Saat itu aku masih ingat hubungan Dhea dan Aga sudah membaik setelah
sekian dia bertikai dalam hal pacaran, bahkan aku dengar dengar dia
sudah bertunangan dan akan segera melangsungkan pernikahannya, aku dan
mereka satu tempat kost suatu ketika saat Aga ada tugas kantor yang
memaksa dia harus tinggal disana selama 6 bulan.
Sebagai bekas teman dan atasan Dhea, aku memang pernah dikenalkan
dengan Aga. Aga ternyata begitu cemburuan. Memang harus aku akui kalau
Dhea memang cantik, bahkan terlalu cantik untuk ukuran Aga itu.
Padahal kalau menurutku sih, adalah hal yang biasa kalau serorang
lelaki yang penampilan fisiknya biasa saja, ternyata memiliki seorang
pacar yang cantik. Aku mengatakan Dhea cantik, bukan merupakan
penilaianku yang subyektif. Banyak teman-temanku lain yang juga
berpendapat begitu. Bahkan beberapa diantaranya berpendapat sama, bahwa
Dhea memiliki sex appeal yang luar biasa tinggi.
Bagi kaum lelaki, jika memandang mata Dhea, boleh jadi langsung akan
berfantasi macam-macam. Percaya atau tidak, mata Dhea begitu sayu
seolah-olah ‘pasrah’ ditambah lagi dengan bibirnya yang seksi dan suka
digigit-gigit, kalau Dhea sedang gemes. Sungguh suatu ciptaan Tuhan yang
sangat eksotis dan sensual.
Ketika aku sempat mengobrol dengan Aga minggu sebelumnya, secara
tidak sengaja kami menemukan suatu peluang bisnis yang mungkin bisa
dikerjakan bersama antara kantorku dengan kantornya. Pikiran dagangku
segera jalan dan aku menjanjikan untuk menitipkan sebuah proposal kepada
Aga untuk dibahas oleh tim kantornya di Malang.
Siang itu, sehabis meeting dengan salah satu klienku di sebuah kantor
di daerah Kuningan, aku berencana untuk mampir ke rumah kost Aga ? yang
juga rumah kost Dhea – untuk menitipkan proposal yang aku janjikan.
Aku mengendarai mobil menuju tempat kost Aga. Sesampainya di sana,
aku melihat garasi tempat mobil Aga biasa diparkir dalam keadaan kosong
yang menandakan Aga sedang keluar. Namun aku tidak mengurungkan niatku
untuk bertemu dengan Aga.
Setelah aku memarkir mobil di depan halaman rumah kost itu, aku masuk
menuju ruang tamu yang pada saat itu pintunya dalam keadaan terbuka,
dan langsung menuju ke kamar Aga. Di dalam rumah itu ada 4 kamar dan
kamar Aga yang paling pojok, berhadapan dengan kamar Dhea.
Masing-masing kamar kelihatan tertutup pertanda tidak ada kehidupan
di dalam rumah itu. Aku ingin menulis pesan di pintu kamar Aga karena
memang aku sangat perlu dengannya.
Smentara aku sedang menuliskan pesan, samar-samar terdengar suara
televisi dari dalam kamar Dhea, di depan kamar Aga, pertanda ada
seseorang di dalam kamarnya. Aku memastikan kalau yang di dalam kamar
itu adalah Dhea, bukannya orang lain.
Aku mengetuk pintu perlahan sambil memanggil nama Dhea. Tidak
beberapa lama kemudian pintu dibuka kira-kira sekepalan tangan dan aku
melihat wajah Dhea tampak dari celah pintu yang terbuka.
“Eh, Mas.. cari Mas Aga yaa.. Tadi pagi sih ditungguin, tapi Mas Aga buru-buru berangkat Mas”, jawabnya sebelum aku bertanya.
Entah mengapa, ketika menatap mata Dhea yang sayu itu, pikiranku jadi teringat masa-masa indah yang pernah kami alami dulu.
Aku sambil tersenyum menatapnya seraya bertanya, “Kamu nggak ke kantor hari ini?”
“Lagi kurang enak badan nih, Mas, tadi Santi bangunnya kesiangan,
jadi males banget ke kantor”, jawabnya singkat, sambil menggigit bibir
bawahnya.
Ada rasa menyesal kenapa dia harus membolos ke kantor hari ini.
“Terus, Aga biasanya jam berapa pulangnya, Santi?”, tanyaku sekedar berbasa-basi.
“Mestinya sih jam 5 nanti, tapi mungkin bisa lebih lama, soalnya Mas
Aga hari ini ada tugas kelompok bersama teman-teman trainingnya”,
jawabnya agak kesal.
Saat itu kira-kira jam 1 siang berarti Aga pulang kira-kira 4 atau 5 jam lagi, pikiranku mulai nakal.
Aku mencoba mencari bahan pembicaraan yang kira-kira bisa
memperpanjang obrolan kami agar aku bisa lebih dekat dengan Dhea. Agak
lama aku terdiam. Aku memandang matanya, memandang bibirnya yang basah.
Bibirnya yang dipoles warna merah menambah sensual bentuknya yang
tipis dan memang sangat indah itu. Semakin lama aku melihatnya semakin
aku berfantasi macam-macam.
Sungguh, jantungku deg-degan saat itu. Mata Dhea tidak berkedip
sekejap pun membalas tatapan mataku. Sebuah desiran hangat mengalir
keras di dadaku, dan aku sungguh yakin Dhea pun masih memiliki getar
rasa yang sama denganku.
Setelah agak lama kami terdiam, “Teman-teman kamarmu yang lain lagi
pada kemana semua, Santi?”, dengan mata menatap sekeliling aku bertanya
sekenaku, menanyakan keberadaan anak-anak kost yang lain.
“Mas ini mau nyari Mas Aga atau..”, kata-katanya terputus tapi aku
bisa menerjemahkan kelanjutan kalimatnya dari senyuman di bibirnya.
Akhirnya aku memutuskan untuk to the point aja.
“Aku juga pengin ketemu denganmu, Santi!”, jawabku berpura-pura.
Dia tertawa pelan, “Mas, kenapa, sih?”, ia memandangku lembut.
“Boleh aku masuk, Santi? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu,”, jawabku lagi.
“Sebentar, ya.. Mas, kamar Santi lagi berantakan nih!”
Dhea lalu menutup pintu di depanku. Tidak beberapa lama berselang
pintu terbuka kembali, lalu dia mempersilakan aku masuk ke dalam
kamarnya. Aku duduk di atas kasur yang digelar di atas lantai. Dhea
masih sibuk membereskan pakaian-pakaian yang bertebaran di atas sandaran
kursi sofa. Aku menatap tubuh Dhea yang membelakangiku.
Saat itu dia mengenakan kaos ketat warna kuning yang memperlihatkan
pangkal lengannya yang mulus. Aku memandang pinggulnya yang ditutup oleh
celana pendek. Tungkainya panjang serta pahanya bulat dan mulus.
Kejantananku menjadi tegang memandang semua keindahannya, ditambah
dengan khayalanku dulu, ketika aku memiliki kesempatan membelai-belai
lembut kedua pangkal pahanya itu.
Kemudian Dhea duduk di sampingku. Lututnya ditekuk sehingga celananya
agak naik ke atas membuat pahanya semakin terpampang lebar. Kali ini
tanpa malu-malu aku menatapnya dengan sepengetahuan Dhea. Dia mencoba
menarik turun agak ke bawah ujung celananya untuk menutupi pahanya yang
sedang aku nikmati.
“Mas, mau bicara apa, sih?”, katanya tiba-tiba.
Saat itu otakku berpikir cepat, aku takut kalau sebenarnya aku tidak
punya bahan pembicaraan yang berarti dengannya. Soalnya dalam pikiranku
saat itu cuma ada khayalan-khayalan untuk bercinta dengannya.
“Mmm.. San.. aku beberapa hari ini sering bermimpi,”, kataku
berbohong. Entah dari mana aku mendapatkan kalimat itu, aku sendiri
tidak tahu tetapi aku merasa agak tenang dengan pernyataan itu.
“Mimpi tentang apa, Mas?”, kelihatannya dia begitu serius menangapiku dilihat dari caranya memandangku.
“Tentang kamu, San”, jawabku pelan.
Bukannya terkejut, malah sebaliknya dia tertawa mendengar bualanku.
Sampai-sampai Dhea menutup mulutnya agar suara tawanya tidak terdengar
terlalu keras.
“Emangnya Mas, mimpi apa sama aku?”, tanyanya penasaran.
“Ya.. biasalah, kamu juga pasti tahu”, jawabku sambil tertunduk.
Tiba-tiba dia memegang tanganku. Aku benar-benar terkejut lalu menoleh ke arahnya.
“Mas ini ada-ada saja, Mas ‘kan sekarang sudah punya yang di rumah,
lagian aku juga ‘kan sudah punya pacar, masa masih mau mimpi-mimpiin
orang lain?”
“Makanya aku juga bingung, Santi. Lagian kalaupun bisa, aku
sebenarnya nggak ingin bermimpi tentang kamu, Santi”, jawabku pura-pura
memelas.
Kami sama-sama terdiam. Aku meremas jemari tangannya lalu perlahan
aku mengangkat menuju bibirku. Dia memperhatikanku pada saat aku
melabuhkan ciuman mesra ke punggung tangannya. Aku menggeser posisi
dudukku agar lebih dekat dengan tubuhnya.
Aku memandangi wajahnya. Mata kami berpandangan. Wajahku perlahan
mendekati wajahnya, mencari bibirnya, semakin dekat dan tiba-tiba
wajahnya berpaling sehingga mulutku mendarat di pipinya yang mulus.
Kedua tanganku kini bergerak aktif memeluk tubuhnya.
Tangan kananku menggapai dagunya lalu mengarahkan wajahnya berhadapan
dengan wajahku. Aku meraup mulutnya seketika dengan mulutku. Dhea
menggeliat pelan sambil menyebutkan namaku.
“Mas.., cukup mas!”, tangannya mencoba mendorong dadaku untuk menghentikan kegiatanku.
Aku menghentikan aksiku, lalu pura-pura meminta maaf kepadanya.
“Maafkan aku, Santi.. aku nggak sanggup lagi jika setiap malam
memimpikan dirimu”, aku pura-pura menunduk lagi seolah-olah menyesali
perbuatanku.
“Aku mengerti Mas, aku juga nggak bisa menyalahkan Mas karena mimpi-mimpimu itu.
Bagaimanapun juga, kita pernah merasa deket Mas”, sepertinya Dhea memafkan dan memaklumi perbuatanku barusan.
Aku menatap wajahnya lagi. Ada semacam kesedihan di wajahnya hanya
saja aku tak tahu apa penyebabnya. Pipinya masih kelihatan memerah bekas
cumbuanku tadi.
“Aku juga ingin membantu Mas agar tidak terlalu memikirkanku lagi, tapi..” kalimatnya terputus.
Dalam hati aku tersenyum dengan kalimat “ingin membantu..” yang diucapkannya.
“Santi, aku cuma ingin pergi berdua denganmu, sekali saja.., sebelum
kamu benar-benar menjadi milik Aga. Agar aku bisa melupakanmu”, kataku
memohon.
“Kita kan sama-sama sudah ada yang punya, Mas.., nanti kalau ketahuan gimana?”
Nah, kalau sudah sampai disini aku merasa mendapat angin.
Kesimpulannya dia masih mau pergi denganku, asal jangan sampai ketahuan
sama Aga.
“Seandainya ketahuan.. aku akan bertanggung jawab, Santi”, setelah itu aku memeluknya lagi.
Dan kali ini dia benar-benar pasrah dalam pelukanku. Malah tangannya ikut membalas memeluk tubuhku.
Telapak tanganku perlahan mengelus punggungnya dengan mesra,
sementara bibirku tidak tinggal diam menciumi pipi lalu turun ke
lehernya yang jenjang. Dhea mendesah. Aku menciumi kulitnya dengan penuh
nafsu.
Mulutku meraup bibirnya. Dhea diam saja. Aku melumat bibirnya, lalu
aku menjulurkan lidahku perlahan seiring mulutnya yang seperti
mempersilakan lidahku untuk menjelajah rongga mulutnya. Nafasnya mulai
tidak teratur ketika lidahku memilin lidahnya.
Kesempatan ini aku gunakan untuk membelai payudaranya. Perlahan
telapak tanganku aku tarik dari punggungnya melalui ketiaknya. Tanpa
berhenti membelai, telapak tanganku kini sudah berada pada sisi
payudaranya. Aku benar-benar hampir tidak bisa menguasai birahiku saat
itu. Apalagi aku sudah sering membayangkan kesempatan seperti saat ini
terulang lagi bersamanya.
Kini telapak tanganku sudah berada di atas gundukan daging di atas
dadanya. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, justru yang
seperti ini yang paling indah menurutku. Pada saat tanganku mulai
meremas payudaranya yang sebelah kanan, tangan Dhea mencoba menahan
aksiku. Payudaranya masih kencang dan padat membuatku semakin bernafsu
untuk meremas-remasnya.
“Mas, jangan sekarang Mas.. Santi takut..”, katanya berulang kali.
Aku juga merasa tindakanku saat itu betul-betul nekat, apalagi pintu
kamar masih terbuka setengah. Jangan-jangan ada orang lain yang melihat
perbuatan kami. Wah, bisa gawat jadinya.
Aku akhirnya berdiri dari tempat dudukku untuk menenangkan suasana.
Aku bukanlah tipe laki-laki yang suka terburu-buru dalam berbagai hal,
khususnya dalam masalah percintaan.
Aku kini duduk di kursi sofa menghadap Dhea, sedangkan Dhea masih di
atas kasur sambil memperbaiki rambut dan kaosnya kuningnya yang agak
kusut.
“Mas, mau ngajak Santi ke mana, sih”, Dhea menatap wajahku.
“Pokoknya tempat di mana tidak ada orang yang bisa mengganggu
ketenangan kita, Santi”, jawabku sambil memandang permukaan dadanya yang
baru saja aku remas-reMas.
Dhea duduk sambil bersandar dengan kedua tangan di belakang untuk
menahan tubuhnya. Payudaranya jadi kelihatan menonjol. Aku memandang
nakal ke arah payudaranya sambil tersenyum. Kakinya diluruskan hingga
menyentuh telapak kakiku.
“Tapi kalau ketahuan.. Mas yang tanggung jawab, yaa..”, katanya mencoba menuntut penjelasanku lagi.
Aku mengangguk.
“Terus kapan jalan-jalannya, Mas?”,
“Gimana kalo besok sore jam 4, besok ‘kan Jum’at, bisa pulang lebih awal ‘kan?”, tanyaku.
“Ketemu di mana?”, tanyanya penasaran.
“Kamu telepon aku, kasih tahu kamu lagi dimana saat itu, lalu aku akan menjemputmu di sana, gimana?”, tanyaku lagi.
Dia tersenyum menatapku, “Wah, Mas ternyata pintar banget untuk urusan begituan.”, Aku tertawa.
“Tapi aku nggak mau kalau Mas nakalin aku kayak dulu lagi!!,”, tegasnya.
Aku terkejut namun pura-pura mengiyakan, soalnya tadi aku merasa
besok aku sudah bisa menikmati kehangatan tubuh Dhea seperti dulu lagi.
Makanya besok sengaja aku memilih waktu sore hari karena aku ingin
mengajaknya menginap, kalau dia mau.
Namun aku diam saja, yang penting dia sudah mau aku ajak pergi,
tinggal penyelesaiannya saja. Lagian ngapain dia mesti minta tanggung
jawab, seandainya aku tidak berbuat apa-apa dengannya, pikirku lagi. Ah,
lihat besok sajalah.
Pukul 3 siang, akhirnya aku harus kembali ke kantorku, di samping
memang Dhea juga meminta aku segera pulang karena dia juga takut kalau
tiba-tiba Aga memergoki kami sedang berdua di kamar.
Namun sebelum pulang aku masih sempat menikmati bibir Dhea sekali
lagi waktu berdiri di samping pintu. Aku malah sempat menekan tubuh Dhea
hingga punggungnya bersandar di dinding. Kesempatan ini aku gunakan
untuk menekan kejantananku yang sedari tadi butuh penyaluran ke
selangkangannya. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena situasinya
memang tidak memungkinkan.
Di kantor.., di rumah.. aku selalu gelisah. Kejantananku senantiasa
menegang membayangkan apa yang telah dan akan aku lakukan terhadap Dhea
nanti.
Keesokan harinya, disaat aku menunggu tibanya saat bertemu, aku
merasa waktu berjalan begitu lambat. Hingga pukul 5 sore, seperti waktu
yang telah kami sepakati kemarin, aku sedang menanti-nanti telepon dari
Dhea.
Aku mulai gelisah ketika 15 menit telah lewat, namun Dhea belum juga
meneleponku. Aku mulai menghitung detik-detik yang berlalu hingga hampir
setengah jam, dan tiba-tiba handphoneku berbunyi. Seketika aku
mengangkat telepon itu. Dari seberang sana aku mendengar suara Dhea yang
sangat aku nanti-nantikan.
Dhea meminta maaf sebelumnya, karena kesibukannya hari itu tidak
memungkinkan baginya untuk pulang dari kantor lebih awal. Banyak
pekerjaannya yang menumpuk, karena kemarin ia tidak masuk ke kantor.
Saat itu ia memintaku untuk menjemputnya di sebuah wartel dekat
pertigaan di seberang kantornya. Aku langsung menyambar kunci mobil,
lalu keluar dari kantorku dan bergegas menuju wartel tempat di mana Dhea
sedang menungguku.
Aku memarkir mobil di depan wartel itu, dan tak lama berselang aku
melihat Dhea keluar dari wartel, dengan memakai kaos ketat warna orange
bertuliskan Mickey Mouse (tokoh favoritnya) di bagian dadanya, dipadukan
celana jeans warna abu-abu.
Blazer kerjanya telah ia lepas, dan ditenteng bersama tas kerjanya.
Aku masih ingat, ia memang selalu tampil ke kantor dengan pakaian casual
setiap hari Jum’at. Dhea langsung naik ke atas mobilku, setelah
memastikan tidak ada orang lain yang mengenalinya di tempat itu.
Aku tersenyum memandangnya. Dhea kelihatan begitu cantik hari ini.
Bibirnya tidak dipoles dengan lipstik merah seperti biasanya. Ia hanya
menyapukan lipsgloss tipis, yang membuat jantungku semakin deg-degan.
Aku segera menancap gas menuju tol ke arah Ancol.
Selama di perjalanan, aku dan Dhea bercerita tentang berbagai hal,
termasuk Aga dan kehidupan keluargaku. Sesampainya di Ancol aku mengajak
Dhea untuk makan di sebuah rumah makan di tepi laut yang nuansa
romantisnya sangat terasa.
Tanpa canggung lagi aku memeluk pinggang Dhea, pada saat kami
memasuki rumah makan tersebut. Dhea juga melingkarkan tangannya di
pinggangku. Setelah memesan makanan dan minuman, aku memeluknya lagi.
Tanganku bergerilya di sekitar pinggangnya yang terbuka. Suasana
lesehan di rumah makan itu, yang ruangannya disekat-sekat menjadi
beberapa tempat dengan pembatas dinding bilik yang cukup tinggi, membuat
aku bisa bertindak leluasa kepada Dhea.
“Tadi malam mimpi lagi, nggak?”, tanyanya memecah keheningan.
“Nggak, tapi aku sempat gelisah nggak bisa tidur karena terus membayangkanmu”, jawabku tanpa malu-malu.
Dhea tertawa, sambil tangannya mencubit pinggangku. Hari sudah
menjelang malam ketika kami meninggalkan tempat itu. Setelah
berputar-putar di sekitar lokasi pantai, akhirnya aku memutuskan untuk
menyewa sebuah kamar pada sebuah cottages di kawasan Ancol.
Semula Dhea menolak, karena dia takut kalau kami tidak bisa menahan
diri. Aku akhirnya meyakinkan Dhea bahwa sebenarnya aku cuma ingin
berdua saja dengannya, sambil memeluk tubuhnya, itu saja.
Akhirnya Dhea mengalah. Ketika kami telah berada di dalam kamar
cottages itu, Dhea tampak jadi pendiam. Dia duduk di atas kursi
memandang ke arah laut, sementara aku rebahan di atas tempat tidur.
Aku mencoba mencairkan suasana, dengan kembali bertanya mengenai
kesibukan pekerjaannya hari itu. Selama aku bertanya kepadanya, ia cuma
menjawab singkat dengan kata-kata iya dan tidak. Hanya itu yang keluar
dari mulutnya.
“Mas, pasti kamu menganggap aku cewek murahan, yaa.. kan?”, akhirnya
Dhea mau mulai membuka pembicaraan juga. Ternyata, dengan mengingat
statusnya saat ini sebagai tunangan Aga, Dhea masih belum bisa menerima
perlakuanku yang membawanya ke dalam cottages ini.
Namun aku tidak menyesal karena dalam pikiranku sebenarnya dia sudah
tahu apa yang akan terjadi, sejak kejadian kemarin siang di kamarnya.
Tinggal bagaimana caranya aku bisa mengajaknya bercinta tanpa ada
pemaksaan sedikitpun.
“Santi, aku sudah bilang sejak kemarin kalau aku ingin berduaan saja
bersamamu, sebelum Aga benar-enar menikahi kamu. Aku hanya ingin
memelukmu tanpa ada rasa takut, itu saja. Dan aku rasa di sinilah
tempatnya”, jawabku mencoba memberikan pengertian kepadanya.
“Tetapi, apa Mas sanggup untuk tidak melakukan yang lebih dari itu?”, Dhea menatapku dengan sorotan mata tajam.
“Kalau kamu gimana?”, aku malah balik bertanya.
“Aku tanyam, kok malah balik nanya ke aku sih?”, ia bertanya dengan nada agak ketus.
“Aku sanggup, Santi”, tegasku.
Akhirnya dia tersenyum juga. Dhea lalu berjalan ke arahku menuju
tempat tidur lalu duduk di sampingku. Aku lalu merangkul tubuhnya dan
membaringkan tubuhnya di atas kasur.
“Janji ya, Mas..!”, ujarnya lagi. Aku mengangguk.
Kini aku memeluk tubuh indah Dhea dengan posisi menyamping, sedang
Dhea rebah menghadap ke atas langit-langit kamar. Aku mencium pipinya,
sambil jemariku membelai-belai bagian belakang telinganya.
Matanya terpejam seolah menikmati usapan tanganku. Aku memandangi
wajahnya yang manis, hidungnya yang mancung, lalu bibirnya. Aku tidak
tahan untuk berlama-lama menunggu, sehingga akhirnya aku memberanikan
diri untuk mencium bibirnya.
Aku melumat bibir tipis itu dengan mesra, lalu aku mulai menjulurkan
lidahku ke dalam mulutnya. Mulutnya terbuka perlahan menerima lidahku.
Cukup lama aku mempermainkan lidahku di dalam mulutnya. Lidahnya begitu
agresif menanggapi permainan lidahku, sampai-sampai nafas kami berdua
menjadi tersengal-sengal tidak beraturan.
Sesaat kemudian, ciuman kami terhenti untuk menarik nafas, lalu kami
mulai berpagutan lagi.. dan lagi.. Tangan kiriku yang bebas untuk
melakukan sesuatu terhadap Dhea, kini mulai aku aktifkan. Aku membelai,
meremasi pangkal lengannya yang terbuka.
Aku membuka telapak tanganku, sehingga jempolku bisa menggapai
permukaan dadanya sambil tetap membelai lembut pangkal lengannya.
Bibirku kini turun menyapu kulit putih di lehernya seiring telapak
tanganku meraup bukit indah payudaranya.
Dhea menggeliat bagai cacing kepanasan terkena terik mentari. Suara
rintihan berulang kali keluar dari mulutnya, disaat lidahku menjulur,
menjilat, membasahi, menikmati batang lehernya yang jenjang.
“Mas, jangan..!”, Dhea mencoba menarik telapak tanganku yang kini
sedang mereMas, menggelitik payudaranya. Aku tidak peduli lagi. Lagi
pula dia juga tampaknya tidak sungguh-sungguh untuk melarangku.
Hanya mulutnya saja yang seolah melarang, sementara tangannya cuma
sebatas memegang pergelangan tanganku, sambil tetap membiarkan telapak
tanganku terus mengelus dan meremas buah dadanya yang mulai mengeras
membusung.
Suasana angin pantai yang dingin di luar sana, sangat kontras dengan
keadaan di dalam kamar tempat kami bergumul. Aku dan Dhea mulai merasa
kegerahan. Aku akhirnya membuka kaosku sehingga bertelanjang dada.
“Santi, Mas sangat ingin melihat payudaramu, ‘yang..”, ujarku sambil
mengusap bagian puncak puting payudaranya yang menonjol. Dhea kembali
menatapku tajam. Mestinya aku tidak perlu memohon kepadanya karena saat
itupun aku sudah membelai dan meremas-remas payudaranya.
Tetapi entah mengapa aku lebih suka jika Dhea yang membuka kaosnya sendiri untukku.
“Tapi janji Mas yaa.., cuma yang ini aja”, katanya lagi. Aku cuma
mengangguk, padahal aku tidak tahu apa yang mesti aku janjikan lagi.
Dhea akhirnya membuka kaos ketat warna orange-nya di depan mataku.
Aku terkagum-kagum ketika menatap dua gundukan daging di dadanya, yang
masih tertutup oleh sebuah berwarna bra berwarna hitam.
Payudara itu begitu membusung, menantang. Bukit-bukit di dada Dhea
naik turun seiring dengan desah nafasnya yang memburu. Sambil berbaring
Dhea membuka pengait bra di punggungnya. Punggungnya melengkung indah.
Aku menahan tangan Dhea ketika dia mencoba untuk menurunkan tali
bra-nya dari atas pundaknya. Justru dengan keadaan bra-nya yang longgar
karena tanpa pengait seperti itu, membuat payudaranya semakin menantang.
Payudaranya sangat putih kontras dengan warna bra-nya, sangat terawat
dan sangat kencang, seperti yang selama ini selalu aku bayang-bayangkan.
“Payudaramu masih tetap bagus sekali. Santi, kamu pintar merawat, yaa..”, aku mencoba mengungkapkan keindahan pada tubuhnya.
“Pantes si Aga jadi tergila-gila sama dia,”, pikirku.
Lalu, perlahan-lahan aku menarik turun cup bra-nya. Mata Dhea
terpejam. Perhatianku terfokus ke puting susunya yang berwarna merah
kecoklatan. Lingkarannya tidak begitu besar, namun ujung-ujung puncaknya
begitu runcing dan kaku. Aku mengusap putingnya lalu aku memilin dengan
jemariku. Dhea mendesah. Mulutku turun ingin mencicipi payudaranya.
“Egkhh..”, rintih Dhea ketika mulutku melumat puting susunya. Aku
mempermainkan dengan lidah dan gigiku. Sekali-sekali aku menggigit
lembut putingnya, lalu aku hisap kuat-kuat sehingga membuat Dhea
menarik, menjambak rambutku.
Puas menikmati buah dada yang sebelah kiri, aku mencium buah dada
Dhea yang satunya, yang belum sempat aku nikmati. Rintihan-rintihan dan
desahan kenikmatan silih berganti keluar dari mulut Dhea. Sambil
menciumi payudara Dhea, tanganku turun membelai perutnya yang datar,
berhenti sejenak di pusarnya lalu perlahan turun mengitari lembah di
bawah perut Dhea.
Aku membelai pahanya sebelah dalam terlebih dahulu sebelum aku
memutuskan untuk meraba bagian kewanitaannya yang masih tertutup oleh
celana jeans ketat yang dikenakan Dhea. Secara tiba-tiba, aku
menghentikan kegiatanku, lalu berdiri di samping ranjang.
Dhea tertegun sejenak memandangku, lalu matanya terpejam kembali
ketika aku membuka pantalon warna hitam yang aku kenakan. Sengaja aku
membiarkan lampu kamar cottage itu menyala terang, agar aku bisa melihat
secara jelas detil dari setiap inci tubuh Dhea yang selama ini sering
aku jadikan fantasi seksualku.
Aku masih berdiri sambil memandang tubuh Dhea yang tergolek di
ranjang, menantang. Kulitnya yang putih membuat mataku tak jemu
memandang. Perutnya begitu datar. Celana jeans ketat yang dipakainya
telihat terlalu longgar pada pinggangnya namun pada bagian pinggulnya
begitu pas untuk menunjukkan lekukan pantatnya yang sempurna.
Puas memandangi tubuh Dhea, lalu aku membaringkan tubuhku di
sampingnya. Aku merapikan untaian rambut yang menutupi beberapa bagian
pada permukaan wajah dan leher Dhea. Aku membelai lagi payudaranya.
Aku mencium bibirnya sambil aku masukkan air liurku ke dalam
mulutnya. Dhea menelannya. Tanganku turun ke bagian perut lalu menerobos
masuk melalui pinggang celana jeans-nya yang memang agak longgar.
Jemariku bergerak lincah mengusap dan membelai selangkangan Dhea yang
masih tertutup celana dalamnya. Dhea menahan tanganku, ketika jari
tengah tanganku membelai permukaan celana dalamnya tepat diatas
kewanitaannya.
Dia telah basah.. Aku terus mempermainkan jari tengahku untuk
menggelitik bagian yang paling pribadi pada tubuh Dhea. Pinggul Dhea
perlahan bergerak ke kiri.., ke kanan.. dan sesekali bergoyang untuk
menetralisir ketegangan yang dialaminya.
“Mas, nanti kita terlalu jauh, Mas..”, ujarnya perlahan sambil
menatap sayu ke arahku. Matanya yang sayu ditambah dengan rangsangan
yang tengah dialaminya, menambah redup bola matanya. Sungguh, aku
semakin bernafsu melihatnya. Aku menggeleng lalu tersenyum, bahkan aku
malah menyuruh Dhea untuk membuka celana jeans yang dipakainya.
Tangan kanan Dhea berhenti pada permukaan kancing celananya. Ia
kelihatan ragu-ragu. Aku lalu berbisik mesra ke telinganya, kalau aku
ingin memeluknya dalam keadaan telanjang seperti yang selama ini
senantiasa aku mimpikan.
Dhea lalu membuka kancing dan menurunkan reitsliting celana
jeans-nya. Celana dalam hitam yang dikenakannya begitu mini sehingga
rambut-rambut pubis yang tumbuh di sekitar kewanitaannya hampir sebagian
keluar dari pinggir celana dalamnya.
Aku membantu menarik turun celana jeans Dhea. Pinggulnya agak
dinaikkan ketika aku agak kesusahan menarik celana jeans itu. Posisi
kami kini sama-sama tinggal mengenakan celana dalam. Tubuhnya tampak
semakin seksi saja. Pahanya begitu mulus. Memang harus aku akui tubuhnya
begitu menarik dan memikat, penuh dengan sex appeal.
Dhea menarik selimut untuk menutupi permukaan tubuhnya. Aku beringsut
masuk ke dalam selimut lalu memeluk erat tubuh Dhea. Kami berpelukan.
Aku menarik tangan kirinya untuk menyentuh kepala kejantananku.
Dia tampak terkejut ketika mendapatkan kejantananku yang tanpa
penutup lagi. Memang, sebelum aku masuk ke dalam selimut, aku sempat
melepaskan celana dalamku tanpa sepengetahuan Dhea. Aku tersenyum nakal.
“Occhh..”, Dhea semakin kaget ketika tangannya menyentuh kejantananku yang telah tegak menegang.
“Kenapa, Santi?”, aku bertanya pura-pura tidak mengerti. Padahal aku
tahu dia pasti terkejut karena merasakan betapa telah kuat dan kokohnya
kejantananku saat ini. Dhea tersenyum malu. Sentuhan kejantananku di
tangannya membuat Dhea merasa malu, tetapi hati kecilnya mau, ditambah
sedikit rasa takut, mungkin.. Kini, Dhea mulai berani membelai dan
menggenggam kejantananku. Belaiannya begitu mantap menandakan Dhea
begitu piawai dalam urusan yang satu ini.
“Tangan kamu semakin pintar yaa.., Santi”, ujarku sambil memandang
tangannya yang mulai mengocok-ngocok lembut sekujur kejantananku.
“Ya, mesti dong..,’kan Mas yang dulu ngajarin Santi!”, jawabnya sambil cekikikan.
Mendapat jawaban pertanyaan seperti itu, entah mengenapa hasrat
birahiku tiba-tiba menjadi semakin liar. Namun aku tetap berusaha
bertahan untuk sementara waktu, sebelum aku merasakan ia benar-benar
siap untuk berpaducinta denganku.
Sambil meresapi kenikmatan usapan-usapan yang aku rasakan di
sepanjang kulit batang kejantananku, jari-jemariku yang nakal mulai
masuk dari samping celah celana dalam Dhea. Telapak tanganku langsung
menyentuh bibir kewanitaannya yang sudah merekah basah. Jari telunjukku
membelai-belai sejumput daging kecil di dalam lepitan celahnya, sehingga
Dheapun semakin merasakan nikmat semata.
“Kamu mau mencium kejantananku nggak, Santi?”, tanyaku tanpa malu-malu lagi.
Dhea tertawa sambil mencubit batang kejantananku. Aku meringis.
“Kalau punya Mas yang sekarang, kayaknya Santi nggak bisa?”, ujarnya.
“Kenapa memangnya, apa bedanya punya Mas yang dulu dengan yang sekarang?”, tanyaku penasaran.
“Yang sekarang kayaknya nggak muat di mulutku, soalnya rasanya tambah
besar dari yang dulu..”, selesai berkata demikian Dhea langsung tertawa
kecil.
“Kalau yang dibawah, gimana?”, tanyaku lagi sambil menusukkan jari tengahku ke dalam lubang kewanitaannya.
Dhea merintih sambil menahan tanganku. Tetapi jariku sudah terlanjur
tenggelam ke dalam liang senggamanya. Aku merasakan liang kewanitaannya
berdenyut menjepit jariku. Oooch.., pasti nikmat sekali kalau saja
kejantananku yang diurut, pikirku. Tiba-tiba, matanya memandang tajam ke
arahku, dengan muka yang agak berkerut masam.
“Kenapa, Santi, ada apa ‘yang?”, aku bertanya sambil menarik tanganku dari liang kewanitaannya.
Aku tahu dia marah, tetapi apa sebabnya..?
“Anak ini, kok aneh banget, jual mahal lagi”, pikirku. “..atau dia
ingat Aga, sehingga tiba-tiba ia merasa bersalah?” “..terus ngapain dia
mau aku cumbu sejak kemarin?”, aku masih penasaran dengan sikapnya yang
tiba-tiba berubah.
“Mas ‘kan sudah janji untuk tidak melakukannya, ‘kan?”, tiba-tiba Dhea berbicara. Aku terdiam.
“Aku tadinya nggak mau kita masuk ke kamar ini, karena aku takut kita
nggak bisa menahan keinginan untuk melakukannya lagi, Mas”, tambahnya
memberikan pengarahan kepadaku.
“Bagaimanapun juga khusus untuk yang satu ini, Santi tidak dapat
memberikan buat Mas lagi. Bukan hanya Mas yang nggak tahan, aku juga
sebenarnya sudah nggak tahan.. Aku nggak munafik, Mas. Tapi.. kumohon,
please.. Mas mau mengerti posisiku sekarang”, sambil berkata demikian
Dhea mencium keningku.
Aku tidak tahu harus berbuat apa saat itu. Dalam posisi yang sudah
sama-sama telanjang, kecuali Dhea yang masih mengenakan celana dalamnya,
berdua di dalam sebuah kamar di tepi laut yang romantis, dapat
dibayangkan apa sebenarnya yang bakal terjadi.
Tetapi kali ini tidaklah demikian. Bayanganku tentang kenikmatan saat
bercinta dengan Dhea sirna sudah, atau setidaknya tidak dapat aku
rasakan saat ini. Tapi sampai kapan? Aku jadi berpikiran untuk
memaksanya saja melakukan persetubuhan, tetapi hal itu bertentangan
dengan hati nuraniku. Akhirnya aku cuma bisa pasrah dan diam.
Kejantananku yang tadi aku rasakan telah tegang menantang, tiba-tiba
menjadi lemas dalam genggaman tangan Dhea. Dhea meminta maaf kepadaku,
menyadari kalau aku kecewa dengan pernyataannya. Aku merasa sudah tidak
mungkin bisa untuk melanjutkan permainan cinta lagi. Aku akhirnya
meminta ijin kepada Dhea untuk mandi. Sungguh,.. aku merasa kecewa
sekali.
Di dalam kamar mandi, aku lama terdiam. Aku memandang tubuhku di
depan cermin. Kemudian aku guyur tubuhku dengan air yang mengalir deras
dari shower di atas kepalaku.
Aku ingin mendinginkan suhu tubuhku. Tiba-tiba, aku merasakan ada
orang lain yang memelukku dari arah belakang. Aku terkejut, namun cuma
sesaat setelah menyadari, ternyata Dhealah yang ada di belakangku. Dia
tersenyum memandangku.
“Ecchh.. kamu Santi, jangan deket-deket acchh.., aku masih kesel
nih!!”, gumamku berpura-pura sambil mencoba membalas senyumannya.
“Aku ingin mandi bersamamu, Mas,.. boleh?”, pintanya manja.
Aku tidak menjawab permintaannya. Aku langsung menarik tubuhnya untuk
berhadapan denganku. Masih di bawah guyuran air yang mengalir dari
shower, aku menangkap lengannya, lalu memandang tajam ke arahnya.
Berulang kali tanganku mencoba mengusap wajah cantik sensualnya dari
guyuran air. Rambutnya yang basah semakin menambah keerotisan wajahnya.
Dengan perlahan tanganku menangkap payudaranya dan mengusap, meremas
kuat. Dhea meringis. Bukannya melarang, Dhea malah mengambil sabun, dan
mulai menyabuni tubuhku. Mula-mula dari dada, ke belakang punggung lalu
menuju ke bawah, ke batang kejantananku.
Aku merasa aneh atas sikapnya yang berubah-ubah dan suka menggoda.
Diusapnya lembut batang kejantananku yang sedikit demi sedikit mulai
mengeras kembali. Tangannya yang penuh dengan busa sabun, begitu lembut
mengocok batang kejantananku sehingga aku merasa sangat nikmat.
Aku tidak tinggal diam, aku membalas menyabuni sekujur tubuh Dhea.
Aku mengikuti setiap gerakan yang dibuatnya terhadap tubuhku lalu aku
mempraktekkan kepadanya. Aku membalikkan tubuh Dhea, sehingga kini ia
membelakangiku.
Sengaja aku memposisikan tubuhnya berada di depanku, agar aku dapat
melihat bagian depan tubuhnya pada permukaan cermin di depannya. Aku
melihat ekspressi wajah Dhea pada permukaan cermin.
Mata kami beradu pandang, sementara tanganku membelai-belai
payudaranya yang mulai mengeras. Aku mempermainkan puncak-puncak
putungnya dengan jemariku, sementara tanganku yang satunya mulai meraba
bulu-bulu lebat di sekitar liang kewanitaan Dhea.
Dengan sedikit membungkukkan tubuh, aku meraba permukaan bibir
kewanitaan Dhea. Jari tengahku mempermainkan klitorisnya yang mengeras
terkena siraman air. Batang kejantananku yang kini sudah siap tempur,
berada dalam genggaman tangan Dhea.
Sementara aku merasakan, celah kewanitaan Dhea juga sudah mulai
mengeluarkan cairan cinta yang meleleh melewati jemari tanganku yang
kini sedang menyusuri lorong di dalamnya.
Aku membalikkan tubuh Dhea kembali, sehingga kini posisinya
berhadap-hadapan denganku. Aku memeluk tubuh Dhea sehingga batang
kejantananku menyentuh pusarnya. Tanganku membelai punggungnya, lalu
turun meraba bukit-bukit pantatnya yang membulat indah.
Dhea membalas pelukanku dengan melingkarkan tangannya di pundakku.
Kedua telapak tanganku meraih pantat Dhea. Aku meremas dengan sedikit
agak kasar, lalu aku mengangkat agak ke atas, agar batang kejantananku
berada tepat di depan gerbang kewanitaannya.
Kaki Dhea kini tak lagi menyentuh permukaan lantai kamar mandi. Kaki
Dhea dengan sendirinya mengangkang ketika aku mengangkat pantatnya.
Meski agak susah namun aku tetap berusaha agar batang kejantananku bisa
masuk merasakan jepitan liang kewanitaan Dhea.
Aku merasakan kepala kejantananku sudah menyentuh bibir kewanitaan
Dhea. Aku menekan perlahan, seiring dengan menarik buah pantatnya ke
arah tubuhku. Dhea menggeliat. Aku merasa kesulitan untuk memasukkan
batang batang kejantananku ke dalam liang kewanitaan Dhea, karena
kejantananku yang terus-terusan basah terkena air shower.
Akhirnya, aku mengangkat tubuh Dhea ke luar dari kamar mandi.
Bagaimanapun juga aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, apalagi
terbukti tadi, Dhea hanya diam saja ketika aku berusaha menyusupkan
batang kejantananku ke liang senggamanya.
Pada saat aku membawanya menuju tempat tidur, Dhea melingkarkan kedua
kakinya di pinggangku. Aku membaringkan tubuhnya di atas kasur. Lalu,
denhan hati-hati tubuhku menyusul menimpa ke atas tubuhnya. Kami tidak
mempedulikan butiran-butiran air yang masih menempel di sekujur tubuh
kami, sehingga membasahi permukaan kasur.
Aku menciumi lagi lehernya yang jenjang lalu turun melumat puting
payudaranya. Telapak tanganku terus membelai dan meremasi setiap lekuk
dan tonjolan tubuh Dhea. Aku kembali melebarkan kedua pahanya, sambil
mengarahkan batang kejantananku ke bibir kewanitaan Dhea.
Dhea mengerang lirih. Matanya perlahan terpejam. Giginya menggigit
bibir bawahnya untuk menahan laju birahinya yang semakin kuat. Aku
menatap mata Dhea penuh hasrat nafsu. Bola matanya seakan memohon
kepadaku untuk segera memasuki tubuhnya.
“Aku ingin bercinta denganmu, Santi”, bisikku pelan, sementara kepala
kejantananku masih menempel di belahan liang kewanitaan Dhea.
Kata-kataku yang terakhir ini ternyata membuat wajah Dhea memerah.
Mungkin, ketika bersama Aga, dia jarang mendengar permintaan yang
terlalu to the point begitu. Aku bisa memastikan, Dhea agak malu
mendengarnya.
Aku berhenti sesaat untuk menunggu jawaban permohonanku kepadanya,
karena bagaimana pun aku tidak mau melakukan persetubuhan tanpa
memperoleh persetujuan darinya. Aku bukan tipe laki-laki yang demikian.
Bagiku berpaducinta adalah kesepakatan, sepakat berdasarkan kesadaran
tanpa adanya unsur pemaksaan. Dhea menatapku sendu lalu mengangguk
pelan sebelum memejamkan matanya. Bukan main rasa senangnya hatiku.
Akhirnya.. “..yes!”. Aku berjanji akan memperlakukannya dengan hati-hati
sekali, begitu yang ada dalam fikiranku.
Kini aku berkonsentrasi penuh dengan menuntun batang kejantananku
yang perlahan mulai menyusup melesak ke dalam liang kewanitaan Dhea.
Mula-mula terasa seret memang, namun aku malah semakin menyukainya.
Perlahan namun pasti, kepala kejantananku membelah liang
kewanitaannya yang ternyata begitu kencang menjepit batang kejantananku.
Dinding dalam kewanitaan Dhea ternyata sudah begitu licin, sehingga
agak memudahkan kejantananku untuk menyusup lebih ke dalam lagi. Dhea
memeluk erat tubuhku sambil membenamkan kuku-kukunya di punggungku,
hingga aku agak kesakitan. Namun aku tak peduli.
“Mas, gede banget, occhh..”, Dhea menjerit lirih. Tangannya turun menangkap batang kejantananku.
“Pelan maas..”, ujarnya berulang kali, padahal aku merasa aku sudah
melakukannya dengan begitu pelan dan hati-hati. Mungkin karena lubang
kewanitaannya tidak pernah lagi dimasuki batang kemaluan seperti milikku
ini. Soalnya aku tahu pasti ukuran kejantanan Aga, pacar Dhea tidaklah
sebesar yang aku miliki. Makanya Dhea agak merasa kesakitan.
Akhirnya batang kejantananku terbenam juga di dalam kewanitaan Dhea.
Aku berhenti sejenak untuk menikmati denyutan-denyutan yang timbul
akibat kontraksi otot-otot dinding kewanitaan Dhea.
Denyutan itu begitu kuat, sampai-sampai aku memejamkan mata untuk
merasakan kenikmatan yang begitu sempurna. Aku melumat bibir Dhea sambil
perlahan-lahan menarik batang kejantananku,.. untuk selanjutnya aku
benamkan lagi, masuk.., keluar.., masuk.., keluar..
Aku meminta Dhea untuk membuka kelopak matanya. Dhea menurut. Aku
sangat senang melihat matanya yang semakin sayu menikmati batang
kejantananku yang keluar masuk di dalam kewanitaannya.
“Aku suka kewanitaanmu, Santi, kewanitaanmu masih tetap rapet,
‘yang”, ujarku sambil merintih keenakan. Sungguh, liang kewanitaan Dhea
masih terasa enak sekali.
“Icchh.. Mas ngomongnya sekarang vulgar banget”, balasnya sambil tersipu malu, lalu ia mencubit pinggangku.
“Tapi enak ‘kan, ‘yang?”, tanyaku, yang dijawab Dhea dengan sebuah anggukan kecil.
Aku meminta Dhea untuk menggoyangkan pinggulnya. Dhea langsung
mengimbangi gerakanku yang naik turun dengan goyangan memutar pada
pinggangnya.
“Suka batang kejantananku, Santi?”, tanyaku lagi. Dhea hanya
tersenyum. Batang kejantananku terasa seperti diremas-reMas. Masih
ditambah lagi dengan jepitan liang senggamanya yang sepertinya punya
kekuatan magis untuk menyedot meluluh lantakkan otot-otot kejantananku.
“Makin pintar saja dia menggoyang”, batinku dalam hati.
“Occhh..”, aku menjerit panjang. Rasanya begitu nikmat. Aku mencoba
mengangkat dadaku, membuat jarak dengan dadanya, dengan bertumpu pada
kedua tanganku. Dengan demikian aku semakin bebas dan leluasa untuk
mengeluar-masukkan batang kejantananku ke dalam liang senggama Dhea.
Aku memperhatikan dengan seksama kejantananku yang keluar masuk
lincah di sana. Dengan posisi seperti ini aku merasa begitu jantan. Dhea
semakin melebarkan kedua pahanya, sementara tangannya melingkar erat di
pinggangku. Gerakan naik turunku semakin cepat mengimbangi goyangan
pinggul Dhea yang semakin tidak terkendali.
“Santii.. enak banget, ‘yang, kamu makin pintar, ‘yang..”, ucapku merasa keenakan.
“Kamu juga, Mas.., Santi juga enakk..”, , jawabnya agak malu-malu.
Dhea merintih dan mengeluarkan erangan-erangan kenikmatan. Berulang
kali mulutnya mengeluarkan kata-kata, “aduh..occhh..”, yang diucapkan
terputus-putus. Aku merasakan liang senggama Dhea semakin berdenyut
sebagai pertanda Dhea akan mencapai puncak pendakiannya.
Aku juga merasakan hal yang sama dengannya. Namun aku mencoba
bertahan dengan menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya
pelan-pelan, untuk menurunkan daya rangsangan yang aku alami. Aku tidak
ingin segera menyudahi permainan ini dengan tergesa-gesa.
Aku mempercepat goyanganku ketika aku menyadari Dhea hampir mencapai
orgasmenya. Aku meremas payudaranya kuat-kuat, seraya mulutku menghisap
dan menggigiti puting susu Dhea. Aku menghisap dalam-dalam.
“Occhh.. Mas..”, jerit Dhea panjang.
Aku membenamkan batang kejantananku kuat-kuat ke liang senggamanya
hingga mencapai dasar rongga yang terdalam. Dhea mendapatkan kenikmatan
yang sempurna. Tubuhnya melengkung indah dan untuk beberapa saat lamanya
tubuhnya mengejang. Kepalaku ditarik kuat-kuat hingga terbenam di
antara dua bukit payudaranya. Pada saat tubuhnya menghentak-hentak,
ternyata aku merasa tidak sanggup lagi untuk bertahan lebih lama.
“Saanntii.. aakuu.. mau keluaarr.. saayang.. occhh.. hh..”, jeritku.
Aku ingin menarik keluar batang kejantananku dari dalam liang
senggamanya. Namun Dhea masih ingin tetap merasakan orgasmenya, sehingga
tubuhku serasa dikunci oleh kakinya yang melingkar di pinggangku.
Saat itu juga aku merasa hampir saja memuntahkan cairan hangat dari
ujung kejantananku yang hampir meledak. Aku merasakan tubuhku bagaikan
layang-layang putus yang melayang terbang, tidak berbobot. Aku tidak
sempat menarik keluar batang kejantananku lagi, karena secara spontan
Dhea juga menarik pantatku kuat ke tubuhnya, berulang kali.
Mulutku yang berada di belahan dada Dhea menghisap kuat kulit
putihnya, sehingga meninggalkan bekas merah pada disana. Telapak
tanganku mencengkram buah dada Dhea. Aku meraup semuanya, sampai-sampai
Dhea merasa agak kesakitan.
Aku tak peduli lagi. Hingga akhirnya.. plash.. plash.. plash.. (8X),
spermaku akhirnya muncrat membasahi lubang sorganya. Aku merasakan
nikmat yang tiada duanya ditambah dengan goyangan pinggul Dhea pada saat
aku mengalami orgasme.
Tubuhku akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuh Dhea. Batang
kejantananku masih berada di dalam liang kenikmatan Dhea. Dhea
mengusap-usap permukaan punggungku.
“Kamu menyesal, Santi?”, ujarku sambil mencium pipinya. Dhea
menggeleng pelan sambil membalas membelai rambutku. Aku tersenyum
kepadanya. Dhea membalas.
Aku meyandarkan kepalaku di dadanya. Jam telah menunjukkan pukul
21:00 dan aku mesti cepat pulang ke rumah, karena tadi aku tidak sempat
membuat alasan untuk pulang terlambat. Begitu pula dengan Dhea, yang
saat itu telah memiliki kebiasan baru selayaknya calon pasangan suami
istri, yaitu makan malam bersama Aga di rumah kost mereka.