelisah. Berulang kali
Vicky terlihat beringsut dari tempat duduknya dan memandangku seakan
berharap mendapat kode persetujuan untuk memulai acara malam itu.
“Aku permisi sebentar yah,” kataku sambil berdiri menuju kamar dan
memberi isyarat kepada Vicky untuk tetap duduk di tempatnya. Aku mau
memastikan semuanya sudah pada tempatnya sebelum acara dimulai.
Dengan hati-hati aku berjalan masuk ke kamar. Sandra tidur terlentang
di ranjang dengan memakai daster imut yang semi transparan. Aku rasa
anggur yang diminumnya tadi sudah bereaksi dalam tubuhnya secara Sandra
tidur dengan kaki yang agak mengangkang dan kedua lengannya tergeletak
di atas kepalanya.
Sandra terlihat sangat cantik terbaring di sana dengan mulut yang
sedikit terbuka (seperti biasanya) dan rambut yang tergerai di atas
bantal. Buah dadanya sudah dapat terlihat dari balik kain dasternya yang
tipis, menjulang seperti dua gunung kembar.
Nampaknya semua sudah siap tanpa aku harus berbuat apa-apa. Aku
bergerak menuju pintu WC dengan perlahan lalu membukanya sedikit
sehingga kamar itu sedikit lebih terang oleh cahaya lampu dari WC. Lalu
aku keluar bergabung dengan Vicky dan Herman yang masih menonton film
porno yang sedang diputar.
“Jo, elu mau bir lagi?” tanyaku berharap supaya ia segera pergi
kencing. “Boleh, thanks!” jawabnya. Vicky mengikutiku berjalan ke dapur
dan segera menghamburkan pertanyaannya, “Elu mau gimana kerjainnya?”
“Ya, aku rasa kita musti tunggu Herman pergi ke WC dulu untuk
kencing. Trus, barulah kita berdua masuk ke kamar dan melihat apa yang
bakal dia perbuat.”
Vicky tersenyum dan kembali ke ruang tamu. Kami masih menonton
beberapa menit setelah itu dan mengomentari adegan-adegan di film
tersebut. Tak lama setelah itu Herman berkata, “Eh, Kris,… WC elu
dimana?”
“Tuh di sana,” kataku sambil menunjuk ke arah WC. Aku berusaha agar
suaraku tidak terdengar terlalu antusias. Herman berjalan menuju WC.
Setelah aku mendengar pintu WC dikunci, aku dan Vicky bergegas menuju
kamar.
Setelah berada di dalam kamar, pandangan Vicky melekat ke tubuh
Sandra yang terbaring di atas ranjang. Herman tidak menutup pintu yang
menghubungkan WC dengan kamar tidurku. Mungkin ia tidak menduga akan ada
orang lain di sana.
Saat ia selesai, aku dapat mendengar ia menarik resletingnya dan
bersiap keluar WC. Tiba-tiba aku mendengar Herman berhenti. Pasti ia
telah melihat Sandra. Ia seakan berdiri berjam-jam di sana sambil
memandang istriku terbaring di ranjang dengan payudaranya yang terlihat
jelas dari balik daster transparan yang dipakainya, naik turun mengikuti
irama nafasnya.
“Bangsaaattt!” aku mendengar Herman berbisik. Aku tidak dapat menahan
geli dan tergelak. Herman mendengar suaraku dan melongokkan kepala
masuk ke kamar dan mendapati kami sedang berdiri di sana. Segera aku
menempelkan telunjuk ke bibirku dan menyuruhnya untuk tidak bersuara.
Aku mengajaknya masuk.
“Itu bini elo, Kris?” ia berbisik lagi. Aku mengangguk lalu
menuntunnya menuju sisi ranjang. Vicky mengikut dari belakang dan
berdiri di sebelah kiriku saat kami bertiga memandangi tubuh istriku
dari jarak dekat.
“Gimana menurut elu?” tanyaku kepada Herman sambil tersenyum. Ia
menatap Sandra beberapa detik lagi lalu menoleh ke aku dan menatapku
sambil menduga-duga ada apa di balik semua ini. “Cantik banget, Kris!”
ia menjawab sambil setengah tersenyum.
Perlahan-lahan aku meraih kain selimut yang menutupi tubuh bagian
bawahnya lalu menarik kain itu sehingga memperlihatkan bagian perut
Sandra. Aku terus menarik selimut itu sampai ke bagian antara pusar dan
bulu-bulu kemaluannya.
Kini kami dapat melihat ujung daster yang dipakainya. Dengan
hati-hati aku meraihnya dan mengangkat daster itu melewati tubuh Sandra
yang putih mulus, melewati payudaranya yang ranum. Puting susunya yang
kemerahan mulai mengeras karena angin dingin tertiup yang diakibatkan
oleh pergerakan tanganku dan dasternya.
Aku bergeser ke sebelah kiri untuk memberi ruang bagi Herman untuk
berdiri tepat di depan payudara Sandra. Sedangkan Vicky bergerak ke
sebelah kanan Herman berdiri tepat di depan wajah Sandra. Tanpa membuang
waktu, Vicky membuka celananya dan mulai mengocok penisnya sementara
aku menuntun tangan Herman untuk meraba buah dada istriku dengan lembut.
Melihat perbedaan kontras antara tangannya yang besar dan hitam
dengan kulit Sandra yang putih saat Herman meraba-raba payudara Sandra
membuatku sangat terangsang! Tangannya sangat besar, hampir-hampir
menutupi seluruh payudara Sandra yang berukuran sedang.
Dengan lembut Herman menjepit puting susu Sandra dengan ibu jari dan
telunjuknya sehingga terdengar desahan lembut keluar dari mulut Sandra.
Sementara itu, Vicky sudah melepaskan celananya dan dengan mantap
mengocok penisnya yang diarahkan tepat ke wajah Sandra yang hanya
terpaut beberapa senti dari mulutnya yang sedikit terbuka.
Vicky menoleh ke aku saat ia meremas penisnya yang mengeluarkan
cairan pelumas. Cairan itu dibiarkannya meleleh dari kepala penisnya dan
menetes tepat di bibir Sandra. Pada awalnya Sandra tidak bergerak sama
sekali sementara cairan itu menggenangi bibir bawahnya.
Namun sensasi yang dibuat cairan itu pada bibirnya membuat Sandra menyapu cairan itu dengan lidahnya dan menelannya.
Melihat hal ini, Herman ikut melepaskan celananya. Setelah melepaskan
celana jeans dan celana dalamnya, aku melihat penis yang paling gelap
dan terbesar yang pernah aku lihat. Mungkin setidaknya panjangnya lebih
dari 25 cm dan tebalnya lebih dari 6 cm.
Membayangkan penis sebesar itu menerobos masuk ke dalam vagina Sandra
yang basah membuat diriku bersemangat namun ada perasaan khawatir juga.
Aku sadar kalau sampai Herman memasukkan penisnya ke dalam vagina
istriku, pasti penis Herman akan memaksa mulut vaginanya meregang sampai
melebihi batas normal. Dan tidak ada keraguan dalam diriku bahwa hal
ini pasti akan membangunkan Sandra walau seberapa lelapnya ia tertidur
saat itu.
Herman memandangku sejenak sebelum ia menunduk dan mengulum puting
susu sebelah kanan Sandra sambil mengocok penisnya. Lalu ia
membungkukkan badannya sehingga pinggangnya maju ke depan dan mulai
menggesek-gesekkan penisnya ke payudara sebelah kiri.
Setelah mengocok penisnya beberapa saat, lendir pelumas mulai keluar
dari ujung penisnya. Herman mengolesi cairan itu ke seluruh bulatan
payudara dan puting susu Sandra dengan cara menggesek-gesekkan kepala
penis itu ke payudara kirinya.
Setelah menyuruh Vicky bergeser sedikit, aku menarik turun kain
selimut sampai melewati ujung kakinya. Kini kami dapat melihat bulu-bulu
halus kemaluannya yang masih tertutup oleh celana dalam semi transparan
itu. Vicky menjamah kaki Sandra lalu mengelus-elusnya dari bawah
bergerak ke atas semakin mendekat ke selangkangan Sandra sambil terus
mengocok penisnya.
Hal ini merebut perhatian Herman. Ia kini menonton aksi Vicky sambil
terus mengolesi payudara Sandra dengan cairan pelumas yang terus keluar
dari penisnya. Rabaan Vicky akhirnya mencapai bagian atas paha Sandra.
Ia membelai jari-jarinya ke bibir vagina istriku yang masih dilapisi
kain celana dalamnya.
Setelah Vicky membelai naik dan turun ke sepanjang bibir vaginanya,
pinggul Sandra mulai bergoyang maju mundur walau hanya sedikit. Dan itu
merupakan pergerakan Sandra yang pertama sejak semua ini dimulai (selain
gerakan menjilat bibirnya tadi).
Aku semakin bersemangat. Dengan lembut aku mengangkat tubuh Sandra
sehingga aku dapat melepaskan celana dalamnya, pertama ke sebelah kiri
lalu ke sebelah kanan. Setelah dapat menarik celana dalamnya sampai ke
setengah pahanya, segera aku menarik celana itu sampai lepas dari
kakinya. Sandra kini telanjang bulat di hadapan dua pria yang sudah
dikuasai nafsu birahi. Melihat istriku yang cantik terbaring tanpa
mengenakan busana di hadapan Vicky dan Herman sementara mereka meraba,
menggesek dan menjelajahi setiap jenjang tubuh istriku, membuatku hampir
meledak.
Vicky menggeser kaki kiri Sandra sehingga keluar dari sisi ranjang
lalu menyelinap ke antara pahanya dan dengan jari-jarinya mulai
menjelajahi vagina Sandra yang rapat. Awalnya masih dengan hati-hati,
dengan menggunakan ibu jarinya, Vicky mengusap-usap bibir vagina istriku
dengan wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari liang kewanitaannya.
Kemudian Vicky memegang klitoris Sandra dengan ibu jari dan
telunjuknya lalu memilinnya dengan lembut. Hal ini membuat Sandra
mendesah dan menggeliat-geliat sehingga membawa kakinya ke pundak Vicky.
Herman sambil menggesek-gesekkan batang penisnya ke kedua payudara
Sandra juga meremas-remas payudara itu, menonton aksi Vicky di antara
paha Sandra. Ketika perhatianku kembali kepada Vicky, ia sudah
menggantikan jari-jarinya dengan lidahnya! Dengan lembut Vicky
meletakkan salah satu jarinya ke liang kewanitaannya.
Ia menahannya di sana beberapa saat sampai cairan vagina Sandra
membasahi jari itu. Baru setelah itu ia menusukkan jari itu dengan
perlahan masuk ke dalam vagina istriku. Sandra tersengal dan kedua
kakinya dikaitkan di sekeliling kepala Vicky. Tanpa putus semangat,
Vicky meneruskan serangannya dengan menggunakan lidah dan jarinya pada
vagina istriku.
Tidak ada pria lain mana pun yang pernah melakukan hal ini terhadap
Sandra selain dari diriku. Berdiri di antara Vicky dan Herman, aku
langsung melepaskan celanaku dan mulai mengocok penisku sementara mereka
menggarap istriku.
Tiba-tiba Herman berpindah posisi dan dengan perlahan menarik bahu
Vicky. Vicky memandang wajah Herman sejenak lalu pandangannya turun ke
penis besarnya yang terarah tepat langsung ke mulut bibir kewanitaan
Sandra.
Vicky mundur mengijinkan Herman mengambil tempatnya yang langsung
mengolesi kepala penisnya ke sepanjang bibir vagina istriku. Aku dapat
melihat cairan pelumas yang keluar dari penisnya membasahi vagina dan
bulu-bulu kemaluannya.
Aku terpekur dan tidak bisa bergerak sama sekali. Aku tidak tahu apa
yang harus kulakukan. Aku tahu bahwa Herman hendak menyetubuhi istriku
dengan penis raksasanya, namun bukan hal itu yang meresahkan aku.
Jauh dalam lubuk hatiku sebenarnya inilah yang aku inginkan dan yang
sudah aku rencanakan. Akan tetapi aku tahu pasti bahwa Sandra akan
terbangun begitu penis itu memasuki tubuhnya. Terlebih lagi aku baru
menyadari bahwa diafragma (alat KB) Sandra tergeletak di atas meja.
Biasanya, ia memakai diafragmanya ketika ia tahu kami berniat untuk
melakukan ‘sesuatu’, bahkan jika ia pergi tidur sebelum aku tidur.
Namun malam itu, aku rasa ia sudah mabuk sehingga lupa memakainya.
Gambaran adegan pria berkulit gelap ini menyemprotkan air maninya ke
dalam liang vagina istriku yang tidak dilindungi alat KB, memicu sesuatu
dalam diriku walau sebenarnya aku INGIN melihat Herman menumpahkan
spermanya ke dalam vagina Sandra.
Aku sudah tidak dapat mengontrol keinginanku untuk melihat hal ini.
Boleh dibilang aku memang sudah kehilangan kontrol atas situasi ini.
Setelah membalur kepala penisnya dengan cairan yang keluar dari vagina
Sandra, Herman menaruh kepala penis itu di depan mulut bibir vagina
istriku lalu… menekannya masuk.
Dengan perlahan kepala penis itu mulai menghilang dari balik bibir
vagina itu. Bibir vagina istriku meregang dengan ketat sehingga mencegah
kepala penis itu masuk lebih dalam. Masih dalam keadaan terlelap,
Sandra membuka mulutnya saat ia tersengal begitu merasakan sedikit rasa
perih pada selangkangannya.
Aku berpikir: Jika hanya kepala penisnya yang baru masuk saja sudah
membuat istriku kesakitan, apa jadinya saat Herman mencoba untuk
menghujamkan seluruh batang penis itu ke dalam tubuhnya? Tapi untunglah
Herman bersikap lembut dalam serangan awal pada vagina Sandra.
Dengan selembut mungkin dan dalam kondisinya yang sudah sangat
terangsang, Herman menggoyangkan pantatnya dalam gerakan maju mundur
yang pendek-pendek sehingga membuat bibir vagina istriku lebih meregang
sedikit demi sedikit seiring dengan semakin mendalamnya tusukan penis
itu.
Vicky kembali pindah ke depan kepala Sandra. Ia bermain-main dengan
payudaranya sedang tangannya yang lain mengocok penisnya di atas wajah
Sandra. Sesekali Vicky membungkuk dan dengan lembut mencium bibir
istriku yang sedikit terbuka itu, menjulurkan lidahnya sedikit masuk ke
dalam mulutnya sementara terus meremas-remas payudaranya sambil mengocok
penisnya.
Saat lidah Vicky menyentuh lidahnya, dengan gerak refleks Sandra
menutup bibirnya sedikit sehingga bibirnya membungkus lidah Vicky.
Dengan segera Vicky menarik wajahnya ke belakang lalu menyodorkan kepala
penisnya masuk sedikit ke dalam bibir Sandra yang agak terbuka. Seperti
sedang bermimpi erotis, Sandra mulai mengecup ujung kepala penis Vicky.
Aku mendengar Vicky mengerang saat aku mendengar suara menyedot keluar
dari bibir sandra
Perhatianku kembali kepada usaha penerobosan Herman terhadap tubuh
istriku. Saat ini sudah sekitar 5 cm dari penisnya masuk ke dalam vagina
Sandra dan bagian yang paling tebal dari penisnya hampir masuk ke
dalamnya.
Tiba-tiba, seakan pembatas yang menghalangi penis itu masuk lebih
dalam lenyap dalam sekejap, bagian penis yang paling tebal itu langsung
masuk ke liang kewanitaan Sandra. Herman mulai menggenjot panggulnya
dengan serius. Ia baru saja memasukkan 2/3 dari penisnya saat
tiba-tiba…… SANDRA TERBANGUN!
Mula-mula kedua mata istriku melotot lalu ia tersengal dan
mengeluarkan penis Vicky dari mulutnya sementara ia merasakan vaginanya
meregang sampai batas maksimal. Kami bertiga diam membeku saat orientasi
Sandra yang baru terbangun sedikit demi sedikit terkumpul dan pada
akhirnya Sandra tersadar sepenuhnya akan apa yang sedang terjadi.
Pandangannya berpindah dari penis Vicky yang menggantung di depan
bibirnya lalu ke Herman yang penisnya sudah masuk ke dalam vaginanya.
Tiba-tiba, yang benar-benar membuatku terkejut, Sandra melingkarkan
kedua kakinya ke pantat Herman lalu menekankan tubuh Herman agar
penisnya terbenam semakin dalam pada vaginanya.
Sandra mengerang saat penis itu masuk 4 cm lebih dalam. Sudah
sebagian besar dari batang penis itu masuk ke dalam tubuhnya dan dalam
tiap hentakan, penis itu menerobos semakin dalam. Vicky menaruh kepala
penisnya di bibir Sandra dan sekali lagi Sandra mulai menghisapi kepala
penis itu. Namun konsentrasinya jatuh pada penis Herman yang meregang
bibir vaginanya sampai batas yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Setiap kali Sandra hendak menghisap kepala penis Vicky, Herman
menancapkan penisnya lebih dalam yang membuatnya terhenti sejenak dengan
desahan yang keluar dari mulutnya. Aku mulai mengocok penisku dengan
lebih cepat ketika aku melihat Herman menghujamkan seluruh batang
penisnya ke dalam Sandra.
Bibir vaginanya ikut tertarik ke dalam seiring dengan masuknya penis
itu. Dan saat Herman menarik penisnya keluar, cairan cinta Sandra
terlihat membasahi batang penis itu dan bagian dalam vaginanya terlihat
ikut tertarik keluar seperti saat kita menarik keluar jari-jari kita
dari dalam sarung tangan.
Dalam waktu singkat Sandra berorgasme dengan KUAT! Penis Vicky
terlepas bebas dari mulutnya saat ia melenguh dengan kuat,
“OOOOHHHHHHhhhh…..!” Seluruh tubuhnya mengejang sementara gelombang
demi gelombang orgasme menyapu seluruh tubuhnya dan tiap kali
teriakannya semakin kencang secara orgasmenya berlanjut dan semakin
menguat.
Getararan-getaran dalam vagina istriku yang membungkus rapat penisnya
akhirnya membuat Herman mencapai klimaksnya. Suara erangannya terdengar
keluar dari dalam mulut Herman sementara ia menghujamkan penisnya
dengan keras sekali lagi lalu memuntahkan cairan sperma jauh di dalam
vagina Sandra.
Erangan dan desahan mereka bercampur seiring dengan klimaks mereka
yang akhirnya mereda juga. Cairan sperma yang terlihat seperti gumpalan
besar meleleh saat Herman menarik penisnya dari dalam vagina istriku.
Dengan Sandra masih tergeletak lemas di atas ranjang, Vicky segera
melompat ke antara kaki Sandra. Ia mengoles-oleskan penisnya ke vagina
istriku yang basah oleh sperma Herman dan cairannya sendiri. Lalu dengan
mudah Vicky memasukkan penisnya ke dalam vagina Sandra yang sudah
meregang melebihi batas itu.
Setelah beberapa genjotan, Vicky menarik penisnya dan mengarahkan ke
lubang anus istriku. Bahkan aku pun belum pernah memasukkan penisku
lewat pintu belakang. Aku menduga-duga apakah istriku akan menghentikan
perbuatan Vicky.
Ternyata Sandra tidak memberikan perlawanan sedikitpun, namun
demikian saat penis Vicky masuk setengahnya ke dalam liang duburnya,
Sandra meringis kesakitan. Tak lama setelah itu, otot-otot duburnya
mulai rileks dan Sandra mulai menggenjot pantatnya sehingga penis Vicky
masuk sepenuhnya ke dalam anusnya.
Herman berpindah ke dekat wajah Sandra. Ia memegang penisnya yang
penuh dengan cairan sperma bercampur cairan cinta dari vaginanya di atas
mulutnya. Dengan lembut Sandra membersihkan cairan itu dengan mulutnya
dan sesekali memasukkan penis yang sudah melemas itu sejauh yang ia bisa
ke dalam mulutnya. Walau sudah melembek, penis Herman tak kurang dari
18 cm panjangnya dan Sandra mampu menelan sampai sekitar 15 cm sementara
Vicky memompa anusnya yang masih perawan. Suara erangan Vicky semakin
membesar saat aku mengangkangi dada istriku dan menekan kedua
payudaranya ke penisku yang sudah berdenyut-denyut. Dan aku mulai
menggoyang-goyangkan pinggangku.
Sandra mengeluarkan penis Herman dari mulutnya dan mulai menjilati
kepala penis itu sambil memain-mainkan penis dan buah zakarnya yang
licin.
Baru saja aku hendak memuntahkan spermaku ke atas dada dan wajah
Sandra, aku mendengar Vicky mengerang untuk yang terakhir kalinya saat
ia mengosongkan muatannya ke dalam pantat istriku. Hal ini membuatku
mencapai klimaks dan menyemburkan cairanku ke dada Sandra.
Secepat kilat aku meyodorkan penisku masuk ke dalam mulut istriku dan
ia mulai menyedot seluruh semburan sperma yang masih tersisa. Sandra
terus mengulum penisku yang melembek sementara aku terkulai lemas.
Aku menoleh ke belakang melihat Vicky menarik penisnya dari dalam
anus istriku dengan suara yang basah, “Thllrrrpp!” Vicky yang pertama
kali mengeluarkan suara, “Gilaaaaa, man! Enak beneerrrr!” Aku hanya
dapat menghela nafas begitu aku terkulai di samping Sandra. Sandra
tersenyum kepadaku dengan wajah nakal dan imutnya. Sambil masih
bermain-main dengan penis Herman yang besar itu,
Sandra berkata dengan pelan, “Elu bener-bener penuh kejutan, yah!”
“Bukan cuma aku, tuh,” jawabku, “Kelihatannya elu juga penuh kejutan!”