Dikantor aku termasuk orang yang rajin dan pintar itu bukan yang aku
bilang, tapi rekan dekatnya bosku, umruku yang masih muda menjadi tangan
kanan bosku dan aku dianggap seperti anaknya sendiri, karena dia belum
punya anak laki laki hanya ada satu perempuan bernama Dini, bosku yang
sering sakit sakitan karena usianya yang sudah 70 tahun.Karena dia tidak
mempunyai anak laki-laki dan dia sangat cemas dengan keadaan putrinya
bila dia nanti telah tiada, maka akhirnya dia menjodohkanku dengan
putrinya sendiri. Saya dan Dini akhirnya menikah setahun yang lalu.
Dini adalah seorang wanita yang menurutku sangat anggun dan cantik.
Dengan tinggi 167 cm dan berat 48 kg, berambut panjang dan di-highlight
dengan warna sedikit blonde, berkulit putih bagaikan porcelain, maklum
karena Dini adalah seorang keturunan Tionghoa.
Dan dia mempunyai tubuh yang sangat bagus dan sexy. Mempunyai buah
dada yang cukup besar, at least berukuran 34 C dan mempunyai pantat yang
sangat sexy, bulat montok dan tidak turun, kaki yang panjang dan betis
yang menyerupai bunting padi, tumit yang menyerupai telur ayam kampung.
Pada waktu hari perkawinan kami, aku merasa sangat beruntung karena
mendapatkan seorang wanita yang cantik dan juga perusahaan yang besar.
Pada malam pertama, saya sudah tidak sabar lagi untuk segera meniduri
istriku dan menikmati badannya yang perfect itu meskipun saya tahu bahwa
dia sebenarnya sudah tidak virgin lagi, karena dia besar di luar
negeri. Tetapi itu juga bukan masalah buat saya yang sudah terbiasa
dengan kehidupan yang sangat liberal karena sayapun telah di kirim ke LN
oleh Papa saya sejak saya berumur 14 tahun.
Pada malam pertama tersebut setelah pesta perkawinan kami yang di
selenggarakan di Hotel M di kota metropolitan ini, kami masuk ke suite
kami yang sudah di sediakan oleh hotel M untuk kedua mempelai setelah
pesta selesai. Uuh alangkah bahagianya saya, dan saya pun sudah tidak
sabar untuk mencumbu istriku.
Sesaat kami memasuki ruangan suite, saya langsung memeluk istriku
dari belakang yang masih memakai gaun pengantin dan menciumi lehernya.
Dan pada saat itu juga saya merasa sangat horny. Tangan kananku menarik
gaun pengantinnya ke atas dan mulai meraba-raba pahanya yang so smooth.
Dan tangan kiriku meremas teteknya. Aah gila bener bener perfect..,
pikirku. Tetapi Dini tetap bersikap dingin dan malah tiba tiba Dini
mengelak dan menarik tubuhnya dariku dan berkata..
“Sabar donk Hen, gua kan masih pake baju ini dan gua cape sekali!”
“Boleh nggak malem ini kita nggak ngapa-ngapain? Gua cape banget nih, emang loe nggak cape?”, tanyanya padaku.
“Yah udah sayang kalo kamu cape mungkin kita lakukan besok malam saja OK?” kataku.
Lalu dia pelan pelan melepas gaun pengantinnya sampai hanya tinggal
pakaian dalamnya, pantyhose, dan sexy high heel sandalnya saja yang
tertinggal di badannya. Ohh my gosh, sexynya, pikirku hingga kontan
penisku bangun dan menjadi keras sekali.
Lalu dia akhirnya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku
hanya terduduk di sofa sambil mengelus-ngelus kontolku sendiri yang
sudah tegang.
“Damn!! Masa gua harus ngocok sih?” pikirku dalam hati.
“Ah sabar deh besok juga dapat masa enggak sih gua kan udah menjadi suaminya, mungkin dia capek sekali..”, kataku dalam hati.
Akhirnya kami melewati malam itu tanpa ada excitement. Keesokan
harinya waktu aku terbangun dari tempat tidurku, aku melihat ke samping
ternyata dia sudah tidak ada di sebelahku. Lalu aku melihat ke
sekeliling kamar, ternyata dia pun tidak ada.
Lalu aku melihat note dari dia yang mengatakan bahwa dia sudah ada di
cafe hotel sedang breakfast dan aku ditunggu di bawah untuk
membicarakan sesuatu. Apa lagi sih? Aneh bukannya breakfast di ranjang
malah turun ke bawah ada-ada aja nih orang!, gerutuku.
Lalu aku mandi dan bersiap-siap untuk turun ke bawah. Dan akhirnya
kutemui dia di bawah. Kulihat dia sedang duduk sendiri sambil menghisap
rokok.
“Ngapain di sini, kok bukan breakfast di kamar aja?”.
“Sebenernya ada hal penting yang mau gua omongin sama loe Hen”, jawabnya.
“Loh ada apa nih?”, tanyaku.
“Sebenernya gua nggak mau married sama loe, tapi gua terpaksa karena
Papa gua. Kalau saja Papa nggak dalam keadaan sakit seperti ini dan
bukan permintaannya yang terakhir, gua nggak bakal married sama loe..”,
jawabnya malas-malasan.
“Ooh gila, kok jadinya seperti ini?” kataku kaget.
“Jadi mau kamu bagaimana?”, tanyaku lagi.
“Yah udah kita tetep married selama Papa masih hidup, lalu kita atur perceraian setelah Papa meninggal gimana?”
“Wah kamu sih gila Len! Mana bisa seperti itu? Mana bisa cerai sebegitu gampang?”, tanyaku gusar.
“Well Hen take it or leave it, cepat atau lambat gua juga musti cerai
sama loe, gua masih mau free, gua nggak mau committed, and please
jangan batasi hidup gua and jangan omong macem-macem sama Papa! Udah
deh, gua sekarang mau pulang ke rumah.
Lu kan musti ke kantor, ntar kita ketemu deh di rumah malem setelah
kamu pulang dari kantor, kita bicarain lagi. Gua pusing nih..”, katanya
dengan nada tidak sabar.
Lalu dia pergi meninggalkanku. Aku duduk terbengong untuk beberapa
saat dengan pikiran sangat kacau. Dan setelah 2 jam aku bengong
merenungi nasibku yang aneh ini, aku berfikir untuk tidak pergi ke
kantor dan beinisiatif untuk pulang ke rumah dan menemui Dini untuk
membicarakan hal ini lagi.
Pada saat kuparkir mobilku di rumah kami yang luas pemberian
mertuaku, saya langsung berjalan masuk menuju rumah, dan ketika menaiki
anak tangga menuju ke kamar tidur, aku mendengar suara musik dan
mendengar 2 orang sedang berbicara dengan nada yang mendesah desah. Lalu
dengan berjalan sangat perlahan aku mencoba untuk mengintip.
Dan aku melihat istriku bersama Roni anak buahku di kantor sedang
berpelukan dan berciuman. Hatiku menjadi panas sekali apa lagi
sebenarnya Roni adalah anak buahku yang paling aku benci. Tetapi
meskipun begitu Roni adalah pemuda yang cukup ganteng dan memiliki tubuh
yang atletis dan disukai oleh banyak wanita, at least itulah yang saya
dengar dari anak buahku yang lain.
Awalnya aku ingin langsung masuk ke kamar untuk melabrak mereka tapi
kuurungkan niatku, dengan tetap mengintip dan mencari posisi yang lebih
baik supaya dapat melihat dengan jelas apa yang sedang mereka perbuat.
Pelan pelan aku melihat mereka sedang berpelukan, berciuman dan
tertawa-tawa kecil, lalu aku mendengar Roni bertanya..
“Len, gimana malam pertama lu, hehehe enak?”
“Wah gua kaga ngapa-ngapain tuh, males gua soalnya yang ada di otak
gua dari kemaren cuma kontol loe aja, gua kangen sama loe Ron, and gua
juga kangen sama kontol loe yang nikmat itu, gua pengen di entot sama
loe Ron, gua nggak bisa tidur semalem, gua ampe masturbasi di kamar
mandi sendirian waktu si tolol Henry itu tidur, sambil ngebayangin kamu
ngentotin gua Ron, hehehe..”, jawab Dini dengan tertawa nakal.
Gila nggak menyangka kalo Dini seorang yang kelihatannya seorang yang
anggun itu adalah ternyata seorang yang nakal dan binal, pikirku dengan
hati yang panas. Lalu Roni berkata..
“Kalo loe kangen buka donk celana gua, loe nggak mau ketemu sama ‘dede’ gua?”
“Ahh mau Ron, kasih liat gua donk..” Dini mendesah.
Lalu istriku jongkok dan membuka resleting celana Roni dan pelan
pelan di keluarkannya penis Roni dari dalam celananya, lalu Dini
menciumnya sambil berkata..
“Gila kontol loe Ron, nikmat banget keliatannya shh, ooh..”
Lalu pelan pelan dia cium penis Roni sambil dikocoknya perlahan hingga Roni mendesah..
“Aahh iyah Dini ciumin kontol gua. kocok kontol gua ahh dasar lonte, ooh, enak sekali”.
Lalu perlahan penis Roni membengkak, dan menjadi sangat besar.
Ah gila gede banget penis nih orang, paling tidak panjangnya 18 cm
dan gila diameternya, pikirku. Dan Dini pun mulai mengulum dan menjilati
kepala hingga batangnya dan mengulumnya lagi, lalu tiba tiba Roni
menjambak rambut istriku dan berkata..
“Yah perek, begitu caranya jilatin terus dasar kamu pelacur, jilat pelernya juga donk!”.
Kemudian dia menjambak rambut Dini dan memaksa Dini untuk menjilat
biji pelirnya. Lalu Dini menjilat dan mengulum biji pelernya sambil
mengocok penis Roni, dan dengan mendesah desah, dia berkata..
“Roni sayangku, ahh, Ron, memek gua udah basah banget nih ahh gila,
Ron please entotin mulut gua Ron, perkosa mulut gua Ron!! Ahh.. Shh,”
teriaknya.
Lalu Roni menjambak dan memasukkan seluruh bagian penisnya ke dalam
mulut Dini sampai Dini hampir muntah setiap kali Roni menyodokkan
penisnya ke dalam mulut Dini. Sambil menjambak Rambut Dini dia meracau..
“Nih, gua entot mulut loe nih, dasar mulut cabo, nih gua entot ampe
tenggorokan loe, ahh mulut loe memang enak, dasar mulut pelacur tau aja
cara nyepong”.
Dini pun tak kalah gilanya. Dia lalu dengan semangat menyedot penis
Roni, meskipun kadangkala dia hampir muntah karena penis Roni masuk
terlalu dalam.
“Iyagh.. ooh entot mulut gua, gua nih pelacur murahan yang harus diperkosa, yahh oohh perkosa terus mulutku..”
Kemudian Roni mengeluarkan penisnya lalu dengan menjambak kasar
rambut istriku lalu menampar-namparkan kontolnya ke muka istriku, lalu
dengan rambut istriku dia mengelap penisnya.
Seterusnya Roni membuka celana berikut celana dalamnya, lalu dia
duduk di atas ranjang dengan kaki diangkat ke atas, dia menjambak rambut
istriku lalu dituntunnya muka dan hidung istriku ke daerah anusnya
sambil berkata..
“Nih perek, jilatin juga lobang pantat gua..” Dengan perlahan Dini menjilatinya sambil mendesah..
“Uuh Ron, gua suka lubang pantat kamu.., aah.. sini gua jilatin” Rupanya
Dini bukan hanya menjilat lubang anus Roni tapi diapun menyedotnya
dengan bersemangat.
Wah, gila ternyata istriku adalah seorang sex maniac, ooh gila,
mukanya yang anggun dan cantik itu serta bibirnya yang sensual, gila
sedang menjilati pantat laki-laki lain, pikirku hingga aku mulai menjadi
horny dan penisku menjadi sangat keras.
Ah, gila bini gua lagi di pake orang kok gua malah jadi horny sih?, pikirku.
Lalu sambil mengintip, kubuka resletingku dan kumainkan sendiri
‘adik’ku yang sudah menegang itu sambil menikmati pemandangan terkutuk
itu. Aku masih melihat istriku sedang menjilati anus Roni dengan masih
berpakaian lengkap, blouse, rok yang sampai ke lutut dan sepasang sandal
tinggi yang sexy di kakinya yang indah itu. Ooh sexynya.. Edan, penisku
makin menegang.
Sekarang kulihat Dini memasukkan tangan kanannya ke bawah roknya
sambil berjongkok. Rupanya dia juga sudah tidak tahan hingga memasukkan
tangannya sendiri ke dalam roknya, dan kukira pasti dia sedang memainkan
memeknya sendiri. Sambil terus menjilat ia berkata..
“Ron Memek gua udah gatel banget nih Ron, gila Ron gua udah nggak tahan, udah basah banget nih, jilatin donk Ron, please!”
Kemudian Roni dengan sigapnya berdiri dan mengangkat istriku ke
ranjang, di robeknya baju istriku dan di tariknya rok istriku. Ternyata
istriku sudah tidak mengenakan celana dalam. Ahh gila, betapa indahnya
vagina istriku, dengan jembut yang tercukur rapi dan bagian lubang yang
bersih dan halus dan berwarna pink kemerahan tanpa bulu sehelai pun.
Rupanya istriku sering pergi ke salon untuk di wax, dan dia pernah
menceritakan kepada teman wanitanya yang kebetulan juga temanku bahwa
dia pernah ke Japan untuk merawat vaginanya sehingga warnanya bisa
berwarna pink kemerahan.
“Buset, betapa untungnya si bangsat Roni itu! Aku saja yang suaminya
belum pernah melihat dari jarak dekat memeknya..”, umpatku dengan hati
yang meluap-luap dan anehnya dengan disertai oleh nafsu birahi yang
meluap-luap juga hingga makin kencang kukocok penisku. Rupanya dia sudah
mempersiapkan hal ini sejak dia meninggalkan hotel pagi tadi.
“Dasar perempuan sundal..”, pikirku.
Kemudian Roni mengangkat kaki istriku yang indah dan masih mengenakan
sandal tingginya yang sexy itu lalu di taruhnya ke pundaknya. Dengan
rakusnya Roni menjilati vagina istriku, menyedotnya dan memasukkan
lidahnya ke dalam vagina istriku.
“Aah aah, enak Ron, enak banget, masukin lidah loe Ron, ahh edan enak
banget lidah loe, gigit kelentit gua Ron please gigit, ahh gila enak
banget Ron!!”
Istriku berteriak-teriak keenakan, dan tubuhnya pun mulai bergetar
keenakan. Dia menjambak rambut Roni sambil berteriak-berteriak..
“Yah Ron terus Ron.. Masukkan yang dalam, sedot kelentit guaah ooh!”
Lalu tiba tiba dia berteriak dengan keras dan menjepitkan kakinya ke kepala Roni..
“Aahh Ron, gua keluar, Ron gua keluarr, edan Ron kamu.. Enak banget..”
Tapi Roni tidak berhenti di situ saja, Roni tetap menjilati vagina
istriku dan sekarang bahkan mengangkat pinggul istriku lebih tinggi
lagi, dan dia mulai ganti menjilati lubang anus istriku.
“Aah geli Ron.. Enak Ron.. Ooh yah mainin juga lubang memek gua pake jari loe Ron, ooh yah Ronn gila enak banget!”
Dan Roni mulai memainkan jarinya di vagina istriku dan sesekali dia
memasukan ke dalamnya dan mulai mencoba untuk menggaruk G-spot istriku
hingga istriku meracau..
“Yah di situ Ron G-spot gua ahh iyah di situ.. Garuk terus Ron garuk!”
Dengan pinggul yang meliuk-liuk, mulut yang mendesah-desah, lidah
yang kadangkala keluar untuk menjilat bibir sexynya yang kering itu dan
tangan yang memainkan teteknya sendiri dengan menurunkan BH-nya karena
belum di lucuti, terpampanglah keindahan tetek istriku yang belum pernah
kulihat. Bulat montok kencang putih mulus dengan nipple yang kecil
berwarna pink. Seperti memandang dua bukit kembar yang sangat indah.
“Orghh Ron gua udah nggak tahan nih Ron.. Please ewein gua donk Ron,
gua pengen kontol loe, masukin donk Ron ahh shh!”, mohon Dini.
Dengan perlahan Roni berdiri di samping ranjang dan mengangkat
pinggul istriku. Lalu dengan perlahan dia menggesek-gesek kontolnya di
ujung vagina istriku yang indah itu, dan istriku mulai menggila kembali.
Dia menggoyang-goyangkan pinggulnya dan semakin gila memainkan
teteknya dengan memelintir putingnya dan tangannya yang satu lagi
berusaha memainkan kelentitnya sendiri sambil berusaha memasukan secara
paksa penis Roni ke dalam vaginanya.
“Ron, masukin donk sayang masukin, gua udah nggak tahan nih, bisa meledak gua kalo gini, cepet donk entotin gua!”, pintanya.
“Sabar yah lonte, gua bikin loe gila dulu heheheh..” jawab Roni dengan tersenyum.
Kemudian dengan perlahan Roni memasukkan penisnya ke dalam vagina
istriku, lalu setelah memasukan setengah dia mencabutnya kembali, lalu
memasukannya lagi hingga istriku dengan liarnya berteriak..
“Masukin kontol loe sekarang semuanya, jangan siksa gua kaya begini, bajingan!”
Akhirnya Roni dengan keras menyodokkan seluruh batang penisnya ke dalam vagina istriku hingga istriku beteriak..
“Ahh gila enak banget kontol loe, gede banget, sodok memek gua yang
keras Ron, ahh perkosa gua, abuse memek gua pake kontol loe yang gede..,
tusuk memek gua sampe tembus…” Dan Roni memompanya dengan cepat.
“Aah, ahh, shmm yah.. ewein gua Ron ewein gua.. Ahh gua pengen pipis
nih Ron, memek gua pengen pipis Ron gua nggak tahan nih.. Ooh bajingan
loe Ron, loe bikin gua horny seperti ini!”
“Bukannya ini yang loe mau, loe cari gua kan untuk ini, hehe untuk
ngentot sama gua kan Len? Loe sama si Jack juga nggak puas kan?? Hehe”,
ejek Roni.
Wah gila ternyata istriku juga pernah melakukannya dengan si Jack
juga?, Umpatku sambil terus mengocok kontolku sendiri. Jack adalah
seorang bule expat yang di-hire oleh mertuaku untuk operation di
kantornya.
Gila, sudah berapa orang di kantor yang udah mencoba vagina istriku?, pikirku sendiri.
Tak lama terdengar rintihan Dini yang keras dari kamar, “Aahh gua
keluar lagi Ron, gila kamu Ron, nikmat banget ngewe sama kamu ahh..”
Lalu Roni membalikkan tubuh Dini dengan posisi menungging sambil
berkata, “Nungging Len, gua mau nyobain pantat kamu nih, kata si Jack
pantat loe enak hehehe..”
“Gila loe, jangan Ron, kontol loe kegedean, bisa robek pantat gua, jangan please jangan donkk, pleasee!”
Tanpa menghiraukan permohonan istriku, Roni lalu mengambil
lubrication dari kantong celananya dan mengoleskan ke giant penisnya dan
dengan cepat di masukannya lah kontolnya ke lubang pantat istriku..
“Aah perih.. Ron perihh, gila sakitt, ahh udah Ron udah gua bisa mati Ron..”
“Tenang bitch! Sebentar lagi pasti akan terasa enak!” dan lama kelamaan istriku memang mulai menikmatinya..
“Ooh ternyata enak Ron, terus pompa lubang anus gua terus entotin..”
jeritnya sambil terus memainkan vagina dan kelentitnya sendiri.
“Aah gua mau keluar lagi nih Ron, aahh gua keluar, gua keluar, enak Ron gilaa!”
“Sabar Say, gua juga mau keluar nih, aah gila, enak banget pantat loe, aah..”
“Jangan keluar dulu Ron, gua mau minumn sperma loe ahh shh..” lalu
Dini berjongkok di depan Roni dan mengocok dan mengulum penis Roni
hingga akhirnya..
“Ahh gua keluar nih Len, gua keluarr, nih telen sperma gua, TELENN..!”
Dengan lahapnya istriku menyedot dan melahap sperma yang keluar dari
penis Roni. Dan bahkan ada juga yang berceceran di lantai dan tanpa
ragu-ragu dengan rakusnya istriku menjilat sperma yang ada di lantai.
“Kamu memang lonte paling najis yang pernah gua temuin..” kata Roni.
Setelah selesai pertempuran mereka, merke saling berpelukan. Tak lama kemudian Roni berpakaian lagi.
“Say, gua musti balik ke kantor nih sebelon suami tolol loe tegor gua lagi”, kata Roni.
“Iya Say, balik dulu deh ntar kita ngentot lagi kalo ada waktu, gua
pasti kangen kontol loe lagi deh malem ini..” ujar Dini sambil tersenyum
nakal.
“Loh kan loe bisa ngentotin laki loe?”, Roni membalik.
“Wah enggak deh, gua nggak nafsu sama dia, mau juga gua jadiin dia
budak di rumah gua, kalo dia masih mau tetep married sama gua
hahahahaha. Dasar laki-laki tak berguna, gua hanya mau married sama dia
kan gara gara bokap gua aja..”, jawab Dini dengan nada menghina.
Sakit sekali hatiku mendengarnya. Pengen rasanya aku masuk ke kamar
itu untuk menghajar Roni dan istriku sendiri. Tapi tak tahu mengapa aku
lebih memilih untuk turun ke bawah dan bersembunyi di kamar yang lain.
Tak lama kemudian aku mendengar pintu utama ditutup menandakan kalau
si keparat Roni telah meninggalkan rumah. Dan setelah Roni meninggalkan
rumah aku pun pelan-pelan menyusup ikut meninggalkan rumah dan pergi
untuk menenangkan pikiran.
Pikiranku menjadi sangat kacau, tidak tahu apa yang musti saya
perbuat setelah mengalami kejadian yang sangat aneh dan tidak masuk akal
tersebut. Aku akhirnya memutuskan untuk pergi ke club untuk minum dan
menenangkan pikiran. Sekitar pukul 10 malam, baru aku memutuskan untuk
kembali ke rumah dan untuk membicarakannya kepada istriku tentang
kejadian yang kulihat siang tadi. Setibanya di rumah, aku melihat
istriku baru memarkir mobilnya di dalam garasi.
“Len dari mana kamu?”, sapaku.
“Gua dari Senayan nih, abis shopping..” ujarnya.
“Beli apa aja nih?”
“Hmm beli sepatu sama baju”
“Len ada yang mau gua omongin deh tentang tadi pagi..”, tanyaku lagi sambil memasuki rumah.
“Yah omong aja”, katanya sambil berbalik dan berjalan memasuki rumah dan menaiki tangga untuk menuju ke kamar.
Di dalam kamar aku duduk di sofa, memandanginya yang sedang melucuti bajunya.
“So, gimana masalah tadi pagi?” kejarku.
“Yah tadi udah diomongin kan bahwa kita sebenernya married karena
kepaksa” jawabnya lagi sambil mengenakan dan mencoba blouse putih dan
rok hitam yang baru dibelinya yang panjang selututnya.
“Anyway, bagus nggak baju yang baru gua beli?” tanyanya kepadaku.
“Bagus Len” kataku.
“Anyway, jadi kita bakalan divorce nih?”
“Well iya lah kan tadi gua udah omong gitu”
“Loe gila, bagaimana gua bisa? Gua kan nggak bisa divorce kaya begitu
aja and juga kita kan udah married dan muka gua mau gua taro dimana and
juga gimana dengan orang tua gua? Mereka pasti akan kecewa sekali
karena mereka menaruh banyak harapan di gua, gua nggak bisa divorce
karena orang tua gua juga pasti bakal kecewa banget” kataku lagi.
“Yah itu urusan kamu donk, bukan urusan gua” jawabnya santai.
“Gila loe, kamu kok seenaknya aja? Lagian tadi siang loe ngapain aja seharian?” tanyaku memancing.
“Loh loe kan tau gua siang ngapain aja, loe juga liat kan?”, katanya
menantang, hingga dengan terkejut setengah mati lalu aku menjawab..
“Jadi loe tau kalo gua liat loe lagi having sex sama si Roni?” tanyaku balik.
“Iyah, loe kan ngintipin gua, gua tau kok cuma gua diem aja supaya
loe liat, dan loe jadi berubah pikiran dan divorce sama gua”, jawabnya
enteng.
“Wah loe keterlaluan, jadi loe sengaja? Dan loe tau kan itu hurt gua?” jawabku.
“Iyah gua tau, dan gua senang melihat loe menderita. Hmm OK deh, gua ada proposal buat loe, kalo loe mau. Mau denger?” tanyanya.
“OK, apa proposal loe?” tanyaku lagi.
“Gua bisa tetep married sama loe kalo gua boleh main sama co lain dan
loe mau jadi slave gua, mau?” tanyanya balik sambil dia mencoba memakai
sandal tinggi yang baru di belinya.
Wah dia menjadi sangat sexy dengan memakai baju dan sepatu barunya,
blouse warna putih, rok sampai lutut, dan sandal tinggi yang ramping dan
sexy berwarna hitam dengan tali yang melingkar di pergelangan kakinya
dan hak yang setinggi paling tidak 10 cm.
Membuat kakinya terkesan sangat sexy. Dan aku pun tidak bisa tidak
memperhatikannya hingga membuatku sangat excited dan horny. Lalu dia
berjalan-jalan mengaca, dan aku tidak bisa berhenti memperhatikannya,
tiba tiba..
“So Henry, bagaimana sama proposal gua, loe ngapain aja sih?” tanya dia setengah membentak.
“Oohh iyah, enggak, OK, maksud loe jadi budak loe itu gimana?” tanyaku balik.
“Yah jadi budak sex dan budak gua, and loe akan gua perlakukan semau gua aja OK? Deal?” tanyanya.
“Gua punya fantasi fetish pengen jadi mistress dan mempunyai slave
yang bisa gua perlakukan seenak gua. Kalo kamu OK kita tetep married
deh, gimana?” tanyanya lagi.
“OK kalo itu maumu”, jawabku dengan tanpa sadar.
“OK, tapi gua mau liat dulu, bisa nggak loe jadi budak gua..”,
katanya sambil duduk di sofa kamar tidur sambil menyilangkan kakinya
yang sexy sambil merokok.
“Sekarang gua mau test dulu” katanya lagi.
“Yah terserah kamu deh” jawabku pasrah.
“Yah bagus. Kalo begitu sekarang cepet buka baju kamu semua, loe telanjang di depan gua”, perintahnya.
“Hah, telanjang?” tanyaku.
“Iyah cepet, apa kamu tolol dan budek sampe nggak denger suruhan gua?” jawabnya dengan membentak.
Lalu seperti orang tolol mungkin karena kekesalan di hati dan rasa
horny yang meluap sedari tadi siang bercampur aduk, aku menurut saja
membuka semua baju di depan istriku.
“Semuanya buka, gua pengen liat loe telanjang bulat” bentaknya. Lalu
kutanggalkan semua bajuku, dan dia berdiri dengan senyum menghina sambil
berkata..
“Kamu memang pantas jadi budak gua. Badan loe jelek, kontol loe kecil, yah paling bisa loe jadi budak gua dasar laki laki tolol”
Lalu dia kembali duduk dan menyilangkan kakinya kembali dan merokok sambil berkata..
“Sini laki laki tolol, kemari bersihin sepatu sama kaki gua. Pijitin
kaki gua yang capek abis dipake jalan ini pake lidah kamu!!” bentaknya.
Dengan tololnya seperti orang di-hypnotized aku berjongkok di depan
istriku. Istriku menjambak rambutku dan menunjuk ke kakinya sambil
membentak..
“Ayo jilatin, bersihin pake lidah loe yang bener!!”
Lalu aku pun mulai menciumi kakinya, lalu tiba tiba, PLAKK!! Tangannya menampar pipiku dan berkata..
“Goblog, bukan cuma ciumin, tapi jilatin semuanya, sepatu gua, kaki gua, semuanya!”
Terpaksa aku dengan perlahan menjilati sepatunya mulai dari hak
sandalnya yang ramping dan bulat itu, aku jilati dari ujung sampai
pangkalnya dan dari situ kujilati tumit kakinya yang indah bagaikan
telur ayam kampung yang mulus dan berwarna putih kemerahan, lalu dari
sana lidahku menuju punggung kakinya dan akhirnya pada jari-jari
kakinya.
“Eh tolol, sekarang kamu lepas sandal gua pake mulut kamu, nggak boleh pake tangan, awas kalo gua sampe kegigit” bentaknya lagi.
Aku merasa sangat terhina dan tertekan, tapi anehnya di samping rasa
terhina dan marah, aku juga merasa sangat horny hingga aku merasakan
penisku tiba-tiba naik dan mengeras. Lalu dengan hati-hati aku
menggunakan gigiku untuk membuka tali yang melingkar di pergelangan
kakinya hingga aku berhasil melepas sepatu kanannya dengan gigi dan
mulutku.
Setelah itu aku beralih ke kaki kanannya dan mencoba lagi melepas
sepatu kirinya dengan gigi dan mulutku lagi. Tetapi aku kurang
berhati-hati hingga kakinya sedikit tergigit olehku. Tiba tiba, dengan
keras.. “PLAKK”, telapak sepatu kanannya mendarat di pipiku..
“Eh anjing, dasar kamu laki-laki tidak berguna, nyopot gitu aja kagak
bisa, dasar nggak berguna and liat tuh kontol jelek kecil kamu udah
mengeras, hahahahahahah dasar kamu memang anjing. Anjing geladak!!,
ejeknya. Aku diam saja dan masih berusaha untuk membukanya dengan hati
hati sampai semuanya terlepas.
“OK, sekarang jilatin sandal gua, bersihin!!” bentaknya lagi.
Aku berlutut di depannya menjilati sandalnya, telapak sandalnya dan
punggung sandalnya, haknya dan tali talinya sampai bersih dan Dini
melihatku dengan sinis dan setengah mengejek sambil merokok..
“Yah begitu anjing, yang bersih yah! Nah sekarang kaki gua, telapak
kakinya bersihin dan jari-jari dan sela-sela jarinya, OK anjing?”
Aku mulai menjilati kakinya dari tumit ke telapak kaki, sampai pada
jari-jari kakinya yang indah bercutex pink. Kusedot setiap jari kakinya.
Kakinya terasa sangat halus, bersih dan rapi berwarna putih kemerahan
dan berbau sedikit keringat bercampur bau kulit dari sepatu itu.
Ah, aku tidak tahu kenapa aku menjadi sangat terangsang dan aku
sendiri heran, apakah aku type cowo yang sebetulnya menyukai perlakuan
seperti ini? Penisku menjadi sangat keras, dan karena tidak tahan, aku
mengocoknya sambil menjilati kakinya. Tiba-tiba Dini berseru..
“Hey anjing, siapa suruh loe mainin kontol kecil loe?” bentaknya.
“Jangan pegang-pegang kontol loe, gua ada hadiah nanti buat kontol loe!” bentaknya lagi.
“Nah, sekarang jilatin dari betis ampe paha gua!!” katanya.
Aku mulai menjilati kedua belah kakinya. Aku merasa benar-benar
seperti anjing dan anehnya birahiku menjadi sangat tinggi dan bernafsu
sekali hingga penisku menjadi sangat tegang dan keras, dan tiba-tiba..
“Eh anjing, sekarang tarik celana dalem gua pake mulut bau loe!!”,
bentaknya lagi sambil merokok lalu dengan perlahan kutarik celana
dalamnya sampai ke ujung kaki bawah dan melepaskannya.
“Sekarang cium celana dalamku dan pakai sebagai topi”, ledeknya, lalu
aku menciumnya. Wah tercium aroma vaginanya yang sangat menggiurkan.
Aku menciumnya dalam-dalam untuk menikmati bau vagina dari celana
dalamnya.
“Eh tolol, enak nggak baunya?” tanyanya.
“Enak len”, jawabku.
“Eh anjing, mulai sekarang gua mau loe panggil gua Nyonya!!” bentaknya.
“Iyah Nyonya, enak sekali”, jawabku.
Kemudian dia menaikkan kedua kakinya di kedua sandaran tangan sofa
sambil membentak, “Eh anjing, sini sekarang jilatin memek gua”.
Dengan pelan kujilati memeknya. Pertama kuciumi dulu kelentitnya,
lalu kujilat dengan ujung lidahku, lalu pelan pelan kugetarkan ujung
lidahku di kelentitnya hingga Dini melenguh..
“Ahh iyah enak jilat terus anjing!! Iyah begitu sekarang isep
kelentitnya!!” Dengan pelan kuhisap kelentitnya. Kuhisap dalam-dalam
karena aku ingin menyedot semua cairan yang ada dari memeknya.
“Ooh iyah di sana iyah isep terus anjing gua yang tolol!!”, katanya
sambil merem melek dan menjambak rambutku menikmati jilatan dan
hisapanku.
“Nah sekarang masukkan lidah loe ke dalam memek gua ayo cepet
tolol!!” bentaknya sambil menjambak rambutku dan membawa mukaku ke depan
memeknya dan menekankan mukaku ke memeknya. Dengan perlahan kumasukkan
lidahku ke dalam memeknya sambil kumainkan jariku dalam memeknya
menggaruk garuk G-spotnya.
“Aah iyah gitu uugghh iyah.. Like that honey.. Yeah masukin terus
lidah loe yang dalem sama mainin G-spot gua and garuk G-spot gua ahh
ooh”, desahnya sambil matanya mendelik ke atas menikmati sensasi yang
luar biasa.
“Ooh ooh kamu memang anjing yang pinter ahh ooh gosh enak sekali,
ooh.. ntar, ntar, tolol..” bentaknya lagi sambil menjambak rambutku
menjauhi memeknya.
“Ooh keliatanya loe cape yah, heh cowo nggak berguna??”, tanyanya kepadaku.
“Iyah Nyonya, saya cape dan haus, boleh saya minum dulu?” tanyaku memelas kepada Dini.
“Ooh ternyata anjing gua haus juga sekarang.. OK, bentar gua kasih
loe minum,” katanya sambil beranjak dari sofa dan berjalan menuju ke
belakang.
Kali ini Dini kembali dengan tempat makanan si Remus anjing kami,
lalu dengan santainya dia menaruh tempat makanan anjing itu di lantai
dan dengan gaya yang sangat elegant dia menyalakan sebatang rokok, dan
perlahan dia berjongkok tepat di atas tempat makanan anjing tersebut.
Dengan pandangan yang sinis sambil merokok dia menatapku dan berkata..
“Loe haus kan?? Sebentar lagi loe bakal dapet minuman yang sangat
enak” katanya, lalu perlahan aku melihat cairan yang agak kekuningan
memancar dengan deras dari memeknya.
Dia kencing di tempat makanan anjing itu dengan menatapku sambil
merokok. Lalu setelah selesai dia bangun dan menjambak rambutku kembali
dan dituntunnya aku dan menekan mukaku ke tempat makanan anjing tersebut
kemudian disuruhnya aku meminumnya.
“Ayo minum!! Minum kaya anjing cepet!!” perintahnya sambil terus
menekan mukaku ke tempat makanan anjing itu. Dengan perlahan kujilati
dan kuminum air kencingnya dari tempat tersebut sampai habis.
“Enak nggak juice gua??” tanyanya. Aku diam saja karena aku merasa
mual setelah meminum air kencingnya. Tiba-tiba rambutku dijambak ke atas
ke hadapannya lalu dengan keras dia menampar pipiku, PLAKK!!
“Anjing, gua tanya enak nggak, loe diem aja, sekarang gua tanya lagi, enak nggak?”
“Enak Nyonya, enak banget..”
“Shh.. hmm, gila sekarang gua horny banget, tapi kontol loe terlalu
jelek buat gua entotin, tapi gimana lagi yah” katanya dengan sinis.
“Udah sekarang kamu tiduran, terus kocok kontol loe yang jelek gua
pengen liat mau nggak gua pake kontol loe cepet!!”, katanya sambil
mendorongku sampai aku terjengkang.
Dengan perlahan kukocok kontolku sendiri, lalu tiba tiba dia berjalan
menuju ke arah sepatunya dan mengambil sepatunya lalu di lemparkan
kepadaku sambil berkata..
“Nih ciumin and jilatin sepatu gua sambil loe kocok kontol loe..” Dan
aku mulai menciumi sepatunya dan menjilatinya sambil aku mengocok
kontolku yang sudah mulai dan menjadi sangat keras.
“Ooh enak Nyonya, sepatu Nyonya baunya, ahh iyah Nyonya” kataku tanpa kusadari dan tak tahu kenapa aku menjadi sangat horny.
Lalu setelah kontolku menjadi sangat keras, dengan perlahan dia
berjongkok dan tangannya menarik kontolku dengan sangat kasar, sampai
aku merasa kesakitan, dan mengarahkannya ke memeknya. Ooh inilah yang
kutunggu-tunggu, damn gua pengen banget ngerasain memeknya, pikirku.
Dengan perlahan dia memasukkan kontolku ke dalam memeknya dan
menggoyang-goyangkan pantatnya dengan gerakan yang berputar.
“Enakk sekali Nyonya, terus Nyonya” kataku. Tapi dia hanya diam saja dan tiba tiba berkata..
“Gila kontol loe nggak enak nih” bentaknya sambil menatapku dengan sinis.
“Tapi shit, apa boleh buat nggak ada kontol lain, dildo gua aja
ketinggalan di rumah Papa” katanya lagi sambil menggoyangkan pantatnya
naik turun dengan gerakan memutar ala ngebor dan dengan mata yang merem
melek. Tiba tiba ada suara langkah kaki dan ada yang berteriak..
“Nyonya?? Pak??”
Ternyata satpamku masuk. Aku kaget sekali di buatnya. Shit mati gua,
satpam gua ngeliat lagi, pikirku. Tapi dengan tanpa ekspresi terkejut,
Dini menjawab..
“Iyah kenapa Pak Bandi?”, tanyanya sambil terus mengentot kontolku.
Dengan tiba-tiba Dini bangun dari kontolku yang sudah meloyo karena
aku terkejut. Dan dia berdiri di hadapan satpam tersebut dengan keadaan
telanjang.
“Pak, coba Pak saya liat kontol Bapak, kontol suami saya loyo,”
katanya sambil tangannya mengarah ke bagian celana Pak bandi dan
merogohnya.
“Nyah jangan Nyah, wah nggak enak sama tuan,” kata Pak Bandi.
“Udah, cepet turunin celana kamu, kamu mau yang enak nggak?” kata Dini istriku sambil tersenyum nakal.
“Bapak kan pasti mau juga kan? Masa sih nggak mau? Kok kontolnya
keras kalo nggak mau?” ujarnya sambil tangannya merogoh kontol si satpam
yang lucky itu.
Tak tahu kenapa tapi saya menjadi sangat horny melihat adegan seperti
itu hingga dengan tanpa sadar aku mengocok kontolku yang kembali tegang
sambil melihat istriku yang sudah gila itu merayu si satpam untuk
mengentotnya. Lalu dengan perlahan dia berjongkok di depan si satpam
sambil memohon..
“Ayoo Pak, saya pengen liat nih kontol Bapak” pintanya sambil membuka
buckle ikat pinggang si satpam dan menurunkan resleting si satpam dan
mengeluarkan kontolnya.
Ooh my God, ternyata si satpam mempunyai kontol yang panjang dan
berdiameter besar. Si satpam yang masih malu-malu itu mencoba
menghindar. Tetapi dengan tidak tahu malunya, istriku memaksa untuk
memasukkan kontol si satpam yang besar itu ke dalam mulutnya..
“Ahh ini kontol gede sekali dan enak, macho sekali dengan warna yang
agak kehitaman, besar dan penuh dengan urat-urat kejantanan, ahh enak
sekali, nggak seperti kontol suami saya tuh yang kecil” katanya sambil
mengulum dan menghisap kontol si satpam itu dan memandangku dengan hina.
Pak bandi yang tadinya malu-malu, sekarang menjambak rambut istriku dan
mengnhujam-hunjamkan kontolnya ke dalam mulut istriku sambil meracau..
“Ooh gila mulut Nyonya enak nih.. Arrgghh enak sekali, terus Nyonya, sepong terus kontol saya, Nyonya kan suka,” katanya.
“Iiyyahh Pak kontol Bapak enak juga.. Pake Pak mulut saya, entot
mulut saya..” kata istriku yang sudah lupa daratan karena birahi.
Saya hanya bisa memandang dengan perasaan yang marah kesal, tapi di
samping itu aku juga horny berat, sampai-sampai kontolku menjadi tegang
sekali. Dan aku pun mengocok kontolku sambil melihat pemandangan yang
gila itu.
Gila Dini, cewe anggun begitu sampai kontol satpam saja dia suka, aku
sendiri pun tak percaya melihatnya. Setelah puas dia mengulum dan
menghisap kontol Pak Bandi satpamku yang sangat beruntung itu, dia duduk
di sofa dan menyuruh Pak Bandi untuk memasukkan kontolnya lagi ke dalam
memeknya.
“Ooh Pak Bandi saya sudah nggak tahan lagi, Bapak mau kan masukin dan muasin saya?” tanya Dini.
Lalu dengan buasnya Pak bandi memasukkan alatnya yang begitu besar ke
dalam memek istriku dan mulai menggenjotnya, kontan istriku mendelik
dan berteriak..
“Aah gila nih kontol be.. be.. besar se.. se.. kali ahh.. ooh yah..
eenak sekali, tterus Pak entotin saya” katanya seperti orang yang sudah
hilang ingatan. Kontan Pak Bandi si satpam menjadi sangat buas mengentot
istriku, memompa istriku dengan sangat kuat..
“Oohh ooh ooh.. Pak saya mau keluar nih.. Saya hampiir sampai”,
dengan makin gila Pak Bandi memompa dengan kuat memek istriku sampai
akhirnya..
“Aah gilaa gua kkeluar!!” jerit Dini sambil tangannya meremas pantat
Pak Bandi si satpam. Tapi rupanya si Pak satpam masih kuat dan masih
bernafsu untuk menikmati vagina istriku. Dia tetap memompa hingga
istriku mendelik dan mendesah kenikmatan. Sambil memandangku, dia
berkata..
“Nih liat monyong, kontol tuh kaya gini, enak, nggak kaya punya loe”
bentaknya padaku sambil terus menikmati kenikmatan yang Pak Bandi si
satpam berikan kepadanya. Tiba tiba Pak Bandi sudah tidak tahan dan
mulai berteriak..
“Ahh ahh ahh, Nyonya saya mau keluar Nyonya ooh ooh”
“Pak, keluarkan di mulut saya, saya ingin merasakan peju Bapak” katanya dengan penuh nafsu.
Lalu Pak bandi mencabut kontolnya dan mengarahkannya ke muka istriku
hingga memuntahkan air maninya ke situ. Dan dengan tanpa rasa jijik Dini
istriku yang gila itu menelan dan mengulum air mani Pak bandi di
hadapanku. Akhirnya dengan tersenyum puas dia berkata..
“Terimakasih yah Pak, enak sekali peju dan kontol Bapak, saya dibikin
puas olehnya. Untung ada Bapak, kalo tidak saya nggak akan bisa puas
dengan kontol suami saya. Lain kali kalo Bapak lagi horny masuk aja OK”,
katanya sambil mencium kontolnya lagi.
Si satpam tersenyum dan berkata..
“Iyah Nyonya, memek Nyonya juga enak sekali. Belum pernah saya
merasakan wanita secantik dan seseksi Nyonya” Kemudian istriku berdiri
dan merangkul si satpam sambil berkata..
“Temenin saya mandi yuuk, siapa tau nanti di dalam alat Bapak berdiri lagi”.