Aku sudah berkeluarga dengan 2 orang anak umurku yang sudah berkepala 3
dan mempunyai istri aku mempunyai pengalaman yang mana ini adalah
pengalamanku sendiri dengan pembantuku, aku dirumha tinggal bersama
istri dan pembantu dia masih muda umurnya 18 tahun namanya Maya sekarang
aku menganggur dirumah karena setahun yang lalu aku menjadi korban PHK
perusahaan.
Istri bekerja pada perusahaan swasta yang berpenghasilan cukup untuk
kehidupan kami sekeluarga walaupun pas-pasan. Tetapi Saya dan istri
memang sering berselisih paham sehingga terjadi keributan kecil yang
membuat Saya menjadi merasa terpojok karena posisi Saya yang masih
menganggur.
Kehidupan Saya mulai terasa jenuh dan pusing melihat tingkah laku
istri yang sering meremehkan diri Saya yang seolah-olah sudah tidak
berguna lagi, akan tetapi Saya masih mempunyai power sebagai kepala
keluarga yang memiliki segalanya seperti rumah, kendaraan dan masih ada
sedikit kerja sampingan walaupun kadang-kadang ada dan tidak.
Sehari-hari Saya berkumpul dengan anak dan Maya yang sangat perhatian
terhadap Saya dan anak-anak, walaupun dia hanya seorang pembantu tetapi
Saya anggap sudah seperti keluarga sendiri dan tidak ada perbedaan
diantaranya.
Pada suatu hari tepatnya hari Sabtu Saya dan keluarga pergi berlibur
ke rumah orangtua dan si Maya tidak ikut pergi karena akan kumpul-kumpul
dengan teman-temannya sesama pembantu disekitar rumah.
Rupanya tanpa sepengetahuan Saya dan keluarga, mereka berkumpul
dirumah Saya untuk acara rujakkan dan nonton VCD. Rupanya salah seorang
pembantu bernama Ani membawa VCD BF yang dia beli pada pasar malam
keliling yang suka ada di perumahan.
Hari itu mereka berkumpul Maya, Ani, Ipah dan Iroh yang kesemuanya
adalah pembantu sebelahan rumah Saya. Sambil makan rujak mereka
menikmati Film BF yang distel via VCD Player di ruang tamu sekaligus
ruang keluarga Saya.
Memang VCD Player Saya tidak kunci dan disitu tersimpan beberapa Film
BF Koleksi Saya. Mereka menonton sampai sore sekitar jam 15.00, karena
takut ketahuan oleh Saya yang akan pulang berliburan dari rumah
Orangtua.
Setelah beberapa hari kemudian Saya mendengar salah seorang pembantu
bercerita pada temannya lagi, bahwa hari Sabtu kemarin dia nonton BF
beramai-ramai dirumah Saya. Saya yang mendengar itu langsung Saya
hampiri pembantu tersebut yang bernama Iroh dan Saya bertanya.
“Iroh Benar Kamu nonton dirumah Saya?!” Iroh kaget karena ditegur oleh Saya.
“Bbee.. Nar Pak..” Jawabnya gugup dan raut mukanya memerah karena takut.
“Sama siapa saja Kamu nontonnya..?!” selidikku lagi.
“Sama Maya, Ani dan Ipah.. Pak!” jawabnya lagi.
“Film apa yang Kamu tonton..?!” tanyaku lagi pura-pura tidak tahu.
“Film Dewasa Pak..” jawabnya singkat.
“Film Dewasa apa?!” cecarku kemudian.
“Film porno Pak..!” jawabnya lagi.
“Oke.. Terima kasih ya atas informasinya ” kataku.
Saya pulang ke rumah tetapi tidak Saya tegur si Maya mengenai hal
tersebut diatas. Hal tersebut Saya simpan sampai beberapa hari agar
tidak curiga. Pada hari ke sepuluhnya baru Saya memanggil si Maya.
“Maya.. Sini sebentar..” panggilku.
“Ya.. Pak.. Ada apa Pak..?!” jawabnya.
“Waktu hari Sabtu yang lalu Kamu kumpul disini ya..?!” tanyaku dengan nada masih lembut.
“Hari Sabtu kapan Pak..?” tanyanya lagi.
“Waktu Saya dan keluarga pergi ke rumah Orang tua Saya..” jawabku.
“Oohh.. Iya Pak..” jawabnya singkat.
“Kamu ngapai aja disini..?!” selidikku pelan.
“Saya hanya rujakkan sama teman-teman..” jawabnya sambil menahan sesak didada karena berbohong.
“Yang benar.. Kamu hanya rujakkan aja..!!” seruku menyelidik lagi.
“Iya Pak.. Kalau nggak percaya tanya aja sama mereka..” sergahnya lagi.
“Katanya Kalian rujakkan sambil nonton film porno..!” selidikku lagi.
“Nggak kok Pak..” jawabnya lagi sambil tertunduk menutupi wajahnya yang memerah.
“Kata si Iroh Kalian pada Nonton Film porno..” cecarku lagi.
“Iya Pak..” jawabnya malu.
“Kenapa nunduk aja.. Ayo lihat ke Saya..” pintaku lagi.
Dengan berat hati Maya menatap ke Saya dengan rasa takut.
“Kenapa Kamu berani-beraninya nonton Film itu..?!” tanyaku lagi.
“Si Ani yang minta distelin film itu..” jawabnya ketakutan. Sebagai
informasi Si Ani pembantu sebelah rumah sudah menjanda dan umurnya
kira-kira 26 tahunan.
“Kamu merasa sudah Dewasa yaa..?!” tanyaku dengan lembut.
“Nggak Pak..” jawabnya singkat.
“Jadi untuk apa Kamu nonton film itu..?!” selidikku terus agar dia merasa bersalah.
“Hanya ingin tahu aja kok Pak..” Jawabnya polos.
“Boleh Kamu ingin tahu, tetapi caranya salah..” hardikku tenang.
“Iya.. Pak.. Maya ngaku salah.. Maafkan Maya ya Pak..” mohonnya kepada Saya.
“Oke.. Saya maafkan Kamu tetapi jangan Kamu ualangi lagi yaa..” Kataku lagi.
“Iyaa.. Pak..” Jawabnya sambil tersenyum.
“Kamu sudah kasih makan anak-anak belum?” tanyaku.
“Sudah Pak..” jawabnya.
“Sekarang Kamu ajak anak-anak tidur siang yaa..” pintaku kepadanya.
Singkat cerita mereka bertiga tertidur dikamar belakang yang biasa
ditempati oleh anak-anak. Jam menunjukkan 13.15, Saya membuka pintu
kamar tersebut dan melihat anak-anak sudah tertidur pulas ditemani oleh
si Maya yang tidur ditepi ranjang dengan posisi telentang.
Saya masuk perlahan-lahan dan kucolek tangan si Maya, ternyata tidak
ada reaksi darinya. Maka Saya coba menyingkapkan dasternya secara
hati-hati sampai keatas perutnya.
Saya lihat CDnya yang berwarna putih membayang bulu halus didalamnya,
Saya coba merabanya perlahan pada bagian gundukan cdnya sambil menekan
secara hati-hati agar tidak terbangun. Saya lihat Maya diam saja seolah
tidak ada kegiatan apa-apa pada dirinya.
Saya yakin dia pasti tahu Saya sedang meraba-raba tubuhnya, tetapi
dia pura-pura tidur karena merasakan nikmatnya sentuhan tangan seorang
laki-laki.
Beberapa menit kemudian Saya merasa CD Saya ada yang mengganjal,
makin asyik Saya meraba semakin kencang saja kemaluan Saya menekan CD.
Maka Saya buka celana dan CD Saya sambil terus meraba vagina Maya yang
masih memakai CD itu, ternyata cdnya mulai basah oleh air kenikmatan
yang keluar dari vaginanya.
Saya coba melepaskan cdnya perlahan dan ternyata Maya memberikan
peluang agar cdnya mudah terlepas dengan cara mengangkat pantatnya
sedikit padahal dia masih tidur. Saya berpikir bahwa Si Maya tidak
tidur, tetapi pura-pura tidur.
Saya coba mendekati vaginanya dengan hidung untuk mencium aromanya
dan ternyata dia merawat dengan baik vaginanya sehingga tidak bau dan
bulu-bulu halusnya tertata rapi. Saya menjulurkan lidah Saya kealat
vitalnya sambil merasakan cairan kehangatan yang baru saja keluar.
Mungkin Maya merasakan kenikmatan Saya jilati vaginanya, dia mulai
membuka pahanya walaupun masih dalam keadaan tidur.
Kini Saya makin nafsu melihat bongkahan belahan vaginanya yang mulai
terbuka agak lebar itu, Saya semakin dekat menjilati lubang vaginanya
serta sekali-kali lidah Saya masuk kedalamnya dan tanpa terasa kedua
pahanya membuka semakin lebar saja sehingga lubang vaginanya makin
merekah terbuka.
Saya sudah tidak tahan lagi, maka Saya arahkan kemaluan Saya kelubang
vaginanya yang masih sempit itu. Memang si Maya masih Perawan statusnya
sehingga Saya agak susah memasukkan kemaluan yang lumayan besar tertama
bagian kepalanya.
Saya tekan perlahan ternyata Maya melenguh sambil menggerakkan
pantatnya karena tertekan kemaluannya. Saya makin menekan lagi lagi lagi
dan akhirnya masuk terbenam semua batang kemaluanku, Maya masih tidak
bereaksi sama sekali.
Saya memulai permainan ini dengan perlahan karena takut si Maya
terasa sakit. Rupanya Maya merasakan nikmat karena Saya mendengar
desahan nafasnya yang tertahan perlahan-lahan “Eehh.. hh..” desahnya.
Saya memaju mundurkan kemaluan dengan hati-hati dan ternyata si Maya
sudah mencapai orgasmenya, sebab Saya merasakan ada cairan yang
membasahi batang kemaluanku sehingga dengan mudahnya mempermainkan
kemaluanku turun naik secara continue.
Sepuluh menit kemudian Saya menyusul sampai puncak kenikmatan yang
tak tertahankan lagi dan oohh.. Croott.. Croott.. Saya memuncratkan
sperma kedalam lubang vaginanya si Maya.
Setelah puas dan merasakan kemaluan Saya sudah menciut, Saya cabut
perlahan-lahan dan tak lupa Saya pakaikan cdnya kembali, ternyata Maya
tahu mau dipakaikan cdnya secara perlahan Maya mengangkat pantatnya.
(Saya yakin Maya tidak tidur, tetapi pura-pura tidur) Saya pergi
kekamar mandi untuk membersihkan cairan kenikmatan si Maya yang
bercampur darah segar keperawanannya. Saya pergi ke kamar depan untuk
merebahkan diri karena merasa puas telah mendapat perawan desa yang
bersih dan lumayan cantik.
Jam 17.10 mereka pada bangun tidur siang, sedangkan Saya masih
nyenyak tidur karena lelah. Saya terbangun setelah anak-anak selesai
mandi dan berdandan rapi, karena mereka langsung mancari Saya untuk
memberikan ciuman kasih sayang anak kepada orangtuanya.
Saya keluar kamar langsung ambil handuk dan ingin mandi, didekat
kamar mandi Saya berpapasan dengan si Maya yang sedang membawa makanan
untuk anak-anak sambil tersenyum. Saya semakin yakin bahwa si Maya tadi
tidak tidur pada saat Saya setubuhi. Saya langsung masuk kekamar mandi
untuk menyegarkan diri.
Beberapa hari kemudian hal tersebut terulang lagi seperti biasa, si
Maya masih pura-pura tidur. Seminggu kemudian Saya memberanikan diri
untuk menanyakan hal tersebut.
“Maya.. Sini sebentar..” panggilku.
“Yaa.. Pak..” jawabnya.
“Kamu selama ini tidur siang cuma pura-pura yaa..?!” selidikku.
“Ach.. Nggak kok Pak.. Maya tidur siang sama anak-anak kok..” jawabnya lagi.
“Bohong Kamu.. Saya tahu kok kamu pura-pura tidur.. Iyaa.. Kan..?!” cecarku lagi.
“Benar Pak.. Maya memang tidur..” kilahnya.
“Kok Kamu.. Mendesah-desah begitu..” cecarku lagi.
“Maya mimpi ditidurin sama Bapak..” jawabnya lugu sambil tertunduk malu.
“Memangnya Kamu mau merasakan seperti yang difilm BF yang Kamu tonton waktu itu..?!” tanyaku untuk meyakinkan dia.
“Ach.. Nggak achh..” kilahnya sambil tersenyum.
“Kalau Kamu mau nggak apa-apa kok.. Nanti yaa.. Kalau anak-anak sudah pada tidur siang..” pintaku.
“Ach.. Jangan Pak..” elaknya sambil berlalu menemui anak-anak yang lagi main diteras depan.
Saya yakin Maya mau tapi malu-malu dan takut Saya marah. Siang itu
seperti biasa mereka tidur dikamar belakang, Saya menghampiri si Maya
yang sedang tidur dan Saya bangunkan sambil jari telunjukku menutup
bibirnya agar tidak berisik. Maya bangun dan duduk ditepi tempat tidur
dengan mata yang masih sembab karena tertidur pulas.
“Ayoo.. Kita pindah ke bawah aja..” ajakku (lantai yang sudah Saya siapkan dengan alas karpet permadani tebal).
“Ngapain Pak..?!” tanyanya masih terkantuk-kantuk.
“Kan Kamu bilang Kamu mimpi..” jawabku.
“Achh.. Nggak Pak.. Takut..!” serunya perlahan.
“Ini mimpi yang jadi kenyataan lho..” cecarku seolah merengek minta persetujuan.
Tanpa dikomando lagi Maya langsung turun dan duduk diatas karpet dan
Saya duduk didekatnya sambil Saya pegang pundaknya agar Maya merebahkan
diri. Maya memang masih terlihat ngantuk, sebab dia langsung menjatuhkan
kepalanya diatas bantal yang telah Saya sediakan.
Saya merebahkan diri disebelahnya sambil membuka kaos yang Saya
kenakan serta celana pendeknya. Saya masih menggunakan CD, langsung Saya
peluk Maya perlahan sambil memiringkan badannya agar menghadapku.
Saya memulai permainan dari membelai-belai rambutnya yang diteruskan
mengelus pundak dan terus kepinggangnya. Maya masih diam saja sambil
meram. Saya dekatkan bibir Saya kebibirnya serta mengulumnya, ternyata
Maya masih belum bereaksi juga.
Kusingkap dasternya dari bawah keatas untuk melepaskannya, kini
terpampanglah dua gunung kembar yang masih terbungkus BH dan CD. Maya
mulai membuka matanya sedikit demi sedikit, Saya meremas gunung
kembarnya secara perlahan dari balik BH-nya sambil sesekali memilin
putingnya dan Mayapun mendesah.
“Ehh.. Hh”.
“Kenapa sayang.. Enak yaa..” tanyaku ditelinganya perlahan.
“Hee.. Ehh” jawabnya merintih.
“Buka yaa.. BH-nya..” pintaku dan dijawab oleh anggukan kepalanya.
Saya buka BH-nya dan tanpa meminta lagi kuloloskan juga CD-nya. Tanpa
menunggu aba-aba lagi Saya langsung bergerilya memporakporandakan
pertahanan musuh (perang kali).
Kujilati puting susunya dan secara perlahan turun keperut serta
selangkangannya sambil kubuka kedua pahanya agar kepala saya dapat masuk
untuk menjilati vaginanya. Maya mendesah ketika Kumasukkan lidahku
lebih dalam ke lubang vaginanya.
“Ehh.. Enak.. Pak.. Truuss..”
Saya makin bertambah nafsu dan semakin gencar jilatan-jilatan sampai pantat Maya terangkat karena sudah mencapai orgasmenya.
“Pak.. Maya.. Mau pipis.. Pak.. Oouuchh ” rintihnya yang dibarengi
mengalirnya cairan putih dengan ciri khas keharumannya. Saya mendekatkan
bibirnya sambil mengulumnya dan Maya memelukku dengan eratnya sambil
berbisik.
“Capee.. Pak.. Ohh..”.
“Sekarang gantian Maya mengelus-elus burung Saya yaa..” pintaku.
“Ogah achh.. Takut..” Sergahnya.
“Nggak apa-apa kok, Maya cuam elus-elus pelan kok..” rengekku.
Tanpa komando berikutnya, Maya langsung menghampiri selangkanganku
dan meloloskan CD-ku. Maya agak terbelalak melihat burungku yang sudah
tegak sejak tadi dan tangannya mendekati dengan perasaan berdebar untuk
memegangnya.
“Kamu genggam batangnya, lalu kocok perlahan seperti memerah susu sapi..” perintahku lagi.
“Begini ya Pak..” Maya berkata sambil melakukan kocokan perlahan (karena Maya sudah lihat caranya di VCD).
“Hee e.. Eeh..” jawabku sambil menikmati.
Aku meminta Maya agar berada diatasku seperti posisi 69, Maya
menuruti dan Saya memulai menjilati lubang vaginanya yang sesekali
memasukkan jari telunjukku untuk menggelitik clitorisnya dan..
“Hmm.. Hmm..” Desahnya yang terhalang oleh kemaluanku yang berada di mulutnya.
Saya melihat ada cairan putih mulai mengalir sedikit demi sedikit,
maka Saya minta Maya untuk menduduki Saya dengan lubang vaginanya
mengarah ke kemaluanku secara perlahan.
“Oohh.. Pak.. Saakit..” sergahnya sambil mencabut kembali.
“Nggak apa-apa kok.. Hanya sebentar aja kok.. Sakitnya..” kataku sambil menarik pinggangnya agar menekan vaginanya kembali.
“Hee.. Eeh.. Hmm” desahnya ketika kemaluanku menembus vaginanya.
“Perlahan aja turun naiknya.. Biar Kamu merasa nyaman dan tidak sakit..” pintaku sambil kupeluk tubuhnya yang mungil dan putih.
Tanpa terasa Maya telah lihai mempermainkan permainan ini, sehingga
Aku tidak perlu lagi mengajarinya. Maklum Maya sudah belajar via VCD
yang mungkin sering ditontonnya tanpa sepengetahuanku.
“Oohh.. Teruus.. Mayaa.. Oohh ” desahku merasakan kenikmatan.
“Heehh.. Ehehh.. Eenak Pak..” Desahnya sambil memompa dengan cepatnya.
Permainan bertambah gairah ketika terdengar suara kecipak gesekan
antara kemaluanku dengan vaginanya Maya yang sudah basah dari tadi.
“Pakk.. Paak.. Oouchh..” Maya melenguh panjang karena orgasme.
Dan Saya merasakan kehangatan pada batang kemaluanku. Saya minta Maya
berada dibawah sambil menaruh bantal untuk mengganjal pantatnya agar
bertambah nikmat merasakan vaginanya yang semakin menyembul ke atas.
“Ooeehh.. Ehhehh” ocehnya ketika kumasukkan kemaluanku ke lubang vaginanya sambil kugenjot turun naik.
“Ayoo.. Pak.. Maya.. Capek nich.. Mau Bobo..” pintanya.
Dan Saya semakin bernafsu untuk mengenjotnya lebih kencang lagi.
“Mayaa.. Saayaa.. Sampaaii.. Oohh.. Ohh” desahku perlahan ditelinganya.
“Miiaa..” Croot.. Crrot.. Croot.. Croot.. Saya memuntahkan seluruh
spermaku kelubang vaginanya sambil melumat bibirnya dengan penuh
kemenangan.
Mayapun memelukku dengan erat sambil bergumam, “Pak.. Enak.. Besok.. Lagi yaa..”
Permainan ini tidak sampai disini, tetapi masih berlanjut terus dan
dilakukan seminggu 4 kali permainan pada saat tidur siang. Kalau malam
jatah istri itu juga kalau dia yang minta.
Semakin hari semakin indah permainanku bersama Maya, karena Maya
sangat memperhatikanku dan selalu membuatku semakin gila untuk
mencumbunya bila bertemu dengannya.
Suatu hari ketika isteriku baru pulang dari kerja, isteriku kelihatan
suntuk dan kalau sudah begitu pasti terjadi keributan denganku. Sayapun
pasti terpancing oleh emosi yang dibuat oleh isteriku sehingga tak
tahan lagi untuk pergi keluar rumah dan mencari udara segar.
Keesokan paginya isteriku pergi kerja tanpa pamit, Maya melihat hal
itu langsung merasa risih dan benci melihatnya. Saya saat itu masih
tidur dan anak-anak juga, sedangkan si Maya baru selesai mencuci
pakaian.
Setelah selesai menjemur cucian, Maya biasanya pergi mandi. Tetapi
kali ini Maya melihat kekamar Saya yang pintunya terbuka setelah
ditinggal oleh isteriku yang sedang ngambek. Maya melihat Saya sedang
tidur dengan menggunakan celana kolor bola yang model lama sehingga
minim sekali sampai kemaluankupun terlihat lewat celahnya.
Melihat hal itu Maya menghampiri perlahan-lahan dan duduk ditepi
tempat tidur sambil melihat kemaluanku yang sedang tegak sebagaimana
lelaki normal, jika pada pagi hari selalu ereksi. Maya memberanikan diri
untuk mengelus kemaluanku dan Saya mendadak bangun karena kaget ada
yang mengelus-elus kemaluan Saya.
Mayapun tersentak dan merasa malu, tetapi Saya langsung duduk dan
meraih pundaknya. Saya merasakan dingin memegang pakaian yang dipakai
oleh Maya, karena pakaian yang dikenakan agak basah setelah mencuci
pakaian. Maya mendekatkan tubuhnya kearah Saya dan langsung memberi
kecupan ke pipi Saya sambil berkata.
“Semalam berantem lagi yaa..!”.
“Heem..” Jawabku singkat.
“Kacian yayangku berantem terus..” Ejeknya.
Saya menarik tubuh Maya untuk tiduran disampingku dan langsung
kukulum bibirnya serta kuraba kedua gunung kembarnya secara bergantian.
“Semalam nggak dikasih yaa..” gadanya lagi.
“Boro-boro.. Nyolek aja ogah..” caciku.
“Hmm bohong..” godanya lagi.
“Benar.. Saya lagi nggak muut..” jawabku sambil tanganku turun meraba cdnya yang basah juga.
Maya menggelinjang ketika jari tangaku menyentuh klitorisnya lewat
tepi cdnya, Maya tidak tinggal diam, tangannya langsung merogoh
kemaluanku yang sudah tidak pakai CD tetapi pakai kolor bola. Maya
melepaskan kecupan bibirnya dan langsung mengarahkan mulutnya ke
kemaluanku untuk diisapnya.
Sayapun tidak mau kalah, Saya tarik kakinya agar mulutku bisa
merasakan vaginanya juga. Posisi kami sudah 69, kulepaskan cdnya dan
kusibakkan dasternya. Maya melihat itu langsung melepaskan dasternya
agar tidak menghalangi aktivitasku. Setelah itu Maya merosotkan celana
kolorku dan melanjutkan hisapannya pada kemaluanku. Sepuluh menit
kemudian Maya mulai mendesah-desah karena sudah mau mencapai orgasmenya.
“Ooh.. Pak.. Hmm..” desahnya pelan.
Saya semakin gencar melumat klitorisnya yang mulai terasa hangat,
cairan kenikmatannya mengalir perlahan-lahan langsung kuhisap dan
kujilati sampai terasa sesak dibuatnya karena ditekan oleh rasa nikmat
si Maya yang sudah orgasme.
“Aduuhh.. Pak.. Oohh..” Maya melenguh panjang.
Saya langsung bangun untuk mengambil posisi siap tempur, Saya arahkan
kemaluan yang sudah keras dan tegang sambil membuka selangkangan Maya
lebar-lebar agar mudah memasukkannya.
Maya menarik pundakku agar dapat melumat bibir Saya karena merasakan
kenikmatan saat kemaluan Saya mulai masuk kedalam vaginanya. Saya
memompa sesuai irama persetubuhan yang berlaku normal yaitu maju-mundur
secara perlahan dan semakin lama semakin cepat.
Sepuluh menit kemudian Maya mulai mendesah karena sudah mau sampai
pada puncaknya “Ouuch.. Pak.. Nggak.. Kuuat.. Oohh..” racaunya sambil
memlukku dengan erat serta melumat bibirku. Saya semakin bernafsu
sehingga goyangan pinggulku semakin gencar menghunjam vaginanya agar
Sayapun merasakan kenikmatan orgasme seperti yang dialami oleh Maya.
Lima belas kemudian rupanya si Maya sudah mau mencapai orgasmenya
lagi, sehingga Saya merasakan himpitan vaginanya pada kemaluanku yang
akan memuntahkan cairannya.
“Pakk.. Mmiiaa.. Oohh..” Desahnya karena mencapai puncaknya. Saya
memompa semakin cepat karena sudah terasa pada batang kemaluan aliaran
lahar panas yang akan memuncrat didalam goa kenikmatan si Maya.
“Oo.. Miiaa.. Oouchh..” desahku sambil memuncratkan spermaku didalam lubang vaginanya.
Saya masih menindihnya karena masih merasakan denyutan kemaluanku dan
himpitan vagina si Maya yang masih mengempot-empot bagaikan sedang
menghisap-hisap. Setelah mereda tegangan kemaluanku, kucabut kemaluanku
dan merebah disamping Maya.
Maya memelukku dan “Terima kasih yaa.. Pak..!” bisiknya. Saya masih
memilin-milin puting susunya sambil bercerita ngalor ngidul. Rupanya
Maya memang sangat perhatian terhadapku. Maya tidak mau melihat Saya
murung dan sedih karena ulah isteriku yang egois dan merendahkan
suaminya.
“Pak.. Maya.. Benci sama ibu.. (isteriku)” katanya.
“Kenapa benci sama Ibu..?!” tanyaku.
“Ibu jahat, Ibu nyebelin..” katanya lagi dengan nada agak kesal.
“Jahat kenapa? Nyebelin kenapa..?” selidikku.
“Pokoknya jahat, masa Bapak diremehin gitu..” jawabnya.
“Terus nyebelinnya kenapa..?” tanyaku lagi.
“Habis pagi-pagi Maya kena semprot juga, padahal Maya nggak punya salahkan..” Belanya.
“Yaa.. Sudah.. Mungkin Ibu lagi kesel sama Bapak..” menenangkannya
sambil kupeluk tubuhnya dan tak terasa kemaluanku sudah ngaceng lagi dan
berada tepat didepan vaginanya.
Maya merasakan ada yang menyentuh vaginanya, langsung mengangkat
sebelah kakinya agar kemaluanku dapat masuk kelubang vaginanya sambil
mendorong maju.
Saya mengangkat Maya agar ada diatasku dan Saya suruh jangkok diatas
kemaluanku sambil terus memompa kemaluanku turun naik. Singkat cerita,
dua puluh menit kemudian Saya baru mencapai orgasmenya sedangkan si Maya
sudah tiga kali mencapai orgasme.
Jam telah menunjukkan pukul 06.40 wib, anak-anak masih tidur karena
semalam tidur agak larut. Maya bangkit dan keluar kamarku untuk pergi
mandi, Saya mengikutinya dari belakang dan Kami mandi berdua sambil
saling menyabuni tubuh bergantian.
Saya agak terangsang saat si Maya menyabuni kemaluanku yang tiba-tiba
tegang. Maka kusuruh si Maya ambil posisi nungging agar Saya bisa
menghunjam vaginanya lewat belakang. Setelah orgasme Kami mandi untuk
membersihkan badan kembali.
Jam 07.30 wib. Anak-anak baru pada bangun dan langsung mencari Saya
yang sedang membaca koran sambil minum kopi yang dibuatkan oleh si Maya
diteras.
“Celamat pagi Papa..” ucap Mereka.
“Pagi juga chayank..” balasku sambil kupeluk dan cium mereka satu-persatu.
“Enak yaa.. Bobonya..” seruku yang dibalas anggukkan mereka.
“Ayo pada mandi dulu..” tiba-tiba Maya muncul dari dalam.
“Ayo Kita mandi..” jawabnya kegirangan.
Saya melihat hal seperti ini sangat bahagia, coba Saya punya isteri
seperti si Maya yang sangat perhatian kepada anak-anak dan Bapaknya.
Betapa indahnya dunia ini kurasa.
Seperti biasa setelah makan siang anak-anak pada pergi tidur dan si
Maya siap untuk menemani Bapaknya tidur siang juga. Maya mencariku
kedepan, karena Saya sedang asyik memberi makan ikan-ikan peliharaanku.
“Pak.. Tidur siang dulu Pak..” serunya kepadaku.
“O.. Iya..” jawabku sambil tersenyum kegirangan.
Maya masuk ke kamarku dan Saya menyusulnya dari belakang sambil ku
tutup pintu depan agar kalau ada yang datang ketahuan. Maya langsung
naik keatas tempat tidurku dan langsung melepaskan dasternya yang
ternyata sudah tidak ada lagi pakaian dalam yang dikenakannya.
Maya sudah siap tempur rupanya. Saya melihat hal tersebut tidak mau
kalah, Saya langsung melepas seluruh pakaian yang Kukenakan sehingga
bugil. Saya langsung menyibakkan kedua pahanya agar dapat langsung
menaruh kepala Saya untuk langsung menyerang vaginanya dengan mulutku.
“Oouuh.. Pak.. Eennaakk..” racaunya sambil menekan kepalaku.
Mendengar racauannya Saya semakin agresif saja menjilatinya dan
tangan kiriku kumasukkan kedalam lubang anusnya sehingga Maya
menggelinjang karena nikmat. Beberapa menit kemudian Maya menjepit
kepala Saya karena mencapai orgasmenya.
Saya terus menjilati cairan kenikmatannya. Setelah itu kulihat si
Maya terkulai lemas, maka Saya ambila inisiatif untuk nungging diatasnya
sambil mengarahkan kemaluanku ke mulutnya.
Maya langsung tanggap dan dilumatlah kemaluan Saya sambil dihisap
keluar masuk mulutnya. Saya mengubah posisi menjadi 69 dan Saya masukkan
jari tengah Saya kelubang vaginanya agar Maya bangkit lagi gairahnya.
Tak lama kemudian Vaginanya mulai terasa basah, maka Saya mencabut
kemaluan Saya dari mulutnya untuk langsung pindah ke lubang vaginanya.
“Oouuchh.. Pak.. Tekan yang dalam Pak..” pintanya agar Saya menekan lebih dalam.
Saya menghujamkan kemaluan Saya dengan cepat turun naik agar Saya
bisa mencapai puncaknya secara berbarengan. Lima belas menit kemudian
Saya dengar Maya mendesah karena sudah mendekati puncaknya, maka Saya
semakin kencang memompa turun naik agar bisa sama-sama keluar
berbarengan.
“Ooh.. Pak.. Maya mauu.. Ouuchh..”
Maya memelukku dengan erat karena sudah mencapai Klimaxnya. Saya terus menggenjot vaginannya dan “Oo yee.. Hmm”
Saya memuncratkan cairan peju kedalam lubang vaginanya sambil
mengulum bibirnya. Walaupun sudah mencapai puncaknya, Saya masih
membenamkan kemaluan Saya dilubang vaginanya sambil berpelukkan. Setelah
kemaluan Saya mulai mengecil baru Saya cabut dan rebah disisi Maya.
“Terima kasih yaa sayang..” seruku sambil mengecup keningnya.
“Sama-sama Pak..” jawabnya.
Kamipun langsung tidur berpelukkan tanpa busana. Sore harinya Kami
bangun sekitar pukul 16.15 wib. Dan Saya minta kepada Maya agar mau
melayaniku sekali lagi secara express. Maya langsung mengulum kemaluanku
dengan bersemangat agar Saya cepat-cepat ereksi dan siap untuk
bertempur.
Lima menit kemudian Saya sudah ereksi, rupanya Maya telah mahir cara
membangkitkan gairahku walaupun masih pemula. Saya langsung memasukkan
kemaluan Saya ke vaginanya dan memompa dengan cepat agar permainan cepat
selesai.
Benar saja sepuluh menit kemudian Saya mencapai puncaknya secara
bersamaan. Maya langsung memakai dasternya lagi langsung meninggalkan
kamar Saya untuk membangunkan anak-anak yang masih tidur dikamar
sebelah.
Semakin hari semakin menjadi-jadi dan tanpa kenal waktu lagi bagi
kami berdua. Maya sudah tidak segan-segan lagi jika sedang ingin
melakukan hubungan badan, Maya langsung meminta dariku tanpa malu dan
ragu.
Hubungan kami berjalan mulus tanpa ada yang menghalangi sampai saat
ini. Kami melakukan dimana saja bila sudah tak terbendung lagi hasrat
ini, didapur, diruang tamu, dikamar mandi bahkan diteras rumah sebagai
variasi/fantasi.
Pada suatu hari Maya meminta saya melakukan di ruang tamu sambil
menonton vcd porno, kebetulan film tersebut adalah Bandung Lautan Asmara
yang heboh itu. kami bercumbu sambil sesekali melihat adegan-adegan
yang ada, kami terus bercumbu semakin hot berguling di lantai saling
mengulum menghisap yang dilanjutkan persetubuhan.
Maya semakin lincah menggoyang pinggulnya sehingga kemaluan saya
terasa seperti dipelintir dan diremas-remas oleh vaginanya. Dua belas
menit kemudian Maya melingkarkan kakinya ke pinggang saya sambil menarik
kepala saya untuk melumat bibir karena sudah mencapai orgasmenya.
“Pak.. Hmm..” hilang sudah racaunya karena melumat bibir saya.
“Enak sayang..?!” tanyaku perlahan.
Dan dijawab anggukkan kepalanya. Saya masih belum mau memuncratkan
peju ini, saya masih ingin menikmati permainan ini yang penuh sensasi
karena lantai menjadi basah oleh keringat yang bercucuran dari kami
berdua.
Maya rupanya sudah bangkit kembali gairahnya, sehingga pinggulnya
bergerak kekanan dan kiri. Saya langsung menggenjot semakin cepat,
karena saya tahu si Maya tidak akan bertahan lama untuk mencapai puncak
kenikmatannya.
Maya dalam sekali permainan bisa mencapai puncaknya sampai tiga atau
empat kali. Jadi saya sudah hafal benar kekuatannya dalam memacu birahi
ini, apalagi kalau Maya habis melakukan kerja berat maka akan lebih
cepat mencapai puncaknya.
Lima menit kemudian Maya mengerang panjang sambil menjambak rambut saya untuk meraih bibir saya untuk dilumatnya.
“Aduuh.. Pak.. Enaakk..” bisiknya perlahan.
Saya juga tidak mau kalah, maka saya menghujam lebih dahsyat lagi dan
menekan semakin dalam kemaluan saya agar bisa mencapai puncaknya.
“Mayaa.. Sayyaa.. Oouu.. Ucchh..”
Saya memuncratkan peju didalam lubang vaginanya. Kali ini peju saya
terasa lebih banyak dari pada biasanya, karena tadi pagi Maya membuatkan
susu dicampur dengan kuning telur bebek ditambah lada hitam. Memang
saya pernah meminta agar Maya mau menyediakan minuman tersebut setiap
pagi. Setelah kemaluan saya menciut, saya cabut dan rebah disisinya.
“Pak.. Enak.. Yaa..” serunya ditelingaku.
“Hee.. Eeh ” jawabku sambil terengah-engah karena masih terasa capai.
“Pak..” serunya lagi.
“Ada apa sayang..?” tanyaku lagi.
“Bapak sayang nggak sama Maya..?” tanyanya.
“Kok kamu tanyakan itu..!?” jawabku sambil bertanya.
“Bapak sayang nggak..” rengeknya manja.
“Sayang dong.., kalau saya nggak sayang sama kamu, masa saya
mau-maunya disuruh menjilati vagina kamu, membela kamu waktu diomelin
sama Ibu karena kamu berbuat kesalahan dirumah..” jawabku.
“Pak.. Maya.. Telat dua minggu Pak..” rengeknya lagi sambil menampakkan kesedihan.
“Kok kamu baru bilang sekarang sichh..” selidikku hati-hati, karena takut Maya tersinggung.
“Habis saya takut Bapak marah..” rengeknya lagi sambil mengusap-ngusap dada saya.
“Kenapa takut, kan Kita sudah hampir tiga bulan melakukan hubungan ini..” jawabku.
“Terus gimana dong..?!” manjanya lagi.
“Ya.. Apa boleh buat saya harus bicara sama Orang tua kamu, saya mau
mangawaini kamu.. Asal Kamunya mau sama saya.” jawabku untuk
membahagiakannya.
“Benar.. Bapak mau mengawini saya..?” tanyanya ragu-ragu.
“Tentu dong Sayang.. saya sangat menyayangi kamu, karena kamu sangat perhatian terhadap saya dan anak-anak saya..” jawabku lagi.
“Kalau gitu.. Maya mau telepon Bapak dikampung yaa..?” pintanya.
“Silahkan saya sudah siap kok menghadapi kenyataan ini..” jawabku dengan sungguh-sungguh.
Maya langsung menciumku dengan gemasnya sehingga membuat kemaluan
saya mulai agak tegang lagi. Maya melihat hal tersebut langsung
menyambut kemaluan saya dengan kuluman dengan penuh kemenangan,
dikocoknya kemaluan saya dengan cepat. Rupanya Maya ingin agar saya
mencapai puncaknya dengan cepat.
“Pak.. Kalau mau keluar bialang yaa..” pintanya.
Beberapa menit kemudian saya merasakan peju ini sudah berada dibatang
kemaluan, saya langsung memberi kode ke Maya dan Maya menghentikan
hisapannya sambil merebahkan di sisi saya.
“Pak.. Mandiin Maya dengan peju Bapak dong.. Cepaatt..” rengeknya manja.
Saya langsung berdiri dan mengarahkan kemaluan saya agar muncrat
diatas tubuh si Maya. Setelah peju muncrat ditubuhnya, Maya langsung
mengoleskan peju itu ke seluruh tubuhnya bagaikan sedang luluran. Maya
meraih kemaluan saya dan dimasukkan kedalam mulutnya untuk dihisap. Saya
merasakan ngilu ketika hisapan panjang yang dilakukannya.
“Ooh.. Maya.. Pelann..” pintaku karena nggak tahan ngilunya.
“Pak.. Maya masih belum siap punya anak..” rengeknya setelah mandi peju dan menghisap kemaluan saya.
“Jadi mau kamu gimana..?” tanyaku agak kaget.
“Maya.. Mau gugurkan aja..” rengeknya manja.
“Gugurkan gimana..?!” cecarku lagi.
“Pakai obat apa kek..!” serunya lagi.
“Ok.. Nanti saya coba cari jamu cina yaa..” jawabku spontan. Maya
tersenyum mendengarnya dan langsung memeluk tubuh saya untuk didekapnya.
Keesokan harinya saya pergi mencari jamu peluntur buatan cina dan
dapat walaupun harganya tidak terlalu mahal, saya beli dua paket dan
langsung pulang. Setibanya dirumah saya berikan jamu itu dan saya kasih
tahu cara meminumnya.
Maya langsung meminum jamu tersebut. Rupanya reaksi jamu itu sangat
cepat, Maya merasakan perutnya dipelintir-pelintir sehingga terasa mulas
untuk pergi ke toilet. Maya mencoba membantu reaksi tersebut dengan
cara mengedan seperti orang mau melahirkan dan hasilnya masih belum
memuaskan. Maya terlihat pucat karena merasa perutnya ada yang
mengaduk-ngaduk dan peras-peras, melihat hal tersebut saya tidak tega.
“Gimana reaksi jamu itu..?” tanya saya.
“Mules-mules terus Pak..” jawabnya sambil nyengir-nyengir.
“Mungkin jamu itu sedang bereaksi untuk menghancurkan janin..” jawabku agar tenang.
“Tapi nggak keluar apa-apa Pak..” rengeknya lagi.
“Mungkin nanti.. Kalau sudah hancur..” saya coba menenangkan.
Hari itu saya tidak melakukan kegiatan persetubuhan hingga beberapa
hari, karena saya dan Maya ingin melihat reaksi jamu tersebut yang
diminum sebanyak dua paket. Seminggu kemudian rupanya Maya kangen,
begitu juga saya yang sudah seminggu tenggur alias meteng nganggur.
“Pak..” panggilnya ketika saya sedang asyik mengutak-utik setrika yang rusak.
“Ada apa..” jawabku sambil menoleh.
“Kangeenn..” manjanya sambil mukanya dibikin sedih.
“Emangnya mau..” godaku.
“Ayoo..” rengeknya manja.
“Sebentar yaa.. saya beresin ini dulu..” jawabku sambil berkemas untuk memberesi barang-barang perkakas.
“Cepeet..” rengeknya lagi.
“Iyaa.. saya juga pengen kok..” jawabku untuk menyenangkannya.
Maya langsung masuk ke dalam, rupanya Maya sudah masuk ke dalam kamar
saya dengan posisi telentang bugil sambil mengangkangkan pahanya.
Melihat hal itu saya langsung menuju kamar dan langsung membuka celana
pendek saya yang sudah tidak bercd lagi.
saya langsung menghampiri selangkangannya untuk menjilati lubang
vaginanya yang sudah merekah merah. Maya mengerang kecil karena
kegelian.
“Oouuch..” erangnya.
Saya mencari klitorisnya sambil menggigit kecil secara perlahan agar
Maya merasakan kenikmatan yang selama seminggu ini terpendam.
“Paak.. Oohh..” rintihnya kenikmatan.
“Kenapa sayang..?” tanyaku sambil menghentikan jilatan pada vaginanya.
“Eenaak..” desahnya sambil meraih kepalaku untuk untuk menjilati
lagi. Saya langsung melanjutkan jilatan demi jilatan dan jari kiriku
kuarahkan kelubang anusnya.
“Paak.. Mayaa.. Uuchh..” desahnya sambil menjambak rambutku karena mencapai orgasmenya.
Saya naik sambil menindihnya serta mencium bibirnya, sedangkan kemaluan saya yang sudah tegang menempel diatas vaginanya.
Maya menyambut ciuman bibir saya dan tangannya meraih kemaluan saya
sambil diarahkan ke lubang vaginanya. Melihat hal tersebut saya langsung
menekan dan menekan lebih dalam lagi.
“Pak.. Enaak.. Pak..” desahnya manja ketika kemaluan saya sudah terbenam semua.
Maya menggoyangkan pinggulnya dengan semangat karena sudah kangen.
saya membantu dengan manjilati puting susunya sambil gigit-gigit kecil
agar Maya lebih terangsang. Benar saja beberapa menit kemudian Maya
mengalami orgasmenya yang kedua.
“Paak.. Maya.. Nggak tahaan..” desahnya panjang sambil memelukku erat.
Melihat hal itu saya masih santai memompa dengan perlahan-lahan agar Maya penasaran.
“Ayo.. Dong keluarin.. Cepeet..” rengeknya.
“Sabar dong sayang.. saya masih mau santai dulu..” godaku sambil gigit hidungnya.
“Aduh.. Sakiit..” manjanya sambil memegang hidungnya yang tidak apa-apa.
Saya mulai memompa turun naik agak cepat, karena saya juga sudah
capai dan pegal. Rupanya Maya sudah bangkit lagi gairahnya, Maya
mendorong tubuh saya kesamping agar rebah dan langsung mengubah posisi.
Sekarang Maya sudah berada diatas saya, sambil jongkok Maya menurun
naikkan tubuhnya untuk memompa. Maya semakin gencar memompanya sehingga
saya kewalahan dibuatnya. Saya meraih kedua susunya dan langsung
kuremas-remas agar Maya juga terangsang. Maya menggigit bibir bawahnya
karena merasakan nikmat.
“Mayaa.. Terruuss..” desahku sambil mencekal pinggulnya.
“Iyaa.. Pak.. Maya.. Juga sudaahh capee..” desahnya.
“Terus Maya.. Terruuss..” pintaku sambil menekan dari bawah. Maya
menggoyang lebih cepat karena Maya sudah mau mencapai puncaknya.
“Pakk.. Paakk.. Hhmm..” lenguhnya panjang sambil memeluk dan melumat bibir saya dengan gemasnya.
“Sayyaa.. Oochh..” desahku sambil kutekan pantatnya agar kemaluanku terasa masuk lebih dalam lagi untuk memuncratkan spermaku.
Rupanya Maya benar-benar capai, Maya langsung tertidur diatas tubuh
saya dengan posisi kemaluan saya masih tertanam dilubang vaginanya.
Dua jam kemudian saya terbangun karena merasa sesak nafas, sebab si
Maya masih menindihku dengan pulasnya. Saya merasakan kemaluan saya
mulai tegang, saya coba untuk menggerakkan pinggul saya agar dapat
melampiasknya lagi. Maya terbangun dengan gerakkan itu, Maya merebahkan
diri kesisi saya dan meminta saya untuk naik keatas agar minindihnya.
Saya masukkan kemaluan saya secara perlahan dan pasti, langsung saya
pompa turun naik. Beberapa menit kemudian saya memuncratkan sperma
didalam lubang vaginanya.
“Mayaa.. Sayyaa.. Keelluuaarr..” desahku panjang. Setelah itu saya rebah disampingnya dan memeluknya dengan penuh kasih Sayang.
“Pak.. Boleh nggak Maya pinjam teleponnya..?” tanyanya.
“Boleh.. Untuk apa..?” tanyaku lagi.
“Maya mau telepon ke kampung..” jawabnya.
“Boleh.. Silahkan..” jawabku.
Maya meminta kunci telepon pada saya, karena akan menelepon orang
tuanya. Maya menelepon masih dalam keadaan bugil dan sambil nungging,
melihat itu saya iseng untuk mengobel kemaluannya yang terjepit kedua
pahanya.
Maya kelihatan sedih pada raut wajahnya. Melihat hal itu saya
menghentikan kobelan tangan pada vaginanya. Maya menitikkan air matanya
dan langsung menutup telepon tersebut.
“Ada apa Maya.. Kok.. kamu sedih..?!” selidikku sambil memeluk tubuhnya.
“Bapak marah-marah dan akan datang kesini untuk menjemput Maya.. Pak..” rengeknya.
“Lho.. Bagus dong.. Khan saya dapat bicara langsung sama orang tua kamu..” jawabk
“Maya nggak boleh kawin sama Bapak, Maya disuruh menggugurkan janin
yang sudah berumur dua setengah bulan ini..” jawabnya sambil
sesenggukkan menangis dipelukan saya.
“Sudahlah.. Nanti saya jelaskan sama Bapak kamu..” jawab saya agar Maya lebih tenang.
Maya langsung memungut dasternya yang berserakkan dilantai, saya
mencegahnya dan saya dudukkan dilantai sambil mengusap-usap rambutnya
agar tenang. Setelah agak tenang, saya mengangkat wajahnya agar menatap
saya dan terlihat matanya agak sembab. Saya mencium pipinya yang
diteruskan ke bibirnya.
Rupanya Maya menikmati ciuman tersebut sambil tangannya meraih
kemaluan saya untuk dielus-elus perlahan. Otomatis kemaluan saya bangkit
lagi, saya rebahkan Maya sambil tangan kanan saya meraba vaginanya yang
masih basah bekas siraman peju tadi. Maya menggelinjang-gelinjang
ketika jari saya menyentuh G-spotnya, vaginanya bertambah basah saja
sampai keluar membasahi lantai.
Saya menghentikan kobelan jari ini, saya minta agar Maya mau melap
dulu vaginanya agar tidak becek. Setelah dilap saya memasukkan jari
tengah ke lubang vaginanya lagi, kemaluan saya sudah tegang dan saya
minta Maya mengangkang yang lebar dengan cara mengangkat kedua kakinya
tinggi-tinggi agar lubang vaginanya menganga dengan lebar.
Saya arahkan kepala kemaluan saya kelubang vaginanya. Maya sudah
melupakan kejadian tadi ketika Maya telepon ke orang tuannya, sebab Maya
langsung menarik tubuh saya agar menekan lebih dalam lagi kemaluan ini.
Dengan mudah saya memasukkannya dan langsung saya memompa turun naik
dengan cepat agar bisa beristirahat karena kecapaian.
“Goyang yang kencang Pak..” pintanya agar saya menghunjam lebih cepat lagi.
Saya menurut saja dan dengan semangat saya percepat sehingga
terdengar suara kecipak dari dalam lubang vagina Maya “cplokk..
Cplokk..”. Beberapa menit kemudian saya sampai pada puncaknya secara
berbarengan.
“Mayaa.. Saayya..” suara saya tertahan karena bibir saya langsung melumat Bibirnya dengan penuh kemenangan.
“Hhmm..”
Maya memelukku dengan erat sambil menjepitkan pahanya ke pinggang
saya. Maya tersenyum puas, sayapun tersenyum sambil kukecup puting
susunya kanan dan kiri. kami merapihkan pakaian yang berserakkan
dilantai, Maya melap lantai yang basah oleh bercak cairan kenikmatan
kami berdua.
Kami mandi berdua sambil bercanda ria untuk menghilangkan kesedihan
yang baru dialami Maya, karena orang tuanya tidak mau mengambil saya
sebagai mantunya.
Selesai mandi saya merapihkan badan dan pergi keluar rumah untuk
membeli jamu sehat agar tetap Fit, saya paling suka minum jamu yang
dicampur pakai telor bebek dan lada hitam. Katanya ramuan tersebut
sangat ampuh untuk membangkitkan gairah sex.
Keesokkan harinya ketika saya tidur siang, orangtua Maya datang
bersama kakeknya dari kampung. Maya tidak berani membangunkan saya,
karena Maya tahu kalau saya masih capai habis melayaninya. Sore harinya
saya bangun dan diberitahu kalau orangtuanya datang, saya pergi mandi
untuk membersihkan diri setelah tadi siang bertempur dengan Maya.
Setelah rapi, saya langsung menemui orangtua Maya. kami berbicara
mengenai keadaan kampung dan kegiatannya. Orangtua Maya belum mau
membicarakan perihal Maya, karena Beliau akan berbicara dihadapn isteri
saya juga. Saya sangat setuju dan siap menghadapi segala resikonya.
Ketika isteriku datang, Orangtua Maya masih memberikan kesempatan
untuk beristirahat sebentar (maklum adat timur). Setengah jam kemudian
kami kumpul diruang tamu dan Orangtua Maya mengutarakan kedatangannya
untuk menjemput si Maya.
“Bu.. saya mohon maaf, karena saya datang mendadak untuk jemput Maya..” katanya.
“Ada apa.. Kok dijemput..?” tanya isteriku.
“Maya lagi ada masalah dengan Bapak..” katanya lagi.
“Ada masalah apa Maya..?” tanya isteriku pada Maya.
“Anu Bu..” jawabnya gugup dan ragu.
“Bilang aja terus terang Maya..” kata Orangtuanya.
“Maya hamil Bu..” jawabnya tertunduk.
“Apaa..? Hamill..” isteriku kaget mendengar ucapan Maya.
“Iyaa Bu.. Sudah dua setengah bulan..” katanya lagi pelan.
“Pa.. Benar kamu menghamili si Maya..?” tanyanya padaku.
“Benar..” jawabku.
“Kok.. Tega sih mengkhianati saya..!” seru isteriku.
“Saya sama Maya melakukan itu karena kasih sayang dan suka sama suka..” jawabku.
“Benar Maya.. kamu melakukan atas dasar suka sama suka..” cecar isteriku ke Maya.
“Benar Bu..” jawabnya singkat.
“Yah apa boleh buat, sekarang terserah Papa dech..” kata isteriku.
“Ok.. saya akan menikahi Maya, itu juga kalau disetujui oleh kamu dan orangtuanya ” kataku.
“Tidak.. saya tidak mau..” kata Orangtuanya.
“Saya tidak mau punya mantu yang cocok jadi Ayahnya anak saya..” katanya lagi.
“Jadi mau Bapak gimana..?” tanyaku.
“Gugurkan.. Pokoknya gugurkan..” jawabnya seenaknya.
“Saya tidak mau bikin dosa lagi Pak..” kataku meminta.
“Pokoknya gugurkan..” pintanya.
“Bapak mau menanggung dosanya..?” tanyaku.
“Saya siap menanggung dosanya ” jawabnya sekenanya.
“Yah.. Apa boleh buat, saya hanya pasrah” kataku singkat.
“Saya hanya minta ongkos Rp. 2000.000,- untuk menggugurkan..” pintanya.
“Memang cukup dengan uang segitu?” tanyaku.
“Cukup kalau dikampung, saya masih sanggup menambahi kekurangannya..” sombongnya.
Karena kesal mendengarnya, saya memberikan uang yang diminta dan tidak saya kasih lebih sepeserpun karena keangkuhannya.
“Nich.. Uangnya..” saya memberikan uang yang dimintanya.
“Saya terima uangnya, Maya sudah siap belum untuk berangkat..?” tanya orangtuanya. Maya menganggukkan kepalanya.
“Maaf Pak.. Hari sudah malam, gimana kalau besok pagi aja..?!” seruku memohon.
“Iya Pak..” kata isteriku dengan wajah sedih.
Isteriku memang sudah siap menghadapi apapun yang terjadi denganku,
Dia tetap tegar menghadapinya walaupun kecewa. Singkat cerita Maya dan
keluarganya menginap dirumah. Aku dan isteriku masuk kamar dan
menanyakan hal tersebut kenapa bisa terjadi.
“Pa.. Kok bisa sich..” kata isteriku.
“Kenapa nggak.. Kan saya hanya dengan Maya dan anak-anak dirumah..” jawabku sekenanya.
“Iya.. Kenapa kamu lakukan sama si Maya” kata isteriku lagi.
“Maya penuh perhatian terhadap saya, sedangkan kamu bisanya marah-marah” belaku.
“Jadi kamu benar mencintainya..?” tanya isteriku lagi.
“Benar.. saya dan anak-anak sangat sayang sama si Maya ” jawabku.
Isteriku merasakan kecewa mendengar penjelasanku, karena memang itu
keadaannya. Isteriku keluar kamar dan menghampiri si Maya, dibawanya
Maya masuk kamar. Kami berbicara bertiga, sedangkan Orang tua dan
Kakeknya Maya sudah tidur.
“Maya kamu benar mencintai Bapak..?” tanya isteriku.
“Iya Bu..” jawabnya singkat.
“Benar kamu suka sama Bapak?” cecarnya lagi.
“Benar Bu..” jawabnya lagi.
“Apa saja yang kamu lakukan kalau Ibu nggak ada dirumah?” tanyanya lagi.
“Yaa.. Berbuat itu Bu..” jawabnya sekenanya.
“Berbuat itu bagaimana..?” cecarnya lagi.
“Berbuat seperti Ibu dan Bapak..” jawabnya lugu.
“Maksud kamu apa..?” tanya isteriku pura-pura bego.
“Ya.. saya hisap itunya, Sayaa..” jawabnya malu-malu.
“Itunya apa..?” tanya isteriku lagi.
“Burung Bapak Bu..” jawabnya.
“Coba kasih contoh!” seru isteriku.
Maya kaget mendengarnya sambil melihat kearahku. Saya hanya tersenyum dan menganggukkan kepala untuk memberi syarat kepadanya.
“Ayo.. Kasih contoh..” pinta isteriku.
Maya menghampiri saya dan melepaskan celana pendek saya, maka
menyembullah kemaluan yang sudah tegang dan tidak ber CD lagi. Isteriku
kaget karena saya tidak memaki CD.
“Pa.. kamu sudah tidak pakai CD yaa..?” tanyanya dan saya mengangguk.
“Bapak memang tidak pernah pakai CD Bu..” jawabnya polos.
“Pantes kamu suka sama Bapak..” kata isteriku pada si Maya.
Maya masih melanjutkan hisapan dan jilatan pada kemaluanku.
“Buka pakaian kamu ” pinta Isteriku pada Maya. Mayapun menuruti permintaan isteriku.
“Kalau sudah begini, biasanya kamu ngapain lagi..?” tanya Isteriku.
“Burung Bapak dimasukkin..” jawabnya.
“Masukkin kemana..?” tanya isteriku lagi.
“Kesini Bu..” jawabnya sambil menunjuk vaginanya.
“Ayo masukkin, cepaat..” pintanya lagi.
Maya langsung mengarahkan vaginanya kekemaluanku dan langsung
menggoyang pinggulnya. Isteriku hanya tepaku melihat apa yang sedang
terjadi saat itu, otomatis melihat adegan seperti itu, Isteriku mulai
melucuti pakaiannya sendiri satu persatu.
Maya masih asyik memompa kemaluanku dengan gencar, sedangkan isteriku
lagi asyik mengobel lubang vaginanya dan tangan kanannya meremas-remas
susunya Maya. Melihat hal itu Mayapun meremas-remas susu isteri saya.
Beberapa menit kemudian Maya mengerang.
“Pakk.. Mayaa.. Sampai Pakk..” desahnya.
Melihat Maya sudah sampai orgasmenya, isteriku langsung menggantikan
posisi Maya untuk menindihku dan langsung memompanya. Maya terkulai
lemas disisiku sambil menciumi bibirku. Sepulu menit kemudian isteriku
mengerang karena sudah mencapai orgasmenya.
“Paa.. Oohh Paa..” erangnya panjang.
Saya belum mencapai puncaknya, maka saya bangkit dan meraih paha si
Maya untuk mengangkang agar kemaluan saya dapat masuk dengan mudah. Saya
langsung memompanya dengan penuh nafsu, sedangkan isteriku menjilati
susu si Maya.
Berselang sepuluh menit kemudian saya mencapai puncaknya. Saya cabut
kemaluan saya dan disemprotkan ke mulut Maya dan isteri saya. Malam itu
kami tidur bertiga dalam keadaa bugil.
Jam menunjukkan pukul 04.30 wib. Saya terbangun dan melihat keadaan
disisi kiri ada si Maya sedangkan sisi kanan ada isteriku, keduanya
masih tertidur. Seperti biasa kalau pagi kemaluan saya suka ereksi dan
saya lihat Maya tidur dengan posisi kedua pahanya terbuka lebar,
sedangkan isteriku memeluk guling.
Maka saya langsung ambil posisi diantara selangkangan si Maya untuk
mengarahkan kemaluan saya. Saya memompa turun naik sehingga membuat
tempat tidur agak bergetar, isteriku terbangun dan dilihatnya saya lagi
asyik memompa si Maya yang masih pulas.
“Pa.. Kok.. Maya sih yang dipakai..?” tanya isteriku.
“Kamu tidurnya memeluk guling sih..” jawabku.
“Ayo sini.. Gantian..” katanya. saya mencabut kemaluan saya dan pindah mengarahkan ke lubang vagina isteri saya.
“Tadi si Maya tidurnya ngangkang, sedangkan kamu tertutup guling..” belaku.
“Kok si Maya keblug banget yaa..!” seru isteriku melihat Maya masih pulas.
“Baru tahu Dia..” ejekku kepada isteriku.
“Paa.. Oohh.. Paa..” desah isteriku sambil memelukku erat karena orgasme.
“Saya pindah lagi ya Maa..” pintaku yang dibalas dengan anggukkan kepala.
Saya pindah dan langsung mengarahkan kemaluanku ke lubang vagina si
Maya. Maya tersadar setelah tiga kali hujaman dari pompaanku.
“Pak.. Nggak enak sama Ibu..” katanya.
“Barusan Ibu sudah.. Sekarang giliran kamu..” jawabku.
Saya memompa dengan cepat agar permainan cepat selesai, Maya membantu
dengan goyangan pinggulnya yang cepat. Beberapa menit kemudian Maya
mengerang dan disusul olehku.
“Pakk.. Hmm.. Pakk..” erangnya.
“Mayaa.. Ohh..” desahku.
Saya mencabut kemaluanku yang mulai mengecil, langsung disambut oleh
Maya untuk menjilati. Melihat hal itu isterikupun ikut ambil bagian
untuk menjilatinya.
Pagi harinya sekitar jam 07.00 wib. Maya dan keluarganya pamit mau
pulang kampung. Maya masih bisa tersenyum sebagai tanda perpisahan
untukku dan keluarga, padahal di kampung nanti Maya akan diobok-obok
untuk mengeluarkan janin yang dikandungnya.