Istrinya sungguh kecewa karena pasa suaminya pada selingkuh, awalnya dia
ingin membiarkan suaminya berselingkuh tapi dengan bujukan orang lain
kasian pada anak anakmu nantinya, dia membujuk untuk gantian selingkuh
dengan pria lain,dan itulah saran yang aku ingin lakukan karena aku
jengkel melihat suamiku berperilaku seperti itu.
Pada awalnya aku sangat marah dan rasanya dunia ini menjadi gelap
saat mendengar suamiku selingkuh engan teman kantornya. Namun Indri,
tetanggaku memberi nasehat sebagaimana tersebut di atas.
“Kamu bisa langsung pergi ke Proyek Senen begitu yakin bahwa masmu
selingkuh. Disana kamu bisa nongkrong di Warung Cendol atau Bakso Super
yang banyak dikunjungi ibu-ibu. Tidak akan lebih dari 10 menit kamu akan
didekati lelaki.
Mungkin bapak-bapak, mungkin Oom-Oom, mungkin Mas-Mas, mungkin
adik-adik atau bahkan anak-anak. Mereka itu minat untuk kencan dengan
kamu. Kamu bisa pilih yang sesuai dengan seleramu”.
Duh, duuhh.. Lancarnya berondongan cerita dari mulut Indri.
“Kalau nggak percaya, ayoo.. Aku juga pengin iseng, nih..”.
Bagi Indri cukup masuk akal. Suaminya yang berlayar hanya pulang 6
bulan sekali. Dia memerlukan hiburan macam di Warung Cendol atau Bakso
Super tadi. Tetapi aku khan tak perlu sejauh itu. Namun mendengarkan
cerocosan mulut Indri lama-lama asyik juga.
“Mir, nih dengerin ya. Itu tidak cuma di Senen. Kalau mau cari China
pergi ke Mangga Dua, nongkrong di KFC atau Mc Donald atau di kafe lantai
bawah. Di sana banyak cina yang pengin banget ngerasain memek orang
Jawa. Kamu akan mendapatkan kenikmatan sekaligus uang. Mereka royal
untuk dapat memek lu”, Uiihh.. Uiihh..
“Kalau di Senen tadi kebanyakan orang Sumatera, ada Padang, Batak atau Palembang”.
“Kalau mau Arab, kamu pergi saja ke Pasar Tanah Abang. Pura-pura saja beli kain sarung atau batik”.
“Kalau mau sopir truk, tukang buah atau juragan sayur pergilah ke Pasar Induk. Ha, ha, ha..”.
Walaupun aku kesal sama Mas Adit karena sering dengar cerita dari
mulut ke mulut tentang pacarnya yang berganti-ganti, aku tetap tidak
akan sejauh itu. Namun dari berbagai sumber akhirnya aku tahu bahwa apa
yang diceritakan Indri adalah benar adanya.
Dengarkanlah kisah mereka..
Di Atas Kijang Yordanian
Dalam rangka persiapan perkawinan putri pertamaku aku perlu
menyempatkan diri nyari kain untuk berbagai keperluan upacara. Dari
teman tetangga aku diberi informasi bahwa di Pasar Tanah Abang banyak
dijual bermacam-macam kain sesuai keperluanku. Iseng-iseng mumpung
suamiku lagi kerja aku pergi sendiri ke Pasar Tanah Abang.
Ternyata benar. Di tempat itu banyak kios-kios yang menjual berbagai
macam kain. Rencanaku hari ini hanyalah sekedar melihat-lihat lebih
dulu. Aku memasuki sebuah toko yang terang benderang. Di etalasenya
nampak terpajang beratus-ratus pilihan kain lokal maupun import. Mataku
tak bosan-bosan memandangi koleksi toko ini hingga tak kusadari ada
seseorang yang mengikuti aku,
“Pilih yang mana Bu?”, rupanya aku sedang berhadapan dengan pemilik toko.
Seorang yang masih muda, aku taksir belum 30 tahun. Dari sosoknya
yang tinggi jangkung dengan wajah Semit berkumis dan jambang dia
tersenyum padaku sambil menawarkan barang dagangannya.
Tampang dan warna kulitnya yang putih bersih nampaknya dia berasal
dari Yordania. Memang orang Yordania terkenal kulitnya putih hampir
mendekati Eropah. Wanitanya juga terkenal kecantikannya. Tentu saja
lelakinya ya.. Banyak yang tampan macam pemilik toko di hadapanku
sekarang ini.
“Nggaakk.. Aku baru senang melihat-lihat. Mungkin beberapa hari lagi aku akan membeli untuk acara perkawinan anakku”,
“Wwoo.. Ibu mau mengawinkan anak? Memangnya ibu sudah punya anak?”.
Aku pandangi dia. Matanya benar-benar menunjukkan keheranannya. Tentu
saja hatiku bangga. Keheranan orang Semit ini merupakan pujian yang
jujur padaku.
“Benar Bu, saya heran. Karena ibu nampak masih muda banget, paling baru berusia 28 tahunan”,
“Saya hampir 40 tahun. Anak saya yang mau kawin ini perempuan umur 22 tahun”, aku menerangkan padanya.
Dan dia tak lepas-lepasnya memandangi aku. Aku mulai risih.
Pandangannya semakin lama semakin lain. Naluriku berkata, dia tertarik
secara seksual padaku.
Aku pernah dengar banyak lelaki muda yang lebih bergairah tidur
dengan perempuan yang jauh lebih tua. Dia sudah mendengar usiaku tadi.
Dia juga terheran akan panampilanku yang jauh lebih muda. Dia sudah bisa
menghitung, setidaknya selisih umurku dan umurnya 10 tahunan.
Mungkin orang-orang muda macam itu sering mengkhayal, perempuan
seumurku akan lebih ‘hot’ kalau berhadapan dengan lelaki seumurnya. Aku
jadi pengin tahu. Seberapa jauh hasratnya tertarik pada diriku. Aku
melangkah ke etalase berikutnya yang semakin masuk ke bagian dalam
tokonya. Aku berpura-pura tertarik dengan salah satu kain yang
terpampang.
“Biar saya ambil, nanti ibu bisa meraba-raba punyaku”, aku tersentak.
Apakah memang dia mampu berbahasa Indonesia secara benar? Ataukah
persepsiku yang menyimpang? Aku jadi penasaran.
Setelah gulungan kain itu dia taruh di meja, memang tanganku langsung
meraba-rabanya. Kain yang lembut. Mungkin berbahan sutra campuran.
“Bagaimana Bu? Halus ya? Daan.. Eehh.. Tangan ibu juga.. Halus banget
nihh..”, dengan beraninya dia merabai tanganku. Bahkan kemudian
memegang dan meramas. Aku terdiam. Pertama kaget. Kedua aku merasa
seperti kena stroom listrik ribuan watt.
Sudah beberapa bulan suamiku tidak menyentuh aku secara seksual. Kini
ada pria asing menyentuh tanganku dan meremasnya. Dan lebih-lebih lagi
tangan pria ini, sebagaimana pada umumnya pria Semit, dipenuhi bulu
tangan yang lebat.
Ada semacam kebanggaan yang menyelinap di hatiku, bahwa ada pria
asing berusia muda yang masih tertarik dengan aku. Darahku langsung naik
kekepala. Mataku nanar kemerahan menahannya. Aku tak berani memandang
pria Semit ini.
Dan yang sungguh-sungguh tak kusegaja, tiba-tiba tanganku bergerak
membalas remasannya. Aku jadi blingsatan dan bingung. Pasti dia
memastikan bahwa aku menyambut hasrat syahwatnya. Aku masih terheran,
kenapa tanganku balik meremasi tangannya. Adakah itu naluri dari hatiku
yang paling dalam?
“Ibu boleh meraba-raba punyaku..”, aku mendengar mulutnya berbisik
sambil menarik tanganku turun dari meja untuk merabai selangkangannya.
Aku seakan hendak kelenger. Lelaki Semit ini kelewat berani. Dengan
menggunakan gulungan kain sebagai tirai, tanganku ditariknya untuk
meraba bayangan kontolnya yang besar dan hangat dari balik celananya.
Kontolnya yang betul-betul sangat besar, panjang dan hangat langsung
melambungkan khayalanku pada VCD porno yang pernah aku tonton. Tentu
sangat sensasional bisa merabai seperti yang aku lakukan sekarang ini.
Aku meremasi bayangan kontol gede di balik celananya itu sambil mendesis
menahan hasrat syahwatku yang menggelegak. Aku tersiksa dalam badai
birahiku.
“Mau ke mobilku..? “, dia kembali berbisik.
Aku tahu apa yang dia inginkan, dan yang juga aku inginkan, namun aku
tak mampu menjawab. Suaraku hilang. Tenggorokanku terasa kering. Aku
merasa sangat haus. Aku luluh. Tulang-tulangku serasa lolos dari
dagingnya.
Dan aku lunglai saat lelaki Yordania ini menuntun aku keluar toko
sambil berpura-pura membawa kain sutra tadi untuk memberikan kesan bahwa
dia akan mengantar aku menuju kendaraanku.
Dia membawa aku ke basement dimana mobilnya diparkir diantara ratusan
mobil yang lain. Sepertinya sudah dipersiapkan sebelumnya, lokasi
mobilnya ada di paling ujung dan menyendiri.
Dia membukakan pintu Toyota Kijang barunya dan menuntun aku duduk di
joknya. Lantas dia berputar ke depan membuka pintu dan duduk di belakang
kemudi. Dia nyalakan mesin dan AC-nya. Seketika udara sejuk memenuhi
ruangan mobil Kijang ini. AKu merasa sangat nyaman.
Sepertinya dia juga sangat dahaga dan ingin selekasnya menghapus
dahaganya, dia rentangkan kursinya ke belakang dan telentang. Tangannya
cepat mencopoti kancing celananya dan mengeluarkan kontolnya. Dia
menegok ke arahku sambil mengayun-ayunkannya.
Dia pamer kontolnya yang telah ngaceng dan wwuuhh.. Aku tak tahan
lagi untuk sekedar melihatinya. Mungkin dia memang seorang
‘exhibitionist’. Namun kuakui bahwa kontol yang sangat indah di mata dan
hatiku itu membuat tubuhku panas dingin.
Kemudian dia raih tanganku yang gemetar untuk dipegangkan dan
diremas-remaskan ke kontolnya itu. Tanganku juga mengelus dan
mengocokinya. Aku terjerat dalam nikmat yang sangat sensasional. Aku
melihati betapa bonggol kontolnya begitu berkilat karena tegangnya
desakan darah birahinya. Lubang kencingnya nampak menantang dengan
precum yang menitik bening macam air suci pegunungan.
“Jilati Bu.. Cium Bu.. Ayo jilat Bu..”, Yordanian itu menawarkan
dengan mengasong-asongkan bonggol kepalanya itu ke arahku. Kemudian
tangan kirinya meraih rambutku dan menekannya untuk merunduk menjemput
kontolnya.
Aku memang sudah terobsesi. Aku sudah tak mampu menghindari situasi
nikmat ini. Aku telah larut dan tenggelam dalam hasrat birahiku. Aku
merunduk mengikuti tuntunan tangannya sambil membuka mulutku.
Aku mulai dengan menjilat lubang kencingnya. Kemudian menyapukan
lidahku ke bonggol kepalanya, mengecupi dan akhirnya melumati seluruh
kontol Semit yang bersih dan gede banget ini.
Dengan tangan kananku menggenggam batangnya dan tangan kiriku
mengelusi dan meremas-remas bijih pelirnya aku mulai memompa. Seketika
aku mendengar lenguh Yordanian ini. Dia meracau..
“Enak buu.. Tereuzz.. Hhuucchh.. Enak bangeett.. Terus buu..”.
Suaranya yang begitu tersendat-sendat karena terpaan nikmat mendongkrak
hasrat birahiku. Aku mempercepat isepanku.
Pantat Yordanian yang mulai tak mampu menahan derita nikmatnya
berkejat naik turun menjemputi isepan bibirku pada kontol gedenya. Dan
semakin cepat, semakin cepat.. Akhirnya sperma Yordanian ini tumpah ruah
dalam mulutku. Aku lahap karena rasanya yang sangat nikmat banget. Aku
jilati yang tercecer di perutnya, di jembutnya. Dia mengerang..
Keadaan menjadi hening. AC mobil mulai terasa sejuknya. Aku masih
ingin menciumi tubuhnya yang putih penuh bulu itu. Aku ingin mendengar
racaunya saat melumati puting susunya. Namun nampaknya selera seksual
Yordanian muda ini telah lenyap bersama keluarnya spermanya yang
berlimpah tadi.
Dia memasukkan kembali kontolnya dan membetulkan kancing celana dan
bajunya. Dia merogoh dompet dan mengambil beberapa lembar Rp 100 ribu-an
untuk diserahkannya padaku.
Dalam keadaan normal seharusnya aku tersinggung karena jelas-jelas
menganggap aku sebagai pelacur. Namun entah bagaimana, ketersinggungan
atas anggapannya sebagai pelacur ini justru menghadirkan nikmat erotis
yang lain.
Biarlah, aku rela menjadi pelacur Yordanian yang tampan ini. Bahkan
misalnya dia meludahi akupun, aku akan senang hati membuka mulutku dan
menelan buangan ludahnya.
2 lelaki dan aku Bosan bengong di rumah aku iseng jalan-jalan ke
Proyek Senen. Aku pengin lihat-lihat barang klontong di sana. Sekalian
pengin merasakan Soto Sulung yang terkenal di tempat itu. Sekitar jam 10
pagi itu dengan taksi aku meluncur ke Proyek Senen.
Ternyata banyak barang-barang baru yang belum pernah aku lihat
sebelumnya. Ada macam alat masak yang bisa kukus. Ada gantungan baju
lipat. Ada pangangan kue listrik. Ada penggorengan yang tidak lengket,
ada alat penyedot tubuh buatan China saat kita masuk angin dan
sebagainya. Aku berniat kalau ada uang akan belanja alat-alat itu.
Saat lapar tiba aku naik ke lantai 2 menuju ke blok D yang menghadap
ke jalan Senen Raya. Di tempat itu aku duduk pesan Soto Sulung spesial.
Aku juga minta orang juice dingin. Beberapa waktu aku bisa duduk santai
sambil menikmati makanan dan minumanku.
Ketika aku melihat jam tanganku, tak terasa ternyata jam telah
menunjukkan pukul 1.30 siang. Aku sebaiknya pulang sekarang. Aku panggil
pelayan untuk membayar.
Namun pelayan itu datang memberi tahu bahwa semua makananku telah
dibayar oleh tamu yang duduk si pojok sana itu, sambil tangannya
menunjukkan ke arah yang dia maksud. Ketika aku melihat ke arah itu
kulihat ada dua orang, relatip muda, dan salah seorangnya melambaikan
tangannya padaku. Siapa itu? Rasanya aku belum pernah mengenalnya.
Melihat keraguanku lelaki itu berdiri dan melangkah mendekat ke mejaku. Aku tetap tidak mengenalnya.
“Surti, kan? Aku Ridwan teman SMA 22. Ingat?”, yaa.. Aku coba mengingatnya..
Sudah lama banget, mungkin sekitar 8 tahunan yang lalu. Banyak yang
telah hilang dari memoriku. Namun untuk tidak mengecewakannya aku
mengangguk sambil tersenyum. Sementara dia mengulurkan tangannya yang
juga segera aku jabat sebagai kawan yang memang telah lama tidak
berjumpa.
“Mborong nih ya?”.
“Ah, enggaakk.. Hanya iseng saja”, aku asal jawab.
“Kalau iseng ajak-ajak dong”, dia menyambar ucapanku.
“Eii.. Aku kenalin nih, teman sekantorku”, dia raih tanganku dan gandeng ke mejanya.
Dia kenalkan temannya Tanu, orang cina. Aku diminta duduk dulu
bersama mereka. Sungguh mati, aku terus mencoba mengingat orang yang
mengaku teman SMA ini namun tak juga ingat. Dia tahu namaku. Ya
sudahlah, toh mereka nampak sebagai orang-orang baik. Dan lagian, mereka
berdua ini sama manis dan gantengnya. Si Ridwan, jelas orang Jawa,
jangkung dengan kulitnya yang kecoklatan, tampilannya bersih dan sehat.
Si Tanu, jangkung juga, matanya yang sipit dan senyumnya yang menawan
mengingatkan salah seorang presenter MTV yang China itu, aku lupa
namanya. Dan mereka menyambut aku dengan hangatnya. Ridwan secara santai
meraih tanganku sambil ngomong..
“Cerita dong, berapa anakmu? Mana suamimu? Kerja apa sekarang kamu?”, aku mencoba menjawab sedapatnya.
Namun matanya itu, mata Ridwan, sepanjang aku ngomong menatap aku
begitu tajam sambil tangannya mulai meremasi tanganku. Sementara Tanu
hanya menebar senyuman manisnya setiap mendengar omongan kami berdua.
“Kan lama nggak jumpa, bagaimana kalau kita jalan-jalan bareng yuk.
Kita kangen-kangenan sambil ngobrol. Aku masih ingat lho, Surti jadi
Ratu SMA 22. Kamu dulu memang paling cantik dan seksi lho”, sambil
tangannya semakin seru meremasi tanganku.
“Sekarang juga tetap sangat cantik dan semakin seksi”, timpal ’sok tahu’ Tanu memecah kebisuannya.
Aku jadi tersanjung pada omongan mereka berdua. Dan rasanya aku nggak
mau bikin mereka kecewa. Aku turuti kemauannya untuk jalan-jalan
bareng. Aku bangkit dari kursiku mengikuti langkah kemana mereka. Ridwan
meraih lenganku, menggandeng seperti pacarnya. Aku mengingatkan,
“Nanti teman suamiku ada yang lihat, bisa berabe aku”, aku melepaskan gandengan tangannya.
Kami menuju mobil Tanu di lapangan parkir. Ridwan mengusulkan aku duduk bertiga di depan agar bisa ngobrol lebih santai.
Aku setuju saja saat Tanu membuka pintu untukku dan meminta aku duduk
di tengah antara mereka berdua. Begitu meluncur di jalanan tangan kanan
Ridwan merangkul pundakku sambil bertanya padaku,
“Kemana kita Surti?”.
“Terserah kalian, khan kalian yang ngajak aku”, jawabku.
“Bener nih, terserah kami?”.
“Iya dong, aku khan tahu diri. Ha, ha, ha..”.
“Wah, wah, wah.., disamping tetap cantik dan seksi, rasa humormu dan
ketawa renyahmu rupanya nggak juga hilang Rusti”, komentar Ridwan pada
jawaban dan ketawaku.
Sementara tangan kirinya kembali meraih dan meremasi tanganku. Aku
diamkan. Aku mulai menikmati remasan tangan ini serta pujian-pujian yang
mereka lontarkan padaku. Dan tanpa sadar aku membalas remasannya.
“Jangan ngiri lu”, kelakar Ridwan pada Tanu saat temannya itu melirik tangan kami yang saling meremas.
“Nggaklah.. Aku khan bisa juga kalau lagi tidak oper presnelling, nih..”, sambil tangan kirinya meraih tanganku yang lain.
Dan untuk menyegarkan suasana aku sambut pula tangan Tanu serta
membalas pula remasannya. Begitulah kami berakrab-akrab sepanjang
jalanan.
Aku nggak tahu lagi, kemana Tanu membawa mobilnya. Aku mulai
menikmati ‘dikeroyok’ 2 lelaki tampan macam sekarang ini. Tangan-tangan
mereka sama-sama meraih dan meremasi tanganku dan secara bersamaan aku
membalas remasannya.
Dan diantara remas meremas itu terkadang ada satu dua remasan yang
saling kami lepaskan dengan penuh hasrat birahi. Aku terkadang
memerlukan sedikit menutup mataku untuk merasakan getaran hangat yang
mengalir dari tangan-tangan mereka berdua.
Sudah 2 jam tanpa terasa kami merambati jalanan metropolitan ini.
Sementara suasana ke-akraban diantara aku dan mereka semakin
menghanyutkan hasrat dalam sanubariku ketika tiba-tiba mobil Tanu
berbelok memasuki sebuah gerbang tinggi yang anggun. Di balik gerbang
itu nampak terhampar taman yang indah dengan panorama laut Jawa.
“Kita istirahat disini sambil menikmati panorama Kepulauan Seribu.
Kita bisa pesan makanan dan minuman yang khas sesuai suasana Pondok
Putri Duyung ini”, terang Ridwan sebelum aku bertanya mau kemana kita
ini.
Aku baru menyadari bahwa kami telah memasuki kawasan Ancol tempat
rekreasi terbesar di Jakarta. Ridwan menuntun aku untuk turun sementara
kulihat Tanu bergegas menuju bangunan kantor Pondok Putri Duyung ini.
Tak lama kemudian nampak Tanu keluar kantor itu dengan gantungan kunci
berlambang ikan duyung di tangannya.
“Kita istirahat di Kakap, anda berdua bisa jalan kaki menuju bangunan
itu, aku ambil mobil menyusul kesana”, Tanu menyerahkan kunci Kakap
kepada Ridwan.
Banyak bangunan pondok-pondok di situ yang dinamai dengan ikan-ikan
Kerapu, Kakap, Belanak, Alu-alu dsb. Aku merasakan ada sebuah
‘konspirasi erotis’ yang sangat lembut sedang menggiring aku masuk ke
dalamnya. Aku sendiri nggak tahu kenapa, tak ada keinginan untuk protes.
Aku telah dibawa hanyut oleh hasrat sanubariku.
Bahkan aku sama sekali tidak berpikir keadaan suamiku. Sedang apa dan
dimana dia. Bahkan justru aku memantabkan sikap diriku, apa salahnya
sesekali aku melakukan hal-hal seperti ini.
Mobil Tanu mendahului langkah-langkah kami. Tempat istirahat yang
bagus dan nyaman. Aku nggak kuatir akan ada orang yang melihat aku
santai di pondok ini. Kami bertiga memasuki pondok Kakap. Ridwan membuka
ointu dan menyilahkan aku masuk terlebih dahulu.
Sikap yang aku sangat senangi. Mereka berdua sungguh-sungguh memandang aku sebagai ‘diva’. Aku semakin merasa tersanjung.
Kami memasuki ruang tamu yang mewah namun akrab dengan atmosfir
kampung nelayan. Ada dekorasi potret perahu Bugis, ada gantungan baju
yang berlatar bentuk ikan dan sebagainya. Aku langsung menghampiri
beranda untuk menangkap angin laut dari Kepulauan Seribu. Aku berdiri
disana dan memandang jauh. Nampak perahu-perahu nelayan diantara bagan
penangkap ikan. Sungguh romantis suasana di pondok Kakap ini.
Tiba-tiba dengan sangat lembut ada dua tangan menyelinap pada
pinggulku. Sebuah bisikan serak-serak menahan hasrat terhembus ke
telingaku,
“Apa yang kamu lihat cantik?”, bisikan itu seakan melayang dan
langsung hilang dibawa angin laut. Sebagai gantinya sebuah bibir hangat
memagut kemudian melumat dengan sangat lembut pada leher tengkukku. Aku
tergetar hebat dan menggeliat.
Sanubariku bak diterpa gelombang ‘tsunami’ terlambung tinggi melanda
pucuk-pucuk syahwatku. Dan tanpa kusadari sepenuhnya, tanganku merengkuh
tangan-tangan itu dan kami saling berpeluk.
Ternyata Tanu. Dia selangkah lebih awal dari Ridwan yang teman
SMA-ku. Sementara Ridwan masih menelpon Room Service untuk pesan makanan
dan minuman Tanu sudah tenggelam bersama aku dan saling berpagut.
Aku tergila oleh lidah Tanu yang merangsek dalam mulutku. Aku
membiarkan dia menyedoti ludahku. Aku benar-benar merasa sangat aman dan
nyaman dan ingin melepaskan sepenuhnya naluri liar dari hewaniah-ku.
Sambil mengerang dan mendesis tangan-tanganku memeluk keras dan
melepaskan cakarannya pada punggung Tanu. Hhmllmm..
Tiba-tiba angin laut menyingkap rok bawahku. Ada bibir lain yang
mulai melata di betisku. Ridwan jongkok meraih dan melumat tungkai
kakiku. Kini aku merasa benar-benar seperti anak rusa yang lumpuh dalam
terkaman pesta 2 serigala.
Mereka melahap apapun yang moncong-moncong mereka temukan. Aku
bergidik. Nikmat nafsu birahi ini seakan tak mampu aku memikulnya. Aku
mendesis-desis melepaskan rintihanku. Tanganku meronta mencari jambakan.
Rambut Tanu aku cabik-cabik sebagai pelampiasan gejolak syahwatku.
Kini mereka menggiring aku ke sofa di ‘family room’ pondok Kakap yang
indah ini. Mereka menyandarkan aku ke senderannya. Tanu melepasi blusku
dan Ridwan melepasi rokku. Dan aku tergolek hanya dengan BH dan celana
dalamku.
Tanu langsung merambah kembali bagian atasku. Dia tancapkan bibirnya
ke leherku dan kemudian melata dengan lumatannya ke ketiakku, ke dadaku.
Dia menyedot-nyedot begitu nikmat puting payudaraku.
Ridwan kembali jongkok. Kini rambatan mulutnya sudah melumati kedua
tungkai pahaku. Dia sedang menuju pangkal paha dan selangkanganku. Aku
merasakan betapa setiap inchi dia meninggalkan tanda cupang-cupang pada
lereng pahaku yang putih bersih ini.
Aku melayang dalam nikmatnya korban pesta para pemangsa. Aku terbang
ke awang nafsu birahiku. Aku tak mampu lagi menahan hasrat liar
hewaniahku. Aku meraung-raung dan menggelinjang dengan hebat..
“Ampuunn.. Jangaann.. Aayyo.. Aku tak tahan Mas Mas mass.. Cepat..
Manaa..”, aku sendiri tak tahu makna apa yang kuraungkan. Yang jelas
tubuhku seakan dirayapi berjuta-juta kelabang. Aku meronta-ronta. Bukan
untuk melepaskan diri tetapi untuk membiarkan kelabang-kelabang itu
terus melahapi diriku.
Tiba-tiba Ridwan melipat kakiku hingga menyentuh perutku. Di bawah
sana aku merasakan sebuah bonggolan mendesaki lubang memekku. Kontol
Ridwan berusaha menembusi lubangku. AKu sama sekali tidak menyadari
kapan dia telah melepasi pakaiannya.
Kini Ridwan bersama Tanu telah telanjang bulat.
Sementara di mulutku aku merasakan ada batang kenyal yang hangat
menggosok-gosok bibirku. Aku baru menyadari bahwa Tanu ingin aku
mengisepi kontolnya. Kini dua kontol serigala ini berusaha menembusi 2
lubangku secara berbarengan.
Bagaimana aku mengelak, sementara nafsu birahiku sendiri demikian
menggelegak untuk secepatnya menjemput orgasmeku. Aku melahap kedua
kontol itu ke lubang-lubangku. Kemudian aku nggak tahu lagi.
Aku telentang di atas sofa dengan 2 lelaki yang sedang merangseki
tubuhku. Dua-duanya mengayun-ayunkan pantatnya mendorong-dorongkan
kemaluannya menembusi mulut dan memekku.
Sekali lagi ini adalah ‘konspirasi erotis’ penuh birahi. Seperti
symphony “I Had a Dream’-nya iklan rokok di TV, yang satu menggesek,
yang lain memukul dan aku menggoyang. Kami mendaki puncak syahwat secara
berbarengan.
Aku yang pertama berteriak histeris karena sergapan orgasmeku.
Kemudia Tanu menyemburkan spermanya di mulutku yang membuat aku tersedak
dan gelagapan. Dan cairan hangat yang melimpah ruah ditumpahkan kedalam
lubang rahimku oleh Ridwan. Symphoni ini mungkin bisa menjebolkan sofa
pondok Kakap yang indah ini.
Kami bertiga langsung terkulai dalam keadaan telanjang di sofa dan
karpet. Angin sepoi terdengar menyapu gordyin mengiringi debur ombak
halus yang memukul pantai Pondok Putri Duyung. Kami bertiga menarik
nafas-nafas panjang kami.
Sekitar 3 atau 4 jam kami memuas-muaskan diri. Kami saling mengumbar
hasrat birahi kami. Segala kerinduan dan obsesi kami tumpahkan dalam
pondok Kakap yang indah ini. Entah berapa liter aku dijejali sperma dua
lelaki ini ke mulut dan memekku.
Yang aku tahu hanyalah sisa-sisa dan jejak hewaniah mereka di
tubuhku. Cupang-cupang tertebar di seantero tubuh putihku. Entah
bagaimana nanti aku harus mempertangung-jawabkan pada suamiku. Aku tak
pernah menyesali apa yang pernah terjadi. Que Serra Serra.
Di atas taksi yang membawaku pulang aku ingat ada alat penyedot tubuh
buatan cina untuk saat kita masuk angin. Aku langsung tepuk punggung si
sopir taksi. Aku minta diantar ke Proyek Senen saja. Aku bergegas turun
dari taksi menuju toko penjual alat penyedot itu.
Saat suamiku pulang, sekitar jam 8 malam, aku sedang setengah
telanjang dengan tubuh yang dipenuhi bilur-bilur merah akibat sedotan
buatan China itu. Dan walaupun hasratku syahwatku masih padam karena
sudah terkuras oleh 2 lelaki di pondok Kakap siang tadi, malam ini aku
masih menunjukkan semangatku untuk melayani permainan ranjang suamiku.
CERITA SEX, KUMPULAN CERITA DEWASA, CERITA PANAS, KOLEKSI
CERITA MESUM, CERITA SEKS, CERITA 17+, ANAK SMP BUGIL DAN SISWI SMA
BUGIL TELANJANG, TANTE BUGIL, TANTE GIRANG BUGIL, TANTE GIRANG VAGINA
MERAH BASAH, ABG TELANJANG SMA DAN VIDEO VAGINA MERAH BASAH, SEX CEWEK
NGENTOT, SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMP, CERITA SEX ABG, SUKA
BUGIL, ABG FOTO BUGIL TERBARU, ABG NGENTOT MEMEK, ABG SITUS VAGINA
MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMA, SITUS VAGINA MERAH BASAH, ABG HOT VAGINA
MERAH BASAH, CERITA SEKS PEREK ANAK SMA, SMA TELANJANG, CEWEK SMA BUGIL,
SISWI SMU BUGIL, DOWNLOAD PERGAULAN BEBAS ANAK ANAK SMA, MEMEK
NGANGKANG DIENTOT, FILM VAGINA MERAH BASAH PANAS.
