Seorang bujang yang berumur 27 than bingung dikarenakan yang mana HRD
perusahaan memanggil dia untuk datang dikantornya, karena perusahaan
yang dia lamar berada di luar kota, maka dari itu dia bingun untuk
mencari tempat tinggal sementara saat disana, dipastikan dia melakukan
tes wawancara, jadinya dia berangkat keesokan harinya dari rumah.
Dengan tujuan penginapanlah dimana dia harus tinggal. Dengan bekal
yang cukup malah berlebih mungkin, sampailah dia di penginapan dimana
perusahaan yang dia lamar terletak di kota itu juga.
Sudah 2 hari ini dia tinggal di penginapan itu, selama ini dia sudah
mepersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan guna kelancaran dalam tes
Iksancara nanti. Sampai pada akhirnya, dia membaca di surat kabar, bahwa
disitu tertulis menerima kos-kosan atau tempat tinggal yang permanen.
Kemudian dengan bergegas dia mendatangi alamat tersebut. Sampai pada
akhirnya, sampailah dia di depan pintu rumah yang dimaksud itu.
Perlahan Iksan mengetuk pintu, tidak lama kemudian terdengar suara kunci terbuka diikuti dengan seorang wanita tua yang muncul.
“Iya, ada perlu apa, Pak..?”
“Oh, begini.., tadi saya membaca surat kabar, disitu tertulis bahwa
di rumah ini menyediakan kamar untuk tempat tinggal.” sahut Iksan
seketika.
“Oh, ya, memang benar, silakan masuk Pak, biar saya memanggil nyonya dulu,” wanita tua itu mempersilakan Iksan masuk.
“Hm.., baik, terima kasih.”
Sejenak kemudian Iksan sudah duduk di kursi ruang tamu.
Terlihat sekali keadaan ruang tamu yang sejuk dan asri. Iksan
memperhatikan sambil melamun. Tiba-tiba Iksan dikejutkan oleh suara
wanita yang masuk ke ruang tamu.
“Selamat siang, ada yang perlu saya bantu..?”
Terhenyak Iksan dibuatnya, di depan dia sekarang berdiri seorang
wanita yang boleh dikatakan belum terlalu tua, umurnya sekitar 40
tahunan, cantik, anggun dan berwibawa.
“Oh.., eh.. selamat siang,” Iksan tergagap kemudian dia melanjutkan, “Begini Bu..”
“Panggil saya Bu Mitha..,” tukas wanita itu menyahut.
“Hm.., o ya, Bu Mitha, tadi saya membaca surat kabar yang tertulis bahwa disini ada kamar untuk disewakan.”
“Oh, ya. Hm.., siapa nama anda..?”
“Iksan Bu,” sahut Iksan seketika.
“Memang benar disini ada kamar disewakan, perlu diketahui oleh Nak
Iksan bahwa di rumah ini hanya ada tiga orang, yaitu, saya, anak saya
yang masih SMA dan pembantu wanita yang tadi bicara sama Nak Iksan, kami
memang menyediakan satu kamar kosong untuk disewakan, selain agar kamar
itu tidak kotor juga rumah ini biar tambah ramai penghuninya.” dengan
singkat Bu Mitha menjelaskan semuanya.
“Hm, suami Ibu..?” tanya Iksan singkat.
“Oh ya, saya dan suami saya sudah bercerai satu tahun yang lalu,” jawab Bu Mitha singkat.
“Ooo, begitu ya, untuk masalah biayanya, berapa sewanya..?” tanya Iksan kemudian.
“Hm, begini, Nak Iksan mau mengambil berapa bulan, biaya sewa sebulannya tujuh puluh ribu rupiah,” jawab Bu Mitha menerangkan.
“Baiklah Bu Mitha, saya akan mengambil sewa untuk enam bulan,” kata Iksan.
“Oke, tunggu sebentar, Ibu akan mengambil kuitansinya.”
Akhirnya setelah mengemasi barang-barang di penginapan, tinggallah
Iksan disitu dengan Bu Mitha, Ida anak Bu Mitha dan Bik Sumi pembantu Bu
Mitha.
Sudah satu bulan ini Iksan tinggal sambil menunggu panggilan
selanjutnya. Dan sudah satu bulan ini pula Iksan punya keinginan yang
aneh terhadap Bu Mitha. Wanita yang anggun, cantik dan berwibawa yang
cukup lama hidup sendirian.
Iksan tidak dapat membayangkan bagaimana mungkin wanita yang masih
kelihatan muda dari segi fisiknya itu dapat betah hidup sendirian.
Bagaimana Bu Mitha menyalurkan hasrat seksualnya. Ingin sekali Iksan
bercinta dengan Bu Mitha.
Apalagi sering Iksan melihat Bu Mitha memakai daster tipis yang
menampilkan lekuk-lekuk tubuh Bu Mitha yang masih kelihatan kencang dan
indah. Ingin sekali Iksan menyentuhnya.
“Aku harus bisa mendapatkannya..!” gumam Iksan suatu saat.
“Saya harus mencari cara,” gumamnya lagi.
Sampai pada suatu saat kemudian, yaitu pada saat malam Minggu, rumah
kelihatan sepi, maklum saja, Ida anak Bu Mitha tidur di tempat neneknya,
Bik Sumi balik ke kampung selama dua hari, katanya ada anaknya yang
sakit.
Tinggallah Iksan dan Bu Mitha sendirian di rumah. Tapi Iksan sudah
mempersiapkan cara bagaimana melampiaskan hasratnya terhadap Bu Mitha.
Lama Iksan di kamar, jam menunjukkan pukul delapan malam, dia melihat Bu
Mitha menonton TV di ruang tengah sendirian. Akhirnya setelah mantap,
Iksan pun keluar dari kamarnya menuju ke ruang tengah.
“Selamat malam, Bu, boleh saya temani..?” sejenak Iksan berbasa-basi.
“Oh, silakan Nak Iksan..,” mempersilakan Bu Mitha kepada Iksan.
“Ngomong-ngomong, tidak keluar nih Nak Iksan, malam Minggu loh, masa
di rumah terus, apa tidak bosan..?” tanya Bu Mitha kemudian.
“Ah, nggak Bu, lagian keluar kemana, biasanya juga malam Minggu di rumah saja,” jawab Iksan sekenanya.
Lama mereka berdua terdiam sambil menikmati acara TV.
“Oh, ya, Bu, boleh saya buatkan minum..?” tanya Iksan tiba-tiba.
“Lho, tidak usah Nak Iksan, kok repot-repot..,”
“Ah, nggak apa-apa, sekali-kali saya yang buatkan minuman untuk Ibu,
masak Ibu dan Bik Sumi saja yang selalu membuatkan minuman untuk saya.”
“Hm.., boleh kalau begitu, Ibu ingin minum teh saja,” kata Bu Mitha sambil tersenyum.
“Baiklah Bu, kalau begitu tunggu sebentar.” segera Iksan bergegas ke dapur.
Tidak lama kemudian Iksan sudah kembali sambil membawa nampan berisi dua teh dan sedikit makanan kecil di piring.
“Silakan Bu, diminum, mumpung masih hangat..!”
“Terima kasih, Nak Iksan.”
Akhirnya setelah sekian lama terdiam lagi, terlihat Bu Mitha sudah
mulai mengantuk, tidak lama kemudian Bu Mitha sudah tertidur di kursi
dengan keadaan memakai daster tipis yang menampilkan lekuk-lekuk tubuh
dan payudaranya yang indah. Tersenyum Iksan melihatnya.
“Akhirnya aku berhasil, ternyata obat tidur yang kubeli di apotik
siang tadi benar-benar manjur, obat ini akan bekerja untuk beberapa saat
kemudian,” gumam Iksan penuh kemenangan.
“Beruntung sekali tadi Bu Mitha mau kubuatkan teh, sehingga obat
tidur itu dapat kucampur dengan teh yang diminum Bu Mitha,” gumamnya
sekali lagi.
Sejenak Iksan memperhatikan Bu Mitha, tubuh yang pasrah yang siap
dipermainkan oleh lelaki manapun. Timbul gejolak kelelakian Iksan yang
normal tatkala melihat tubuh indah yang tergolek lemah itu.
Diremas-remasnya dengan lembut payudara yang montok itu bergantian
kanan kiri sambil tangan yang satunya bergerilnya menyentuh paha sampai
ke ujung paha. Terdengar desahan perlahan dari mulut Bu Mitha, spontan
Iksan menarik kedua tangannya.
“Mengapa harus gugup, Bu Mitha sudah terpengaruh obat tidur itu sampai beberapa saat nanti,” gumam Iksan dalam hati.
Akhirnya tanpa pikir panjang lagi, Iksan kemudian membopong tubuh Bu
Mitha memasuki kamar Iksan sendiri. Digeletakkan dengan perlahan tubuh
yang indah di atas tempat tidur, sesaat kemudian Iksan sudah mengunci
kamar, lalu mengeluarkan tali yang memang sengaja dia simpan siang tadi
di laci mejanya.
Tidak lama kemudian Iksan sudah mengikat kedua tangan Bu Mitha di
atas tempat tidur. Melihat keadaan tubuh Bu Mitha yang telentang itu,
tidak sabar Iksan untuk melampiaskan hasratnya terhadap Bu Mitha.
“Malam ini aku akan menikmati tubuhmu yang indah itu Bu Mitha,” kata Iksan dalam hati.
Satu-persatu Iksan melepaskan apa saja yang dipakai oleh Bu Mitha.
Perlahan-lahan, mulai dari daster, BH, kemudian celana dalam, sampai
akhirnya setelah semua terlepas, Iksan menyingkirkannya ke lantai.
Terlihat sekali sekarang Bu Mitha sudah dalam keadaan polos,
telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Diamati
oleh Iksan mulai dari wajah yang cantik, payudara yang montok menyembul
indah, perut yang ramping, dan terakhir paha yang mulus dan putih
dengan gundukan daging di pangkal paha yang tertutup oleh rimbunnya
rambut.
Sesaat kemudian Iksan sudah menciumi tubuh Bu Mitha mulai dari kaki,
pelan-pelan naik ke paha, kemudian berlanjut ke perut dan terakhir
ciuman Iksan mendarat di payudara Bu Mitha. Sesekali terdengar desahan
kecil dari mulut Bu Mitha, tapi Iksan tidak memperdulikannya.
Diciumi dan diremas-remas kedua payudara yang indah itu dengan mulut
dan kedua tangan Iksan. Puting merah jambu yang menonjol indah itu juga
tidak lepas dari serangan-serangan Iksan. Dikulum-kulum kedua puting itu
dengan mulutnya dengan perasaan dan gairah birahi yang sudah memuncak.
Setelah puas Iksan melakukan itu semua, perlahan-lahan dia bangkit dari
tempat tidur.
Satu-persatu Iksan melepas pakaian yang melekat di badannya, akhirnya
keadaan Iksan sudah tidak beda dengan keadaan Bu Mitha, telanjang
bulat, polos, tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.
Terlihat kemaluan Iksan yang sudah mengencang hebat siap dihunjamkan
ke dalam vagina Bu Mitha. Tersenyum Iksan melihat rudalnya yang panjang
dan besar, bangga sekali dia mempunyai rudal dengan bentuk begitu.
Perlahan-lahan Iksan kembali naik ke tempat tidur dengan posisi
telungkup menindih tubuh Bu Mitha yang telanjang itu, kemudian dia
memegang rudalnya dan pelan-pelan memasukkannya ke dalam vagina Bu
Mitha.
Iksan merasakan vagina yang masih rapat karena sudah setahun tidak
pernah tersentuh oleh laki-laki. Akhirnya setelah sekian lama, rudal
Iksan sudah masuk semuanya ke dalam vagina Bu Mitha.
Ketika Iksan menghunjamkan rudalnya ke dalam vagina Bu Mitha sampai
masuk semua, terdengar rintihan kecil Bu Mitha, “Ah.., ah.., ah..!”
Tapi Iksan tidak menghiraukannya, dia lalu menggerakkan kedua pantatnya maju munjur dengan teratur, pelan-pelan tapi pasti.
“Slep.., slep.., slep..,” terdengar setiap kali ketika Iksan
melakukan aktivitasnya itu, diikuti dengan bunyi tempat tidur yang
berderit-derit.
“Uh.., oh.., uh.., oh..,” sesekali Iksan mengeluh kecil, sambil
tangannya terus meremas-remas kedua payudara Bu Mitha yang montok itu.
Lama Iksan melakukan aktivitasnya itu, dirasakannya betapa masih
kencangnya dan rapatnya vagina Bu Mitha. Akhirnya Iksan merasakan
tubuhnya mengejang hebat, merapatkan rudalnya semakin dalam ke vagina Bu
Mitha.
“Ser.., ser.., ser..,” Iksan merasakan cairan yang keluar dari ujung kemaluannya mengalir ke dalam vagina Bu Mitha.
“Oh.. ah.. oh.. Bu Mitha.., oh..!” terdengar keluhan panjang dari mulut Iksan.
Setelah itu Iksan merasakan tubuhnya yang lelah sekali, kemudian dia
membaringkan tubuhnya di samping tubuh Bu Mitha dengan posisi memeluk
tubuh Bu Mitha yang telah dinikmatinya itu.
Lama Iksan dalam posisi itu sampai pada akhirnya dia dikejutkan oleh
gerakan tubuh Bu Mitha yang sudah mulai siuman. Secara reflek, Iksan
bangkit dari tempat tidurnya menuju ke arah saklar lampu dan
mematikannya.
Tertegun Iksan berdiri di samping tempat tidur dalam kamar yang sudah
dalam keadaan gelap gulita itu. Sesaat kemudian terdengar suara Bu
Mitha.
“Oh, dimana aku, mengapa gelap sekali..?”
Sebentar kemudian suasana menjadi hening.
“Dan, mengapa tanganku diikat, dan, oh.., tubuhku juga telanjang,
kemana pakaianku, apa yang terjadi..?” terdengar suara Bu Mitha pelan
dan serak.
Suasana hening agak lama. Iksan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia diam saja.
Terdengar lagi suara Bu Mitha mengeluh, “Oh.., tolonglah aku..! Apa
yang terjadi padaku, mengapa aku bisa dalam keadaan begini, siapa yang
melakukan ini terhadapku..?” keluh Bu Mitha.
Akhirnya timbul kejantanan dalam diri Iksan, bagaimanapun setelah apa
yang dia lakukan terhadap Bu Mitha, Iksan harus berterus terang
mengatakannya semuanya.
“Ini saya..,” gumam Iksan lirih.
“Siapa, kamukah Yodi..? Mengapa kamu kembali lagi padaku..?” sahut Bu Mitha agak keras.
“Bukan, ini saya Bu.., Iksan..,” Iksan berterus terang.
“Iksan..!” kaget Bu Mitha mendengarnya.
“Apa yang kamu lakukan pada Ibu, Iksan..? Bicaralah..! Mengapa Ibu kamu perlakukan seperti ini..?” tanya Bu Mitha kemudian.
Kemudian Iksan bercerita mulai dari awal sampai akhir, bagaimana
mula-mula dia tertarik pada Bu Mitha, sampai pada keheranannya bagaimana
juga Bu Mitha dapat hidup sendiri selama setahun tanpa ada laki-laki
yang dapat memuaskan hasrat birahi Bu Mitha.
Juga tidak lupa Iksan menceritakan semua yang dia lakukan terhadap Bu
Mitha selama Bu Mitha tidak sadar karena pengaruh obat tidur. Tertegun
Bu Mitha mendengar semua perkataan Iksan. Lama mereka terdiam, tapi
terdengar Bu Mitha bicara lagi.
“Iksan.., Iksan.., Ibu memang menginginkan laki-laki yang bisa
memuaskan hasrat birahi Ibu, tapi bukan begini caranya, mengapa kamu
tidak berterus-terang pada Ibu sejak dulu, kalaupun kamu berterus terang
meminta kepada Ibu, pasti Ibu akan memberikannya kepadamu, karena Ibu
juga merasakan bagaimana tidak enaknya hidup sendiri tanpa laki-laki.”
“Terus terang saya malu Bu, saya malu kalau Ibu menolak saya.”
“Tapi setidaknya kan, berterus terang itu lebih sopan dan terhormat daripada harus memperlakukan Ibu seperti ini.”
“Saya tahu Bu, saya salah, saya siap menerima sanksi apapun, saya siap diusir dari rumah ini atau apa saja.”
“Oh, tidak Iksan, bagaimanapun kamu telah melakukannya semua terhadap
Ibu. Sekarang Ibu tidak lagi terpengaruh oleh obat tidur itu lagi, Ibu
ingin kamu melakukannya lagi terhadap Ibu apa yang kamu perbuat tadi,
Ibu juga menginginkannya Iksan tidak hanya kamu saja.”
“Benar Bu..?” tanya Iksan kaget.
“Benar Iksan, sekarang nyalakanlah lampunya, biar Ibu bisa melihatmu seutuhnya,” pinta Bu Mitha kemudian.
Tanpa pikir panjang lagi, Iksan segera menyalakan lampu yang sejak
tadi padam. Sekarang terlihatlah kedua tubuh mereka yang sama-sama
polos, dan telanjang bulat dengan posisi Bu Mitha terikat tangannya.
“Oh Iksan, tubuhmu begitu atletis. Kemarilah, nikmatilah tubuh Ibu,
Ibu menginginkannya Iksan..! Ibu ingin kamu memuaskan hasrat birahi Ibu
yang selama ini Ibu pendam, Ibu ingin malam ini Ibu benar-benar
terpuaskan.”
Perlahan Iksan mendekati Bu Mitha, diperhatikan wajah yang tambah
cantik itu karena memang kondisi Bu Mitha yang sudah tersadar, beda
dengan tadi ketika Bu Mitha masih tidak sadarkan diri. Diusap-usapnya
dengan lembut tubuh Bu Mitha yang polos dan indah itu, mulai dari paha,
perut, sampai payudara. Terdengar suara Bu Mitha menggelinjang keenakan.
“Terus.., Iksan.., ah.. terus..!” terlihat tubuh Bu Mitha bergerak-gerak dengan lembut mengikuti sentuhan tangan Iksan.
“Tapi, Iksan, Ibu tidak ingin dalam keadaan begini, Ibu ingin kamu
melepas tali pengikat tangan Ibu, biar Ibu bisa menyentuh tubuhmu
juga..!” pinta Ibu Mitha memelas.
“Baiklah Bu.”
Sedetik kemudian Iksan sudah melepaskan ikatan tali di tangan Bu
Mitha. Setelah itu Iksan duduk di pinggir tempat tidur sambil kedua
tangannya terus mengusap-usap dan meremas-remas perut dan payudara Bu
Mitha.
“Nah, begini kan enak..,” kata Bu Mitha.
Sesaat kemudian ganti tangan Bu Mitha yang meremas-remas dan menarik
maju mundur kemaluan Iksan, tidak lama kemudian kemaluan Iksan yang
diremas-remas oleh Bu Mitha mulai mengencang dan mengeras. Benar-benar
hebat si Iksan ini, dimana tadi kemaluannya sudah terpakai sekarang
mengeras lagi. Benar-benar hyper dia.
“Oh.., Iksan, kemaluanmu begitu keras dan kencang, begitu panjang dan
besar, ingin Ibu memasukkannya ke dalam vagina Ibu.” kata Bu Mitha
lirih sambil terus mempermainkan kemaluan Iksan yang sudah membesar itu.
Diperlakukan sedemikian rupa, Iksan hanya dapat mendesah-desah menahan keenakan.
“Bu Mitha, oh Bu Mitha, terus Bu Mitha..!” pinta Iksan memelas.
Semakin hebat permainan seks yang mereka lakukan berdua, semakin hot,
terdengar desahan-desahan dan rintihan-rintihan kecil yang keluar dari
mulut mereka berdua.
“Oh Iksan, naiklah ke atas tempat tidur, naiklah ke atas tubuhku,
luapkan hasratmu, puaskan diriku, berikanlah kenikmatanmu pada Ibu..!
Ibu sudah tak tahan lagi, ibu sudah tak sabar lagi..” desis Bu Mitha
memelas dan memohon.
Sesaat kemudian Iksan sudah naik ke atas tempat tidur, langsung
menindih tubuh Bu Mitha yang telanjang itu, sambil terus menciumi dan
meremas-remas payudara Bu Mitha yang indah itu.
“Oh, ah, oh, ah.., Iksan oh..!” tidak ada kata yang lain yang dapat
diucapkan Bu Mitha yang selain merintih dan mendesah-desah, begitu juga
dengan Iksan yang hanya dapat mendesis dan mendesah, sambil
menggosok-gosokkan kemaluannya di atas permukaan vagina Bu Mitha. Reflek
Bu Mitha memeluk erat-erat tubuh Iksan sambil sesekali mengusap-usap
punggung Iksan.
Sampai suatu ketika, tangan Bu Mitha memegang kemaluan Iksan dan memasukkannya ke dalam vaginanya.
Pelan dan pasti Iksan mulai memasukkan kemaluannya ke dalam vagina Bu
Mitha, sambil kedua kakinya bergerak menggeser kedua kaki Bu Mitha agar
merenggang dan tidak merapat, lalu menjepit kedua kaki Bu Mitha dengan
kedua kakinya untuk terus telentang.
Akhirnya setelah sekian lama berusaha, karena memang tadi Iksan sudah
memasukkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mitha, sekarang agak gampang
Iksan menembusnya, Iksan sudah berhasil memasukkan seluruh batang
kemaluannya ke dalam vagina Bu Mitha.
Kemudian dengan reflek Iksan menggerakkan kedua pantatnya maju mundur
teru-menerus sambil menghunjamkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mitha.
“Slep.., slep.., slep..,” terdengar ketika Iksan melakukan aktivitasnya itu.
Terlihat tubuh Bu Mitha bergerak menggelinjang keenakan sambil terus
menggoyang-goyangkan pantatnya mengikuti irama gerakan pantat Iksan.
“Ah.., ah.., oh.. Iksan.., jangan lepaskan, teruskan, teruskan,
jangan berhenti Iksan, oh.., oh..!” terdengar rintihan dan desahan nafas
Bu Mitha yang keenakan.
Lama Iksan melakukan aktivirasnya itu, menarik dan memasukkan
kemaluannya terus-menerus ke dalam vagina Bu Mitha. Sambil mulutnya
terus menciumi dan mengulum kedua puting payudara Bu Mitha.
“Oh.., ah.. Bu Mitha, oh.., kamu memang cantik Bu Mitha, akan
kulakukan apa saja untuk bisa memuaskan hasrat birahimu, ih.., oh..!”
desis Iksan keenakan.
“Oh.., Iksan.., bahagiakanlah Ibu malam ini dan seterusnya, oh Iksan.., Ibu sudah tak tahan lagi, oh.., ah..!”
Semakin cepat gerakan Iksan menarik dan memasukkan kemaluannya ke
dalam vagina Bu Mitha, semakin hebat pula goyangan pantat Bu Mitha
mengikuti irama permainan Iksan, sambil tubuhnya terus menggelinjang
bergerak-gerak tidak beraturan.
Semakin panas permainan seks mereka berdua, sampai akhirnya Bu Mitha
merintih, “Oh.., ah.., Iksan.., Ibu sudah tak tahan lagi, Ibu sudah tak
kuat lagi, Ibu mau keluar, oh Iksan.., kamu memang perkasa..!”
“Keluarkan Bu..! Keluarkanlah..! Puaskan diri Ibu..! Puaskan hasrat Ibu sampai ke puncaknya..!” desis Iksan menimpali.
“Mari kita keluarkan bersama-sama Bu Mitha..! Oh, aku juga sudah tak tahan lagi,” desis Iksan kemudian.
Setelah berkata begitu, Iksan menambah genjotannya terhadap Bu Mitha,
terus-menerus tanpa henti, semakin cepat, semakin panas, terlihat
sekali kedua tubuh yang basah oleh keringat dan telanjang itu menyatu
begitu serasi dengan posisi tubuh Iksan menindih tubuh Bu Mitha.
Sampai akhirnya Iksan merasakan tubuhnya mengejang hebat, begitu pula
dengan tubuh Bu Mitha. Keduanya saling merapatkan tubuhnya
masing-masing lebih dalam, seakan-akan tidak ada yang memisahkannya.
“Ser.., ser.., ser..!” terasa keluar cairan kenikmatan keluar dari
ujung kemaluan Iksan mengalir ke dalam vagina Bu Mitha, begitu nikmat
seakan-akan seperti terbang ke langit ke tujuh, begitu pula dengan tubuh
Bu Mitha seakan-akan melayang-layang tanpa henti di udara menikmati
kepuasan yang diberikan oleh Iksan.
Sampai akhirnya mereka berdua berhenti karena merasa kelelahan yang amat sangat setelah bercinta begitu hebat.
Sejenak kemudian, masih dengan posisi yang saling menindih, terpancar senyum kepuasan dari mulut Bu Mitha.
“Iksan, terima kasih atas apa yang telah kau berikan pada Ibu..,” kata Bu Mitha sambil tangannya mengelus-elus rambut Iksan.
“Sama-sama Bu, aku juga puas karena sudah membuat Ibu berhasil
memuaskan hasrat birahi Ibu,” sahut Iksan dengan posisi menyandarkan
kepalanya di atas dada Bu Mitha.
Suasana yang begitu mesra.
“Selama disini, mulai malam ini dan seterusnya, Ibu ingin kamu selalu memberi kepuasan birahi Ibu..!” pinta Ibu Mitha.
“Saya berjanji Bu, saya akan selalu memberikan yang terbaik bagi Ibu..,” kata Iksan kemudian.
“Ah, kamu bisa saja San,” tersungging senyum di bibir Bu Mitha.
“Tapi, ngomong-ngomong bagaimana dengan Ida dan Bik Sumi..?” tanya Iksan.
“Lho, kita kan bisa mencari waktu yang tepat. Disaat Ida berangkat
sekolah juga bisa, dan Bik Sumi di dapur. Di saat keduanya tidur pun
kita bisa melakukannya. Pokoknya setiap saat dan setiap waktu..!” jawab
Bu Mitha manja sambil tangannya mengusap-usap punggung Iksan.
Sejenak Iksan memandang wajah Bu Mitha, sesaat kemudian keduanya
sama-sama tertawa kecil. Akhirnya apa yang mereka pendam berdua
terlampiaskan sudah. Sambil dengan keadaan yang masih telanjang dan
posisi saling merangkul mesra, mereka akhirnya tertidur kelelahan.