Aku memang punya keistimewaan untuk merayu cewek atau menaklukan cewek
umurku yang sekarng tak cukup muda aku mencoba berbagi cerita sekarang
umurku 61 tahun dulu pernah saat aku masih kelas 3 SMP aku pernah
menghamili temanku sendiri, dan saat aku menginjak umur ABG aku
menghamili 5 cewek dan terpaksa aku mengawininya.
Satu di antaranya Winnie, seorang gadis peranakan Belanda dan Cina
yang pada akhirnya aku terpaksa mengawininya karena hanya dia yang ambil
risiko untuk melahirkan bayi atas kenakalanku dibanding gadis lain.
Winnie sampai memberiku 3 orang anak, tetapi selama aku
mendampinginya dalam hidupku, aku masih juga bermain dengan perempuan
sampai usiaku 50 tahun, inipun disebabkan karena Winnie harus tinggal di
Belanda karena sakit yang dideritanya hingga akhir hayatnya yaitu 7
tahun yang lalu, otomatis aku harus mendampinginya di Belanda sementara
ketiga anakku tetap di Indonesia.
Kira-kira satu tahun yang lalu petualanganku dengan perempuan terjadi
lagi, tapi kali ini orangnya adalah yang ada hubungan darah denganku
sendiri yaitu Dhea dan Marsha, keduanya merupakan cucuku sendiri.
Satu tahun yang lalu, anakku yang kedua mengontakku di Belanda yang
memberitahukan bahwa kakaknya yaitu anakku yang pertama dan istrinya
mengalami kecelakaanyang akhirnya harus meninggalkan dunia ini.
Aku pun langsung terbang ke Jakarta. Setiba di Jakarta aku lansung
menuju ke rumah anakku, di sana aku menemukan anakku dan istrinya telah
terbujur kaku dan kulihat Dhea dan adiknya Marsha sedang menagis
meraung-raung di depan keduajenazah itu.
Sewaktu kutinggal ke Belanda, Dhea dan Marsha masih kecil. Setelah
peguburan jenazah kedua anakku, atas anjuran anakku yang kedua, aku
diminta untuk tinggal di Jakarta saja dan tidak usah kembali ke Belanda,
aku harus menjaga kedua cucuku, aku pun setuju. Sejak saat itu, aku pun
tinggal di Indonesia.
Satu minggu aku sudah tinggal di rumah almarhum anakku, dan kutahu
Dhea usianya 15 tahun (kelas 3 SMP) sedangkan adiknya Marsha usianya 13
tahun (kelas 1 SMP) ini kutahu karena tugasku sekarang menjaga dan
mengantarkan cucuku sekolah.
Dhea sudah tumbuh menjadi anak gadis tetapi kelakuannya agak nakal,
setiap pulang dari sekolah bukannya belajar malah main ke temannya
sampai jam 09.00 malam baru kembali, di saat aku sudah tertidur.
Suatu hari ketika Dhea pulang aku masih terbangun, Dhea langsung
masuk kamar setelah mandi dan berdiam di dalam kamarnya yang membuat aku
penasaran melihat sikap Dhea, sampai di depan kamarnya sebelum kuketuk
aku coba mengintip dari lubang pintu dan aku terkaget-kaget melihat apa
yang dilakukan Dhea di kamarnya.
TV di kamar itu menyala dimana gambarnya film porno, sedangkan Dea
sedang mengangkat roknya dan jarinya ditusukkan ke dalam lubang
kemaluannya sendiri. Aku mengintipnya hampir 15 menit lamanya yang
membuat aku tidak sadar bahwa batangkemaluanku mulai mengeras dan
celanaku basah. Setelah itu kutinggalkan Dhea yang masih onani, sedang
aku pun ke kamar untuk tidur, tapi dalam tidurku terbayang kemaluan
Dhea.
Paginya aku bangun terlambat karena mimpiku. Dhea dan Marsha sudah
berangkat sekolah naik angkutan kota. Sore hari aku kembali setelah
mengurus surat-surat kuburan anakku. Ketika aku masuk ke ruang keluarga,
aku sempat terkejut melihat Dhea sedang menonton TV, pikirku tumben
sore-sore Dhea ada di rumah dan aku makin terkejut ketika aku
menghampiri Dhea,
Dhea sedang melakukan onani sementara TV yang ia tonton adalah film
porno yang tadi malam sudah dilihatnya. Dhea pun tidak tahu kalau aku
sedang memperhatikannya dimana Dhea sedang asyik-asyiknya onani.
“Dhea… kamu lagi… ngapain?”
“Uh… kakek.. ngagetin aja… nih…”
Dhea yang kaget langsung menutupinya dengan rok dan memindahkan channel TV.
“Kamu kaget.. yach, kamu.. belajar begini sama siapa.. kamu ini bandel yach..”
“Belajar dari film dan bukunya temen, tapi Dhea.. nggak bandel loh… Kek…”
“Sini Kakek.. juga mau nonton,” kataku sambil duduk di
sebelahnya.”Kakek mau nonton juga.. Kakek nggak marah sama Dea khan?”
katanya agak manja sambil melendot di bahuku.
“Nggak… ayo pindahin channel-nya!”
Gambar TV pun langsung berubah menjadi film porno lagi. Tanpa
bergeming, Dhea asyik menatap film panas itu sementara nafasku sudah
berubah menjadi nafsu buas dan batang kemaluanku mulai mengeras berusaha
keluar dari balik celanaku.
“Dhe… mau Kakek pangku.. nggak?” Tanpa menoleh ke arahku Dhea
bergeser untuk dipangku. Dhea yang sudah meloloskan celana dalamnya
merasa terganggu ketika kemaluannya yang beralaskan roknya tersentuh
batang kemaluanku yang masih tertutup celana.
“Ah.. Kakek.. ada yang mengganjal lubang kemaluan Dhea nih dari bawah.”
“Supaya nggak ganjal, rok kamu lepasin aja, soalnya rok kamu yang bikin ganjal.”
Tiba-tiba Dhea menungging dipangkuan melepaskan roknya, badannya
menutupi pemandanganku ke arah TV tapi yang kulihat kini terpampang di
depan mukaku pantat Dhea yang terbungkus kulit putih bersih dan di
bawahnya tersembul bulu-bulu tipis yang masih halus menutupi liang
kemaluannya yang mengeluarkan aroma bau harum melati.
“Dhea.. biar aja posisi kamu begini yach!”
“Ah.. Kakek, badan Dhea khan nutupin Kakek… nanti Kakek nggak lihat filmnya.”
“Ah.. nggak apa-apa, Kakek lebih suka melihat ini.”
Pantatnya yang montok sudah kukenyot dan kugigit dengan mulut dan
gigiku. Tanganku yang kiri memegangi tubuhnya supaya tetap berdiri
sedangkan jari tengah tangan kananku kuusap lembut pada liang
kemaluannya yang membuat Dhea menegangkan tubuhnya.
“Ah… Ah… ssh.. sshh…” Pelan-pelam jari tengahku kutusukkan lebih ke dalam lagi di lubamg kemaluannya yang masih sangat rapat.
“Aw.. aw… aw.. sakit.. Kek…” jerit kecil Dhea. Setelah lima menit
jariku bermain di kemaluannya dan sudah agak basah, sementara lubang
kemaluannya sudah berubah dari putih menjadi agak merah. Kumulai
memainkan lidah ke lubang kemaluannya.
Saat lubang kemaluan itu tersentuh lidahku, aku agak kaget karena
lubang kemaluan itu selain mengeluarkan aroma melati rasanya pun agak
manis-manis legit, lain dari lubang kemaluan perempuan lain yang pernah
kujilat, sehingga aku berlama-lama karena aku menikmatinya.
“Argh… argh… lidah Kakek enak deh.. rasanya.. agh menyentuh memek Dhea… Dhea jadi suka banget nih.”
“Iya… Dhea, Kakek juga suka sekali rasanya, memekmu manis banget rasanya.”
Dengan rakusnya kujilati lubang kemaluan Dhea yang manis,
terlebih-lebih ketika biji klitorisnya tersentuh lidahku karena rupanya
biang manisnya dari biji klitorisnya. Dhea pun jadi belingsatan dan
makin menceracau tidak karuan.
“Argh.. sshh.. agh… aghh… tidddaak… Kek… uenak… buanget… Kek.. argh…
agh.. sshhh…” Hampir 30 menit lamanya biji klitoris Dhea jadi
bulan-bulanan lidahku dan limbunglah badan Dhea yang disertai cairan
putih kental dan bersih seperti lendir, mengucur deras dari dalam lubang
kemaluannya yang langsung membasahi lubang kemaluannya dan lidahku.
Tapi karena lendir itu lebih manis lagi rasanya dari biji klitorisnya
langsung kutelan habis tanpa tersisa dan membasahi mukaku. “Arggghh..
aaawww… sshhh.. tolong… Kek… eennaak… baangeeet… deh…” Jatuhlah tubuh
Dhea setelah menungging selama 30 menit meniban tubuhku.
Setelah tubuhku tertiban kuangkat Dhea dan kududukkan di Sofa,
sementara badannya doyong ke kiri, aku melepaskan semua pakaianku hingga
bugil dimana batang kemaluanku sudah tegang dan mengeras dari tadi.
Kemudian kedua kaki Dhea aku lebarkan sehingga lubang kemaluan
itukembali terbuka lebar dengan sedikit membungkuk kutempelkan batang
kemaluanku persis di liang kemaluannya. Karena lubang kemaluannya masih
sempit, kumasukkan tiga buah jari ke lubang kemaluannya, supaya lubang
kemaluan itu jadi lebar.
Ketika jari itu kuputar-putar, Dhea yang memejamkan mata hanya bisa
menahan rasa sakit, sesekali ia meringis. Setelah 5 menit lubang
kemaluannya kuobok-obok dan terlihat agak lebar, kutempelkan batang
kemaluanku tepat di lubang kemaluannya, lalu kuberikan hentakan.
Tapi karena masih agak sempit maka hanya kepala kemaluanku saja yang bisa masuk. Dhea pun menjerit.
“Awh… sakit.. Kek… sakit.. banget…”
“Sabar… sayang… nanti juga enak.. deh…”
Kuhentak lagi batang kemaluanku itu supaya masuk ke lubang kemaluan
Dhea, dan baru yang ke-15 kalinya batangan kemaluanku bisa masuk walau
hanya setengah ke lubang kemaluan Dhea. Dhea pun 15 kali menjeritnya.
“Ampun… Kek… sakit.. banget… ampun!” Karena sudah setengah batang
kemaluanku masuk, dan mulai aku gerakan keluar-masuk dengan perlahan,
rasa sakit yang dirasakan Dhea berubah menjadi kenikmatan.
“Kek.. Kek.. gh… gh… enak.. Kek… terus.. Kek.. terus.. Kek… batang.. Kakek.. rasanya… sampai.. perut Dhea.. terus… Kek!”
“Tuh.. khan… benar.. kata Kakek… nggak.. sakit lagi sekarang.. jadi enak.. kan?”
Dhea hanya mengangguk, kaus yang digunakannya kulepaskan berikut BH
merah mudanya, terlihatlah dengan jelas payudara Dhea yang baru tumbuh
tapi sudah agak membesar dimana diselimuti kulit putih yang mulus dan di
tengahnya dihiasi puting coklat yang juga baru tumbuh membuatku menahan
ludah.
Lalu dengan rakusnya mulutku langsung mencaplok payudara itu dan kukulum serta kugigit yang membuat Dhea makin belingsatan.
Setelah satu jam, lubang kemaluan Dhea kuhujam dengan batang
kemaluanku secara ganas, terbongkarlah pertahanan Dhea yang sangat
banyak mengeluarkan cairan lendir dari dalam lubang kemaluannya
membasahi batanganku yang masih terbenam di dalam lubang kemaluannya
disertai darah segar yang otomatis keperawanan cucuku Dhea telah kurusak
sendiri. Dhea pun menggeleparlalu ambruk di atas Sofa. “Agh… agh..
agh.. argh… argh… sshh… ssshh… argh… gh.. gh… Dhea… keluar.. nih.. Kek..
aw… aw…”
Lima belas menit kemudian aku pun sampai pada puncak kenikmatan,
dimana tepat sebelum keluar aku sempat menarik batang kemaluanku dari
lubang kemaluan Dhea dan menyemburkan cairan kental hangat di atas perut
Dhea dan aku pun langsung ambruk meniban tubuh Dhea.
“Aw.. agh.. agh.. Dhea.. memekmu.. memang.. luar biasa, kontol
Kakek.. sampai dipelintir di dalam memekmu…agh… kamu.. me.. memeng…
hebat…”
Setengah jam kemudian, dengan terkaget aku terbangun oleh elusan tangan lembut memegangi kontolku.
“Kakek… habis… ngapain.. Kakak Dhea… kok… Kakak Dhea dan Kakek
telanjang… kayak habis.. mandi.. Marsha juga.. mau dong telanjang..
kayak… Kakek dan.. Kakak Dhea.”
“Hah.. Marsha jangan… telanjang!”
Tapi perkataanku kalah cepat dengan tindakannya Marsha yang langsung
melepaskan semua pakaiannya hingga Marsha pun bugil. Aku terkejut
melihat Marsha bugil dimana tubuh anak umur 11 tahun ini kelihatan
sempurna, lubang kemaluan Marsha yang masih gundul belum tumbuh
bulu-bulu halus tetapi payudaranya sudah mulai berkembang malah lebih
montok dari payudara Dhea.
Kulit tubuh Marsha pun lebih putih dan mengkilat dibanding kulit tubuh Dhea, sehingga membuat nafsu seks-ku kembali meningkat.
“Kek… Marsha kan tadi ngintip ketika perut Kakak Dhea dimasukin sama
punya kakek.. Marsha juga mau dong.. kata mama dan papa, kalau Kakak
Dhea dapat sesuatu pasti Marsha juga dapat.”
“Oh… mama dan papa bilang begitu yach, kamu memang mau perut kamu dimasukin punya Kakek.”
“Iya.. Kek.. Marsha mau sekali.”
Tanpa banyak basa-basi kusuruh Marsha terlentang di atas karpet.
Dengan agak riang Marsha langsung terlentang, aku duduk di sampingnya
kedua kakinya aku lebarkan sehingga lubang kemaluannya yang gundul
terlihat jelas. Kusuruh Marsha menutup mata.
“Marsha sekarang tutup matanya yach, jangan dibuka kalau Kakek belum
suruh, nanti kalau sakit Marsha hanyaboleh bilang sakit.” Marsha pun
menuruti permintaanku. Lubang kemaluannya kuusap dengan jari tengahku
dengan lembut dan sesekali jariku kumasukkan ke lubang kemaluannya.
Tangan kiriku dengan buasnya telah meremas payudaranya dan memelintir
puting yang berwarna kemerahan. Marsha mulai menggelinjang. Dia tetap
memejamkan matanya, sedang mulutnya mulai nyerocos.
“Ah… ah… ah.. sshh.. ssh…” Kedua kakinya disepakkan ketika jari
tengahku menyentuh klitorisnya. Lidahku mulai menjilati lubang
kemaluannya karena masih gundul, dengan leluasa lidahku mengusapliang
kemaluannya sampai lidahku menyentuh klitorisnya.
Dikarenakan usianya lebih muda dari Dhea maka lubang kemaluan dan
klitoris Marsha rasanya belum terlalu manis dan 10 menit kemudian
keluarlah cairan kental putih yang rasanya masih hambar menetes dengan
derasnya dari dalam lubang kemaluannya membasahi lidahku yang sebagian
tidak kutelan karena rasanya yang masih hambar sehingga membasahi paha
putihnya.
“Ah… ah… ngeh.. ngeh… Marsha.. basah nih Kek…” Kuambil bantal Sofa
dan kuganjal di bawah pantat Marsha sehingga lubang kemaluan itu agak
terangkat, lalu kutindih Marshadan kutempelkan batang kemaluanku pada
lubang kemaluannya yang masih berlendir.
Kuhentak batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Marsha yang masih
lebih rapat dari lubang kemaluan Dhea. Kuhentak berkali-kali kemaluanku
sampai 25 kali baru bisa masuk kepala kemaluanku ke lubang kemaluan
Marsha. 25 kali juga Marsha menjerit.
“Aw.. aw.. sakit.. Kek… sakit.. sekali..”
“Katanya kamu mau perutmu aku masukin punya Kakek seperti lubang kemaluan Kakak Dhea.”
“Iya Kek… Marsha mau… Marsha tahan aja deh sakitnya.”
Kepala kemaluanku yang sudah masuk ke lubang kemaluan Marsha kehentak
sekali lagi, kali ini masuk hampir 3/4-nya batang kemaluanku ke lubang
kemaluan Marsha, ini karena lubang kemaluan Marsha masih licin sisa
lendir yang tadi dikeluarkannya.
“Hegh… hegh… hegh.. iya Kek sekarang Marsha nggak sakit lagi… malah
enak.. rasanya di perut Marsha ada yang dorong-dorong… Hegh.. Hegh…”
komentar Marsha ketika menahan hentakan batang kemaluanku di lubang
kemaluannya.
Setelah 30 menit lubang kemaluannya kuhujam dengan hentakan batang
kemaluanku, meledaklah cairan kental dan tetesan darah dari lubang
kemaluan Marsha keluar dengan derasnya yang membasahi kemaluanku dan
pahanya. Marsha pun langsung pingsan. “Arrgh.. arrghh.. ssh… Kek…
Marsha.. nggak kuat… Kek… Marsha.. mau pingsan… nih… nggak.. ku..
kuaatt…”
Pingsannya Marsha tidak membuatku mengendorkan hentakan kemaluanku di
lubang kemaluannya yang sudah licin, malah membuatku makin keras
menghentaknya, yang membuatku sampai puncak yang kedua kalinya setelah
yang pertama kali di lubang kemaluannya Dhea,
Tapi kali ini aku tidak sempat menarik batang kemaluanku dari dalam
lubang kemaluan Marsha sehingga cairan kental hangat itu kubuang di
dalam perut Marsha dan setelah itu baru kulepaskan batang kemaluanku
dari lubang kemaluan Marsha yang masih mengeluarkan lendir.
“Ah.. ah… ser… ser… ser… jrot.. jrot.. agh… ag.. ssh… argh…” Tubuhku
pun langsung ambruk di tengah Marsha yang pingsan di atas karpet dan
Dhea yang tertidur di sofa.
Satu jam kemudian aku terbangun di saat batang kemaluanku berasa
dijilat dan ketika aku melirik aku melihat Dhea dan Marsha sedang
bergantian mengulum batang kemaluanku dan menjilati sisa cairan lendir
tadi, kuusap kedua kepala cucuku itu yang lalu kusuruh keduanya mandi.
“Dhea.. sudah.. sayang.. sana ajak adikmu.. bersih-bersih dan mandi setelah itu kita ke Mall, beli McDonal.. ayo sayang!”
“Kek.. Dhea puas deh.. lain.. kali lagi yach Kek!”
“Asyik beli McDonal.. tapi lain kali lagi yach… Kek, perut Marsha jadi hangat.. deh.. enak..”
“Iya.. sayang.. pasti lagi.. ayo sekarang Kakek yang mandiin.”