Dipanggil dengan nama mbak Amel dia adalah atasanku yang masih baru dia
menjabat sebagai acounbting manager baru 3 minggu, biasanya aku sering
dipanggil ke ruangannya untuk menjelaskan budget yang terjadi apada
bulan bulan kemarin, aku sudah lama bekerja disini tapi mungkin karena
lulusanku tidak cukup mendukung , maka dari itu perusahaanku merekrut
yang berasal dari konsultan keuangan.
Usianya kutaksir sekitar 25 hingga 30 tahun. Sebagai atasan,
sebelumnya kupanggil “Bu”, walau usiaku sendiri 10 tahun di atasnya.
Tapi atas permintaanya sendiri, seminggu yang lalu, ia mengatakan
lebih suka bila di panggil “Mbak”. Sejak saat itu mulai terbina suasana
dan hubungan kerja yang hangat, tidak terlalu formal. Terutama karena
sikapnya yang ramah. Ia sering langsung menyebut namaku, sesekali bila
sedang bersama rekan kerja lainnya, ia menyebut “Pak”.
Dan tanpa kusadari pula, diam-diam aku merasa betah dan nyaman bila
memandang wajahnya yang cantik dan lembut menawan. Ia memang menawan
karena sepasang bola matanya sewaktu-waktu dapat bernar-binar, atau
menatap dengan tajam.
Tapi di balik itu semua, ternyata ia suka mendikte. Mungkin karena
telah menduduki jabatan yang cukup tinggi dalam usia yang relatif muda,
kepercayaan dirinya pun cukup tinggi untuk menyuruh seseorang
melaksanakan apa yang diinginkannya.
Mbak Amel selalu berpakaian formal. Ia selalu mengenakan blus dan rok
hitam yang agak menggantung sedikit di atas lutut. Bila sedang berada
di ruang kerjanya, diam-diam aku pun sering memandang lekukan pinggulnya
ketika ia bangkit mengambil file dari rak folder di belakangnya.
Walau bagian bawah roknya lebar, tetapi aku dapat melihat pinggul
yang samar-samar tercetak dari baliknya. Sangat menarik, tidak besar
tetapi jelas bentuknya membongkah, memaksa mata lelaki menerawang untuk
mereka-reka keindahannya.
Di dalam ruang kerjanya yang besar, persis di samping meja kerjanya,
terdapat seperangkat sofa yang sering dipergunakannya menerima tamu-tamu
perusahaan. Sebagai Accounting Manager, tentu selalu ada
pembicaraan-pembicaraan ‘privacy’ yang lebih nyaman dilakukan di ruang
kerjanya daripada di ruang rapat.
Aku merasa beruntung bila dipanggil Mbak Amel untuk membahas cash
flow keuangan di kursi sofa itu. Aku selalu duduk persis di depannya.
Dan bila kami terlibat dalam pembicaraan yang cukup serius, ia tidak
menyadari roknya yang agak tersingkap.
Di situlah keberuntunganku. Aku dapat melirik sebagian kulit paha
yang berwarna gading. Kadang-kadang lututnya agak sedikit terbuka
sehingga aku berusaha untuk mengintip ujung pahanya. Tapi mataku selalu
terbentur dalam kegelapan.
Andai saja roknya tersingkap lebih tinggi dan kedua lututnya lebih
terbuka, tentu akan dapat kupastikan apakah bulu-bulu halus yang tumbuh
di lengannya juga tumbuh di sepanjang paha hingga ke pangkalnya. Bila
kedua lututnya rapat kembali, lirikanku berpindah ke betisnya. Betis
yang indah dan bersih. Terawat. Ketika aku terlena menatap kakinya,
tiba-tiba aku dikejutkan oleh pertanyaan Mbak Amel..
“Theo, aku merasa bahwa kau sering melirik ke arah betisku. Apakah
dugaanku salah?” Aku terdiam sejenak sambil tersenyum untuk
menyembunyikan jantungku yang tiba-tiba berdebar.
“Theo, salahkah dugaanku?”
“Hmm.., ya, benar Mbak,” jawabku mengaku, jujur. Mbak Amel tersenyum sambil menatap mataku.
“Mengapa?”
Aku membisu. Terasa sangat berat menjawab pertanyaan sederhana itu.
Tapi ketika menengadah menatap wajahnya, kulihat bola matanya
berbinar-binar menunggu jawabanku.
“Saya suka kaki Mbak. Suka betis Mbak. Indah. Dan..,” setelah menarik nafas panjang, kukatakan alasan sebenarnya.
“Saya juga sering menduga-duga, apakah kaki Mbak juga ditumbuhi bulu-bulu.”
“Persis seperti yang kuduga, kau pasti berkata jujur, apa adanya,” kata Mbak Tia sambil sedikit mendorong kursi rodanya.
“Agar kau tidak penasaran menduga-duga, bagaimana kalau kuberi kesempatan memeriksanya sendiri?”
“Sebuah kehormatan besar untukku,” jawabku sambil membungkukan
kepala, sengaja sedikit bercanda untuk mencairkan pembicaraan yang kaku
itu.
“Kompensasinya apa?”
“Sebagai rasa hormat dan tanda terima kasih, akan kuberikan sebuah ciuman.”
“Bagus, aku suka. Bagian mana yang akan kau cium?”
“Betis yang indah itu!”
“Hanya sebuah ciuman?”
“Seribu kali pun aku bersedia.”
Mbak Tia tersenyum manis dikulum. Ia berusaha manahan tawanya.
“Dan aku yang menentukan di bagian mana saja yang harus kau cium, OK?”
“Deal, my lady!”
“I like it!” kata Mbak Amel sambil bangkit dari sofa.
Ia melangkah ke mejanya lalu menarik kursinya hingga ke luar dari
kolong mejanya yang besar. Setelah menghempaskan pinggulnya di atas
kursi kursi kerjanya yang besar dan empuk itu, Mbak Amel tersenyum.
Matanya berbinar-binar seolah menaburkan sejuta pesona birahi. Pesona yang membutuhkan sanjungan dan pujaan.
“Periksalah, Theo. Berlutut di depanku!” Aku membisu. Terpana mendengar perintahnya.
“Kau tidak ingin memeriksanya, Theo?” tanya Mbak Amel sambil sedikit merenggangkan kedua lututnya.
Sejenak, aku berusaha meredakan debar-debar jantungku. Aku belum
pernah diperintah seperti itu. Apalagi diperintah untuk berlutut oleh
seorang wanita. Bibir Mbak Amel masih tetap tersenyum ketika ia lebih
merenggangkan kedua lututnya.
“Theo, kau tahu warna apa yang tersembunyi di pangkal pahaku?” Aku
menggeleng lemah, seolah ada kekuatan yang tiba-tiba merampas
sendi-sendi di sekujur tubuhku.
Tatapanku terpaku ke dalam keremangan di antara celah lutut Mbak Amel
yang meregang. Akhirnya aku bangkit menghampirinya, dan berlutut di
depannya.
Sebelah lututku menyentuh karpet. Wajahku menengadah. Mbak Tia masih
tersenyum. Telapak tangannya mengusap pipiku beberapa kali, lalu
berpindah ke rambutku, dan sedikit menekan kepalaku agar menunduk ke
arah kakinya.
“Ingin tahu warnanya?” Aku mengangguk tak berdaya.
“Kunci dulu pintu itu,” katanya sambil menunjuk pintu ruang kerjanya.
Dan dengan patuh aku melaksanakan perintahnya, kemudian berlutut
kembali di depannya.
Mbak Amel menopangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Gerakannya
lambat seperti bermalas-malasan. Pada saat itulah aku mendapat
kesempatan memandang hingga ke pangkal pahanya. Dan kali ini tatapanku
terbentur pada secarik kain tipis berwarna putih.
Pasti ia memakai G-String, kataku dalam hati. Sebelum paha kanannya
benar-benar tertopang di atas paha kirinya, aku masih sempat melihat
bulu-bulu ikal yang menyembul dari sisi-sisi celana dalamnya.
Segitiga tipis yang hanya selebar kira-kira dua jari itu terlalu
kecil untuk menyembunyikan semua bulu yang mengitari pangkal pahanya.
Bahkan sempat kulirik bayangan lipatan bibir di balik segitiga tipis
itu.
“Suka?” Aku mengangguk sambil mengangkat kaki kiri Mbak Amel ke atas lututku.
Ujung hak sepatunya terasa agak menusuk. Kulepaskan klip tali
sepatunya. Lalu aku menengadah. Sambil melepaskan sepatu itu. Mbak Tia
mengangguk. Tak ada komentar penolakan. Aku menunduk kembali.
Mengelus-elus pergelangan kakinya.
Kakinya mulus tanpa cacat. Ternyata betisnya yang berwarna gading itu
mulus tanpa bulu halus. Tapi di bagian atas lutut kulihat sedikit
ditumbuhi bulu-bulu halus yang agak kehitaman. Sangat kontras dengan
warna kulitnya.
Aku terpana. Mungkinkah mulai dari atas lutut hingga.., hingga.. Aah,
aku menghembuskan nafas. Rongga dadaku mulai terasa sesak. Wajahku
sangat dekat dengan lututnya. Hembusan nafasku ternyata membuat
bulu-bulu itu meremang.
“Indah sekali,” kataku sambil mengelus-elus betisnya. Kenyal.
“Suka, Theo?” Aku mengangguk.
“Tunjukkan bahwa kau suka. Tunjukkan bahwa betisku indah!”
Aku mengangkat kaki Mbak Amel dari lututku. Sambil tetap mengelus
betisnya, kuluruskan kaki yang menekuk itu. Aku sedikit membungkuk agar
dapat mengecup pergelangan kakinya. Pada kecupan yang kedua, aku
menjulurkan lidah agar dapat mengecup sambil menjilat, mencicipi kaki
indah itu. Akibat kecupanku, Mbak Amel menurunkan paha kanan dari paha
kirinya.
Dan tak sengaja, kembali mataku terpesona melihat bagian dalam
kanannya. Karena ingin melihat lebih jelas, kugigit bagian bawah roknya
lalu menggerakkan kepalaku ke arah perutnya. Ketika melepaskan
gigitanku, kudengar tawa tertahan, lalu ujung jari-jari tangan Mbak Amel
mengangkat daguku. Aku menengadah.
“Kurang jelas, Theo?” Aku mengangguk.
Mbak Amel tersenyum nakal sambil mengusap-usap rambutku. Lalu telapak
tangannya menekan bagian belakang kepalaku sehingga aku menunduk
kembali. Di depan mataku kini terpampang keindahan pahanya.
Tak pernah aku melihat paha semulus dan seindah itu. Bagian atas
pahanya ditumbuhi bulu-bulu halus kehitaman. Bagian dalamnya juga
ditumbuhi tetapi tidak selebat bagian atasnya, dan warna kehitaman itu
agak memudar. Sangat kontras dengan pahanya yang berwarna gading.
Aku merinding. Karena ingin melihat paha itu lebih utuh, kuangkat
kaki kanannya lebih tinggi lagi sambil mengecup bagian dalam lututnya.
Dan paha itu semakin jelas. Menawan. Di paha bagian belakang mulus tanpa
bulu.
Karena gemas, kukecup berulang kali. Kecupan-kecupanku semakin lama
semakin tinggi. Dan ketika hanya berjarak kira-kira selebar telapak
tangan dari pangkal pahanya, kecupan-kecupanku berubah menjadi ciuman
yang panas dan basah.
Sekarang hidungku sangat dekat dengan segitiga yang menutupi pangkal
pahanya. Karena sangat dekat, walau tersembunyi, dengan jelas dapat
kulihat bayangan bibir kewanitaannya. Ada segaris kebasahan terselip
membayang di bagian tengah segitiga itu.
Kebasahan yang dikelilingi rambut-rambut ikal yang menyelip dari kiri
kanan G-stringnya. Sambil menatap pesona di depan mataku, aku menarik
nafas dalam-dalam. Tercium aroma segar yang membuatku menjadi semakin
tak berdaya. Aroma yang memaksaku terperangkap di antara kedua belah
paha Mbak Amel. Ingin kusergap aroma itu dan menjilat kemulusannya.
Mbak Amel menghempaskan kepalanya ke sandaran kursi. Menarik nafas
berulang kali. Sambil mengusap-usap rambutku, diangkatnya kaki kanannya
sehingga roknya semakin tersingkap hingga tertahan di atas pangkal paha.
“Suka Theo?”
“Hmm.. Hmm..!” jawabku bergumam sambil memindahkan ciuman ke betis dan lutut kirinya.
Lalu kuraih pergelangan kaki kanannya, dan meletakkan telapaknya di pundakku. Kucium lipatan di belakang lututnya.
Mbak Amel menggelinjang sambil menarik rambutku dengan manja. Lalu
ketika ciuman-ciumanku merambat ke paha bagian dalam dan semakin lama
semakin mendekati pangkal pahanya, terasa tarikan di rambutku semakin
keras. Dan ketika bibirku mulai mengulum rambut-rambut ikal yang
menyembul dari balik G-stringnya, tiba-tiba Mbak Amel mendorong
kepalaku.
Aku tertegun. Menengadah. Kami saling menatap. Tak lama kemudian,
sambil tersenyum menggoda, Mbak Amel menarik telapak kakinya dari
pundakku. Ia lalu menekuk dan meletakkan telapak kaki kanannya di
permukaan kursi. Pose yang sangat memabukkan. Sebelah kaki menekuk dan
terbuka lebar di atas kursi, dan yang sebelah lagi menjuntai ke karpet.
“Suka Theo?”
“Hmm.. Hmm..!”
“Jawab!”
“Suka sekali!”
Pemandangan itu tak lama. Tiba-tiba saja Mbak Tia merapatkan kedua pahanya sambil menarik rambutku.
“Nanti ada yang melihat bayangan kita dari balik kaca. Masuk ke dalam, Theo,” katanya sambil menunjuk kolong mejanya.
Aku terkesima. Mbak Tia merenggut bagian belakang kepalaku, dan
menariknya perlahan. Aku tak berdaya. Tarikan perlahan itu tak mampu
kutolak. Lalu Mbak Amel tiba-tiba membuka ke dua pahanya dan mendaratkan
mulut dan hidungku di pangkal paha itu.
Kebasahan yang terselip di antara kedua bibir kewanitaan terlihat
semakin jelas. Semakin basah. Dan di situlah hidungku mendarat. Aku
menarik nafas untuk menghirup aroma yang sangat menyegarkan. Aroma yang
sedikit seperti daun pandan tetapi mampu membius saraf-saraf di rongga
kepala.
“Suka Theo?”
“Hmm.. Hmm..!”
“Sekarang masuk ke dalam!” ulangnya sambil menunjuk kolong mejanya.
Aku merangkak ke kolong mejanya. Aku sudah tak dapat berpikir waras.
Tak peduli dengan segala kegilaan yang sedang terjadi. Tak peduli dengan
etika, dengan norma-norma bercinta, dengan sakral dalam percintaan.
Aku hanya peduli dengan kedua belah paha mulus yang akan menjepit
leherku, jari-jari tangan lentik yang akan menjambak rambutku, telapak
tangan yang akan menekan bagian belakang kepalaku, aroma semerbak yang
akan menerobos hidung dan memenuhi rongga dadaku, kelembutan dan
kehangatan dua buah bibir kewanitaan yang menjepit lidahku, dan
tetes-tetes birahi dari bibir kewanitaan yang harus kujilat berulang
kali agar akhirnya dihadiahi segumpal lendir orgasme yang sudah sangat
ingin kucucipi.
Di kolong meja, Mbak Amel membuka kedua belah pahanya lebar-lebar.
Aku mengulurkan tangan untuk meraba celah basah di antara pahanya. Tapi
ia menepis tanganku.
“Hanya lidah, Theo! OK?”
Aku mengangguk. Dan dengan cepat membenamkan wajahku di G-string yang
menutupi pangkal pahanya. Menggosok-gosokkan hidungku sambil menghirup
aroma pandan itu sedalam-dalamnya. Mbak Amel terkejut sejenak, lalu ia
tertawa manja sambil mengusap-usap rambutku.
“Rupanya kau sudah tidak sabar ya, Theo?” katanya sambil melingkarkan pahanya di leherku.
“Hm..!”
“Haus?”
“Hm!”
“Jawab, Theo!” katanya sambil menyelipkan tangannya untuk mengangkat daguku. Aku menengadah.
“Haus!” jawabku singkat.
Tangan Mbak Amel bergerak melepaskan tali G-string yang terikat di
kiri dan kanan pinggulnya. Aku terpana menatap keindahan dua buah bibir
berwarna merah yang basah mengkilap. Sepasang bibir yang di bagian
atasnya dihiasi tonjolan daging pembungkus clit yang berwarna pink. Aku
termangu menatap keindahan yang terpampang persis di depan mataku.
“Jangan diam saja. Theo!” kata Mbak Amel sambil menekan bagian belakang kepalaku.
“Hirup aromanya!” sambungnya sambil menekan kepalaku sehingga hidungku terselip di antara bibir kewanitaannya.
Pahanya menjepit leherku sehingga aku tak dapat bergerak. Bibirku
terjepit dan tertekan di antara dubur dan bagian bawah vaginanya. Karena
harus bernafas, aku tak mempunyai pilihan kecuali menghirup udara dari
celah bibir kewanitaannya.
Hanya sedikit udara yang dapat kuhirup, sesak tetapi menyenangkan.
Aku menghunjamkan hidungku lebih dalam lagi. Mbak Amel terpekik.
Pinggulnya diangkat dan digosok-gosokkannya dengan amelr hingga hidungku
basah berlumuran tetes-tetes birahi yang mulai mengalir dari sumbernya.
Aku mendengus. Mbak Amel menggelinjang dan kembali mengangkat
pinggulnya. Kuhirup aroma kewanitaannya dalam-dalam, seolah vaginanya
adalah nafas kehidupannku.
“Fantastis!” kata Mbak Amel sambil mendorong kepalaku dengan lembut.
Aku menengadah. Ia tersenyum menatap hidungku yang telah licin dan
basah.
“Enak ‘kan?” sambungnya sambil membelai ujung hidungku.
“Segar!” Mbak Amel tertawa kecil.
“Kau pandai memanjakanku, Theo. Sekarang, kecup, jilat, dan hisap
sepuas-puasmu. Tunjukkan bahwa kau memuja ini,” katanya sambil
menyibakkan rambut-rambut ikal yang sebagian menutupi bibir
kewanitaannya.
“Jilat dan hisap dengan rakus. Tunjukkan bahwa kau memujanya.
Tunjukkan rasa hausmu! Jangan ada setetes pun yang tersisa! Tunjukkan
dengan rakus seolah ini adalah kesempatan pertama dan yang terakhir
bagimu!”
Aku terpengaruh dengan kata-katanya. Aku tak peduli walaupun ada nada
perintah di setiap kalimat yang diucapkannya. Aku memang merasa sangat
lapar dan haus untuk mereguk kelembutan dan kehangatan vaginanya.
Kerongkonganku terasa panas dan kering. Aku merasa benar-benar haus
dan ingin segera mendapatkan segumpal lendir yang akan dihadiahkannya
untuk membasahi kerongkongannku. Lalu bibir kewanitaannya kukulum dan
kuhisap agar semua kebasahan yang melekat di situ mengalir ke
kerongkonganku. Kedua bibir kewanitaannya kuhisap-hisap bergantian.
Kepala Mbak Amel terkulai di sandaran kursinya. Kaki kanannya melingkar menjepit leherku. Telapak kaki kirinya menginjak bahuku.
Pinggulnya terangkat dan terhempas di kursi berulang kali. Sesekali
pinggul itu berputar mengejar lidahku yang bergerak amelr di dinding
kewanitaannya. Ia merintih setiap kali lidahku menjilat clitnya.
Nafasnya mengebu. Kadang-kadang ia memekik sambil menjambak rambutku.
“Ooh, ooh, Theo! Theoo!” Dan ketika clitnya kujepit di antara
bibirku, lalu kuhisap dan permainkan dengan ujung lidahku, Mbak Amel
merintih menyebut-nyebut namaku..
“Theo, nikmat sekali sayang.. Theoo! Ooh.. Theoo!”
Ia menjadi amelr. Telapak kakinya menghentak-hentak di bahu dan
kepalaku. Paha kanannya sudah tidak melilit leherku. Kaki itu sekarang
diangkat dan tertekuk di kursinya. Mengangkang. Telapaknya menginjak
kursi. Sebagai gantinya, kedua tangan Mbak Amel menjambak rambutku.
Menekan dan menggerak-gerakkan kepalaku sekehendak hatinya.
“Theo, julurkan lidahmuu! Hisap! Hisaap!”
Aku menjulurkan lidah sedalam-dalamnya. Membenamkan wajahku di
vaginanya. Dan mulai kurasakan kedutan-kedutan di bibir vaginanya,
kedutan yang menghisap lidahku, mengundang agar masuk lebih dalam.
Beberapa detik kemudian, lendir mulai terasa di ujung lidahku.
Kuhisap seluruh vaginanya. Aku tak ingin ada setetes pun yang terbuang.
Inilah hadiah yang kutunggu-tunggu. Hadiah yang dapat menyejukkan
kerongkonganku yang kering.
Kedua bibirku kubenamkan sedalam-dalamnya agar dapat langsung menghisap dari bibir vaginanya yang mungil.
“Theoo! Hisap Theoo!”
Aku tak tahu apakah rintihan Mbak Amel dapat terdengar dari luar
ruang kerjanya. Seandainya rintihan itu terdengar pun, aku tak peduli.
Aku hanya peduli dengan lendir yang dapat kuhisap dan kutelan.
Lendir yang hanya segumpal kecil, hangat, kecut, yang mengalir
membasahi kerongkonganku. Lendir yang langsung ditumpahkan dari vagina
Mbak Amel, dari pinggul yang terangkat agar lidahku terhunjam dalam.
“Oh, fantastis,” gumam Mbak Amel sambil menghenyakkan kembali pinggulnya ke atas kursinya.
Ia menunduk dan mengusap-usap kedua belah pipiku. Tak lama kemudian,
jari tangannya menengadahkan daguku. Sejenak aku berhenti menjilat-jilat
sisa-sisa cairan di permukaan kewanitaannya.
“Aku puas sekali, Theo,” katanya. Kami saling menatap. Matanya
berbinar-binar. Sayu. Ada kelembutan yang memancar dari bola matanya
yang menatap sendu.
“Theo.”
“Hm..”
“Tatap mataku, Theo.” Aku menatap bola matanya.
“Jilat cairan yang tersisa sampai bersih”
“Hm..” jawabku sambil mulai menjilati vaginanya.
“Jangan menunduk, Theo. Jilat sambil menatap mataku. Aku ingin melihat erotisme di bola matamu ketika menjilat-jilat vaginaku.”
Aku menengadah untuk menatap matanya. Sambil melingkarkan kedua
lenganku di pinggulnya, aku mulai menjilat dan menghisap kembali cairan
lendir yang tersisa di lipatan-lipatan bibir kewanitaannya.
“Kau memujaku, Theo?”
“Ya, aku memuja betismu, pahamu, dan di atas segalanya, yang ini..,
muuah!” jawabku sambil mencium kewanitaannya dengan mesra sepenuh hati.
Mbak Amel tertawa manja sambil mengusap-usap rambutku.