Terlebih dulu aku perkenalkan diriku namaku wawan biasa dipanggill asek
atau kepanjangan dari anak sex dalam forumj blueporn, aku bekerja
sebagai karyawan di sebuah eksport import di salah satu perusahaan yang
ada di Jakarta, diman jabatanku yang sekarang membuat iri teman rekan
kerja di kantor.
Dalam umur 27 tahun saya sudah menjabat kedudukan sebagai Direktur
utama di perusahaan tersebut. Mesipun demikian, saya masih tak ingin
mencari calon istri. Saya masih ingin merasakan kehidupan saya sebagai
laki laki lajang yang sukses dengan segala apa yang saya miliki. Segala
yang saya inginkan dapat dengan mudah saya miliki.
Saya tinggal disebuah perumahan yang cukup elite untuk warga Jakarta yang mengetahuinya. Menteng.
Sesehari dirumah hanya di temani oleh 2 pembantu yang mengurusi segala kebutuhan saya sehari hari.
Pengalaman sex ini saya dapatkan ketika saya mencari seorang
sekretaris untuk membantu saya dalam menyelesaikan pekerjaan saya di
perusahaan tersebut.
Mungkin kriteria saya dalam memilih seorang sekretaris sama dengan
banyak laki laki lajang pada umumnya di kota jakarta ini. Kecantikan
adalah utama, kulit putih bersih, paras yang ayu, serta mungkin
kemolekan atas lekuk tubuhnya.
“Iya… masuk.” Terdengar ketukan diluar pintu ruangan saya.
“Maaf pak. Apakah bapak mau memulai untuk menyeleksi calon sekretaris.”
“Hmmm… suruh masuk.” Perintah Wawan tanpa menoleh kepada bawahannya.
Beberapa saat kemudian terdengar kembali suara ketukan di pintu ruangan tersebut.
“Masuk…”
“Siang pak…”
“Hmmm… silahkan perkenalkan siapa kamu.” Sahut Wawan tanpa terlalu
memperdulikan kehadiran calon pelamar tersebut di hadapannya yang masih
berdiri. Saat itu Wawan memang sedang asik membaca berita berita fresh
news di Forum kecintaannya di Bluefame.com.
“Tolong sebutkan nama kamu… umur kamu… sekarang kamu tinggal dimana…
dan apa pendidikan terakhir kamu serta dari universitas mana.” Tanya
kembali Wawan yang tak memperdulikan wanita yang kini duduk di depan
mejanya.
“Nama saya Tiya Pradipta, saat ini saya berusia 21 tahun. Saya
tinggal di perumahan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Saya merupakan
Lulusan D3 jurusan sekretaris pada universitas Swasta Trisakti.” Jawab
Tiya dengan lancar tanpa merasa gugup bila sedang interview.
Saat itu Tiya mengenakan baju yang sungguh menawan. Blazer hitam
dipadu kemben putih tanpa memakai Bra yang menahan buah dada yang
berukuran 36B hingga terlihat jelas sekali terbentuk puting susunya pada
pakainannya.
Rok ketat pendek yang memamerkan kemulusan kulit pahanya yang putih,
seakan memancing setiap tangan untuk menjamah serta merasakan
kehalusannya. Dengan postur tubuh sekitar 170 cm yang cukup tinggi bagi
wanita seperti Tiya.
Terkadang banyak sahabatnya yang bertanya kepadanya, mengapa ia lebih
memilih untuk menjadi seorang sekretaris dibandingkan menjadi seorang
model karena Tiya memiliki segala kriteria seorang model papan atas.
Paras wanita indo antara Belanda-Jawa.
Bola mata coklat dipadu dengan Rambut berombak merah bata sepunggung,
kulit putih bersih. Memiliki leher yang jenjang, dengan sedikit rambut
halus yang tumbuh di lehernya. Lekukan tubuh yang mengiurkan setiap mata
yang memandang.
Seakan akan mengundang terjangan setiap laki laki yang memandangnya
bila sedang berjalan. Memang selama ini Tiya sangat menjaga kebugaran
tubuhnya dengan erobik rutin di sebuah gym Selebritis Fitnnes dibilangan
Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Sepintas Wawan tertuguh dengan hadirnya bidadari yang berdiri
dihadapannya saat itu. Tanpa kembali memperdulikan fresh news yang
paling ia suka bila membuka forum Bluefame.com.
Tatapannya bagaikan menelanjang Tiya, menatap dan menilai setiap lekukan tubuh Tiya saat itu.
“Pak… apakah ada yang salah dengan pakaian yang sekarang saya
kenahkan. Apakah bapak kurang berkenan dengan pakaian ini.” Tutur Tiya
setelah menyadari tatapan Wawan yang menatapnya dari ujung kaki hingga
ujung rambut.
“Ooh… tidak tidak ada yang salah, hmmm… saya suka dengan penampilan
kamu… apakah kamu sudah berkeluarga saat ini.” Tanya Wawan yang ingin
mengetahui status pelamarnya saat itu.
“Belum pak… Saat ini saya ingin memfokuskan untuk karier saya, oleh
karena itu saya tidak ingin menjalin sebuah hubungan dengan siapapun.”
Jawab Tiya dengan menundukkan wajahnya menatap ke bawah karena malu atas
pertanyaan itu. Atau mungkin karena malu atas tatapan Wawan yang terus
menatapnya.
“Selain kemampuan dibidang kesektretarisan. Kamu memiliki kemampuan
apa lagi. Mungkin ini agak mengherankan, namun ini sebetulnya sangat
diperlukan sekali bagi seorang sekretaris saya.”
“Hmmm… dilain bidang kesekretarisan… mungkin saya juga bisa
memberikan sesuatu yang lebih untuk bapak… namun bila bapak juga
mengingginkannya.”
Perlahan Tiya berjalan mendekati tempat Wawan, dengan menampilkan
paras muka nakalnya Tiya membuka retsleting celana Wawan dan
mengeluarkan naga saktinya keluar dari sarangnya. Di genggamnya batang
kemaluan Wawan dengan jari jari lentiknya.
Perlahan dikocok kocok batang kemaluan itu naik turun seirama.
Sesekian detik kemudian naga yang tertidur itu terbangun dan mengeliak
dengan urat urat yang menonjol di tubuhnya.
Dengan lidah nakalnya Tiya memulai permainannya dengan menjilat
kepala kemaluan yang ia genggam itu. Memasukkan kemaluan Wawan dengan
diameter cukup besar dan panjangnya sekitar 17 – 20 sentimeter itu ke
dalam mulutnya.
Dengan lahap Tiya menelan habis batang kemaluan itu. Mengoral dengan
menaik turunkan sambil tangan sebelah kanannya membelai kantung kemenyan
Wawan.
Merasa kemaluannya sedang di oral oleh Tiya dengan nikmatnya, tangan
sebelah kanan Wawan pun turun mencari bongkahan buah surga yang
menjulang mengemaskan ke dalam genggaman tangannya yang kekar berotot
itu.
Merasa tak ingin sensasi ini terganggu, Wawan melepaskan genggaman
buah dada Tiya yang kini telah mengelantung di luar baju dalamnya dan
mengapai telphonenya serta memberitahukan bawahannya bahwa untuk saat
ini ia tak ingin diganggu serta memberitahukan bahwa ia telah menerima
Tiya sebagai sekretarisnya yang baru.
saat ini ia memberitahukan juga bahwa ia sedang memberikan tugas kepada Tiya tentang tugas tugasnya sebagai sekretarisnya.
Setelah menaruh kembali gagang telphone tersebut Wawan kembali mencari mainannya yang tadi sempat tertunda.
Kemudian Tiya melepaskan kulupannya dan menanyakan kemungkinan apakah
Wawan mengingginkan sensasi yang lebih dari permainan ini dan yang
merupakan tanda terima kasih karena ia telah diterima untuk berkerja di
perusahaan ini.
Tiya duduk di atas meja kerja Wawan dan merenggangkan kedua kakinya
tepat dihadapan Wawan yang menampilkan celana dalam putih dengan model
renda.
Menurunkan celana dalam berendanya yang membungkus lipatan gundukan
daging montok itu dihadapan Wawan yang mulai terpanah dengan pemandangan
yang kini ia saksikan.
Tak ingin berlama lama memandangnya.
Wawan langsung memendamkan kepalanya di dalam selangkangan Tiya dan
melahap harumnya liang kemaluan Tiya yang terawat itu. Ternyata selain
merawat kebugaran tubuhnya. Tiya juga tak lupa merawat liang
kewanitaannya dengan segala ramuan ramuan tradisional yang berasal dari
ibunya yang keturunan orang Jawa.
Keharuman terpancar di dalam selangkangannya, memberikan sejuta rangsangan terhadap Wawan.
“Sshhhhh…. mmmmm….” rintih Tiya mendahakkan kepalanya menatap ke atas
menikmati setiap jengkal jilatan Irawan terhadap vaginanya.
Sluup… sluup… terdengar suara jilatan Wawan yang sedang menikmati.
“Sssshhh…. Pak. Ooohh….” erang kembali Tiya saat Wawan memainkan
klitorisnya dan mengigit halus serta menekan nekan kepala Wawan tanpa
memperdulikan bahwa Wawan adalah atasannya saat itu.
Jilatan demi jilatan menjelajahi vagina Tiya, hingga tak sanggup lagi
Tiya menahan lebih lama rasa yang ingin meledak didalam dirinya.
Nafas yang makin memburu… sahut menyahut didalam ruangan yang cukup
besar itu. Beruntung ruangan Wawan kedap suara, jadi tak kwatir sampai
terdengan oleh karyawannya di luar sana.
Beberapa menit kemudian Tiya mengejang sambil mendesah keras serta
meluruskan kedua kakinya yang jenjang itu lurus tepat di belakang kepala
Wawan yang sedang terbenam menjilati bongkahan vagina Tiya.
Akhirnya Tiya mencapainya dengan keringat disekujur tubuhnya.
Meskipun ruangan tersebut Full AC namun Tiya masih merasa kepanasan di
sekujur tubuhnya saat itu. Mungkin karena pengaruh hawa nafsu yang kini
menjalar didalam dirinya atas rasa yang barukali ini ia dapatkan.
Masih dengan posisi Tiya duduk di atas mejanya. Wawan membuka seluruh
celana serta celana dalamnya dan membebaskan sepenuhnya naga sakti yang
ia banggakan itu.
Menyadari hal itu Tiya menaikan lebih tinggi Rok ketatnya hingga ke
pinggangnya yang ramping dan merenggangkan kedua pahanya yang siap akan
dinikmati oleh atasan barunya.
Wawan mengenggam batang kemaluannya dan mengosokannya diantara bibir
vagina Tiya yang telah basah bercampur liur Wawan dan mani Tiya yang
tadi keluar.
Perlahan Wawan menekan kepala kemaluannya ke dalam vagina Tiya yang
menantang ingin segera di ganjal oleh batang kemaluaan besar berurat
Wawan. Vagina yang hanya dihiasi bulu bulu halus berbentuk V diatas
liangnya. Semakin membuat gemas Wawan yang memandangnya. Dengan dibantu
Tiya yang membuka kedua pahanya semakin lebar, mempermudah kemaluan
Wawan untuk segera menerobos masuk.
“Pak… plan… pelan Pak. Sakit.” Ujar Tiya ketika merasakan mahkota
keperwanannya ini akan segera dilahap oleh atasannya. Dengan mimik muka
Tiya yang mengigit bibir sensualnya.
“Tahan sebentar yah… setelah ini kamu akan merasakan sebuah sensasi
yang tak mungkin kamu dapatkan ditempat lain selain dengan saya.
Tiya hanya mengangguk kecil kepada Wawan yang melanjutkan dorongannya
untuk segera mendobrak pintu surganya yang masih rapat tertutup itu.
Dengan kedua tangan yang memegang kedua sisi meja Wawan, Tiya menahan dorongan Wawan yang terus berusaha.
Akhirnya usahanya membuahkan hasil. Kepala kemaluannya memasuki
vagina Tiya perlahan lahan dan semakin dalam. Setelah terasa seluruh
dari batang kemaluannya masuk semua. Wawan tak langsung menariknya
kembali. Sesaat didiamkan dulu batang kemaluannya didalam vagina sempit
Tiya yang perawan itu. Menikmati remasan remasan otot vagina Tiya
terhadap batang kemaluannya.
Sensasi wajah Tiya yang menahan sakit yang dirasakan semakin membuat
Wawan semakin meluap birahinya untuk lebih lanjut menyetubuhi Tiya.
Pelan pelan Wawan menarik kembali batang kemaluannya dari dalam
vagina Tiya dan hanya menyisakan kepalanya saja dan kembali menekan
masuk terus dan berulang ulang hingga Tiya merasakan birahinya kembali
bangkit bersamaan dengan gesekan gesekan yang dibuat oleh Wawan kepada
liang kewanitaannya.
“Pak… lebih cepat dong pak dorongannya.” Ujar Tiya meminta agar Wawan semakin cepat memompa vaginanya.
Setiap tekanan yang dilakukan Wawan terhadap vagina Tiya,
mengakibatkan klitorisnya ikut tergesek dan menimbulkan sensasi nikmat
yang begitu indah.
Merasa Vagina Tiya telah dapat menerima kehadiran batang kemaluannya
yang besar ini, maka pompaan Wawan pun semakin genjar keluar masuk
kedalam vagina Tiya.
Tak terasa pergumulan ini berlangsung selama 30 menit lamanya. Hingga Tiya telah keluar sebanyak 4 kali.
“Pak… sssshhh…. please pak… nikmatnya batang kemaluan bapak ini. Trus
pak….” desah Tiya semakin mengila atas rasa yang ia dapatkan ini.
“Paaaakkk… Tiya tidak kuat lagi…. Aaakkkhhh…”
Mendengar seruhan Tiya yang sedikit lagi mencapai puncaknya, maka
Wawan pun tak ingin lebih lama lagi. Kali ini Wawan ingin mengakhiri
dengan bersama sama.
“Tahan sebentar Tiya… kita sama sama keluarinnya. Jangan dikeluarin
dulu… tahan.” Perintah Wawan yang semakin genjar memompa vagina Tiya
yang tak memperdulikan perih yang dirasakan Tiya pada bibir vaginanya
yang semakin memerah itu.
Akhirnya….
“Aaaakkkhhh… Saaaarrraaah.” Erang Wawan yang bersamaan dengan erangan
Tiya pada saat itu memanjang sambil saling berpelukan dalam dekapannya
masing masing.
Anita ( 20 tahun )
Seusai persenggamahan mereka. Tiya bergegas mengenakan seluruh
pakaiannnya dan merapikan pakaian yang agak lesuh itu karena
pergumulannya dengan Wawan atasan barunya. Tak lupa Tiya mengambil
secarik Tissue basah dari tas kecilnya dan membersihkan vaginanya dari
bekas bekas sperma yang di muncratkan Wawan didalam liang kewanitaannya.
Sepulang kerja Wawan menawarkan untuk mengantar sekretaris barunya
Tiya pulang ke rumahnya yang berada di perumahan Jatinegara Kaum,
Jakarta Timur.
Setibanya Tiya dan Wawan didepan rumahnya. Tiya dikejutkan dengan hal
yang membuat Tiya untuk meninggalkan Wawan sendiri dirumahnya bersama
dengan adiknya Anita. Kepergian Tiya yang tiba tiba itu dikarena ada
salah satu keluarganya yang sakit keras malam itu juga.
Dan Tiya tak sungkan meminta pertolongan Wawan untuk menunggunya di
rumahnya bersama Anita adiknya yang masih kuliah di Universitas
Gunadarma. Karena mereka hanya tinggal bertiga di rumah itu, sedangkan
ayahnya Tiya telah meninggal dunia sekitar 4 tahun yang silam. Bersama
dengan ibunya yang kini menjanda.
Dengan spontan Wawan menawarkan Tiya untuk mengunakan mobil Jaguarnya
untuk menemani ibunya ke rumah saudaranya malam itu. Tawaran Wawan pun
tak sia sia kan. Tiya bersama ibunya berangkat menuju rumah saudaranya
yang berada cukup jauh daritempat tinggalnya dengan mengunakan mobil
Jaguar yang Wawan tawarkan.
Kecantikan Anita tak kalah dengan kecantikan kakaknya. Paras muka
Anita mungkin dapat dikatakan lebih menawan dan mempesona dibandingkan
dengan kakaknya Tiya. Dengan kulit yang sama putih serta berambut hitam
lurus sebahu, dihiasi bibir dan mata yang menantang laki laki disekitar
komplek perumahannya. Postur tubuh Anita lebih pendek dibandingkan
dengan kakaknya.
Sekitar 165 cm dengan sepasang buah dada berukuran 36 C lebih besar
diatas kakaknya. Sepasang bongkahan pantat menawan yang dipadu dengan
pinggulnya yang langsing.
Postur tubuh Anita membuat Darah muda Wawan kembali terbakar setelah mengetahui kemolekkan tubuh adik Tiya ini.
“Mimpi apa aku kemarin malam… hingga hari ini aku dikelilingi oleh
bidadari cantik seperti Tiya dan Anita. Sungguh beruntungnya diriku hari
ini.” Kata Wawan dalam hatinya.
Ketika merasa keberuntungan berpihak kepadanya saat ini. Pertama
mendapatkan seorang sekretaris secantik Tiya serta mendapatkan
kenikmatan menyetubuhi Tiya siang tadi didalam ruangannya.
“yuk masuk… kita tunggu mama dan kak Tiya didalam saja.”
“Oh yah, perkenalkan nama saya Anita, umur saya 20 tahun nanti bulan
depan. Anita panggil siapa yah sama….” Oceh Anita yang terus menerus
sambil berjalan kedalam rumahnya.
“Nama saya Wawan Direktur disalah satu Perusahaan swasta yang
bergerak dalam bidang ekspor impor. Sekaligus merupakan atasan baru
kakakmu Tiya.
Panggil saja kak Wawan.” Ujar Wawan buru buru karena belum sempat
memperkenalkan namanya sebari tadi karena ocehan Anita wanita yang
membuat mata Wawan terus terpanah dengan goyangan pantatnya ketika
berjalan tepat dibelakangnya.
“Oh… jadi boss baru kak Tiya yah… wah kak Tiya beruntung sekali yah
memiliki boss yang baik hati serta tampan seperti kak Irrrrwaaan…”
“Anita juga mau bila nanti kerja memiliki boss setampan kakak Wawan.” Ujar Anita yang panjang lebar.
“Kak… sebentar yah, Anita mau menyegarkan badan Anita dulu. Bau nih,
seharian kena terik matahari. Kak Wawan kalau mau minum ambil saja
sendiri, jangan malu malu anggap saja seperti rumah kakak sendiri.” Kata
Anita sambil memainkan matanya yang nakal ke arah tatapan Wawan.
Gila sungguh mengiurkan tubuh Anita adiknya Tiya ini. Beruntung
sekali bila ada pria yang akan menjadi kekasihnya kelak nanti. Tak kalah
dengan kakaknya Tiya.
Merasa haus… Wawan berjalan mencari kulkas untuk mengambil sebotol minuman ringan menghapus dahaganya.
Sambil kembali duduk di sofa ruang tamu keluarga Tiya. Wawan kembali
dikagetkan dengan kehadiran Anita yang hanya mengenahkan gaun tidur
putih tipis tiga jari dari lututnya, samar samar menampakkan seluruh
lekukkan tubuhnya dibalik gaun yang seksi itu.
Begitu indah pemandangan yang sekarang Wawan saksikan, sayang bila
matanya harus mengedip meski hanya sekejap. Anita mengunakan gaun putih
dengan celana dalamnya hitam model G-String dipadu dengan Bra berwarna
hitam segitiga yang hanya menutupi puting susunya saja.
Tak terasa naga yang bersembunyi didalam celana katun Wawan kembali
mengeliak dengan hebat hingga membentuk tonjolan yang cukup besar pada
luar celananya.
“Loh kok malah bengong sih… apa ada yang salah yah dengan baju tidur
yang Anita pakai ini atau mungkin kakak kurang menyukainya.” Ujar Anita
setelah melihat tatapan Wawan yang kaget melihatnya keluar dari dalam
kamarnya yang masih dengan rambutnya yang masih basah karena mandi tadi.
“Tidak… tidak ada yang salah dan saya suka kok dengan gaun tidur
kamu… hanya saja hhhmmmm…” jawab Wawan dengan gugup karena tertangkap
basah melihat kearah buah dadanya serta ke arah selangkangannya.
“Hanya saja… apa? Kok diam sih. Atau mungkin karena kakak kaget
malihat Anita mengenahkan gaun tidur dengan dalamanya yang terlihat
jelas yah.” Sahut Anita sambil mengoda Wawan yang merasa malu karena
melihatnya begitu seksi.
Dengan agak gugup Wawan menjawab “Hanya saja kamu terlihat begitu
sangat dewasa di bandingkan dengan saat kamu mengenakan kaos dan celana
jeans.” Tutur Wawan.
“Trus setelah itu…”
“Trus kamu juga sangat seksi sekali mengenahkan gaun tidur itu. Kakak sangat mengagumi keindahan tubuhmu.”
Tiba tiba deringan Handphone Anita berbunyi. Ternyata yang menelphone itu adalah kakaknya. Tiya.
“Hallo… kenapa Kak Tiya.” Sahut Anita menjawab panggilan itu.
“Anita. Mungkin kakak tidak bisa pulang malam ini karena paman
ternyata sedang mengalami pendarahan, saat ini paman sedang dirawat
intensif dirumah sakit RSCM, Salemba. Kak Wawan masih disana tidak?
Suruh saja ia menginap dirumah kita, karena hari semakin malam dan
mustahil ada taksi yang berkeliaran jam segini. Kak Wawan nanti
persilahkan saja untuk tidur di kamar kakak saja.” Ujar Tiya
memberitahukan bahwa ia serta ibunya tak dapat pulang malam ini.
“Iya… kak Wawan masih disini sedang ngobrol dengan Anita.” Jawab Anita kembali.
“Anita ingat yah… kak Wawan adalah milik kakak. Jadi jangan kamu sekali kali berbuat yang bukan bukan terhadapnya malam ini.
Ingat pesan kakak yah.” Ancam Tiya yang memfokuskan pembicaraannya
untuk tidak mengusik kehadiran Wawan malam ini disaat ia tak ada disana.
“Oke boss… bagi bagi dong kalau punya cowok setampan ini kak…” ejek Anita kepada Tiya di telphone.
“Awas kamu kalau macam macam yah…”
“Gimana… apakah Tiya pulang malam ini…” Tanya Wawan yang ingin tahu apakah Tiya pulang malam ini.
“Kak Tiya tidak dapat pulang malam ini, dan kakak diminta untuk
menginap saja disini dan tidur di kamarnya nanti malam.” Ujar Anita
sambil meletakkan Handphonenya di atas meja tamu setelah mengakhiri
pembicaraan itu.
“Kak kayaknya ada sesuatu yang menonjol tuh di balik celana kak
Wawan… kayaknya besar banget!” sambil menhampiri Wawan yang duduk
depannya dan duduk tepat disampingnya.
“Ah gak ini bisa lah… kalau liat wanita cantik bergaun tidur sexy
serta transparan lagi… yah gini deh akibatnya. Gak bisa kompromi, minta
jatah…” canda Wawan menutup malunya karena adik kecilnya menonjol
dibalik celananya.
“Kayaknya kalau diusap usap sama tangan Anita mungkin bisa lebih
besar lagi yah… ih jadi pengen nih liat itunya kak Wawan.” Seru Anita
sambil memegang batang kemaluan Wawan diluar celana panjangnya.
Karena merasa mendapatkan angin segar dari perbincangan yang mulai
menjurus ke hubungan badan. Maka tak sungkan sungkan Wawan mulai meraba
halus paha Anita yang putih mulus itu. perlahan namun semakin berjalan
menuju titik temu nikmatnya.
Antara bibir Wawan dan Anita saling berpangutan, mendesah, nafas yang memburu karena nafsu yang menjadi.
Tak kala desahan Anita semakin menjadi saat tangan kekar Wawan mulai
menyusup di balik celana dalam G-string yang dikenakan Anita. Mengorek…
mencari dimana gerangan daging lebih tersebut… setiap gesekan yang
dilakukan Wawan membuat Anita mendesah bagaikan setan kepanasan dengan
mulut yang engap engapan layaknya manusia yang kekurangan oksigen.
Merasa tak ingin disaingi kegesitannya. Anita pun segera melancarkan
serangannya. Membuka gesper yang melingkar pada pinggang Wawan dan
menurunkan retsleting celana serta langsung membuka seluruh kain yang
membalut bagian bawah Wawan.
Dengan posisi Anita berjongkok di bawah. Anita dengan bebasnya
menikmati batang kemaluan Wawan bertubi tubi, layaknya seorang anak
kecil yang sedang menemukan mainan barunya. Tak henti hentinya Anita
mengulup kepala serta batang kemaluan Wawan… naik turun keluar masuk
mulutnya.
Terasa sekali ngilu kepala kemaluan Wawan saat Anita mengesikkan
batang kemaluannya pada sisi gigi rahangnya, kanan kiri dan terus
bergantian.
“Gila nih cewek… kayaknya Anita lebih berpengalaman dibandingkan
dengan kakaknya Tiya… pintar sekali ia mempermainkan batang kemaluanku…
sungguh nikmat sekali, meski terkadang rasa ngilu bertubi datang namun
nikmatnya gak bisa di utarakan dengan kata kata.” Guyam Wawan dalam hati
sambil menikmati setiap jengkal batang kemaluaanya di hisap oleh Anita.
Lalu tak ingin akan berakhir sampai disini… Wawan menarik tubuh Anita dan disuruhnya mengangkang tepat di atas mukanya.
Dengan gencar Wawan menyapu vagina Anita yang sama sama nikmatnya
dengan Tiya. Namun vagina Anita seakan menebarkan bau yang sungguh
membuat Wawan semakin gencar dan lahap menjilati liang kewanitaannya
hingga setiap cair yang keluar dari sela bibir kemaluannya yang montok
itu, tak dibiarkan sia sia oleh Wawan.
Dibukanya kedua belah bibir kemaluan Anita dengan jari telunjuk
Wawan, kemudian dengan leluasa lidah Wawan bermain… berputar putar… dan
menekan nekan menerobos liang kewanitaan Anita yang berwaran merah muda
itu. sungguh rasa dan sensasi yang berbeda.
Merasa mereka berdua hampir sama sama akan sampai, maka di turunkan
tubuh Anita yang semula mengangkang di kepalanya dan berjongkok tepat di
atas batang kemaluannya yang tegang menunjuk ke atas tepat dibawah
bibir vagina Anita berada.
Hanya dengan sedikit tekanan pada bibir vagina Anita. Batang kemaluan
Wawan berhasil menerobosnya tanpa harus bersusah payah seperti vagina
milik kakaknya Tiya.
Sesaat ketika batang kemaluan Wawan telah tertancap penuh didalam vagina Anita.
“Uuuuhhh… kak. Mmmmhhh… nikmatnya punya kakak yang besar ini.”
“Sssshhhh…. mmmmhhh… pantas kak Tiya takut tinggalin kak Wawan
sendiri di sini dengan Anita. Ternyata kak Tiya tergila gila dengan
punya kak Wawan yang sungguh perkasa ini…” ujar Anita sambil
mengoyangkan pinggulnya maju mundur… berputar putar merangsang batang
kemaluan Wawan yang mengaduk liang kewanitaannya.
“kalau begini nikmatnya… Anita mau selama 1 bulan nonstop dient*t
setiap hari sama kak Wawan yang ganteng dan perkasa ini.” Goda Anita
dengan bahasa yang mulai berbicara kotor. Layaknya pelacur yang haus
akan sodokan sodokan kejantanan laki laki.
Kenyataannya ternyata Anita sudah tak perawan lagi seperti kakaknya
Tiya saat pertama kali Wawan menyetubuhinya siang tadi di dalam
kantornya.
“uuuhh… kak… uuuuhh… kak. Gendong Anita kedalam. Please…” pinta Anita sambil mencium puting susu Wawan yang berbulu itu.
“Dengan senang hati sayang… kak akan memberikan kepuasan yang kamu
inginkan. Asal kamu tak memberitahukan kepada kakak mu Tiya.” Sahut
Irawan sambil berdiri dengan mengendong Anita di pangkuannya tanpa
melepaskan batang kemaluannya keluar dari dalam vagina Anita.
Setiap gerakan langkah yang diambil oleh Wawan mengendong Anita
menuju kamarnya. Desahan dan erangan Anita semakin menjadi karena
hentakan hentakan yang diakibatkan oleh sodokan yang mementok hingga
rahim Anita.
Namun sensasi yang begitu nikmatnya… begitu beringasnya Anita kala
bersenggama dengan Wawan, tak sungkan sungkan Anita mengigit pundak
Wawan hingga bertanda…
Hingga tiba pula didalam kamarnya… Wawan merebahkan tubuh Anita
diatas ranjang springbednya dan menekukkan salah satu kaki jenjang mulus
Anita ke atas dan yang satunya tetap di bawah.
Dengan posisi ini batang kemaluan Wawan dapat dengan leluasa menhujam
keluar masuk vagina Anita tanpa merasa terhalangi oleh bongkahan
pantatnya yang bulat padat berisi itu.
“plak… plak… plak…” suara yang muncul ketika hentakan yang di lakukan oleh Wawan menyodok vagina Anita bertubi tubi.
“Kak… truuus… beri Anita kenikmata seperti kakak berikan buat kak Tiya…”
“uuuhhh… kak. Nikmatnya. Uuuhhh….” erang Anita yang mengila sambil mencakar punggung Wawan.
Wawan tak memperdulikan Anita. Sekarang yang ada di pikirannya adalah
mengalahkan Anita di atas ranjang. Wawan ingin merasa selalu perkasa
diatas ranjang meski dengan wanita manapun, tentunya masuk kategori
seleranya.
Seakan Wawan tak memberi ruang istirahat untuk Anita sesaat. Wawan
terus menyodok batang kemaluannya tak henti henti… hingga Anita sendiri
wanita yang haus akan seks ini merasa heran atas keperkasaan yang ada
dalam diri Wawan.
Dengan postur tubuh yang tegap kekar, tinggi, tampan, serta memiliki kedudukan yang tinggi disalah satu perusahaan swasta.
Akhirnya Anita pun terkapar tak berdaya mengimbangi kekuatan seksual
Wawan yang hingga saat ini masih terpacu menyetubuhinya tanpa merasa
lelah sedikitpun.
“Kak… Aaannita tidak tahan lagi… kak. Aaakkkhhh…. Anita sampai….”
Erang Anita panjang yang menyatakan ia akan telah mencapai puncak
kenikmatannya yang ke 3 semenjak pertama kali vaginanya di aduk aduk
oleh tangan Wawan yang kekar itu.
Tak memperdulikan keadaan Anita yang telah lemas ditindih tubuhnya…
Wawan tetap terus menhantam vagina Anita bertubu tubi… masuk keluar tak
henti hentinya…
Namun tak lama kemudian Wawan merasakan denyut denyut yang keras
sekali pada pangkal kemaluannya. Lalu Wawan pun mencabut batang
kemaluannya dari dalam liang vagina Anita dan sambil tetap mengocok
kemaluaannya Wawan membimbing batang kemaluaannya ke mulut Anita dan
memasukkan kemaluaannya hingga menumpahkan seluruh spermanya.
Tak sedikitpun sperma yang tersisa atau tertumpah keluar dari mulut
Anita. Karena Wawan menyuruh Anita untuk menikmati setiap tetes sperma
yang keluar dari kemaluannya. Kalau tidak maka Wawan tak’kan mengulanggi
persetubuhan ini lagi kepada Anita. Meski Wawan sendiri memiliki
kelebihan dalam hal seks yang lama dengan lawan jenisnya.
Tak terasa Wawan melirik jam yang masih melekat di lengan tangannya.
Hampir selama tiga jam persenggamahan mereka berlangsung. Kelelahan dan
keletihan baru terasa setelah ia merebahkan tubuhnya di samping Anita
yang tergulai lemas tampa sehelai benangpun.