Penari yang terkenal dengan hidung mancungnya dan kedua mata yang lentik
dengan bibir yang tipis merona dia bernama Reni, dia juga pencipta
koreografer yang ciamik, pada suatu pentas dia menampilkan tarian
unggulannya dan banyak penonton yang memberi aplous sebuah penghargaan
buat dirinya
Dengan rambut yang kini meriap menyentuh bahu, hidung bangir yang
tegak di antar dua mata bak telaga bening, dan bibir basah yang selalu
siap menyungging senyum, Reni adalah Dang Hyang Tari: seorang queen of
the dance terkenal di ibukota.
Apalagi ia adalah juga pencipta, seorang koreografer ulung yang
mencampurkan tradisi dan modernisasi. Satu tariannya, The Cocoon
mengundang pujian setinggi langit dari para kritikus dalam dan
luarnegeri. Itulah tarian sepenuh jiwa tentang kempompong yang berubah
menjadi kupu-kupu.
Di bawah sorot tunggal lampu panggung yang kosong (kecuali oleh
sebuah pohon hidup setinggi satu setengah meter di tengahnya), Reni
meliukkan tubuhnya yang terbungkus kain putih sekujur badan, dari ujung
kaki sampai ujung kepala.
Gerakannya aneh, sekaligus magis karena ada warna tarian wilayah
Indonesia Timur, sedikit Bali, ditambah sedikit gerakan Serampang
Duabelas, juga penuh lentingan-lentingan yang sulit ditiru. Seperti
tari-tari balet modern.
Kadang-kadang ia meliuk ke belakang sampai punggungnya hampir
menyentuh lantai panggung; lalu memutar sambil menjulur ke atas dalam
gerakan lembut; lalu tangannya terentang menerobos keluar dari balutan
kain; lalu kelima jarinya merentang dan bergerak cepat seperti
digetarkan oleh motor listrik. Satu cincin yang dipakai di jari
tengahnya, berkerejap-berkilau bagai pemantik laser.
Penonton kerap bertepuk tangan. Kritikus tari duduk terpana di baris
depan. Media massa segera meliput kemana pun ia pergi. Namanya pun
melejit: Reniduwati, Ratu Baru Dunia Tari. Sebuah stasiun televisi
mewawancarainya di belakang panggung. Wajahnya sumringah masih berpeluh.
Tubuhnya yang agak kurus tetapi padat-berisi, terbungkus ketat oleh
baju kaos dan celana panjang hitam. Matanya itu….. Ya, matanya terus
berbinar sepanjang wawancara. Dan ia bercerita tentang kegairahan
mencipta tarian-tarian modern yang tak sepenuhnya melupakan tradisi
lokal. Bercerita tentang karya monumentalnya, The Cocoon itu. Konon
itulah pula ekspresi jiwanya.
“Mengapa harus kepompong, Mbak Reni?” tanya si pewawancara, seorang
gadis muda yang tampak sekali mengagumi tokoh yang diwawancarainya.
“Ya, dia itu, kan, menjelma dari tidur panjang penuh penantian, ke
kemerdekaan yang bisa membuatnya terbang. Aku menyimpulkan metamorfosa
itu sebagai suatu yang megah, sekaligus rumit. Bayangkan saja, betapa
bedanya antara ulat yang uget-uget, lalu kepompong yang patuh dan diam,
lalu kupu-kupu yang indah!” kata Reni bersemangat, dalam satu tarikan
nafas yang panjang.
Si pewawancara agak menganga, dan sempat dua atau tiga detik lupa
mengajukan pertanyaan berikutnya. Untunglah Reni sangat santai, dan
malah bercanda menepuk lengan pewawancaranya sambil berucap, “Begitulah
kira-kira, jeng!”
Demikianlah nama Reni semakin mencuat. Apalagi kemudian ia sering
menari di pusat-pusat kebudayaan asing di ibukota. Tak lama setelah
debut-nya di Gedung Kesenian, Reni pun berkeliling Eropah selama satu
bulan penuh; menari di beberapa festival di Jerman, Perancis, Inggris
dan Italia. Usianya masih sangat muda untuk ukuran koreografer sekaliber
itu.
Ia sedang menapak angka 30. Tetapi kalau melihat penampilannya yang
ceria, segar, dan enerjik, orang pasti menyangka ia baru berusia 20-an.
Dan ia masih melajang walau sudah tinggal di apartemen mewah dan punya
sebuah BMW hadiah sepasang suami-istri pengusaha Jerman yang terkagum
kepadanya.
Beberapa kali pria mencoba mendekatinya, tetapi ditampik dengan
halus. Alasan terkuat yang diajukan Reni adalah: ia terlalu sibuk dengan
sanggar dan tariannya. Dan memang ia sangat sibuk di tahun-tahun
pertama karirnya.
Setelah The Cocoon, ia menciptakan dua karya cemerlang lagi. Satu
diberi judul Padi – Kapas, ditarikan berpasangan dengan seorang penari
pria asal Riau. Satu lagi bernama Serambi Para Gadis yang dinarikannya
bersama 6 penari pengiring wanita. Kalau The Cocoon mengesankan
kecanggihan Reni sebagai penari tunggal, maka dua karya lainnya ini
memastikan Reni sebagai koreografer yang telah matang.
Tetapi setelah beberapa saat menjadi lajang paling populer seantero
ibukota, Reni akhirnya luluh juga. Ada seorang pria yang mendekat
kepadanya, dan koran atau majalah mulai bergosip tentang mereka. Namanya
Niar, seorang gitaris kelompok jazz yang berjumpa-pandang dengan ratu
tari itu pada sebuah acara kesenian yang diadakan Pusat Kebudayaan
Jepang.
Niar adalah pemuda berdarah campuran. Ibunya orang Jepang. Ayahnya
seorang Indo-Belanda. Oleh sebab itu ia bertampang unik, dengan mata
Eropa yang kebiruan tetapi rambut Asia yang hitam legam. Semua orang
bilang ia cute. Maka ia pun punya rasa percaya-diri yang cukup melimpah.
Maka ia pun dengan gagah menegur lebih dahulu sambil memandang takjum
sekaligus takjim.
“Halo, tarian Anda sungguh mengagumkan…,” katanya sambil mengacungkan tangan untuk bersalaman.
Reni memandang pemuda bercelana jeans dan berkaos putih di depannya,
dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu ia tersenyum, tetapi tidak
menyambut tangan yang telah tersodor.
“Saya Niar, gitaris yang sebentar lagi manggung..,” kata Niar tetap gagah berani, walau tangannya terpaksa ditarik kembali.
“Saya Reni, penari yang baru turun dari panggung,” jawab Reni ringan
sambil melap lehernya dengan sapu tangan. Harum semerbak menyebar dari
setangan tipis itu.
“Renidu. Saya sudah tahu nama Anda. Semua orang sudah tahu,” kata Niar masih dengan gaya penuh percaya diri.
“Apakah orang juga tahu nama Niar?” ucap Reni yang tiba-tiba ingin
mencandai pemuda cakep yang … ah, kenapa ia tiba-tiba ingat seorang
pemuda secakep ini di masa lampaunya, di kampung sana?
Niar tersipu, “Wah, pasti belum banyak yang tahu saya,” katanya
sambil melangkah merendengi Reni yang menuju kamar ganti pakaian.
“Ini jalan menuju kamar ganti, lho..,” kata Reni santai, “Kalau panggung, ke arah yang berlawanan.”
Niar menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Saya mau menanyakan
sesuatu kepada Anda,” katanya sambil terus merendengi Reni. Beberapa kru
band melihat ke arah mereka, dan salah seorang bersuit-suit menggoda.
“Oh! .. saya kira mau minta tandatangan,” kata Reni lagi sambil
tertawa kecil. Boleh, dong, sekali-kali menggoda pemain band, ucapnya
dalam hati.
“Berapa nomor telepon rumah Anda?” tanya Niar sebelum keberaniannya hilang.
Mereka sudah sampai di depan kamar ganti khusus untuk Reni, dan
wanita itu membalikkan badan menghadapi Niar yang kini terdiam menunggu
jawaban bagai seorang terdakwa menunggu keputusan hakim.
“Mau mengajak makan malam?” tanya Reni dengan ringan, seakan-akan
bertanya kepada seorang yang sudah dikenalnya lama. Tetapi justru
pertanyaan seperti ini yang tidak diduga oleh Niar.
“Eh.. ah, bukan begitu,” ucap pemuda itu gugup, “Saya cuma ingin tahu nomor telepon…”
Reni tersenyum manis dan penuh godaan. Rasain! sergahnya dalam hati
sambil berbalik dan masuk ke ruang ganti. Lalu sambil tetap tersenyum ia
melirik sekali lagi ke Niar yang terpaku di depan pintu. Lalu ia tutup
pintu kamar gantinya. Niar pun hilang dari pandangan mata. Kalau memang
ia memerlukan nomor teleponku, pikir Reni, biarlah ia berusaha sedikit
lebih keras.
Dan berusahalah Niar lebih keras. Agak sulit mulanya, karena Reni
memang tidak mengumbar nomor telepon pribadi. Dia biasa dihubungi di
sanggarnya. Karena itulah Niar ke sana. Berkali-kali ke sana, hanya
untuk menunggu Reni berhenti melatih atau berlatih. Sudah dua kali ia
datang, tetapi Reni masih harus melatih anak buahnya. Niar pulang dengan
tangan hampa.
Pada suatu hari ia menunggu tak kurang dari 1 jam, hanya untuk kecewa
karena sebuah stasiun televisi Jerman ternyata punya janji wawancara.
“Tetapi saya sudah di sini sejak 1 jam yang lalu, Reni!” protes Niar
ketika Reni dengan ringannya melambaikan tangan sebelum menuju kolam
ikan di bawah pohon perdu, tempat ia menerima kru televisi Jerman itu.
“Aku tahu,” ujar Reni sambil menembakkan lirik matanya yang bisa menumbangkan beringin itu.
“Lalu, musti menunggu berapa lama lagi?” kejar Niar.
“Dua, ….. mungkin tiga, mungkin empat jam,” jawab Reni ringan.
Langkahnya gemulai tetapi cukup cepat untuk membuat Niar tergopoh-gopoh
di belakangnya.
Niar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sial, umpatnya dalam hati, dua jam lagi aku janji latihan band.
Kru televisi kemudian mengatur berdiri Reni, dekat sebuah patung batu
di pinggir kolam. Suara gemercik air terdengar lamat-lamat. Sinar
mentari tak terlalu banyak, tetapi ada beberapa lampu sorot dan
reflector yang dibawa khusus untuk memberi efek cahaya sempurna.
Seorang juru rias dengan sigap memupuri muka Reni yang berdiri patuh.
Sementara Niar berdiri di kejauhan, masih bimbang apakah akan menunggu
atau mengulang usahanya besok.
Reni memandang pemuda itu berdiri di bawah sebuah pohon. Ketika
itulah, ketika melihat pohon itu, …. melihat seorang pemuda berdiri di
bawahnya dengan wajah penuh harap…. Reni tiba-tiba teringat lagi
seseorang dari masa lalunya.
Suasananya mirip: latihan menari, dan seseorang yang menunggu!
Ingatan itu seperti menyelinap dan muncul tiba-tiba di depan
mata-hatinya. Ingatan itu juga seperti sebuah cubitan; tidak sakit,
tetapi cukup menyengat. Sebuah perasaan hangat yang sulit dicerna
tiba-tiba memenuhi dadanya. Di manakah dia sekarang? bisik Reni dalam
hati.
Niar melihat Reni memandang ke arahnya. Pemuda itu menoleh ke
belakang. Ia ragu-ragu, benarkah wanita mempesona itu sedang
memandangnya, atau pohon di belakangnya? Ketika pasti bahwa tidak ada
siapa-siapa di belakangnya, kecuali sebuah pohon yang tak begitu
menarik, Niar menoleh kembali ke Reni. Dan Reni tersenyum.
Jantung Niar berdegup setengah kali lebih cepat dari sebelumnya.
Cepat-cepat ia membalas senyum itu. Dan Reni tersenyum lebih lebar lagi,
memperlihatkan sederet giginya yang bak mutiara itu. Wahai, Niar
seperti disiram air sejuk di tengah siang yang kerontang ini. Lalu bibir
Reni bergerak, mengucapkan sesuatu tetapi tak terdengar.
“Apa?” tanya Niar dengan suara keras, membuat semua orang menengok ke arahnya.
“Besok!” teriak Reni membalas, dan semua orang menengok ke arah wanita itu.
“Apanya yang besok?” teriak Niar. Semua orang menengok ke pemuda itu lagi.
“Besok jam 4 sore. Aku tunggu di sini!” sahut Reni. Semua orang tidak
menengok ke wanita itu lagi, melainkan memandang pemuda itu. Menunggu
reaksinya.
Niar berpikir cepat. Besok ada janji dengan salah satu majalah musik.
Bisa ditunda! Maka cepat-cepat ia mengepalkan tinju, lalu membuat
gerakan membetot dengan tangannya sambil berteriak “Yes!”
Reni tertawa renyai melihat tingkah pemuda itu. Semua orang ikut
tertawa. Pemimpin kru televisi bahkan bertepuk tangan. Juru rias sejenak
menggeleng-gelengkan kepalanya. Kameraman yang bertolak-pinggang dan
berwajah angker itu pun ikut tersenyum. Niar was terribly happy!
Begitulah akhirnya Niar menjadi pacar Reni setelah delapan makan
malam, satu kencan di disko, dan satu kali pergi bareng ke salah satu
pulau di Kepulauan Seribu.
Sekarang, kemana pun Reni manggung, pasti ada Niar. Kemana pun band
Niar menggelar jazz-rock-nya, ke sanalah Reni pergi. Pasangan itu tampak
serasi. Yang satu tampak gagah dengan tubuh selalu terbungkus t-shirt
putih bersih. Yang satu tampak cantik walau juga cuma dibungkus t-shirt
ungu atau hitam. Keduanya selalu memakai celana jeans. Konon, setiap
membeli jeans, pasti sepasang. Media massa sibuk membuat spekulasi.
Pertanyaannya satu: kapan mereka menikah?
Padahal usia mereka terpaut hampir 3 tahun. Seorang jurnalis iseng
mengangkat topik ini, tetapi ia didamprat redakturnya. Kata redakturnya
yang berkaca-mata tebal dan berusia hampir 60 tahun itu, jangan
memancing kemarahan pembaca yang tidak peduli pada usia, dan yang ingin
terus membaca kisah dewa-dewi. Maka sang jurnalis yang baru berusia 25
tahun itu dengan cemberut menghapus alinea-alinea yang menyoal usia Reni
dan Niar.
Tetapi sesungguhnyalah soal usia ini jadi topik cukup hangat di
antara mereka berdua. Misalnya, pada sebuah malam penuh bintang, ketika
dengan manja Reni duduk di pangkuan Niar di tepi pantai, pemuda itu
berbisik di telinganya, “Kapan aku bisa menyusul usia kamu?”
“Kalau kamu sudah bisa beli mesin waktu!” sergah Reni sambil mengucek-ucek rambut kekasihnya.
“Berapa harga mesin waktu?” bisik Niar sambil mencium leher Reni yang selalu semerbak itu.
“Tanya saja di tokonya,” kata Reni sambil mendorong tubuhnya ke
belakang, menyandar sepenuhnya ke dada Niar yang kokoh dan bidang itu.
“Bagaimana kalau kamu saja yang mengurangi usiamu?” kata Niar sambil
melingkarkan tangannya di pinggang Reni. Hmm.., nyaman sekali mendekap
tubuh kekasih di depan debur ombak dan di bawah sejuta bintang.
“No way!” sergah Reni sambil mencubit lengan kekasihnya gemas.
“Aduh! Kenapa harus mencubit, sih?!”
“Gemes! Kamu suka tanya-tanya yang tidak bisa dijawab!” sergah Reni mencubit lagi.
Niar mengaduh lagi. Juga mengaduh dalam hati, karena sesungguhnya ia
agak risau dengan perbedaan usia. Seorang rekan satu band pernah
bertanya menyindir, apakah enak menjadi daun muda. Kalau itu bukan si
Gatot yang ototnya diperlukan untuk menabuh drum, pasti Niar sudah
meninjunya!
Reni juga tahu apa yang di-aduh-kan Niar. Maka ia membalikkan
tubuhnya, duduk di pangkuan Niar sambil menghadapnya. Kedua tangannya
dikaitkan ke leher pemuda itu. Pandangan mereka beradu. Reni tersenyum,
lalu mengecup bibir pemuda itu sekilas.
“Kamu risau soal usia lagi, ya!?” ucap Reni setengah berbisik.
Niar mengangguk sambil memandang dua telaga bening di depannya. Oh, sejuk sekali telaga itu. Bisakah ia berenang di sana?
“Kenapa musti risau?” tanya Reni lagi sambil mengecup ujung hidung pemuda itu dengan lembut.
“Karena aku ingin menikahimu,” kata Niar tegas. Ini adalah kali ketiga ia mengatakan kalimat yang persis sama, kata demi kata.
Reni tertawa renyai. Ia sudah bisa menduga jawabnya. Dan ia juga
sudah selalu menjawabnya dengan tak kalah tegas, “No way, Hosey!”.
“Apakah karena aku lebih muda?” desak Niar.
“Bukan-bukan-bukan,” kata Reni sambil berdendang. Ada lagu dang-dut
yang berisi lirik itu. Reni suka menggoda Niar dengan mengatakan bahwa
dang-dut lebih mudah dicerna daripada lengkingan gitar jazz.
“Ayolah kita menikah, Reni!” ujar Niar sambil merengkuh tubuh
kekasihnya, lalu mencium bibirnya yang ranum itu. Reni sejenak
gelagapan. Ia melepaskan diri dengan mendorong sekuat tenaga.
“Kamu mengajak menikah seperti mau memperkosa!” sergah Reni sambil tertawa.
“Sekarang aku yang gemes. Ayo kita kawin!” kata Niar mencoba mencium lagi, tetapi gagal.
“Jangan di sini,” kata Reni sambil tertawa nakal. Niar semakin gemas.
Direngkuhnya kuat-kuat tubuh mungil yang sintal-padat itu. Diciumnya
bibir merekah-basah yang menggairahkan itu. Dilumatnya sepenuh hati.
Dibuatnya Reni mengerang-mendesah. Niar tidak peduli dan terus mencium.
Panjang dan lama sekali ciuman itu. Kira-kira 12 menit 32 detik.
“Pulang, yuk?” bisik Reni dengan nafas memburu ketika ciuman mereka usai.
“Your place or mine?” bisik Niar juga dengan nafas memburu.
“Ke sanggar saja!” desah Reni. Itu adalah permintaan yang tak
mengherankan Niar. Wanita pujaannya ini punya sebuah kamar yang mirip
gua pertapaan di sanggarnya. Di sana cuma ada kasur berlaskan tikar
rotan Kalimantan.
Seluruh lantainya ditutupi tikar pandan dengan corak tradisional,
berwarna hijau-kuning-merah yang agak kusam. Dindingnya dihiasi berbagai
kain tenun Sumbawa. Ada pula sebuah kain tenun Sumatera Barat
terselampir seenaknya.
Di pojok ruangan ada dudukan lampu setinggi satu meter, terbuat dari
padas. Kalau lampu dinyalakan, cahayanya hanya temaram saja, seperti
lampu sentir minyak tanah di desa-desa. Di salah satu dinding ada cermin
besar yang bisa memantulkan seluruh isi ruang. Di kamar itulah Reni
mencipta banyak tarian, termasuk tiga masterpieces-nya.
Di “gua pertapaan” Reni itulah mereka juga sering bercinta dan bercinta lagi.
Reni menumpahkan segala kegairahan badaniahnya di atas tubuh kokoh
kekasihnya. Ia seperti tak letih-letihnya menggumuli tubuh yang dengan
sukahati melayani segala permintaannya itu. Bagi Reni, pemuda ini adalah
lover boy yang mengagumkan. Dengan pemuda inilah ia bisa mengarungi
samudera sensual yang penuh dengan puncak-puncak ombak kenikmatan itu.
Ia bisa leluasa duduk di pinggul pemuda itu, merasakan dirinya bagai
dipancang-tegak oleh kekuatan yang nyaris tak pernah sirna.
Ia bisa bebas bergerak, bahkan menarikan tarian erotik, di atas tubuh
yang berpeluh itu. Lagi dan lagi ia merengut puncak demi puncak
kenikmatan, yang makin lama makin tinggi menggapai langit birahi.
Sejak berpacaran dengan Niar, ada sesuatu yang terbangkit di diri
Reni. Entah betul, entah tidak. Gairah sensual Reni selalu menggebu pada
percumbuan mereka. Anehnya, setiap kali sehabis bercinta dengan pemuda
itu, selalu datang inspirasi indah untuk sebuah tari.
Seringkali setelah pemuda itu pulang, setelah Reni puas tergeletak di
kasur percintaan mereka, datang ide untuk gerakan-gerakan tari. Lalu,
malam-malam, atau pagi-pagi sekali, Reni bangun untuk mematangkan ide
itu. Bertelanjang dada ia menari sendirian di depan cermin, mencoba
gerakan-gerakan baru dan mencatat setiap gerak yang telah ia rasakan
sempurna.
Apakah semua seniman begitu? Apakah semua seniman memakai sumberdaya
seksual untuk pemicu daya cipta? Mungkinkah ada hubungan antara orgasme
dan ide yang cemerlang? Ah, pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah
terjawab oleh Reni. Ia juga akhirnya tak peduli, dan tak pernah mau
mencoba membuktikan benar-tidaknya. Ia terus saja berkarya, dan terus
pula bercinta.
Niar pada mulanya terkejut ketika mereka pertama-kali bercinta,
kira-kira empat bulan yang silam, atau tiga bulan setelah perkenalan
mereka. Tidaklah ia menyangka bahwa wanita cantik yang cerdas dan
kreatif itu ternyata adalah seorang petualang sensual di atas ranjang.
Niar pada awalnya berlaku sopan dalam bercinta, berusaha menunjukkan
bahwa ia tidak mengejar badan melainkan hati wanita itu. Tetapi setelah
dua kali bercinta, Niar tak peduli lagi. Ia pun melayani saja segala
permintaan Reni, betapa pun liar dan sensualnya permintaan itu.
Seperti malam ini, di awal percumbuan, Reni berbisik serak, “Eat me,
please…”. Dan Niar pun dengan senang hati memenuhi permintaan itu. Dan
wanita itu mengerang-erang menikmati tiga kali puncak kenikmatan.
Tubuh bagian atasnya masih terbungkus lengkap. Hanya dari pinggang ke
bawah yang terbuka-bebas. Sebuah kursi rotan dibawa masuk kamar, khusus
untuk itu. Dan di atas kursi itu Reni menggelepar-geleparkan orgasmenya
sambil merintih-memohon agar Niar melakukannya lagi dan lagi. Ia minta
dikulum. Ia minta digigit-gigit kecil. Ia minta ditelusupi-ditelusuri.
Ia minta ini, ia minta itu. Semua diberikan oleh Niar.
Lalu, lama setelah itu, Reni minta digendong ke kasur yang tergeletak
dingin di lantai. Di situ ia minta Niar melumat-luluh-lantakkan
tubuhnya yang telah telanjang sepenuhnya. Di situ mereka bergumul
kekiri-kekanan, depan-belakang, atas-bawah.
Lalu Reni minta di atas. Niar pun sukarela menggeletakkan tubuhnya
yang memang sudah cukup letih. Lalu Reni mendominasi permainan yang
seperti tak pernah bisa dihentikan ini. Berkali-kali wanita itu
menjerit-jerit kecil, menggigit bibirnya sendiri, meremas bahu Niar di
bawahnya, menjepitkan kedua pahanya yang sudah basah kuyup oleh peluh
mereka berdua. Berkali-kali!
Barulah 95 menit kemudian, … mungkin lebih…., mungkin dua jam
kemudian…. keduanya terhempas di pantai pencapaian bersama.
Tergeletaklah keduanya dengan nafas terengah-engah dan wajah letih
tetapi penuh kepuasan.
Kasur dan seprainya sudah awut-awutan centang-perentang basah dan
lengket pula di sana-sini. Reni menelungkup di dada lover boy-nya. Ia
pejamkan mata dengan nikmat. Dan saat itulah ia berpikir tentang sebuah
gerakan kaki untuk proyek tarian berikutnya, yang diberi judul Untuk
Langit Untuk Laut (For the Sky, For the Sea). Ia berpikir tentang sebuah
gerakan menendang sambil meregang, seperti ketika tadi ia menikmati
orgasmenya, entah yang keberapa!
Nama Renidu terus mencuat di dunia panggung. Setelah tariannya, orang
mulai melirik kemampuan aktingnya. Sebuah sinetron segera dibuat
untuknya dan Reni mendapat banyak sekali uang untuk 12 episode. Baginya,
sinetron ini juga tidak terlalu baru karena kisahnya adalah tentang
seorang penari ronggeng di sebuah dukuh terpencil. Reni sangat menyukai
peran ini karena ia juga bisa “memaksa” sutradaranya memakai beberapa
gerakan ciptaannya sendiri.
Hidup Reni mulai gemerlap dan sibuk. Niar dengan setia berada di
sampingnya, dan Reni bersyukur memiliki pacar yang bisa disandarinya
kalau sedang capai, bisa diajak bercanda kalau sedang gundah, dan bisa
diajak bercinta kapan saja!
Sinetronnya belum lagi ditayangkan, ketika pada suatu malam di sela
shooting seorang asistennya datang membawa sebuah foto seorang anak dara
yang minta ditandatangani. Sambil menghirup minuman dingin, dengan acuh
tak acuh Reni menerima foto itu dan bersiap-siap membubuhkan
tandatangan.
Ia sudah siap untuk ini: menjadi populer dan dikejar-kejar pemburu
tandatangan. Ia telah buat sebuah tandatangan sederhana yang bisa
digoreskan dalam satu gerakan. Ia hampir tak pernah mengamati benda yang
ditandatangani. Kali ini pun ia siap menggores, tetapi… sebentar dulu!
“Eh?!” Reni menjerit, tidak jadi menggoreskan tandatangannya, matanya
terpaku pada foto gadis di tangannya. Ia kenal gadis itu. Nun di sebuah
kota kecil, ia pernah lihat gadis ini. Ia tak pernah lupa matanya yang
lembut dan wajahnya yang manis-polos itu.
“Kenapa?” Niar menjulurkan kepala dari sebelahnya, ikut memandangi foto itu.
“Aku rasanya kenal anak ini,” kata Reni sambil mengernyitkan dahi.
“Itu foto anak SMA, ada sejuta yang seperti dia,” kata Niar seenaknya.
“Justru itu. Aku kenal sewaktu anak ini masih SMA. Sekarang pasti
bukan SMA lagi,” kata Reni sambil terus mengamati foto di tangannya.
“Orangnya ada di luar, Mbak,” kata sang asisten yang berdiri patut di sebelah Reni, memberanikan diri menyela.
“Kamu tahu namanya?” tanya Reni.
“Alma,” kata asistennya.
Tentu saja! sergah Reni dalam hati sambil bangkit menarik tangan asistennya dan berkata, “Antar saya ke anak itu!”
Di luar, Alma berdiri gelisah. Ia tidak yakin tindakannya itu
bijaksana. Ia memang bermaksud meminta tandatangan sambil mencoba
mengadu untung, siapa tahu Mbak Reni masih ingat. Ketika Alma melihat
Mbak Reni keluar dari sebuah tenda tempat para artis beristirahat, gadis
itu hampir tak mengenalinya lagi.
Maklumlah, wanita penari yang cantik itu kini semakin jelita dengan
pakaian yang “wah” dan dengan aura yang penuh kharisma. Baru setelah
dekat, Alma sadar ia berhadapan dengan Dang Hyang itu, dan lututnya
lemas. Lidahnya kelu.
“Hai!” seru Reni riang melihat Alma berdiri terpaku. Ia tidak bisa lupa gadis ini, walau sekarang tampak agak kurus.
“Mbak Reni?” ucap Alma ragu-ragu.
“Ya! Apa kabar kamu, Alma!” seru Reni dengan riang. Niar yang melongok dari tenda sempat terheran, tetapi lalu masuk lagi.
Mereka berpelukan, walau Alma sempat kikuk menyambut rentangan tangan
seorang bintang. Sedangkan Reni sendiri tanpa canggung menempelkan
pipinya ke pipi gadis itu. Kurus sekali dia, pikir Reni sambil
membayangkan seorang anak SMA dengan seragam putih abu-abu.
“Mbak tidak lupa kepada saya…,” bisik Alma seperti mau menangis.
Sesungguhnya ia terharu diterima seperti ini oleh seseorang yang fotonya
menghiasi sampul majalah wanita di seluruh Indonesia.
Reni tertawa sambil mencengkram erat bahu Alma, “Tidak! Mana mungkin Mbak lupa sama cah ayu seperti ini.”
Pipi Alma merona merah, dan sambil tersipu berkata, “Ah, bisa aja, Mbak!”
Hmm…, logatnya sudah seperti anak metropolitan, pikir Reni. Ia lalu
menarik Alma untuk ikut masuk ke tenda para artis. Dengan canggung gadis
itu mengikutinya. Ia seperti sedang bermimpi, melihat dari dekat para
artis yang sedang shooting!
Lalu mereka bercakap-cakap panjang lebar. Terutama Reni yang
memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan, dan Alma menjawab polos
betapa ia kini sudah berpraktek dengan mayat-mayat di rumah sakit, sudah
pandai membersihkan nanah dari borok-borok di kaki pasien miskin dan
para gembel, sudah pernah melihat darah tumpah ruah dari seorang ibu
yang mengalami perdarahan…
“Astaga!… Anak sehalus ini akan menjadi tukang bedah perut orang?”
seru Reni sambil tertawa riang. Niar ikut tertawa, dan berkomentar,
“Asal jangan meninggalkan guntingnya di dalam!”
Alma ikut tertawa, agak lega karena ternyata para bintang itu manusia
juga. Bisa bercanda dan tertawa seenaknya. Pastilah mereka makan nasi,
dan sekali-kali pasti juga makan tempe, pikir Alma sambil melanjutkan
tawanya dalam hati.
Lalu mereka bernostalgia tentang kota kecil nun di sana. Tentang
pasar yang satu-satunya, dan tentang stasiun bis kota yang hanya ramai
di akhir pekan. Kemudian juga tentang anak-anak peserta sanggar yang
kata Alma sekarang sudah berpencaran. Ada yang jadi pegawai bank, ada
yang jadi pramugari, ada yang kawin dengan juragan perahu. Tak satu pun
yang jadi penari! … Reni tertawa gelak mendengar yang terakhir ini.
“Bagaimana kabar Kino?” tiba-tiba saja keluar pertanyaan itu dari
mulut Reni yang sedang tertawa. Dan begitu kata-kata itu keluar dari
mulutnya, begitu pula Reni tersadar. Tawanya berhenti. Eh, mengapa aku
bertanya tentang dia? sergah hati kecilnya.
Alma ikut terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia tidak siap
menjawabnya, karena ia pun tidak tahu kabar pemuda yang sempat mengisi
relung-relung terdalam hatinya. Sekarang ia sulit sekali masuk ke
relung-relung itu; sulit menemukan apakah nama pemuda bermata lembut
yang selalu gundah itu tetap tergores di dinding hatinya.
“Maaf,” kata Reni melihat gadis di depannya terpana tak bisa
menjawab. Ah, tetapi apa perlunya minta maaf? sergah hati kecilnya lagi.
“Saya juga tidak tahu, Mbak. Maaf juga,” ucap Alma memelas, tetapi
justru tampak lucu. Reni pun segera tergelak untuk mencairkan suasana.
Sudahlah, kata hati kecilnya, hentikan pertanyaan tentang pemuda itu.
“Ya, sudah! Kita ngomong yang lain saja,” kata Reni ringan di antara tawanya.
Lalu celoteh mereka berdua berlanjut. Niar pun merasa tersingkirkan,
dan sambil bersungut pemuda itu meraih sebuah minuman dingin dan berlalu
ke arah beberapa kru film yang sedang duduk-duduk main kartu remi.
Kalau saja shooting tidak segera dimulai, mungkin mereka akan bicara
sampai berjam-jam lagi. Namun sutradara akhirnya berteriak, orang-orang
segera berkemas, Reni pun siap dibedaki dan di-brief untuk adegan
berikutnya.
Alma tahu diri. Dia segera pamit sambil memohon untuk boleh menemui
Reni lagi di lain waktu. Reni tersenyum manis sambil mengangguk, lalu
memberikan nomor telepon pribadinya. Alma segera mencatatnya, lalu
segera meninggalkan wilayah shooting. Tak sedikit pun ia ingat bahwa
fotonya belum lagi ditandatangani!