Pengalaman yang aku alami sendiri dan menjadi fantasiku
seksual sampai sekarang ini, awal ceritanya saat aku berkunjung di
rumahnya kakak iparku dengan istri dan anakku, karena aku ingat hari itu
ada hari libur panjang jadi kami sekeluarga pergi di daerah kebayoran
di rumahnya Mbak Dina, perlu diketahui mbak Dina adalah kakak kandung
dari istriku.
Mbak Dina adalah kakak kandung istriku yang sangat aku cintai. mbak
Dina adalah anak tertua di keluarga istriku, sedangkan istriku adalah
anak kedua. sudah setahun yang lalu mbak Dina cerai dengan mas Gunawan
(nama dirahasiakan), suaminya.
Akibat permasalahan ekonomi yang tak kunjung selesai. kini, mbak Dina
harus berjuang merawat dan membesarkan anak semata wayangnya seorang
diri. menjadi orang tua tunggal yang kuat. hari ini kami sekeluarga
berniat mengadakan acara makan siang bersama dirumah mbak Dina. Nita
(nama dirahasiakan) istriku, sejak pagi sudah sibuk berbelanja kebutuhan
untuk makan siang dirumah mbak Dina.
singkat cerita, kami sekeluarga telah sampai dirumah mbak Dina.
seperti biasa, keramahan mbak Dina membuat kami betah berlama-lama
dirumahnya. kakak ipar yang kuat, teguh pendirian dan baik hati, itulah
mbak Dina. acara makan siang bersama telah kami lewatkan.
Kini kami mengobrol santai diruang tamu. anak-anakku akrab bermain di
halaman belakang dengan anak mbak Dina. wajahnya yang cantik dan
hatinya yang baik membuat mbak Dina banyak dipinang pria mapan. namun,
mbak Dina selalu menolaknya. entah apa alasan beliau, aku tak ikut
campur terlalu jauh.
aku Dani (nama dirahasiakan), seorang akuntan disebuah perusahaan di
jakarta. sedangkan Nita istriku, adalah seorang dokter disebuah rumah
sakit di selatan kota jakarta. kami hidup bahagia. tak pernah ada
masalah berat yang menimpa keluarga kami. aku pun sangat beruntung
mempunyai istri cantik dan berprofesi dokter. mbak Dina adalah seorang
karyawan swasta disebuah perusahaan ekspor impor dijakarta.
sedang asik mengobrol diruang tamu. tiba-tiba handphone milik istriku berdering…
“halo…iya…lho? kan saya lagi libur, lagi nggak jaga…terus? iya iya…oooh…iya iya, 15 menit saya sampe!”
penggalan pembicaraan istriku dengan seseorang yang meneleponnya. aku penasaran luar biasa, wajah istriku mendadak panik.
“pah, ada panggilan mendadak dari rumah sakit. anterin aku yuk ke rumah sakit” pinta istriku.
“lho? kan kamu libur. emangnya dokter jaganya kemana? tanyaku.
“dokter jaganya dapet musibah. ibu mertuanya meninggal. ayo pah!”
“trus anak-anak gimana nih? masih pada betah main”
“yaudah, papah anter aku aja ke rumah sakit. biar anak-anak main dulu disini. kan ada mbak Dina”
“iya, nggak apa-apa anak-anak disini. nanti aku yang jaga” sambung mbak Dina.
aku pun mengantar istriku. tak sampai setengah jam aku sudah tiba dirumah sakit mengantar istriku.
“habis ini kamu kerumah mbak Dina aja ya. jemput anak-anak” kata istriku dengan tergesa-gesa membuka pitu mobil.
“iya, kamu hubungi aku kalau sudah selesai. nanti aku jemput” lanjutku.
“iya. kamu hati-hati bawa mobilnya”
istriku meninggalkanku. aku memacu mobilku menuju rumah mbak Dina.
sesampainya disana, mbak Dina sedang membereskan piring-piring kotor
bekas kami makan siang tadi. anak-anakku pun masih asik bermain di
halaman belakang dengan anak mbak Dina.
“Nita pulang jam berapa nanti?” tanya mbak Dina kepadaku.
“aku kurang tau mbak. nanti Nita yang hubungin aku kalau udah selesai” jawabku.
“kamu mau makan lagi Dan?”
“nggak usah mbak. ini aja masih kenyang kok. mau aku bantu mbak?” aku menawarkan diri membantu mbak Dina mencuci piring.
“nggak usah. kamu temenin anak-anak aja main”
“nggak apa-apa kok mbak” aku mengambil sebuah piring. mengusapnya dengan spon yang berlumuran sabun. dan mencucinya.
hanya obrolan ringan dengan mbak Dina saat mencuci piring. dan tak banyak yang aku tanyakan.
praaaanggg… tiba-tiba aku menjatuhkan sebuah piring besar. tanganku
tak kuat memegangnya. pecahan piring berhamburan dilantai. aku
membereskan pecahan tersebut dibantu oleh mbak Dina. tanpa sengaja kaki
mbak Dina menginjak serpihan piring yang pecah.
Telapak kakinya berdarah. membuat garis luka di telapak kakinya. ia
meringis. segera kuambil kotak obat yang berada di atas kulkas. kubantu
mbak Dina mengobati lukanya. memberi sedikit obat luka dan menambalnya
dengan hansaplast. karena lukanya yang cukup besar dan dalam, mbak Dina
aku bantu berjalan menuju ruang tengah.
“pelan-pelan mbak. maafin aku ya, gara-gara aku mbak sampai luka gini”
“udahlah Dan, namanya juga musibah”
“mbak yakin mau istirahat diruang tengah?”
“iya, sambil temenin kamu ngobrol. emang kenapa Dan?” tanyanya.
“aku kirain mbak mau istirahat dikamar. aku tau mbak capek trus butuh istirahat”
“emang sih. akhir-akhir ini mbak capek banget Dan. kerjaan dikantor numpuk, belum lagi masalah keuangan”
“mbak harus jaga kondisi tubuh mbak. jangan di porsir mbak. sekarang aja mbak keliatan pucet (pucat)”
“yaudah, bantu mbak jalan ke kamar Dan”
aku memapah mbak Dina jalan menuju kamarnya. kamar besar dengan
ranjang yang juga besar. terlihat nyaman bila ditiduri. sebuah lemari
baju yang cukup besar, serta meja rias dengan cermin ekstra lebar.
kamarnya rapi dan wangi. penataan lampu tidur dan lemari-lemari kecil
sungguh serasi.
Ditambah dengan paduan cat berwarna cream. mbak Dina kutuntun ke atas
ranjangnya. agak kuran sopan sebenarnya. namun aku sangat peduli kepada
kakak iparku yang satu ini. kakinya kunaikkan keatas ranjang. dan ia
berbaring.
“kamu temenin mbak disini aja Dan!” mbak Dina meraih tangank ketika aku hendak keluar kamarnya.
“aku nggak enak mbak kalo nemenin mbak disini. nanti apa kata tetangga kalo liat kita berdua”
“disini semua orang cuek dengan lingkungan mereka. temenin mbak disini ya”
“bener nggak apa-apa mbak?” tanyaku.
“nggak apa-apa. yang penting kita nggak ngapa-ngapain kan”
“mbak, gimana si Ilham (nama dirahasiakan) sekolahnya? lancar?” aku memulai obrolan.
“lancar. kemarin dia dapet juara lomba puisi”
“bagus donk! kalo kerjaan mbak sendiri lancar?”
“aduuuhh, jangan ngomongin kerjaan deh. mbak lagi nggak mood. mbak butuh refreshing”
“ooh, butuh refreshing?”
“iya, mbak pusing banget Dan. butuh banget refreshing”
“minggu depan ikut acara kantorku aja mbak. mau ngadain jalan-jalan ke anyer”
tiba-tiba mbak Dina mendekat kearahku. tangannya meraba-raba pahaku.
aku menepis tangan mbak Dina. tingkahnya aneh. tangannya terus
meraba-raba pahaku. aku salah tingkah.
“mbak, jangan kayak gini mbak” kembali kutepis tangannya.
namun mbak Dina makin makin liar. tangannya terus meraba-raba. kali
ini ia sudah berani meraba pangkal pahaku. aku kembali menepisnya.
dengan sedikit kasar. namun mbak Dina makin membuatku terhenyak. ia
memelukku erat. dan menangis.
“mbak nggak sanggup Dan. mbak mau mati aja rasanya” ia menangis meraung-raung sambil memelukku erat.
“sabar mbak sabar. ini cobaan dari Tuhan” aku menenangkan.
“mbak mau mati…”
“mbak, jangan ngomong gitu ah! semua ada hikmahnya mbak”
“tolongin mbak Dan. tolongin mbak”
“iya mbak. aku tolongin. tolong apa mbak?”
mbak Dina melepas pelukannya. pipinya basah oleh air mata. semburat
kecantikannya terlihat jelas. aku sungguh menyayangi kakak iparku ini.
matanya masih mengeluarkan air mata. ia masih menangis. kemudian ia
mencium bibirku. aku kaget bukan kepalang. aku melepaskan ciuman mbak
Dina.
“mbak, jangan begini mbak”
“tolong mbak Dan..”
“iya, tolong apa?” tanyaku bingung.
kemudian mbak Dina kembali mencium bibirku. tangannya melingkar
dipinggangku. mencengkram kuat pinggangku. ia melumat bibirku buas. aku
hanya diam tak membalas ciumannya. aku melepaskan ciuman mbak Dina.
“mbak, aku ini adik ipar mbak. jangan kayak gini mbak”
tak ada sepatah kata dari mbak Dina. ia hanya diam, kemudian kembali
menciumku. tangannya memainkan puting kecilku. aku terangsang. penisku
tegang seketika. aku tak tahu harus berbuat apa. aku bingung.
Mbak Dina makin liar. tangan kanannya memainkan putingku, dan tangan
kirinya meraba-raba pangkal pahaku. aku terangsang, kali ini benar-benar
terangsang. otakku mencerna kemauan mbak Dina. IA HANYA INGIN BELAIAN
SEORANG PRIA. bathinku berkecamuk, antara nafsu dan statusku sebagai
adik iparnya. namun tangan mbak Dina benar-benar lihai meraba-raba titik
hasrat seksualku. akhirnya, aku pun membalas ciumannya.
tak lama kami berciuman. tangan mbak Dina sudah membuka kancing
celana jean’s-ku. merogoh isinya. wajahku merah padam. aku direbahkan
diranjang besarnya. pintu kamar sudah tertutup rapat dan terkunci.
Aku tak berani melihat wajah mbak Dina yang cantik. kuakui, mbak Dina
memang cantik. penisku tegang tinggi. batangnya mengeras. mbak Dina
hanya melontarkan senyum. dengan sigap ia melumat penisku dengan
mulutnya.
BUAS. LIAR. NAKAL. lidahnya lincah, bibirnya nakal. dan tangannya
aktif mencengkram batang penisku. kini aku sudah tak berpakaian alias
bugil.
Aku masih terlentang dengan penis tegang. mbak Dina didepanku,
memamerkan tubuh indahnya. ia telah melupakan rasa sakit dikakinya
akibat tergores pecahan piring. dengan perlahan membuka kaus yang ia
kenakan.
Melepas bra. dan dua gundukan payudara yang masih kencang dengan
puting kecoklatan yang sangat menggairahkan. payudara bulat, dengan
ukuran tak besar. membuat hasratku meninggi. kemudian, dengan perlahan
ia membuka resleting rok yang ia kenakan. kali ini ia berdiri didepanku.
tubuhnya indah semampai. walaupun tak terlalu tinggi, namun kemolekkan
tubuhnya sangatlah menggoda. lekukan pinggulnya yang eksotis.
Kulitnya yang putih bersih bak bintang porno jepang. aku benar-benar
berhasrat. bulu halus dan sedikit menghiasi daerah kewanitaannya.
ia kembali menunduk melumat penisku. aku merasakan nikmat. dua buah
testikel-ku pun dilumatnya. tubuhku menggelinjang kenikmatan. lidahnya
lihai mengeksplor penisku. hingga penisku benar-benar basah. aku tak
tahan dengan godaan payudara mbak Dina.
Aku bangun dan menindih tubuh mbak Dina. ia hanya tersenyum nakal.
kulumat puting kecilnya. meremas-remas payudara mbak Dina. matanya
terpejam, desahannya terlontar. lidahku pun tak kalah lihai, memainkan
puting mbak Dina.
Dia terlihat sangat berhasrat. lidahku perlahan menuju vagina. dengan
jilatan romantis, sedikit demi sedikit menurun. hingga sampai
klitorisnya. bulunya tak lebat. kujilat perlahan klitorisnya, ia
mendesah. kini sudah kulumat vaginanya. dan desahannya makin sering.
tak sabar ingin kubenamkan penisku kedalam vaginanya. mbak Dina
membuka pahanya lebar. vaginanya melambai memanggil penisku. senyuman
nakal kembali terlontar dari bibirnya. aku tak malu lagi. wajahku tak
merah padam lagi.
Kini nafsu merajai diriku. nafsu menguasaiku. mbak Dina terlentang
dengan paha terbuka lebar. penisku sudah siap memasuki relung vaginanya.
dengan sedikit gesekan-gesekan dimulut vaginanya. kemudian dengan
perlahan namun pasti kumasukkan penisku kedalam vagina mbak Dina.
Matanya terpejam. meringis. bibirnya digigit. tangannya meremas
sprei. sedikit demi sedikit penisku sudah melesak masuk kedalam vagina
mbak Dina. hangat.
dengan irama yang seksama kumainkan penisku. maju mundur. menari
didalam vagina mbak Dina. awalnya ia merintih, namun kali ini desahan
yang sering terlontar dari mulutnya. pinggulku maju mundur. penisku
masuk dan keluar.
Dengan tempo yang cukup santai. aku benar-benar menikmati permainan
dengan mbak Dina. wajahnya nakal. senyumnya menggoda. dan desahannya
membuatku makin berhasrat. tanganku meremas payudaranya. jariku
memainkan putingnya.
Sungguh nikmat vagina mbak Dina. kakak iparku ini sangat pintar
merawat daerah kewanitaannya. peluh telah membasahi dahiku. hembusan AC
tak terasa.
tempo kupercepat. goyangan pinggulku makin kencang. penisku masuk dan
keluar menghujam vagina mbak Dina. suara yang timbul akibat hentakan
membuat susana makin panas. remasanku makin kuat pada payudaranya.
Sesekali tak kulewatkan menjilati putingnya. menghisap putingnya. dan
menggigit putingnya. mbak Dina hanya mendesah merasakan nikmat. peluh
juga membasahi dahinya.
“mbak aku mau ke..ke..keluar”
“keluarin didalem aja Dan. nggak apa-apa kok”
Dengan beberapa hentakan kuat, panisku menyemburkan air mani didalam
vagina mbak Dina. satu teriakan tak kuat keluar dari mulutnya.
Vagina mbak Dina banjir oleh air maniku. rasanya sungguh nikmat.
rasanya sungguh indah. tak bisa dibayangkan. terus kupompa air maniku,
ku tak ingin menyisakan satu tetes pun. kumuntahkan semua air maniku
didalam vagina mbak Dina. rasanya sungguh luar biasa.
setelahnya, aku mandi bersama dengan mbak Dina. kembali bercinta
dikamar mandi. aku tak ingat anak-anakku. aku tak memikirkan istriku.
aku hanya ingin bercinta dengan mbak Dina.
setelah kejadian hari itu, kini mbak Dina tak segan mengundangku
untuk berkunjung kerumahnya. tentu saja tujuannya hanya satu “BERCINTA”.
kami sepakat bahwa hubungan kami hanya sebatas pelepasan hasrat seksual
semata, tak lebih. sampai detik ini pun istriku tak mengetahuinya. biar
kisah ini kusimpan dalam-dalam. hanya aku dan mbak Dina yang
mengetahuinya.